Tag Archives: horror

Get Out (2017) – A Terrifying Joke

“Yo, my man! What’s up my n**ga!”

 

Black people are, in fact, the coolest people in America. Kaum kulit hitam telah banyak memberikan pengaruh pada trend fashion dan hiburan di Amerika Serikat. Beyonce is The Queen. Michael Jackson is The King. Morgan Freeman is God. Hal ini juga menjadi penyebab dari banyak sekali orang kulit putih yang mencoba untuk terlihat swag dengan bercakap-cakap dan berpakaian layaknya orang kulit hitam. White people really want to be black, dan Jordan Peele, seorang komedian yang terkenal lewat komedi sketsa Key and Peele, mengemas isu tersebut ke dalam sebuah lelucon yang ia sulap menjadi sebuah teror mengerikan berjudul Get Out.

Seorang fotografer kulit hitam bernama Chris (Daniel Kaluuya) berpacaran dengan seorang gadis kulit putih bernama Rose (Allison Williams). Pada satu weekend di bulan keempat mereka berpacaran, Rose mengajak Chris untuk berkenalan dengan orang tuanya dan menginap selama dua malam di rumah mereka. Pada awalnya, Chris sedikit mencurigai keberadaan dua orang pelayan di rumah tersebut, yaitu Georgina dan Walter. Mereka semua berkulit hitam, sama seperti Chris, namun Chris merasa asing dengan perangai mereka yang suspiciously obedient dan—-kalau kata pacar saya—-“so white“. Kejadian demi kejadian aneh terjadi pada Chris, yang kemudian berujung pada satu peristiwa mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Do they know I’m black?”

 

Saya bukan dari kaum kulit hitam di Amerika, tapi paling tidak saya sedikit mendapatkan gambaran tentang bagaimana perasaan mereka saat menjalani hubungan inter-rasial, terutama di saat mereka harus berkenalan dengan orang tua masing-masing. Yah, di Indonesia, ibaratnya kurang lebih seperti pacaran beda suku atau beda agama. Meskipun dalam beberapa hal tidak bisa diibaratkan seperti itu karena kaum kulit hitam punya sejarah yang kelam di tanah Paman Sam, di mana mereka ditindas, dijadikan budak, dan diperlakukan secara diskriminatif oleh penegak hukum seakan mereka tidak mempunyai hak sebagai warga negara. Sampai sekarang, diskriminasi pun masih sering dialami oleh mereka, oleh karena itu kaum kulit hitam pun selalu memiliki paranoia tersendiri terhadap kaum bangsawan dan aparat kulit putih, sekecil apapun itu. Lagi-lagi, Jordan Peele membentuk isu tersebut menjadi sebuah lelucon yang menjadi plot device dalam film horor yang serius ini. Coba bayangkan bila kamu seorang lelaki dari kaum kulit hitam. Kamu berpacaran dengan seorang wanita dari kaum bangsawan kulit putih yang memiliki orang tua yang mempekerjakan orang-orang kulit hitam yang terlihat patuh seperti budak sebagai pelayan mereka. Terdengar seperti sketsa komedi, bukan? Although the scenario was obviously based on a joke, Peele delivers it in a terrifyingly unexpected way, and that’s what makes Get Out an exceptionally experimental horror.

Saya tidak bisa bilang ini film horor komedi, karena secara premis dan treatment, Get Out sebenarnya adalah sebuah ide semi-parodik yang dimasak menjadi film horor yang serius. Film yang baru saja mendobrak rekor sebagai The Highest Grossing Film from An Original Screenplay Debut ini menjadi lucu karena kedua hal berikut:

  1. Penampilan LilRel Howery sebagai Rod Williams, seorang polisi bandara yang menjadi sahabat Chris dan menjagai anjingnya saat ia ke rumah orang tua Rose. Joke-joke receh ala African-American yang ia lontarkan akan membuatmu terpingkal-pingkal dalam paranoia.
  2. Saat kita mendapatkan closure di babak ketiga film dan menyadari apa sebenernya satir jenaka yang mendasari ide cerita dan konklusi dari film ini. Penasaran apa yang saya maksud? Tonton saja sendiri.

Get Out berdiri di atas pondasi dan pilar-pilar yang cukup kompleks, namun film ini tetap berhasil untuk menjadi sederhana dengan tidak mengabaikan unsur-unsur klasik film horor. Creepy sound effects and musics, jump scares, kombinasi pergerakan kamera dan penyuntingan dalam menciptakan suspense masih menjadi faktor-faktor utama pencipta teror dalam film ini.  Meskipun demikian, kengerian terbesar Get Out terpancar dari akting yang memukau dari Betty Gabriel sebagai pelayan berkulit hitam bernama Georgina. Seriously, that “No, No, No” scene will terrorize you, take control over you, and put you right into the sunken place. Plot twist pada akhir film bukanlah hal yang baru, dan tidak akan terlalu mengejutkan bila kamu memang horror freak yang sudah khatam dengan film-film horor tahun 2000-an. Namun yang mengesankan, Jordan Peele menggunakan stereotipe masyarakat terhadap kaum kulit putih (serakah dan kapitalis sejati) sebagai lelucon satir dan, lagi-lagi, memasaknya menjadi sebuah konklusi yang menyeramkan.

Intinya, kalau mau ketemu sama calon mertua, jangan lupa bawain martabak, atau bakso, atau apa kek gitu. Gaboleh bawa tangan kosong. Pamali.

Saya tidak akan bicara lebih banyak tentang film ini karena the less you know, the better it will be. Get Out is a funny satire disguised as a terrifyingly scary horror film. This film is going to get you scared, laugh, and contemplating at the same time. Go watch it!

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

The Big Five Mainstream Horrors of Early 2016: Short Review

Bagi kita, mungkin mudah sekali merasa takut sekaligus terlibat secara emosional saat menonton film horor yang baik. Kenyataannya, bagi para produsen film, horor adalah sebuah genre yang menuntut keahlian serta kepekaan ekstra dalam pembuatannya. Mengapa? Karena mayoritas film horor dibuat dengan bujet yang sangat terbatas, namun hampir selalu berhasil untuk menghasilkan keuntungan Box Office berkali-kali lipat, kadang tidak peduli seberapa buruk kualitas film tersebut. Ambil saja contoh kasus Annabelle. Film yang hanya mendapatkan rating 29% di Rotten Tomatoes (karena, yah, memang jelek) ini mendapatkan keuntungan worldwide yang bombastis ($256,873,813) dibandingkan bujetnya yang hanya berkisar $6.5 juta. Keuntungan ini tentunya juga dibantu dari kesuksesan The Conjuring sebelumnya yang mendapatkan keuntungan worldwide $318 Juta dari bujet $20 juta. Inilah yang membuat saya merasa bahwa para produsen film horor patut diberikan apresiasi lebih. Mereka mampu memanfaatkan keterbatasan untuk menciptakan ilusi realita yang maksimal.

Lewat artikel ini, saya ingin mengulas, mengapresiasi, serta mendiskusikan lima film horor mainstream dari awal tahun 2016 sampai artikel ini selesai ditulis.

1. The Conjuring 2, directed by James Wan.

Production Budget: $40,000,000
Worldwide Box Offfice: $320,070,008 (est. 19/09/2016)

Seperti film-film yang sebelumnya disutradarai James Wan, The Conjuring 2 adalah sebuah film yang sangat menyenangkan, terutama bila kamu menontonnya bersama keluargamu atau dengan temanmu yang orangnya kagetan. Premis ‘haunted family in a haunted house’ yang sudah sangat familiar di ranah film-film bergenre horor ini dikemas dengan treatment cerita yang lebih berorientasi pada anak-anak dan keluarga sehingga atmosfer film tidak melulu gelap, namun juga hangat dan penuh kasih sayang. Adegan saat Ed Lorraine (diperankan oleh Patrick Wilson) menyanyikan tembang “Can’t Help Falling in Love” dari Elvis Presley sambil bermain gitar di depan keluarga Hodgson adalah salah satu contoh kehangatan yang jarang kita temukan dari film-film horor modern kebanyakan. Tidak hanya itu, semua jump-scare yang terdapat dalam film pun ini dilakukan dengan crafting yang solid dan segar sehingga tepat sasaran dalam membuat para penonton berteriak kencang tanpa harus mempertanyakan relevansinya dengan logika cerita (that Nun-in-the-Mirror scene was perfect!).

Di antara semakin banyaknya film horor yang mempertontonkan kesadisan dan seksualitas, The Conjuring 2 adalah film horor yang paling aman untuk ditonton bersama anak anda dalam segala usia.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

2. The Wailing, directed by Na Hong-jin.

Production Budget: N/A
Worldwide Box Office: $51,252,403 (est. 19/09/2016)

Bisa dibilang, The Wailing adalah sebuah kombinasi apik antara Memories of Murder dan The Witch dengan kearifan mistik lokal dari Korea Selatan. Disutradarai oleh Na Hong-jin (The Chaser, The Yellow Sea) film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang diserang wabah penyakit mematikan setelah kedatangan seorang lelaki misterius ke desa tersebut. Seorang detektif ceroboh bernama Jong-goo (diperankan oleh Kwak Do-won) yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut malah berbalik menjadi korban tatkala anak perempuannya yang masih kecil ikut terjangkit wabah tersebut.

Biarpun dipenuhi dengan adegan-adegan yang keji, gila, dan agak disturbing, kengerian utama dalam film ini dihasilkan dari gaya penceritaan yang atmosferik dengan menempatkan elemen-elemes simbolis seperti burung-burung gagak yang mati, altar pemujaan setan dengan foto-foto misterius tertempel di dinding, serta iklim latar film yang sebagian besar diisi oleh hujan deras dengan awan yang gelap. Suspensi berlangsung dengan efektif dari awal film sampai akhir. Dalam dua jam lebih durasi film, setidaknya ada tiga plot twist di setiap titik pergantian babak. Kita akan dibuat curiga oleh semua tokoh dan kesal terhadap karakter Jong-goo yang tidak pernah bertindak rasional dalam menghadapi masalah (padahal dia seorang detektif) sampai pada akhirnya kita mengetahui bahwa semua hal tersebut merujuk kepada persoalan yang lebih besar dari sekadar praktik guna-guna.

The Wailing adalah sebuah film mystery-supernatural-horror yang pekat dan padat oleh atmosfer yang mengerikan. Cocok bagi kamu yang sudah bosan terhadap film-film horor dengan skenario yang sketched dan mengandalkan jump scare sebagai senjata utamanya.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

3. The Shallows, directed by Jaume Collet-Serra.

Production Budget: $17,000,000
Worldwide Box Office: $116,055,707 (est. 19/09/2016)

Nancy Adams (diperankan oleh Blake Lively), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran, pergi berlibur ke pantai terpencil untuk berselancar dan melipur lara setelah kematian sang Ibu tercinta. Saat sedang asyik bermain ombak di atas papan, tiba-tiba seekor hiu putih raksasa menyerang Nancy, menggigit kakinya, dan membuatnya terjebak di tengah batu karang besar di lautan bersama seekor burung camar yang ia beri nama Steven Seagull (nggak, burung camarnya nggak bisa Wing-Chun, mohon maaf).

Saat kita berpikir bahwa era film-film monster telah usai, Jaume Collet-Serra menghadirkan kembali kengerian teror serangan hiu buas dengan pendekatan yang sangat milenial di film The Shallows. Kenapa saya bilang milenial? Karena variasi komposisi shot, camera movement, dan editing yang terdapat di film ini mengingatkan saya pada video-video bertema paradise adventure yang sering diunggah para travel vlogger seperti Nainoa Langer, Giarro Giarratana, atau konten-konten viral marketing GoPro di YouTube. Bahkan bisa dibilang, hal tersebut lah yang menjadikan film ini unik dan berbeda dibanding film shark attack lain. Semua elemen lain yang terdapat di film ini sebenarnya sangatlah familiar bagi penonton, yaitu lanskap pantai yang memanjakan mata, eksploitasi pesona tubuh wanita, dan penggabungan premis ‘isolation terror‘ (Buried, 127 Hours, Gravity) dengan ‘monster terror’ (Lake Placid, Deep Blue Sea, Anaconda, Jaws). Selebihnya, tidak ada perbedaan yang signifikan, tapi dengan penyutradaraan yang solid dari Jaume Collet-Serra, The Shallows mampu menjadi sebuah wahana jungkir balik yang segar dan menyenangkan bagi para penikmat film horror-thriller.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

4. Don’t Breathe, directed by Fede Alvarez.

Production Budget: $9,900,000
Worldwide Box Office: $107,028,781 (est. 19/09/2016)

Bila seorang kakek tua mencoba menghabisi nyawa tiga orang anak muda yang berusaha untuk membunuh si kakek dan merampok rumahnya, siapa yang akan kamu salahkan? Hal inilah yang menjadi premis utama Don’t Breathe, film horror-thriller arahan sutradara Fede Alvarez. Dari adegan pembukaan pun, film ini sudah menegaskan untuk tidak bertele-tele dan langsung berangkat pada inti cerita: pembantaian tanpa ampun.

Tidak ada momen percintaan dramatis, tidak ada percakapan sok cerdas, hanya pembantaian dan kejar-kejaran.

Pengenalan terhadap keempat tokoh utama pun benar-benar dilakukan seminimal mungkin dan plot langsung masuk ke dalam permasalahan bahkan sebelum lima belas menit pertama berakhir. Dengan plot yang menyerupai Wait Until Dark, Don’t Breathe dikemas sesempit dan sepadat mungkin dengan sentuhan Panic Room dan Inside sehingga menjadi sebuah film yang, seperti judulnya, akan membuatmu sulit untuk bernafas.

Kekuatan utama film ini terdapat pada efektifitasnya dalam memanfaatkan premis yang standar dan lokasi yang minimalis menjadi kengerian klaustrofobik yang tanpa henti sepanjang pertunjukan berlangsung. Don’t Breathe dengan cermat memanfaatkan kompleksitas moral dan idiot plot untuk memaksimalkan potensi horor dari home-invasion thriller yang sudah banyak sekali dibuat. Teknik sinematografi yang digunakan Don’t Breathe juga cukup unik untuk sebuah film horror-thriller. Daripada memanfaatkan efek shaky camera atau fast-cutting untuk memicu ketegangan, Pedro Luque, sang sinematografer, cukup menggunakan teknik konvensional dengan pergerakan kamera yang mulus, komposisi yang rapi, dan penyuntingan yang jeli terhadap momentum. Plot-twist yang muncul di awal babak ketiga film pun cukup menambah sensasi kekacauan tokoh Pak Tua dan kelinglungan moral penonton, meskipun memang menimbulkan banyak kontroversi dari berbagai pihak. Namun jika kamu sedang mencari film horror-thriller yang tidak banyak basa-basi, Don’t Breathe adalah pilihan yang sangat tepat buatmu.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

5. Train to Busan, directed by Yeon Sang-ho.

Production Budget: $8,500,000
Worldwide Box Office: $99,067,452 (est. 13/9/2016)

Film zombie sudah ada sejak tahun 1932, dibuat secara independen dan dengan bujet yang sangat terbatas oleh Victor dan Edward Halperin. Kendati demikian, George Romero-lah yang pertama kali mempopulerkan zombie sebagai medium kritik sosial politik lewat Night of The Living Dead. Generasi Y dan Z mungkin akan lebih familiar dengan The Walking Dead (serial TV) dan World War Z, namun harus diakui, Train to Busan akan menjadi salah satu film zombie sarat kritik sosial yang sangat berkesan dalam pengalaman mereka menonton film horor.

Seorang fund manager bernama Seok-woo (diperankan oleh Gong Yoo) terjebak di dalam sebuah KTX bersama anaknya (Kim Soo-an) saat epidemik misterius yang membuat manusia berubah menjadi zombie menyebar di seluruh Korea Selatan, termasuk di dalam KTX yang mereka tumpangi. Bersama seorang calon ayah dan istrinya yang sedang hamil serta sepasang muda-mudi SMA yang saling mencintai, mereka harus bertahan hidup hingga kereta sampai di Busan, satu-satunya kota yang berhasil bertahan dari serangan wabah.

Setelah The Wailing, Don’t Breathe, dan The Shallows yang menggabungkan dua premis dan referensi film berbeda, Train to Busan juga bagaikan sebuah kombinasi apik antara Snowpiercer dan World War Z, lagi-lagi dengan kearifan lokal Korea Selatan yang terkadang penuh dengan dramatisasi yang klise. Ada banyak drama sosial yang diangkat di sini, dan meskipun porsi melodrama di babak ketiga film akan membuatmu sedikit mengernyitkan dahi, skenario yang dirancang sangat apik dan kokoh sejak permulaan sampai akhir film ini akan tetap berhasil membuatmu menyanyikan lagu “Aloha Oe” sambil menangis tersedu-sedu saat keluar dari bioskop. Disutradarai oleh Yeong San-ho, seorang mantan komikus yang juga pernah membuat film animasi Seoul Station, Train to Busan menghadirkan sebuah horror-thriller dengan pengadeganan yang elok dan tokoh-tokoh yang mampu membuat emosi kita bercampur aduk sepanjang film berlangsung. Meskipun ada Gong Yoo dan Jung Yu-mi yang pernah bermain di Silenced, namun tokoh yang berhasil menyajikan cita rasa yang beragam di film ini adalah Sang Hwa, sang calon ayah bertubuh besar (diperankan oleh Ma Dong-seok) dan Yong Suk, sang COO pengecut (diperankan oleh Kim Ui-seong).

Sebenarnya, inti dari kemantapan Train to Busan adalah kritiknya yang efektif dan lugas tentang strata dan fungsi sosial. Hal ini sebenarnya sudah dimunculkan saat Sang Hwa berkata pada istrinya bahwa Seok-woo itu lintah darat, namun kritik sosial selanjutnya dimasak dengan lezat dan cantik di babak kedua, saat skenario penumpang gerbong belakang versus depan dimulai. Dalam sekejap, horor klaustrofobik pun berubah menjadi drama politik sentimental tentang masyarakat yang mudah disetir opininya saat rasa takut mengancam mereka. Dalam situasi yang telah dibangun tersebut, Yeong San-ho pun menggunakan logika penyelesaian yang mengingatkan saya pada Ran, film dari Akira Kurosawa.

“In a mad world, only the mad are sane.” – Kyoami, Ran (1985).

Beberapa persoalan yang bersifat ilmiah dan rasional di film ini memang memiliki banyak permasalahan, namun dengan subteks ‘pengorbanan’ yang menjadi landasan utama skenario film ini (dan tanggal rilisnya yang kebetulan berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha), Train to Busan adalah film horror-thriller yang sangat menghibur dan cocok untuk ditonton bagi semua orang untuk mendalami esensi dari pengorbanan sebagai bentuk dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap kemanusiaan.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

 

N.B.: Semua data kuantitatif bersumber dari IMDb.com, BoxOfficeMojo.com, dan The-Numbers.com.

5 Film Mencekam yang Terinspirasi dari Cerita Dongeng

If you expect the world to be fair with you because you are fair, you’re fooling yourself. That’s like expecting a lion not to eat you because you didn’t eat him.”

Hidup memang tidak selamanya selalu adil. Orang baik tidak selalu terlihat sebagai malaikat, dan orang jahat tidak selalu terlihat sebagai devil dengan tanduk diatas kepala dan tongkat yang tajam. Tetapi, bagaimana jika protagonis-protagonis kita kali ini berjuang mati-matian untuk mendapatkan apa yang memang sepantasnya mereka semua dapatkan?

Berikut adalah lima film mencekam versi penulis yang terinspirasi dari berbagai cerita dongeng penuh moral yang biasa kita baca sewaktu kecil.

  1. Black Swan (2010), Directed by Darren Aronofsky

image

Film psychological thriller/horror yang merupakan versi dark dan twisted dari dongeng Swan Lake milik Tchaikovsky ini bercerita tentang seorang ballerina muda bernama Nina (Natalie Portman) yang berjuang untuk mendapatkan peran White Swan yang anggun dan rapuh pada sebuah produksi ballet ternama di Kota New York, tetapi juga diharuskan untuk memerankan tokoh Black Swan yang sensual dan penuh intrik, yang sebenarnya juga diinginkan oleh seorang ballerina lainnya, Lily (Mila Kunis).

Secara otomatis, Nina yang sejak awal diceritakan memiliki kepribadian introvert dan sangat sensitif, mengalami kesulitan yang amat dalam mengatur emosi dan immense pressure yang dihadapinya, terutama saat ia menemukan dirinya berkompetisi dengan orang lain, dan bukan hanya dengan sang ballerina, Lily—melainkan dengan dirinya sendiri.

2. Hanna (2011), Directed by Joe Wright

image

Young, sweet, deathly. Ketiga kata yang sempurna untuk menggambarkan film action/adventure/thriller ini. Dengan skenario yang terinspirasi dari beberapa cerita dongeng berbeda milik Grimm, film ini menceritakan seorang remaja perempuan bernama Hanna (Saoirse Ronan), yang hidup di tengah pedalaman hutan Finlandia bersama ayahnya, Erik Heller atau “Papa” (Eric Bana), yang secara diam-diam merupakan seorang mantan agen CIA.

Sejak kecil, Hanna sudah dipersiapkan oleh Erik untuk menjadi assassin, yang pada akhirnya ditugaskan untuk berperang dengan seorang agen senior CIA bernama Marissa Wiegler (Cate Blanchett), yang sejak dulu berusaha untuk menemukan dan membunuh Hanna dan ayahnya. Things will be questioned, murders will be done, and mysteries will be solved.

3. Hansel & Gretel (2007), Directed by Lim Pil-Sung

image

Diselaraskan dengan judulnya, film horror asal Korea Selatan ini terinspirasi dari cerita dongeng anak-anak Hansel & Gretel asal Jerman. Menceritakan tentang Eun-soo (Chun Jung-Myung), seorang salesman yang tengah menyetir di Highway 69 sambil berargumen lewat telfon dengan pacarnya, Hae-Young, lalu secara tidak sengaja kehilangan kendali mobilnya dan menabrak batu. Setelah tidak sadarkan diri, Eun-soo menemukan dirinya terbangun ditengah hutan yang gelap dan hampir tidak berpenghuni, hingga pada akhirnya ia diselamatkan oleh seorang anak kecil misterius bernama Young-hee (Shim Eun-kyung).

Setelah menerima tawaran Young-hee untuk berteduh dan membersihkan diri di rumahnya, Eun-soo pun tersadar bahwa Young-hee bukanlah sekedar anak kecil lugu yang tinggal di hutan, terutama setelah Young-hee memperkenalkan Eun-soo kepada kedua saudaranya yang lain, Man-bok (Eun Won-jae) dan Jung-soon (Jin Ji-hee). Bersama orang tuanya, ketiga bersaudara ini tinggal di sebuah rumah besar nan misterius yang dinamakan House of Happy Children.

4. Freeway (1996), directed by Matthew Bright

image

Dibuat sebagai versi modern dari cerita dongeng klasik, Little Red Riding Hood, film crime/action bertabur bintang ini menceritakan tentang seorang remaja sarkastik berusia 15 tahun, Vanessa Lutz (Reese Witherspoon), yang setelah  bebas dari jeratan kekerasan seksual ayahnya, pergi untuk tinggal di rumah neneknya—seseorang yang belum pernah ia temui seumur hidupnya. Permasalahan mulai bermunculan saat mobil Vanessa rusak di tengah jalan, memaksanya untuk menerima bantuan dari seorang pengemudi lain yang terkesan ramah dan mudah dipercaya bernama Bob Wolverton (Kiefer Sutherland), yang tanpa ia ketahui merupakan seorang pembunuh berantai yang sedang ramai dicari polisi.

5. Suspiria (1977), Directed by Dario Argento

image

Berparalel dengan cerita dongeng Snow White, film fantasy/mystery asal Italia ini dianggap sebagai film dengan audio dan setting terbaik di akhir tahun 70-an. Bahkan, remake film Suspiria akan diris tahun depan, dengan Dakota Johnson dari Fifty Shades of Grey sebagai pemeran utamanya.

Bercerita tentang seorang ballerina asal Amerika bernama Suzy (Jessica Hadper) yang melanjutkan studinya pada salah satu sekolah ballet terbaik di Jerman, Suzy pun mendapati teman-temannya menghilang secara misterius dan dibunuh dengan berbagai cara yang grotesque dan tidak manusiawi. Ia tersadar bahwa tempat yang awalnya di anggap sebagai surga menarinya, ternyata memiliki sejarah yang mendebarkan dibalik semua fasilitas dan kemewahan yang ditawarkannya.

Film Suspiria merupakan installment pertama dari trilogi Three Mothers, yang kemudian diikuti dengan Inferno dan The Mother of Tears. Dalam ketiga film ini, pentonton akan dihadapkan dengan berbagai elemen supernatural (terutama evil witchcrafts), yang pada akhirnya akan membentuk sebuah kesimpulan psikologis yang mencengangkan.

image

Setelah menonton kelima film diatas, dapat disimpulkan bahwa fairy tales tidak melulu berisi putri-putri anggun dan cantik dengan berbagai gaun mewah yang purpose utama dalam hidupnya hanya bertemu pangeran-pangeran tampan and live happily ever after! Terkadang, there is (almost) no fine line between our protagonists and antagonists in real life, and that’s completely realistic and acceptable.

9 Film Keluarga Yang Paling ‘Disturbing’ dan Menjijikkan

Disturbing films? Ah, sudah biasa. Bagaimana dengan disturbing films yang bertemakan keluarga? Pastinya kalian akan sangat tertarik untuk menontonnya, dan tentunya akan lebih sarat dengan pesan moral yang membahas tentang betapa berharganya keluarga. Namun jangan pula berharap bahwa film-film ini aman untuk ditonton bersama istri/suami ataupun anak-anak dan orang tua kalian, karena seperti yang sudah gue terangkan di judul, ini adalah daftar film-film disturbing. Selain konten ketelanjangan dan kesadisan yang sangat tidak layak konsumsi untuk anak-anak, premis tiap film serta beberapa scene paling gila di dalam daftar film yang akan gue sebutkan ini berisiko membuat orang-orang yang tidak kuat mental untuk mengalami trauma berkepanjangan.

Jadi, segera tutup laman ini jika anda termasuk orang-orang bermental lemah tersebut. Tontonlah film-film keluarga yang bisa membawa aura positif buat anda, seperti Home Alone, Petualangan Sherina, atau Keluarga Cemara. Namun jika anda memang orang yang senang mencari pengalaman berbeda dalam mengeksplorasi film  dan sedikit ‘gila’, maka bersiap-siaplah. Bukannya gue merendahkan, gue cuma mengingatkan saja, sebelum semuanya terlambat…

So…here it goes.

1. The Exorcist (1973) directed by William Friedkin

Film ini sudah didaulat oleh sebagian kritikus film sebagai film horror terbaik sepanjang masa. Berkisah tentang seorang ibu (Ellen Burstyn) yang meminta pertolongan kepada dua orang pendeta (Max von Sydow dan Lee J. Cobb) untuk mengeluarkan sosok jahat bernama ‘Pazuzu’ yang merasuki anak perempuannya (Linda Blair). Sepintas terlihat sederhana dan umum karena tema seperti ini memang sudah sering dibahas oleh film-film horor modern. Tapi percayalah, anda tidak akan mampu tidur semalaman setelah melihat sosok si anak gadis kecil lucu yang berubah setelah dirasuki Pazuzu.

The Most Disturbing Scene:

“In the name of Father, Son, and Holy Spirit, let Jesus f*ck you motherf*cker!!” Ujar sang anak sambil menusuk-nusukkan salib kayu ke kemaluannya sendiri.

2. Antichrist (2009) directed by Lars von Trier

Sutradara asal Denmark ini memang sudah dikenal piawai dalam mengeksploitasi depression dalam setiap film yang ia arahkan. Film ini pun mengusung tema depression dengan dinamika alur yang lambat dengan visual treatment yang indah namun sangat mengerikan seperti berniat untuk menyiksa kita pelan-pelan. Seorang istri (Charlotte Gainsborough) yang depresi karena kematian anaknya mencoba untuk menenangkan dirinya dengan pergi bersama suaminya yang juga seorang psikiater (Willem Dafoe) ke sebuah kabin di tengah hutan pinus dan menjalani terapi pribadi di sana. Di luar dugaan, duka nestapa yang diderita sang istri semakin menjadi-jadi sehingga sang istri pun melakukan hal-hal gila yang tidak hanya menyakiti suaminya, namun juga dirinya sendiri.

The Most Disturbing Scene:

Banyak yang bilang genital mutilation di akhir film adalah scene paling mengerikan yang pernah mereka tonton. Bagi saya yang seorang pria–dan tentunya para pria yang lain–yang paling membuat saya mengerutkan dahi adalah scene ‘genital annihilation’ dari sang istri kepada sang suami.

3. Bedevilled (2010) directed by Jang Cheol-soo

Harusnya film ini gue tempatkan di list film-film dengan ending paling menyebalkan, tetapi mengingat karena film ini dari awal sampai akhir sudah sangat menyebalkan, jadi gue masukkan saja dalam list ini. Seorang wanita bernama Kim Bok-nam (Seo Yeong-hi) menjadi objek kekerasan seksual, fisik, dan mental bagi para penduduk–ya, termasuk keluarga dan suaminya sendiri–di pulau terpencil yang bernama Moodoo. Tidak ada seorang pun yang memihak padanya, bahkan suami dan ibunya pun memperlakukannya lebih buruk daripada binatang. Kim beberapa kali mencoba untuk kabur dari pulau tersebut, namun selalu gagal karena–sekali lagi–tidak ada yang memihak kepadanya. Saudaranya yang bernama Hae-won (Ji Seong-won) yang datang berkunjung pun tidak kuasa untuk menolongnya karena dia tidak ingin ikut campur urusan seluruh penduduk yang sepertinya sudah bersepakat untuk tidak akan membiarkan Bok-nam melarikan diri dari pulau.

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya hampir semua scene penyiksaan Bok-nam di film ini sangat menyakitkan untuk ditonton, tapi sekadar highlights buat kalian, coba tonton scene yang satu ini.

4. Dogtooth (2009) directed by Yorgos Lanthimos

Home-schooling gone extreme. Bayangkan kalian sebagai seorang anak dikurung oleh orang tua kalian di dalam rumah dan tidak diperbolehkan untuk keluar sejak kalian dilahirkan sampai gigi depan kalian tanggal.  Kalian dididik sejak kecil oleh orang tua kalian sendiri dengan kebohongan-kebohongan dan bahkan diajari cara menggonggong seperti anjing seakan-akan hal tersebut merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Kalian diajarkan bahwa kata “Laut” berarti sebuah kursi beralaskan kulit yang diletakkan di dalam ruang keluarga. Televisi hanya digunakan untuk menonton video yang direkam sendiri oleh keluarga di dalam rumah. Belum cukup? Masih ada kegilaan-kegilaan lain yang ditunjukkan dalam film yang berbicara tentang konservatisme di dalam keluarga ini.

The Most Disturbing Scene:

Mari berdansa!!

5. Strange Circus (2003) directed by Sion Sono

Seorang ayah sengaja menyembunyikan anaknya (Masumi Miyazaki) di dalam kotak cello setiap kali sang ayah menyetubuhi sang ibu agar sang anak dapat melihat dengan jelas kenikmatan mereka berdua dari lubang kotak. Setelah selesai dengan sang ibu, sang ayah kemudian mengeluarkan anaknya dari dalam kotak Cello dan lanjut menyetubuhi anaknya yang masih berusia 7 tahun itu. Sudah cukup jelas seberapa disturbing film ini? Belum, yang membuat film ini akan sangat membekas dalam hidup kalian adalah betapa elegan dan artistiknya Sion Sono dalam mengemas kekejaman demi kekejaman yang disajikan. Bayangkan saja ketika Debussy, Liszt, dan Bach yang mengiringi adegan penyetubuhan ayah pada anak kecilnya di film ini membuat kalian mempertanyakan moralitas kalian sendiri karena kenyamanan dan keindahan yang tidak seharusnya yang kalian rasakan saat menontonnya.

The Most Disturbing Scene:

6. Eraserhead (1972) directed by David Lynch

Gue tidak bisa menemukan cara yang benar-benar pantas untuk bisa mendeskripsikan Feature-film debut dari sang art-house film auteur David Lynch ini bagaimana dan seperti apa. Begini deh, coba kalian bayangkan sendiri bagaimana bila seorang gadis yang kalian pernah pacari dulu ternyata hamil, kemudian kalian nikahi, lalu setelah melahirkan ternyata anaknya menyerupai kadal–atau alien, atau makhluk dampak radiasi Chernobyl, atau apalah–yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara-suara mengerikan dan memuntahkan cairan-cairan kental seperti limbah industri dari mulutnya. Belum, itu belum semuanya, bahkan mungkin hanya 5% dari keanehan-keanehan yang entah bagaimana dapat tercipta dari kepala seorang manusia seperti David Lynch. Lewat list ini, gue officially mendaulat film ini sebagai “THE MOST BIZARRE FILM EVER” karena secara harfiah gue belum pernah menonton film yang lebih aneh dari ini.

The Most Disturbing Scene:

Ketika Henry (John Nance), sang suami, mengalami sebuah mimpi yang mengubah hidupnya,

7. Moebius (2013) directed by Kim Ki-duk

Another South Korean film! Kalau kalian pernah menonton 3-Iron (2004) atau Spring, Summer, Fall, Winter and Spring (2003), film ini diarahkan oleh sutradara yang membuat kedua film tersebut. Kali ini, Kim Ki-duk membahas tentang disfungsi keluarga yang berakar dari kecemburuan dan seksualitas dengan pendekatan yang ekstrim. Seorang ibu (Eun-woo Lee) yang mengetahui perselingkuhan suaminya (Jae-hyeon Jo) pada suatu malam berencana untuk balas dendam dengan diam-diam memotong kemaluan suaminya saat sedang tertidur. Sang suami yang terbangun tiba-tiba menjadi marah dan mendorong serta memukul sang istri yang kemudian langsung beranjak pergi. Tidak menyerah sampai di situ, sang istri malah pergi ke kamar anaknya yang sedang tertidur dan memotong kemaluan anaknya (Young-ju Seo). Sang ayah yang merasa bersalah terhadap anaknya kemudian mulai mencari cara agar sang anak bisa tetap mendapatkan kepuasan seksual tanpa harus mengandalkan kemaluannya. Film ini sakit, namun lucu dan mengerikan secara bersamaan oleh adegan potong memotong penis yang lumayan banyak dan juga adegan pelampiasan seksual algolagnia dengan menusukkan pisau pada pundak dan kemudian menggoyangkannya sambil mendesah nikmat. Kelebihan dari film ini adalah kita tetap mampu merasakan kehangatan dan intensitas serta kerenggangan hubungan antar karakter walaupun tanpa ada dialog dan komunikasi verbal maupun musical scoring sepanjang film berlangsung.

The Most Disturbing Scene:

Ada satu adegan di mana kekasih (yang lucunya diperankan oleh orang yang sama dengan yang memerankan sang ibu, Eun-woo Lee) dari sang anak berkomplot mencarikan sang anak penis baru untuk disambungkan lewat operasi. Sang kekasih merayu seseorang yang dulu pernah memperkosanya, lalu saat pemerkosa itu lengah, sang kekasih memotong kemaluannya, lalu sang anak mengambil kemaluan itu dan berlari ke tengah jalan. Sang pemerkosa yang panik mencoba bangkit lagi dan mengejar sang anak, dan dari sini lah kegilaan dimulai.

8. Visitor Q (2001) directed by Takashi Miike

Dari semua film yang ada di list ini, film besutan sutradara Crows Zero (2007) ini adalah yang paling lucu dan menggelikan, meskipun tetap menjijikkan dan sinting. Bercerita tentang disfungsi sebuah keluarga di mana sang anak perempuan (Fujiko) melacur pada ayahnya sendiri (Ken’Ichi Endo) yang pecundang dan sang anak laki-laki (Jun Muto) berumur belasan tahun yang tega memukuli ibunya sendiri (Shungiku Uchida) yang lemah dengan penggebuk kasur, seorang pria misterius (Kazushi Watanabe) memasuki keluarga tersebut dan menciptakan keseimbangan yang harmonis dengan kelakuannya yang sembarangan. Meskipun terlihat sangat tolol dan di luar batas, namun film ini berbicara sangat banyak tentang kehangatan sebuah keluarga yang harus dijaga dengan baik. Premis film ini memaparkan dengan baik apa yang Harper Lee tulis di To Kill a Mockingbird, “You can choose your friend, but you can’t choose your family, and they’re still kin to you no matter whether you acknowledge ’em or not, and it makes you look right silly when you don’t.”

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya ada scene yang lebih disturbing di mana sang ayah memperkosa mayat rekan kerjanya yang ia bunuh dan tiba-tiba seluruh isi perut mayat (iya, tai) keluar dan mengotori tangan sang ayah. Tapi coba kalian lihat dulu adegan breast-milking ini dan silahkan kalian nilai sendiri.

9. A Serbian Film (2010) directed by Srdjan Spasojevic

Terkenal oleh kontroversi kesadisan yang jauh melebihi batas wajar dan telah dilarang untuk tayang oleh banyak negara, film ini telah diakui sebagai film yang paling sinting dan ekstrim yang pernah dibuat. Seorang bintang film porno bernama Milos (Srdjan Todorovic) yang telah pensiun tiba-tiba mendapatkan tawaran kembali untuk bermain di pangsa pasar elit di Serbia dengan bayaran tinggi yang bisa menjamin kemakmuran hidup istri (Jelena Gavrilovic) dan anaknya (Slobodan Bestic). Milos tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan sampai pada akhirnya ia mengetahui bahwa ia harus terlibat dalam pembuatan film porno tersadis yang melibatkan kematian. Gue sudah pernah menonton The Human Centipede I dan II dan itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan film yang menyajikan seorang gadis yang kepalanya dipenggal oleh si pemerkosa saat sedang disetubuhi ini. Terlebih, film ini menyajikan ending yang tragis dan nihilis. Tidak ada alasan untuk kalian menonton film ini kecuali kalian memang ingin menantang diri kalian sendiri, dan jangan salahkan gue kalau kalian nggak kuat menonton sampai selesai. Kalian sudah diperingatkan.

The Most Disturbing Scene:

“NEWBORN RAPE! NEWBORN RAPE!” Scene yang membuat gue langsung mandi wajib setelah selesai menonton.

7 Film dengan Ending yang Paling Menyebalkan

Beberapa dari kita secara umum menyukai akhir cerita bahagia layaknya dongeng-dongeng Disney ataupun film-film action Blockbuster Hollywood yang menonjolkan tokoh utama dengan kekuatan istimewa yang mampu menyelamatkan dunia. Beberapa juga tergila-gila pada ending menyedihkan yang mampu membuat mereka berlinangan air mata dan mengibakan kondisi tokoh utama yang lemah dan tak berdaya menghadapi permasalahan mereka di akhir cerita (baca juga “7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Kalian Dengar”). Namun, ada pula dari kita yang secara unik memiliki ketertarikan terhadap ending film yang bukan hanya mampu membuat kita merasa depresi, namun juga terkejut dan bahkan murka semurka-murkanya terhadap akhir cerita yang berlawanan jauh dengan apa yang kita harapkan sebelumnya. Untuk kalian yang kecanduan terhadap siksaan mental tersebut, berikut akan gue berikan rekomendasi 7 film dengan ending menyebalkan yang bisa bikin kalian melemparkan barang apapun yang ada di dekat kalian secara liar di akhir film.

1. Sightseers (2013) – Directed by Ben Wheatley.

Film ini diawali dengan sangat romantis. Dua orang yang sudah saling bertunangan, Tina (Alice Lowe) dan Chris (Steve Oram) memutuskan untuk mengadakan ‘road trip’ dengan sebuah mini van meskipun ibu dari pihak wanita (Eileen Davis) tidak merestui hubungan mereka. Film berjalan dengan sangat manis sampai akhirnya mini van yang mereka kendarai melindas seorang pria gemuk sampai mati di parkiran mini market. Kita akan dibawa menuju sebuah praduga kuat terhadap kondisi kejiwaan Chris yang ternyata memang seorang idealis psikopat cerdik yang tidak bisa mengontrol dirinya untuk membunuh orang-orang yang mengganggunya selama perjalanan bersama Tina, yang perlahan-lahan terpengaruh oleh cara berfikir Chris yang telah membuatnya merasa nyaman dan klik dengan caranya yang memperlakukan Tina dengan sangat baik. Film dengan tone yang cukup gelap ini mampu membuat kita kebingungan dengan absensi moralitas dan pembenaran psikopasi dengan alasan idealisme dan cinta yang cukup mendominasi dari Chris dan Tina. Endingnya juga cukup manis. Mereka berlarian di tengah padang rumput setelah membakar mini van mereka yang telah menjadi barang bukti pembunuhan dan berjalan menuju sebuah tebing curam untuk bunuh diri bersama sambil bergandengan tangan dengan diiringi lagu “The Power of Love” dari Frankie Goes to Hollywood sampai pada akhirnya…WHAT!!??

After-Ending Reaction:

2. Oldboy (2003) – Directed by Park Chan-Wook

Gue ngga menyarankan kalian untuk menonton versi Hollywood remake-nya karena hasilnya sangat mengecewakan. Film yang disutradari oleh maestro revenge-thriller yang sudah diakui kritikus dan pembuat film di seluruh dunia ini bercerita tentang seorang pria bernama Oh Dae-su (Choi Min-sik) yang melakukan pembalasan dendam setelah 12 tahun disekap di dalam sebuah penjara dan disiksa secara mental oleh seseorang yang tidak ia ketahui siapa. Dengan segala petunjuk dan ilmu yang ia pelajari serta keahlian bela diri yang ia asah selama penyekapan, ia melalui perjalanan misterius, menegangkan, dan gila (terutama scene yang melibatkan sushi dan gurita) ditemani seorang wanita lucu yang submisif bernama Mi-do (Kang Hye-jeong). Film yang juga mahsyur karena salah satu adegan perkelahian yang terjadi di lorong sempit ini mempunyai twist ending luar biasa cerdas sekaligus mengejutkan. Bagi mereka orang-orang yang terpilih mungkin akan berpikir bahwa Oldboy bukan hanya film thriller dengan ending yang tidak terduga, tapi juga sekaligus film tragedi tentang ayah dan anak yang sangat menyedihkan.

After-Ending Reaction:

3. Funny Games (1997) – Directed by Michael Haneke

Hollywood pernah meremake film ini pada tahun 2007 dengan bintang utama Naomi Watts, Michael Pitt, dan Tim Roth. Terserah kalian mau nonton yang mana, karena kedua versi sama-sama disutradarai oleh Michael Haneke yang memang ahli dalam meramu sifat ketidakpuasan dan keterasingan dalam pribadi tiap karakter yang ia ciptakan. Film yang cenderung sadis dan brutal secara psikologis ini bercerita tentang dua orang pemuda berpakaian seragam golf yang menawan satu keluarga di dalam rumah mereka sendiri. Sederhana, memang, namun kekonyolan tingkah laku kedua pemuda yang sangat tenang seperti sedang bermain-main dengan kekejaman mereka tersebut sanggup untuk menimbulkan amarah yang luar biasa bagi para penonton bahkan kepada mereka yang sudah terbiasa dengan film-film slasher sekali pun. Sebenarnya hal paling menyebalkan di film ini bukan pada endingnya, tapi lebih tepatnya pada adegan ‘Remote Control’ sebelum ending–yang sebelumnya kita harapkan berakhir bahagia–terjadi. Bukan hanya karena menarik ulur emosi kita, namun juga karena terkesan sangat tidak logis, memaksakan, dan juga tidak memberikan moral content apapun pada keseluruhan cerita ini. Tapi menurut gue disitulah letak keunikan dan keistimewaan film yang hanya terfokus di satu latar ini. Funny Games hanya ingin bermain-main dengan reaksi lucu kalian saat menontonnya sampai akhir.

After-Ending Reaction:

4. Eden Lake (2008) – Directed by James Watkins

Tema yang diangkat oleh film slasher dari Britania Raya ini kali ini adalah kenakalan remaja. Bullying? Hmm…bisa jadi, kalau kalian menganggap sekumpulan anak (super) nakal yang meneror pasangan orang dewasa yang sedang berlibur di pinggir danau itu juga jenis ‘bullying’. Tidak seperti film slasher pada umumnya yang menjadikan remaja-remaja nakal sebagai korban dari psikopat misterius yang mengincar mereka untuk dibunuh satu persatu, Eden Lake malah menjadikan mereka sebagai pelaku utama pembunuhan dan penyiksaan pasangan dewasa yang sedang melakukan piknik romantis. Bayangin aja, pria semacho dan seganteng Steve (Michael Fassbender) bakal diacak-acak sampai menangis seperti bayi oleh para remaja super nakal berwajah super menyebalkan ini. Sang perempuan, Jenny (Kelly Reilly), seperti biasanya film slasher, adalah yang paling mampu bertahan sampai 10 menit sebelum ending film yang bakal meledak-ledakkan emosi kalian. Yah, setidaknya, kalian akan berjanji untuk menjadi orang tua yang baik dan tegas pada anak-anak kalian kelak di masa depan setelah selesai menonton film ini dan selesai bergulat dengan percikan api amarah yang masih akan menyala-nyala seterusnya.

After-Ending Reaction:

5. Prisoners (2013) – Directed by Denis Villeneuve

Dibintangi oleh dua punggawa Blockbuster Hollywood, Jake Gyllenhaal dan Hugh Jackman, film ini adalah sebuah crime-thriller emosional yang mungkin terlewatkan oleh kalian di tahun 2013 kemarin karena rilis pada musim panas di mana Iron Man 3, Star Trek: Into Darkness, dan Fast 6 lebih merajai singgasana bioskop dunia. Cerita berfokus pada Keller, yang kehilangan anak dan teman anaknya secara misterius pada saat sedang merayakan hari Natal bersama keluarga. Beberapa hari kemudian, Detektif Loki (Jake Gyllenhaal–iya, bukan Tom Hiddleston) menangkap Alex Jones (Paul Dano) yang terduga sebagai penculik anak-anak tersebut. Dikarenakan tidak cukupnya bukti, kepolisian melepas Alex dan memulangkannya ke rumah. Kecewa dengan lemahnya kepolisian serta dikendalikan oleh amarah buta, Keller menculik Alex dan menyekap serta memukuli sambil terus menginterogasinya secara paksa di dalam toilet rumahnya sendiri. Detektif Loki, yang mencurigai kelakuan Keller serta hilangnya Alex, mulai melakukan investigasi lanjutan hingga pada akhirnya menemukan fakta demi fakta yang mengungkap siapa pelaku sebenarnya di balik penculikan tersebut dan di mana anak-anak itu disembunyikan. Lagi-lagi, endingnya secara cerdik mempermainkan psikologi kita layaknya seorang gebetan yang suka menarik ulur emosi kita kemudian mencampakkan kita begitu saja. Anak-anaknya berhasil ditemukan, memang, walaupun dalam kondisi yang buruk. Tapi bukan itu masalahnya, karena ada hal lain yang akan bikin kalian geregetan dan mengutuk sutradara film ini “Kurang Ajar” sebagaimana kita mengutuk gebetan yang telah meninggalkan kita.

After-Ending Reaction:

6. Triangle (2009) – Directed by Christopher Smith

Satu lagi film menyebalkan yang berasal dari Britania Raya. Bagi kalian pecinta teori konspirasi, film ini akan memuaskan hasrat fantasi kalian tentang apa saja yang akan terjadi ketika perahu kalian melintasi kawasan Segitiga Bermuda dan terjebak di dalam sebuah badai. Saat Jess (Melissa George) dan teman-temannya mengalami hal tersebut, mereka menemukan sebuah kapal penumpang besar yang kosong dan mereka naik ke atasnya mencoba untuk mencari pertolongan. Namun tiba-tiba seseorang dengan topeng dan jaket hitam memburu mereka satu persatu sambil menembaki mereka dengan shotgun. Tidak ada yang tersisa kecuali Jess, yang semakin berusaha untuk keluar dari kapal, malah menemukan keganjilan demi keganjilan yang berujung pada sebuah fakta mengerikan yang harus Jess alami seumur hidupnya. Terlalu banyak spoiler yang ngga bisa gue ceritakan di sini yang kalian akan paham kenapa jika kalian sudah selesai menonton film yang secara absurd mengerikan ini.

After-Ending Reaction:

7. The Mist (2007) – Directed by Frank Darabont

HERE COMES THE KING! *pun intended* Oke, sejauh ini dari enam film yang gue share di atas, film ini yang paling memenuhi syarat untuk dinobatkan sebagai film dengan ending paling menyebalkan yang pernah ada. Diangkat dari novel Stephen King berjudul sama, film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang tiba-tiba diselimuti kabut yang sangat tebal di mana terdapat monster besar dengan tentakel yang misterius yang akan membunuh siapapun yang ada di luar ruangan. Beberapa penduduk kota yang tersisa mencoba untuk bertahan dan berlindung di dalam sebuah supermarket. Perbedaan kepercayaan, sifat, serta kepentingan menimbulkan konflik yang tidak bisa dihindari sehingga beberapa harus mencoba keluar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagi-lagi, seperti apa yang pernah gue lakukan pada Requiem for a Dream di artikel sebelumnya, gue harus memperingatkan kalian bahwa ending film ini bukan buat orang-orang berhati lemah. Gue ngga akan bertanggung jawab atas reaksi ekstrim kalian setelah menyaksikan akhir film yang menurut gue bahkan kelewat batas untuk bisa dibilang sebagai menyebalkan.

After-Ending Reaction:

Honorable Mention:

Arlington Road (1999), Audition (1999), The Descent (2005), 500 Days of Summer (2009)

Oculus (2014) – The Killing Mirror

Pas awal-awal nonton film ini, lo bakal ngerasa agak kecewa dengan akting yang kurang matang dari kedua tokoh utamanya. Ditambah dengan sinematografi yang terlalu standar untuk film horror dan alur non-linear yang bikin lo ngga ngerti di mana sebenernya fokus cerita di film ini. Hell, lo bahkan baru ngerti film ini tentang apa setelah di menit ke-30 saat Kaylie (diperankan oleh Karen Gillan) menuturkan secara kronologis apa yang menjadi permasalahan film tersebut dalam ‘narrative explanation of video-making purpose’ scene.

Berkisah tentang Kaylie yang mencoba untuk membuktikan bahwa sebuah cermin antik telah bertanggung jawab terhadap kematian puluhan orang yang pernah menjadi pemiliknya, termasuk ayah dan ibunya. Bersama adiknya, Tim (diperankan oleh Brenton Thwaites) mereka memasang kamera dan perangkap di dalam ruangan tempat cermin itu disimpan untuk merekam bukti bahwa cermin tersebut mempunyai kekuatan supernatural yang bisa mempengaruhi orang di sekitarnya.

Namun seiring waktu berjalan, mereka pun akhirnya terjebak dalam distorsi realita yang mencekam saat cermin itu mulai bermain-main dengan pikiran mereka. Alur cerita yang non-linear namun paralel (seperti di film Memento) terkesan seperti saling sambung-menyambung di beberapa bagian. Plot cerita yang menyeramkan disusun sedemikian rupa sehingga membuat kita penasaran dan emosional saat melihat ending cerita yang ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Unsur horror di film ini bukan hanya ditimbulkan dari sosok hantu yang creepy, namun juga lewat special effect yang mengaburkan batas antara past timeline, present timeline, serta supernatural illusion sehingga membuat kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Kaylie dan Tim.

Gaya penuturan yang baik serta cerita yang kompleks (berdasarkan Oculus Chapter 3 – The Man with The Plan, short film yang disutradarai dan ditulis sendiri oleh Mike Flanagan) dengan alur yang unorthodox membuat film ini mendapat nilai plus, mampu menutupi akting yang kurang maksimal dari Karen Gillian dan Brenton Thwaites. Dengan ending yang cukup menggantung, penonton akan berharap banyak untuk sekuelnya. Direkomendasikan bagi kamu para penyuka film horror yang lebih suka dibuat bingung dan bertanya-tanya cemas ketimbang dikagetin dan dimuncrat-muncratin darah.

DISTOPIANA’S RATING: 2.5 out of 5.