Tag Archives: indonesia

Membedah “Posesif” (2017) – Orang Tua, Remaja, dan Keluguan yang Berbahaya

Kita semua pernah menjadi remaja, dan kita pasti merasa amat sangat bodoh bila mengingat kembali segala keputusan yang pernah kita ambil di masa remaja. Manjat pagar sekolah saat pintu gerbang ditutup karena telat, ngelawan guru dengan argumen-argumen sok pinter saat kita kena hukuman, pacaran sama cewek/cowok populer di kampus cuma karena mereka populer, jatuh cinta dengan obsesi serta kecemburuan yang mereka tunjukkan pada kita, dan hal-hal bodoh lainnya. Kebodohan yang kita lakukan tersebut tidak serta merta ada tiba-tiba, namun berasal dari lingkungan keluarga kita.

Inilah yang Posesif coba bahas secara berani dan gamblang. Berfokus pada isu toxic relationship, film yang disutradarai oleh Edwin tidak semata-mata memprovokasi kita untuk mengutuk dan mengecam pelaku kekerasan dalam sebuah hubungan, namun malah mengajak kita untuk memahami akar dari segala siklus kekerasan — yaitu pranata keluarga.

Film ini sangat istimewa buat saya. Saking istimewanya, saya memutuskan untuk tidak hanya mengulas film ini sendirian, namun juga membedah film ini secara dalam bersama rekan saya, Bunga Maharani, yang kebetulan sedang rehat sejenak dalam studi Psikologinya di Universitas Udayana. Agar terkesan mentah, familiar, serta enak dibaca, saya akan menyalin chat saya dan Bunga dari Line langsung sebagai ulasan film ini.

  • Tommy: “Halo Bungs! Akhirnya kita bisa review film bareng ya.”
  • Bunga¬† : “Yay! Setelah sekian lama ūüôŹūüŹĽ”
  • Tommy: “Nah, sebelum kita breakdown film ini, let’s start with one question: Apa kesan lo tentang Posesif sebelum nonton film ini?”
  • Bunga¬† : “Oh, look, it’s another coming-of-age romance! The premise does seem interesting though I’m not very sure about its execution, but let’s watch it anyway.
  • Tommy: “HAHAHA SAMA”
  • Bunga¬† : “I mean, it’s Indonesia’s teen romance after all…”
  • Tommy: “Kalo gue, awal ngeliat sih ‘Anjir lah Edwin kok berani sih masuk pasar mainstream tapi bawa premis yang terlalu biasa dan cheesy’?”
  • Bunga¬† : “I’ve been looking out for Edwin for quite awhile, but I never expected him to take an interest over film-film kayak gini.¬†Karena film ini dari luar tidak terkesan complex.¬†Meskipun pada akhirnya, ya… you know…”
  • Tommy¬†: “Yess, secara gue ngikutin Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcard from The Zoo, nggak percaya lah gue Edwin bakal bikin film yang biasa aja. Apalagi produsernya Meiske Taurisia, yang bikin dokumenter “Potongan” yang blak blakan ngungkap LSF itu kayak gimana. Finally emang gue nggak kecewa sama sekali, dan kepercayaan gue terhadap Edwin sepenuhnya benar.”
  • Bunga¬† : “Dan satu poin lagi, when the word “posesif” crossed my mind, yang di otak gue adalah: pacar-pacaran SMA yang masih bersifat experimental, pasangan yang saling mengekang satu sama lain, atau A jealous sama B dan B jealous sama C. That’s it. Tapi ternyata… wah. So much more than that.”
  • Tommy : “Nah iya! Gue juga. I mean, film ini sukses ngangkat tema toxic relationship dari perspektif yang sungguh realistis, dengan narasi yang simpel tanpa ada unsur preaching sama sekali.¬†Terlebih, bukan cuma sukses ngupas kulitnya, Edwin juga berhasil ngebedah daging dan akar-akarnya tanpa harus ngorbanin ceritanya menjadi sebuah khotbah Jumat ataupun pesan layanan masyarakat.”
  • Bunga¬† : “Karena pada akhirnya, yang masyarakat butuhkan adalah sebuah film yang bisa depict kejadian yang sehari-hari terjadi dengan cara yang paling simple, raw, tidak harus verbal (bisa dibuat metaphorical because, hey, some things are not always meant to be spoken out loud) tapi tetap ngena sampai ke hati dan bisa bikin kita mikir dua kali tentang life choices yang udah kita buat selama ini. Bukan cuma yang menggurui dan bias, atau bahkan jadi me-romanticize yang tidak seharusnya.”
  • Tommy¬† : “Goshhhh bener banget!¬†Yuk langsung kita breakdown bareng filmnya!”
  • Bunga¬† ¬† ¬†: “Let’s goo!”

  • Tommy¬†: “Di awal seperempat film, gue dibuat agak sedikit bingung sama perasaan gue sendiri.”
  • Bunga¬† ¬† ¬†: “And why was that?”
  • Tommy¬† ¬†: “Antara ‘Anjir ini cheesy abis mereka pedekate cepet amat, Yudhis kayak gaada tantangannya sama sekali buat dapetin Lala. Baru jalan sebentar langsung gambar-gambar pinguin di tangan’ sama ‘astaga kok treatmentnya indah banget. Tone filmnya seperti sebuah mixture lovely-lovely cinta monyet plus indie-indie Payung Teduh. Everything was visually beautiful’
  • Bunga¬† ¬†: “True! The visual aesthetics are so pleasing that I want to take screenshots of each scene and put them on my IG, hahahaha.”
  • Tommy¬† : “YAKAAN anjir itu gambar-gambarnya dibikin grid di IG bagus banget gila. Terkesan pop, tapi nggak murahan banget.”
  • Bunga¬† ¬† : “Dan lo notice kan, dari awal Yudhis itu terkesan… harmless. Your typical good guy with the perfect family and a balanced life. Well, that, until everything took a toll on both of them… *drumroll!!!*”
  • Tommy¬† ¬†: “Betul. Betul banget. Image good guy Yudhis perlahan diruntuhin sejak dia pertama kali nyamperin Lala latihan loncat indah pas malam hari. I mean…it’s not actually wrong, tapi kesan creepynya udah muncul.”
  • Bunga¬† ¬† : “Those laser beams, though, holy shit!!!¬†Gue sama sekali tidak expect dia akan mulai transisi nya dengan nyenterin mata Jihan.”
  • Tommy¬† : “Kalo gue udah expect, tapi tetep aja gue ngeri pas dia akhirnya bener ngelakuin hal itu.”
  • Bunga¬† ¬† : “Ekspresi wajahnya Adipati bener-bener keren, dia bisa portray sisi-sisi lain Yudhis tanpa terkesan artificial.¬†Yudhis yang manis, Yudhis yang posesif, Yudhis yang sakit.”
  • Tommy¬† : “Goddamn right. Ini bener bener penampilan Adipati terbaik sepanjang karir dia. Dari pembawaan Adipati sebagai Yudhis pas ngelaserin Jihan, gue malah udah bisa ngeliat kalo Yudhis itu cowok yang nggak bener buat Lala, he’s going to do something harmful to her sooner or later. Dia udah bisa bikin gue nerawang watak serigala di balik bulu dombanya.”
  • Bunga¬† ¬† : “Tidak perlu dengan gerak gerik yang berlebihan, cukup dari cara Yudhis menatap udah bisa bikin gue merinding. Dan ternyata dia umpetin lasernya di bawah sepatu! Sneakily clever.”
  • Tommy¬† : “Plus, treatment kamera dan editingnya bikin narasi jadi makin tajem. Mulai dari adegan Yudhis ngomong ke Lala di mobil pas siang “Aku itu pacar atau supir kamu” udah mulai serem, but somehow, lewat chemistry Adipati dan Putri Marino yang tajem, kita masih ngerasain manis-manisnya dikit.”
  • Bunga¬† ¬†: “Bikin kita pengen bilang “aww yudhis…” dan “anjinggg anjing anjing yudhis anjing” dalam waktu yang bersamaan.”
  • Tommy : “It’s not right to say “aww yudhis” because it’s not a good thing to do, tapi di sisi lain, kita bisa ngerti kalo dia ngelakuin itu karena sayang Lala dan cuma pengen ngabisin waktu lebih banyak sama dia.”
  • Bunga¬†¬† : “FINALLY SOMEONE SAID IT. It’s the most fucked up “Aw Yudhis” ever.”
  • Tommy : “You’re damn right it is. Okay, sekarang let’s discuss about hubungan Lala dan ayahnya.”
  • Bunga¬† ¬† : “A heartbroken father who cares about his daughter but is unable to deliver his feelings the right way.”
  • Tommy¬† : “Nah, Fira kemaren baru abis nonton Posesif juga, dan dia bilang “Sayang banget hubungan Lala sama ibunya nggak begitu dalam dibahas di film ini“”
  • Bunga¬† ¬†: “True!¬†It should have been explored more, kalau pun tidak perlu berlebihan.”
  • Tommy¬†: “Nah, tapi menurut gue, memang harusnya persepsi penonton terhadap hubungan Lala dan ibunya harus dibuat seblur dan sesamar mungkin. Karena inilah alasannya mengapa Lala gampang banget jatuh ke Yudhis.”
  • Bunga¬† ¬†: “Yes, though us viewers are really curious about Lala’s mom, kalau misalnya ibu Lala diceritain secata detil dari awal, Lala nggak akan bisa segampang itu jatuh ke pelukan Yudhis.¬†Gimana pun juga, ibu adalah role model anak perempuannya.”
  • Tommy¬†: “Nah bener banget bung. Lala bener-bener harus dijauhin dari kasih sayang, supaya si viewers bisa dapet perception bias “cuma Yudhis yang bisa nyayangin dia”. Bapaknya nggak bisa ngungkapin rasa sayang ke anaknya karena lebih dibutakan sama ambisi agar Lala bisa push her limit. It doesn’t matter if Lala hated him. If it’s actually what it takes to make Lala to train harder and win the Olympiad, he would do it.
  • Bunga¬† : “Bapaknya terlalu sibuk dengan ambisi dan luka batinnya dia sendiri, dia lupa kalo anaknya juga punya trauma psikologis yang ekuivalen sama punya dia, atau mungkin lebih.”
  • Tommy¬† : “True. True banget.”
  • Bunga¬† : “Kelihatan banget dari ekspresi Lala waktu bapaknya bilang Jihan itu patokan dia.¬†Pain, annoyance, mortification… tapi dia gak bisa bilang apa-apa (setidaknya sampai beberapa saat kedepan).
  • Tommy¬† : “Yup, bener banget.¬†Nah, sekarang kita bahas adegan pas Lala main ke kafe sama Ega dan Rino.”
  • Bunga¬† ¬† : “Holy mother of God… THIS.”
  • Tommy¬† : “I KNOW RIGHT. INI ASIK BANGET BUAT DIBAHAS.”

  • Bunga¬† ¬†: “Gue dari awal udah greget banget waktu Lala bohong kalau nggak ada laki-laki yang ikutan nongkrong.¬†ASLI.”
  • Tommy : “Kita tahu sebelumnya Yudhis udah sering ngebuntutin Lala secara creepy, dan Yudhis tuh udah mulai cemburu buta sama Rino.”
  • Bunga¬† ¬†: “Belasan, bahkan puluhan missed calls! Seriously, Yudhis?”
  • Tommy : “ANJING EMANG ITU GILAAAA 37 MISSED CALLS.”
  • Bunga¬† ¬†: “He failed to understand that guys and girls CAN be best friends. At least dalam circumstance ini. Waktu Lala keluar cafe dengan wajah panik dan ketemu Yudhis di depannya…wah.”
  • Tommy¬†: “YES, when finally the shot shows the reflection of Yudhis di sebelah kanan, refleksi Lala di sebelah kiri, dan Lalanya sendiri di tengah menghadap ke belakang. ITU POETIC ABIS.”
  • Bunga¬†: “Salut juga sih dengan pengambilan gambarnya ‚ÄĒ refleksi. Tidak haru tersirat tapi tetep ngena. Gesture nya simpleee banget, tapi nyes.”
  • Tommy : “Nah gue mau nanya nih bung. Menurut lo, gesturnya Rino sebagai temen cowok itu agak berlebihan nggak ke Lala?”
  • Bunga¬† ¬†: “As a girl who actually HAS a guy best friend… nggak berlebihan tapi nggak kekurangan, sih. Gue suka banget sama tagline Rino yang bilang, “gue ada buat lo”. Meskipun gue juga gak bisa nyalahin itu semua 100% Yudhis karena sebagai laki-laki, yang punya pacar dan pacarnya itu punya sahabat lawan jenis yang kenal duluan daripada dia, pasti akan ada sedikit (well, in this case banyak) sense of threat dalam dirinya. Rino is like…your gay best friend who is NOT gay ‚ÄĒ tipe persahabatan yang tulus dan asik, tapi paling mudah disalahartikan. Menurut lo?”
  • Tommy¬† ¬†: “Nah, sebagai orang yang punya pacar (dan sayang banget sama pacarnya), gue merasa Rino agak sedikit berlebihan. Gini loh, gue juga punya beberapa temen cewek yang akrab, tapi misal gue jadi Rino di situ, gue bakal nyuruh Ega buat ada di samping Lala secara personal, bukan nawarin bahu sendiri. Gue cuma bakal bilang “Gue ada buat lo” kalo misal temen cewek gue yang lagi sedih itu jomblo, ditinggalin gebetan, atau putus sama cowoknya. Selama permasalahan di antara temen cewek gue dan pacarnya bukan sesuatu yang ‘memutuskan hubungan’, gue gabakal mau risk myself nyelip di tengah tengah mereka. Makanya, menurut gue Rino salah di sini, tapi apa yang Yudhis lakukan ke Rino itu sama sekali nggak bisa dibenarkan. Dan apa yang Yudhis lakukan ke Lala (jambak-jambak kayak tai) itu juga salah. Salah banget.”
  • Bunga¬† : “Hmm, you do have a point sih. Karena bagaimana pun juga Rino itu laki-laki. Tapi perhatiin deh, Tom, ini sih point of view gue aja… dari semenjak tokoh Rino diperkenalkan, Rino itu udah keliatan banget kalo dia ngerasa kayak something’s up with Yudhis. Matanya, cara natapnya, gerak-gerik tubuhnya. Dan Ega gak bisa ngelihat itu. Maybe that’s why he decided to make an indirect intervention.”
  • Tommy¬†¬† : “I see…you do have a point, too.”
  • Bunga¬† : “Gila, gue bawaannya pengen jambak Yudhis waktu nonton hahahaha.¬†Setuju sih dengan tagline film Posesif ‚ÄĒ buat Lala, ini cuma cinta pertama. Tapi Yudhis mau selamanya.¬†Tercermin banget di scene itu.”
  • Tommy¬† :¬† “Anjing ye ini film keliatannya simpel banget, tapi kalo dibedah bener-bener complicated.”
  • Bunga¬† ¬† : “Welcome to Edwin and Meiske’s world!”
  • Tommy¬† : “Okay, bahas caranya Yudhis pertama kali minta maaf ke Lala.”
  • Bunga¬† ¬†: “AH!”
  • Tommy: “Ini anjing treatmentnya bisa dibikin horror banget begitu. Lo notice kan…key shotsnya itu horror banget. Silhoutte behind the door. Suspense when Lala walks downstairs. Fokus shot ke gagang pintu yang digerak-gerakin dari luar…”
  • Bunga¬† ¬†: “YES. YES. YES.¬†Apalagi dengan design rumah Lala yang agak “jadul” dan lampunya yang remang, lalu pintu kaca yang, hey, did you see a small hole on its surface?!
  • Tommy :¬†“YA KAAAN?”
  • Bunga¬† : “Maafin aku, La… *jedotin kepala, ngetok pintu sampe gila*. Gue jadi Lala langsung telpon polisi lololol.¬†Pancaran matanya bisa banget lho ini. Seakan-akan he lost control of himself and he KNEW that. Jarang lho ada orang abusive yang sadar akan kesalahan dia…”
  • Tommy¬† : ”¬†Menurut lo, apa yang dilakukan sama Yudhis dengan jedotin kepala di pintu dan nampar nampar muka dia sendiri di depan Lala itu… Banyak ga sih cowo cowo yang kayak gitu? Because pas adegan ini di bioskop, ada sekumpulan cewek2 duduk di depan gue, mereka pada “Awwww kasian :3” pas Yudhis ngelakuin hal itu. Which I was like “no… That’s not how you suppose to react…“”
  • Bunga¬† ¬† : ” Dibilang banyak sih engga, tapi apakah cowok-cowok yang emotionally unstable punya tendensi untuk ngelakuin hal-hal itu? Iya. Karena gue ‚ÄĒ yang personally juga bilang kasian kalaupun gak pake aw juga sih HAHAHA ‚ÄĒ ngelihat Yudhis begitu lebih ke act of self-harm (because it’s so much more than slitting your wrist, hell). What he tried to showcase was self-hate, karena seperti yang tadi kita bahas dia lost control dan gak bisa jadi laki-laki yang baik untuk Lala, and self-hate IS considered self-harm. Seakan-akan dia punish dirinya sendiri, as if he deserved that kind of treatment and, surprise surprise! That kind of action was brought by none other than lingkungan sekitar dia, dan dalam case ini ibunya.
  • Tommy¬† ¬† : “Oh, I see. Thanks Bung! By the way, gue suka banget cara Lala meluk Yudhis di scene ini. Full of undescribable emotion yang bahkan gue juga ga bisa jelasin.”
  • Bunga¬† ¬†: “That was beatiful *sheds tear*”

  • Tommy¬† : “Lanjut ke scene clubbing.”
  • Bunga¬† ¬† : “LET’S! Don’t even get me started with this one. Dari awal sampe akhir scene clubbing cushion kursi bioskopnya udah gue cubit-cubitin parah.”
  • Tommy¬† : “Oke deh kalo gitu. Gue mau denger dari lo dulu tentang scene ini.”
  • Bunga¬† ¬† : “Intinya gue curiga sih, bener-bener penuh tanda tanya. Kenapa tiba-tiba Yudhis menurunkan ego dia dan mau berbaur sama temen-temennya Lala? ESPECIALLY RINO. Gak ada yang simple tentang behavior Yudhis. Dan bagaimana di club Yudhis selalu nyium Lala dengan agresif seakan-akan pengen nunjukin kalo, “she’s mine!” Dan ternyata, Rino juga notice hal ini setelah stealing glances here and there. Lo gimana?”
  • Tommy¬† ¬†: “Putri Marino jago banget nunjukin “Ih Yudhis apaan sih, freak banget. Jangan gitu dong sayang, jangan gini.”¬†Dia tahu dengan hangout sama Ega dan Rino, Yudhis ngga bener-bener pengen mingle, tapi cuma pengen “membuktikan“, seperti kata Yudhis sebelumnya “aku bakal buktiin kalo aku bisa dapet maaf dari kamu.”¬†And isn’t that such an annoying thing, dateng ke club tiba tiba, cuma pengen nunjukin “pembuktian”.
  • Bunga¬† ¬† ¬† : “YESSSSSS.¬†Seakan-akan kasarnya kayak, “nih loh! gue udah main sama temen-temen lo! berarti kita baik-baik aja kan? udah puas?“”
  • Tommy¬† ¬† : “IYA.”
  • Bunga¬† ¬† : “And by the way, is it just me atau Rino keliatan aneh (baca: high) waktu scene pulang naik motor? As if someone spiked his drink or something?¬†Atau dia emang kecapekan aja HAHA”
  • Tommy¬† ¬† : “Gue nggak ngeliat sih kayanya hahahaha tapi ya paling tipsy bungs, namanya juga party wqwq”
  • Bunga¬† ¬† ¬† : “HAHAHA been there done that. That scene tho, waktu Adipati bilang “hati-hati” ke Rino. Asli gue takut Tom. “
  • Tommy¬† ¬† : “What’s on your mind saat itu Bung, kenapa lo takut?”
  • Bunga¬†¬†: “Karena hati-hati yang diucapin Yudhis itu kayak metafor. Perumpamaan dari sesuatu yang lebih besar, even when he wasn’t planning to do anything beforehand. Pasti ada ujungnya. And voila! Look what we got here.”
  • Tommy¬† ¬† : “Now i’m thinking about it again… And it DOES sounds scary. Kita masih belum tahu state of mind nya Yudhis itu beneran udah tobat apa emang cuma mau buktiin sesuatu karena ada maunya aja.¬†Begitu dia ngomong “hati hati No“, it does become scary…”
  • Bunga¬† ¬† ¬† : “He was basically playing everyone’s minds.¬†And guess what? The bitch made a u-turn and did the deeds.”
  • Tommy¬† ¬† : “Goddamnit… And how the film shows it. So subtle but so fucking intense.”
  • Bunga¬† ¬† ¬†: “Tidak perlu dialog (bahkan monolog) apapun, cukup dengan a simple hati-hati dan dampaknya anak orang dateng-dateng ke sekolah udah pake gips. Nice.”
  • Tommy¬† ¬†: “And… Is it just my imagination or… Pas Lala bangun dan nanya “Itu apa sayang?” Si Yudhis jawab “Bukan apa apa kok sayang” dengan suara yang parau banget. Seakan pengen nangis. Tau apa yang dia perbuat salah tapi demon nya dia lebih dominating his mind.”
  • Bunga¬† ¬† : “Antara bersalah sekaligus lega karena hasrat dia untuk nabrak Rino terpuaskan.”
  • Tommy¬† : “Right. Oke move on ke key scene selanjutnya. Pas Lala tiba tiba masuk UI.”
  • Bunga¬† ¬† : “Dilema kelas 12… *sighs*¬†Gue agak kaget sih karena Lala teguh sama pendiriannya.¬†Setelah serentetan kejadian antara dia sama Yudhis gue sangka bakalan ikut ke Bandung.”
  • Tommy¬† ¬† : “Justru menurut gue Lala salah di sini. Dia bohong sama Yudhis.¬†Tapi Lala nggak bisa disalahkan begitu saja karena once again, dia takut sama Yudhis.”
  • Bunga¬† ¬†: “Fear makes people do illogical things, itu sih yg gue tangkep dari Lala dan Yudhis selama film berlangsung.”
  • Tommy : “Yesss bener banget. Posesif bagus banget nunjukin relasi hubungan yang rumit antara kasih sayang dan rasa takut. Also, I¬†notice something really really scary about men’s tendency to demoralize women who reject her. “Udah dipake berapa orang lo? Berani banget ngelepasin cowok segampang ini?”¬†Cowok itu makhluk yang paling fragile dan berbahaya kalo udah kena rejection dan humiliation.¬†Sebagai cowok pun gue bisa mengakui hal ini.”
  • Bunga¬† ¬†: “HAHAHAHA. Males are complex indeed.¬†Padahal kan bukan berarti kalo cewek punya pendirian aka sesuatu itu artinya dia bisa dengan mudah di konotasikan dengan stereotype2 gak beralasan.”
  • Tommy¬† : “Tapi lagi lagi kalo situasinya udah kayak gini, cowok tuh cuma mikirin perasaannya sendiri.”
  • Bunga¬† ¬† : ”¬†Emotion is a scary mind trick.”

  • Tommy¬† ¬†: “Nah Bung, menurut lo, terlepas dari seberapa creepy dan horror treatment film ini, apa yang dilakukan Yudhis ke Lala pas surprise ulang tahunnya di tengah malem itu sebenernya creepy ngga?”
  • Bunga¬† ¬† : “HELL IT WAS.¬†1) entah gimana caranya Yudhis bisa dapetin kunci rumah cadangan Lala, 2) I don’t know ‚ÄĒ most people yg berniat bikin surprise itu gak se-frontal Yudhis yg langsung nyelinap masuk kayak pencuri.¬†What do you have in mind?”
  • Tommy¬† ¬†: “MOTHERFUCKING YES. Gue nggak ngerti kenapa Lala (dan obviously, sekumpulan cewek yang duduk di depan gue pas gue nonton) bisa nganggep itu sweet dan “awwww soswit”.”
  • Bunga¬† ¬† ¬†: “HAHAHAHA mereka mikirnya gak sampe sana Tom. The sad thing is that Lala (dan beberapa cewek di depan lo itu) was so blinded from the surprise (which equals, coughs, happiness) dia gak perhatiin 2 hal creepy yang gue list barusan.”
  • Tommy¬† : “Tapi yah…mungkin Lala nggak perhatiin hal tersebut karena sekali lagi, dia nggak ngedapetin kasih sayang yang cukup dari keluarganya, sehingga dia terima-terima aja apapun yang Yudhis lakukan sebagai “bentuk kasih sayang”
  • Bunga¬† ¬† ¬† : “True…. sadly.¬†Film ini ngajarin betapa penting nya peran lingkungan terhadap seseorang.”
  • Tommy¬† ¬† : “Termasuk lingkungan keluarga dan kedekatan orang tua terhadap kondisi psikologis anak. Eh, by the way, lo sadar kan bahwa di adegan ini ada kayak “subtle hint” yang menunjukkan bahwa mereka itu “ngapa-ngapain”?”
  • Bunga¬† : “Of course *winks like batshit crazy* Which eventually led us to pernyataan Yudhis bahwa Lala “udah dipakai berapa cowok?”. Seperti yg udah kita bahas sebelumnya”
  • Tommy¬† ¬† : “Terus Lala juga luluh luluh aja lagi dengan cara Yudhis minta maaf yang sangat freak tersebut.¬†Atmosfirnya berhasil banget dibikin sama Edwin jadi romanticly creepy.”
  • Bunga¬† ¬† : “GILA LO YA.¬†Kalo ada laki-laki yg minta maaf ke gue dengan cara yg sama kayak Yudhis…I would flip my shit.”
  • Tommy¬† : “Flip your shit in a positive or negative way? Hahahaha.”
  • Bunga¬† ¬† : “THE LATTER. This bitch ain’t no hopeless romantic. Would you do the same thing like Yudhis? Seandainya lo bikin kesalahan sama pacar lo dan lo berniat surprise-in dia.”
  • Tommy¬† ¬†: “Nope. Never. Unlike Yudhis, gue berbaur sama temen-temennya dia (cewek maupun cowok) sejak kita awal pacaran. And they’re gonna be the ones who help me do that for her. Seandainya mereka nggak approve my way of saying sorry atau mereka nganggep gue lebih baik leave her for good, then it’s time for me to actually leave for good.”
  • Bunga¬† ¬† : “*flashbacks to when Fira asked me to help her assemble your birthday surprise* that was lit, fam.”
  • Tommy¬† : “I’m such a lucky bastard, aren’t I? :”)”
  • Bunga¬† ¬† : “Yes you are.”
  • Tommy¬† : “HAHAHA oke balik lagi ke Posesif. Now it’s time to talk about our favorite part: Cut Mini Part.”
  • Bunga¬† ¬† : “HAIL CUT MINI.¬†Jarang banget perfilman Indonesia itu ngangkat tentang orangtua yg abusive, apalagi antara anak laki-laki dan ibunya.¬†Gue pun gak yakin kalaupun udah diangkat, apakah bisa se-ngena ini atau engga.”
  • Tommy¬† ¬† : “BENER BANGET.”
  • Bunga¬† ¬† ¬†: “Terkadang masyarakat lupa, abusive parents can come from ANY background. Tidak harus alkoholik, tidak harus ber-gender tertentu, tidak harus penuh benci 24/7 dan tidak harus menghasilkan luka lebam noticeable di badan anaknya. Buktinya, Yudhis’ mother came out as a beautiful-yet-stern real estate agent who was balancing her life as a single parent.”
  • Tommy : “True. Very true. Nah, by the way gue mau nanya sama lo nih Bung.¬†Menurut lo, tepat nggak menyebut fenomena yang dialami Lala ke Yudhis sebagai Stockholm Syndrome?¬†Karena menurut gue kurang tepat deh…tapi kayaknya banyak kaum netijen yang tetap menyebut hal ini dengan terminologi “Stockholm Syndrome.” Padahal menurut gue, yang sebenernya Stockholm Syndrome itu Yudhis ke Mamanya.”
  • Bunga¬† : “Stockholm Syndrome… hmm… *stretches fingers for a long ass explanation*¬†Sejatinya, stockholm syndrome itu kan feeling of affection towards a captor. Disini posisinya, Lala adalah victim dan Yudhis adalah sang culprit. Buat gue, personally ‚ÄĒ maaf masih amatir ‚ÄĒ apakah tindakan Lala benar2 mencerminkan seseorang yg mengalami Stockholm Syndrome? Mungkin. Tapi gue rasa belum sejauh itu. The symptoms DID exist, though, bisa keterusan kalo gak “dipangkas” hubungannya. Karena yg gue analisa, selain afeksi Lala juga punya rasa takut yg bersifat subconscious terhadap Yudhis. Jadi tidak pure afeksi aja. What do you think?”
  • Tommy¬† ¬†: “Sama. Menurut gue kurang tepat karena belum sejauh itu. Basis keinginan Lala bertahan di dalam hubungan mereka masih didasarkan afeksi yang timbul dari kelakuan baik Yudhis terhadapnya, bukan dari kelakuan buruk Yudhis.”
  • Bunga¬† ¬†: “Lala itu masih dalam ranah experiment. Yudhis tidak. Lala belum bisa memilah mana yang baik dan tidak (setidaknya sampai dia “kepentok” dengan perlakuan Yudhis). Sedangkan Yudhis TAU dimana letak kesalahan dia, cuma bedanya dia gak bisa kontrol. Karena kalo Yudhis gak tau, gak mungkin dia bakalan minta maaf sama Lala, apalagi dengan cara seperti itu. Sejujurnya, “terlalu” itu emang bahaya. Terlalu baik, terlalu jahat, terlalu sayang, terlalu peduli, terlalu emosi. Kayak lagi naik rollercoaster aja, gak ada in between nya (kalopun ada ya singkat banget, gak berpengaruh yg signifikan).”
  • Tommy¬† ¬†: “Betul Bung. Setuju. Nah, tapi kalo Yudhis ke ibunya itu sudah tepat belum kalau disebut Stockholm Syndrome?”
  • Bunga¬† ¬† ¬†: “Bukan tepat, tapi “lebih tepat”. Dibandingkan antara Lala dan Yudhis.¬†Karena Yudhis itu KETAKUTAN. Dan itu tidak subtle kayak Lala.¬†Lihat aja expression dia waktu dihajar pake high heels.”
  • Tommy¬† ¬† : “Dan expression dia pas Lala nenangin dia dan ngajak dia kabur. Goddammit, ini emang akting terbaik Adipati sepanjang karirnya.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† : “SHIT FAM THAT SCENE GOT ME FUCKED UP. Literal goosebumps.”

  • Tommy¬† ¬† ¬† : “Gila kaaan! Yuk lanjut pas mereka sing along Dan.
  • Bunga¬† ¬† ¬†: “Gue gak akan pernah bisa denger lagu itu the same way again.¬†Liriknya simpel, tapi ngena. Dan. Pas.”
  • Tommy¬† ¬†: “YESSS!¬†Dengan mereka sing along out of tune gitu malah bikin konteksnya jadi lebih tajem.”
  • Bunga¬†¬† ¬†: “So many metaphors. “Dan” itu kan kata sambung… hampir sama kayak hubungan Lala dan Yudhis, apalagi dikuatkan dengan scene karaoke dadakan. Yang seharusnya hubungan mereka putus di level awal, karena hal ini itu etcetera, lanjut lagi. Padahal Lala tau kalo something is toxic dan Yudhis tau dia toxic-nya. Setelah adu mulut, jambak, sampe cekek-cekekan… mereka tetep lanjut. Puitis. Sampe pada akhirnya, di suatu titik, mereka berhenti. Nggak ada “dan” lagi. Terlalu filosofis gak sih gue? HAHAHA.”
  • Tommy¬†¬† ¬† : “NO NO THAT’S GOOD. I mean… Ternyata ada perspektif lain dari lagu “Dan” yang lebih puitis..”
  • Bunga¬† ¬† ¬† ¬†: “Emang perspektif lo apa?”
  • Tommy¬† ¬†¬† : “Gue cuma melihat “Dan…” dari perspektif Yudhis yang sayang banget sama Lala tapi sudah “menancapkan duri tajam” ke Lala dan membuatnya menangis…Gue nggak tahu… Somehow gue di scene ini tiba tiba merasa relate banget sama Yudhis.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† ¬† ¬†: “Relate? Tell me about it.”
  • Tommy¬† ¬†: “Gue nggak tahu apakah karena gue selalu merasa punya inner demon di dalam diri gue dan gue takut banget suatu saat dia unleashed…Ataukah cuma karena gue punya tendensi untuk nyalahin diri gue sendiri tiap something goes wrong and i am involved in it…”
  • Bunga¬† ¬† ¬† ¬†: “Sometimes I feel that way too. But honestly, you know what? Setiap manusia itu pasti punya “demon” nya mereka masing-masing. No one’s a saint here. But whether it’s going to leash or unleash, itu semua pilihan. Including self-hate. Pasti ada bagian dari diri kita yang kita gak suka, dan itu gak bisa dihindarin. Baik lo maupun Yudhis, bahkan Lala, atau diri gue sendiri.”
  • Tommy¬† ¬† : “You’re right, Bung. Bener banget.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† : “Let’s move on!”
  • Tommy¬† ¬† : “Okay, move on ke adegan SPBU.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† : “*cries in the corner*¬†I bawled my eyes out it was violent.¬†No pun intended.”
  • Tommy¬† ¬† : “….HAHA :'(“
  • Bunga¬† ¬†¬† ¬†: “Tell me how you feel about it.”
  • Tommy¬† : “Ini adegan sebenernya pasaran banget di film film romance Indonesia, tp Posesif bisa ngebawain adegan ini dengan sangat baik. Pengaruh directingnya Edwin plus akting mereka berdua sih.”
  • Bunga¬† ¬†¬† ¬†: “It’s the kind of the cliche you keep coming back for more. Gue suka cara mereka membuat adegan “papasan tapi gak nyadar kalo lagi papasan” jadi berkelas. “
  • Tommy¬† ¬† : “You’re really good at describing things with simple words hhhh.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† ¬†¬† : “I don’t write fan fiction for nothing ;))))”
  • Tommy¬† ¬† ¬† ¬†: “Tapi gue seneng lewat adegan ini Yudhis sadar bahwa emotional issuenya ngebahayain Lala.”
  • Bunga¬†¬† ¬† ¬† ¬†: “Kesadaran diri Yudhis itu plot twist banget buat gue Tom, like, expected YET unexpected. Oh ya, one more thing. Gue sangat kaget waktu tau kalo scene Lala dan Yudhis lebam-lebam di trailer itu bukan karna mereka saling pukul, tapi mereka ribut sama orang lain. BEST PLOT TWIST. Ngecoh penonton banget, not that it’s a bad thing though. They really broke the stereotypes.”
  • Tommy¬†¬† ¬† ¬†: “YESS.¬†And it’s such a rare case for an abusive person to realise that he’s abusive and harming the one he loves gitu nggak sih bung?¬†Soalnya banyak juga yg bilang kalo dengan cara kayak gini, Posesif memberikan alasan bagi para pelaku abusive relationship buat mencari alasan pembenaran kelakuan mereka, supaya si korban tetep stay atas dasar pity.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† ¬†: “It is a rare case indeed.¬†To be honest buat gue bukan mencari pembenaran sih, Tom… from what I’ve been studying, that’s definitely NOT how it works.”
  • Tommy¬† ¬†¬† ¬† : “Please do tell me how it works.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† ¬† : “Justru mengajarkan kalo pelaku abusive relationship MASIH BISA belajar dari kesalahannya. Which is portrayed by Yudhis’s decision to leave Lala at the gas station seperti yg kita bahas kemaren.¬†Yudhis masih bisa sadar, Yudhis masih bisa buat keputusan yg tepat kalaupun gak mudah ‚ÄĒ karena bukan Lala, bukan ibunya, bukan psikolog, yg bisa “merubah” dia seperti statement Lala sebelumnya. Tapi cuma Yudhis-nya sendiri.”
  • Tommy¬† ¬† ¬† ¬† : “I see. Thank you for the illumination, Bung.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† ¬† ¬† : “You’re welcome!! Seneng liat film yg sakit tapi edukatif dalam waktu yg bersamaan, hahahaha.”
  • Tommy¬† ¬† ¬† ¬†: “Goddamn right, film ini eye opening banget ya.¬†Terus montage sequence Lala carry on without Yudhis itu poetic banget ya. Ditambah lagu Banda Neira pula.¬†Aku ndak kuat nahan sesak di dada…”
  • Bunga¬†¬†¬†: “Ada satu hal yang HARUS gue point out di sini.¬†Beberapa netizen yg udah nonton gue lihat kecewa sama ending-nya Posesif. Karena ngambang, gak jelas dan creepy kenapa tiba-tiba jadi ada Yudhis waktu Lala lagi lari. Buat mereka aneh, susah dimengerti. Kompleks.¬†Padahal menurut gue, wah… mereka justru bikin hal yg kompleks menjadi sangat simple dengan ‚ÄĒ lagi ‚ÄĒ metafor. Tidak perlu ada dialog verbal untuk kita ngerti semuanya. Yudhis berhenti, Lala terus lari. Buat gue itu udah cukup. Bener-bener bikin nyesss. And yes… Banda Neira slayed.”
  • Tommy¬†¬† ¬†: “Fira abis nonton langsung nelpon gue nanya “Tom, kata kamu endingnya sedih banget. Kok aku malah ngerasa biasa aja ya? Flat gitu.” Untung gue sayang hehehe, jadinya gue jelasin aja bahwa itu metaphor. Dia baru ngerti.¬†Padahal pas scene itu air mata gue netes banget.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† ¬† ¬†: “Aw, good boyfriend mode activated :” Terkadang hidup itu emang open ending, Tom. Karena kalo happy (atau bahkan sad) ending, itu artinya manusia gak hidup lagi… anggap aja kita lagi liat electrocardiograph di RS. Kalo ada grafik hidup, selemah apapun itu, tapi kalo cuma segaris mati kan? Tapi Lala mau hidup. Mau lanjut. So was Yudhis. Bedanya, jalan sendiri-sendiri aja…”
  • Tommy¬† ¬† ¬† ¬† ¬†: “Yudhis nggak bisa terus bersama sama Lala. Yudhis is a fuck up. But Yudhis loves her. Jadi dia melanjutkan takdir dia sebagai seorang creep untuk “melihat Lala” tanpa harus melakukan interaksi apa apa lagi dengan dia. Dan ketika Lala sadar bahwa Yudhis kembali ngebuntutin dia, Lala nggak punya obligation apa apa untuk nyapa Yudhis ataupun kembali ke dia, pun Yudhis nggak punya hak juga untuk minta balikan. Karena cara terbaik bagi Yudhis untuk mencintai Lala adalah melepaskan dia dari belenggunya.”
  • Bunga¬†¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬†: “BETUL. Sometimes people love from afar and for them, mungkin emang yg paling baik gitu. Film ini penuh metafor, tapi nggak ngurangin esensi dari flow ceritanya itu sendiri.”
  • Tommy¬†¬† ¬† ¬† ¬† : YAKAAAN!¬†Oke deh, sekarang tinggal kesimpulan nih bung!¬†Why do you think people need to watch Posesif?”
  • Bunga¬†¬† ¬† ¬† ¬† : “Because it’s your typical high school romance with a twist. Disaat semua orang berfokus pada membuat film yg mendeskripsikan “youth” secara keseluruhan, Posesif memilih untuk menggali lebih dalam lagi. Bukan cuma di area percintaan nya aja, tapi keluarga, pertemanan and everything in between dari berbagai sisi yg berbeda. Karena semua itu punya side effects, errors and trials, selflessness and selfishness.”
  • Tommy¬† ¬† ¬† ¬†: “Mantap. Kalo menurut gue, Posesif layak tonton because even though Posesif discuss about toxic relationship and perfectly depicting the horrors of it, Posesif still manages to be a romance movie that is both sweet and heartbreaking without romanticizing abusive relationship, obsession, and manipulation itself. This film is a one-of-a-kind, and it deserves to be watched by as many Indonesians as possible.”
  • Bunga¬† ¬† ¬† ¬† ¬†: ” Whoa, It’s been LONG and wonderful so thank you Toms!”
  • Tommy¬† ¬† ¬† : “Thank you juga for this review session! It has been a wonderful time.”

Distopiana’s Rating : 5 out of 5.

Pengabdi Setan (2017) – Teror Lintas Generasi (SPOILER REVIEW)

Bagi orang Indonesia yang pernah hidup di era 80 dan 90-an, pasti mereka pernah merasakan kengerian traumatis yang diciptakan oleh film-film horor eksploitasi pada zaman Orde Baru. Sebutlah tokoh-tokoh seperti H. Tut Djalil, Lilik Sudjio, dan Sisworo Gautama Putra. Berangkat dari hasrat eskapisme sekaligus perlawanan mereka terhadap pemerintahan Suharto yang opresif, terciptalah banyak film-film yang tidak hanya brutal dan menyeramkan secara audiovisual, namun juga menonjolkan unsur seksualitas yang padat. Ratu Ilmu Hitam, Bayi Ajaib, dan Leak menjadi contoh dari film-film yang pernah terkenal dan berkesan bagi para penikmat sinema di zaman tersebut.

Pengabdi Setan bisa dibilang merupakan salah satu film yang penting di zaman tersebut. Bukan hanya berhasil membuat banyak anak-anak kecil kesulitan tidur, namun karena beberapa elemen di dalam film ini mencerminkan idealisme dan superstisi masyarakat di zaman Orde Baru terhadap agama, mitos, dan cerita-cerita hantu. Film ini pun juga merupakan film yang disukai secara personal oleh Joko Anwar. Oleh karena itu, atas izin dan dukungan dari Rapi Film, ia membuat ulang Pengabdi Setan menggunakan idealisme dan caranya sendiri, namun masih tetap memberi penghormatan dengan menggunakan beberapa elemen yang menjadi daya tarik serta keunikan film karya Sisworo Gautama Putra tersebut.

Percayalah, seskeptis apapun kalian terhadap film horor Indonesia, kalian tetap akan ketakutan setengah mati menonton film ini.

Ibu (Ayu Laksmi) meninggal setelah menderita sakit aneh selama dua tahun, dan sehari setelah penguburan jenazahnya, Bapak (Bront Palarae) harus langsung ke kota selama beberapa hari. Selama ditinggal Bapak, Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat) mengalami kejadian demi kejadian janggal di dalam rumah mereka. Perlahan-lahan, sebuah rahasia mengerikan yang selama ini disembunyikan Bapak dan Ibu pun terungkap. Didorong oleh rasa kasih sayang yang kuat, mereka harus bersatu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari ancaman yang bangkit dari dalam neraka.

Secara cermat, Pengabdi Setan (2017) berhasil menciptakan sebuah teror yang tepat sasaran bagi para penonton Indonesia yang sudah lebih dulu familiar dengan The Conjuring sebagai standar film horor yang menakutkan bagi mereka. Bagi kalian yang sudah menonton The Conjuring, The Conjuring 2, dan Annabelle: Creation lebih dari dua kali, kalian akan melihat formula serupa diterapkan oleh Joko Anwar dan dieksekusi menjadi lebih efektif di film ini.

Pertama: Jump-scare yang mengharmonisasikan momentum pergerakan kamera (Ical Tanjung rocks!) dengan sudut pandang tokoh serta sound effect sebagai pengejut di akhir. Beberapa teknik jump-scare yang pernah digunakan di The Conjuring 2 akan banyak kamu temukan juga di Pengabdi Setan (haunted paintings, moving chairs, mirror reflection). Bedanya, film ini tidak memberikan efek kejutan yang sama dengan film karya James Wan tersebut.

Jadi begini kira-kira contohnya:

Reaksi di akhir jump-scare The Conjuring 2:
“WUANJENG KAGET!”
Reaksi di akhir jump-scare Pengabdi Setan:
“Oh shit….oh shit….anjeng….ANJEEEEEENG KABOOOOR!!!”

Kedua: Cursed¬†objects. Objek-objek ini selalu membuka sebuah adegan jump scare sebagai¬†penanda resmi kehadiran ‘Sang Pemilik’¬†untuk meningkatkan suspense dan memaksimalkan kengerian yang akan didatangkan di ujung adegan.¬†Ada boneka Annabelle serta kotak musik di The Conjuring. Ada juga mainan ‘the crooked man’, lukisan ‘the nun’, serta¬†kursi goyang di The Conjuring 2. Pengabdi Setan? Lonceng Ibu, kursi dorong nenek, serta lukisan Ibu yang berada di ujung lorong.

Ketiga: Possessed Child(ren). Anak kecil kesurupan itu serem banget, apalagi kalau aktingnya bagus seperti Mackenzie Foy di The Conjuring dan Madison Wolfe di The Conjuring 2. Di Pengabdi Setan, ada sebuah pembeda yang sangat efektif. Alih-alih menjadi fokus narasi, ia menjadikan tokoh Si Bocah yang kerasukan sebagai distraksi. Penampilan Nasar Annuz sebagai Bondi yang tiba-tiba diam dan pucat setelah kematian neneknya itu bakal bikin semua kecurigaan kamu mengarah pada dia dan mengalihkan kita dari bahaya sesungguhnya yang bersembunyi di balik kesenyapan.

Menggunakan formula khas film atau sutradara lain bukan berarti menjadi peniru, dan menuduh Joko Anwar sebagai seorang peniru bukanlah sebuah kelakuan yang terdidik maupun terpuji. Ketiga unsur tersebut hanya menjadi penajam dari atmosfer mencekam yang berhasil diciptakan lewat konsep produksi yang solid, alur cerita dan skenario yang cerdas, tata rias yang minimalis, sound effect dan iringan musik jazz 80’an yang antik, serta penampilan ansambel yang memukau dari para pemeran. Sekali lagi saya tegaskan, Ical Tanjung keren abis. Komposisi terjaga dengan baik sepanjang berlangsungnya film, membuat setiap teror terasa lebih nyata dan menyesakkan nafas. Dari sisi akting, penampilan yang paling menonjol di film ini dihasilkan oleh pasangan Nasar Annuz dan M. Adhiyat. Mereka berhasil membangun chemistry yang kuat sebagai kakak dan adik yang menggemaskan, apalagi setiap kali melihat Ian yang bisu mengejek Bondi dengan bahasa isyarat dan senyum imutnya yang menjengkelkan.

Hal yang terpenting dan patut kita bicarakan adalah bagaimana film ini menyelipkan kritik terhadap penggambaran fungsi agama di dalam sebuah film, khususnya film horor. Semenjak Orde Baru, tokoh-tokoh pemuka agama seperti Kiai atau Ustadz selalu digambarkan sebagai sosok yang mampu memberikan solusi terhadap gangguan makhluk halus. Hampir semua film horor Indonesia selalu menggambarkan Kiai atau Ustadz seperti pahlawan dengan kemampuan super yang berasal dari kekuatan iman mereka (bahkan ini juga terjadi di film Pengabdi Setan sebelumnya). Ditambah dengan kelatahan sinetron horor yang tayang setiap primetime di layar kaca, hal ini secara tidak langsung menimbulkan sebuah glorifikasi dari masyarakat terhadap para pemuka agama. Walhasil, siapapun yang menyandang gelar ustadz, kiai, atau haji, mereka mampu memegang kontrol atas opini masyarakat.

Joko Anwar, seseorang yang dikenal gerah terhadap “kelompok agama yang mengontrol opini masyarakat” (nggak usah saya sebut lah siapa, kalian semua sudah tahu), menyampaikan keresahannya dengan satu keputusan yang cukup berani: membunuh satu-satunya karakter ustadz di film ini dengan kematian yang sama seperti bagaimana manusia biasa seharusnya mati di film horor. Prinsipnya terhadap kebebasan dalam menganut kepercayaan juga disampaikan lewat karakter Hendra, anak ustadz yang mengatakan secara gamblang pada Rini:

“Ayahku memang ustadz, tapi kalau aku, lebih terbuka terhadap teori-teori lain.”

 

Hormat film ini terhadap karya asli dari Sisworo Gautama Putra pun disampaikan dengan cara yang gemilang. Ingat adegan motor yang tertabrak truk di film Pengabdi Setan yang sebelumnya? Adegan ini dikemas kembali dengan penyajian yang lebih brutal dan mengerikan, menayangkan sebuah teror legendaris ke mata penonton milenial dengan lebih hidup dan nyata. Terlebih, ia juga menghadirkan kembali sosok penting di film Pengabdi Setan terdahulu pada epilog film, sehingga membuka kemungkinan untuk adanya sekuel.

Pengabdi Setan (2017) berhasil membuat penonton Indonesia di tahun 2017 ini sama ketakutannya seperti bagaimana saat penonton Indonesia di tahun 1980 menonton Pengabdi Setan versi Sisworo Gautama Putra, dan ini bukanlah sebuah hal yang mudah. Jarang sekali ada sebuah reboot horror yang berhasil.  Dari empat judul film horror reboot dari Hollywood di tahun 2017 (IT, Flatliners, Rings, Amityville: The Awakening), hanya IT yang benar-benar berhasil secara kualitas dan pendapatan komersil. Dalam kurun waktu lima hari sejak penayangan publik pertama, Pengabdi Setan sudah sukses mengumpulkan lebih dari enam ratus ribu penonton, sehingga diprediksikan film ini akan mampu merangkul 2 juta penonton dalam waktu kurang dari sebulan. Jika berhasil, maka Pengabdi Setan tidak hanya akan menjadi salah satu film horor Indonesia tersukses sepanjang masa, namun juga meletakkan standar yang lebih tinggi untuk film-film horor Indonesia selanjutnya.

Jadi tolong, jika kalian memang orang yang pemberani, tolong dukung film ini dengan menontonnya lebih dari dua kali di bioskop.

Tapi kalau tidak berani juga, yah, tidak apa-apa. Saya bisa maklum kok. Saya tiga malam berturut-turut tidur ditemani lampu kamar yang menyala serta lagu-lagu Blink 182 di Spotify dari laptop yang tidak saya matikan setelah nonton film ini, jadi kalau saya katakan film ini bukan buat orang penakut, saya mengatakannya dengan sangat jujur tanpa ada unsur sarkasme sama sekali.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Critical Eleven (2017) – Suka Duka Kesempatan Kedua

Di dunia ini, tidak ada cinta yang sempurna layaknya cerita dongeng. Sekalipun cinta yang larut dalam indahnya kota-kota besar seperti New York, Jakarta dan pesisir Meksiko. Tetapi, apakah dengan kehilangan kita akan belajar untuk saling melengkapi? Diangkat dari novel terlaris karya Ika Natassa, Critical Eleven menceritakan tentang suka duka kesempatan kedua, berikut dengan pilihan hidup yang terkadang tidak sejalan dengan ekspektasi.

Menceritakan tentang Ale dan Anya Risjad, sepasang suami istri dengan kehidupan pernikahan yang serba ada¬†dibawah gemerlap kota New York, Critical Eleven mengangkat sebuah analogi unik yang berdasarkan sebuah¬†istilah populer dalam dunia penerbangan dengan nama yang sama,¬†critical eleven¬†‚ÄĒ dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing.¬†Berdasarkan data statistik, 80% dari kecelakaan pesawat biasanya terjadi pada saat masa-masa kritis tersebut. Sedangkan, dalam novel/film ini, dikatakan¬†bahwa 11 menit pertama dari sebuah pertemuan merupakan masa paling kritis yang akan menentukan kemana¬†sebuah hubungan akan dibawa. 3 menit saat pembentukan kesan pertama, dan 8 menit sebelum perpisahan.

Tetapi, setelah dihadapkan pada realita yang berbanding 180 derajat dengan apa yang awalnya mereka harapkan, apakah 11 menit tersebut mampu menjadi alasan dibalik kekuatan cinta Ale dan Anya?

“Bisa bayangin nggak, kita lewatin jembatan bareng, terus kita bakar jembatan itu. Nggak ada jalan untuk kembali. Aku sama kamu kayak gitu, Nya. Ayo bakar jembatan bareng.”

Mungkin, istilah the calm before the storm sangat pas untuk menggambarkan keseluruhan film Critical Eleven secara general.  Meskipun film ini telah berhasil menyorot berbagai spot legendaris kota New York yang indah, serta teknik pengambilan gambar yang berhasil membuat siapa saja yang menontonnya berdecak kagum, rasanya agak sedikit sulit untuk benar-benar menikmatinya when their marriage life begins to sink faster than the Titanic.

Dengan kehidupan pernikahan Ale dan Anya yang (hampir) sempurna, ditambah dengan¬†berita kehamilan Anya yang tidak disangka-sangka, kedua pasangan ini justru¬†dihadapkan pada suatu kenyataan pahit dimana gelar¬†orang tua yang hampir mereka raih¬†dirampas secara ironis, saat dokter menyatakan bahwa Anya mengalami keguguran. The fact that it’s almost impossible to keep themselves composed over¬†the searing pain of losing their son, and the aftermath of every single thing that happened beyond their consent is truly heartbreaking.¬†Tidak hanya itu, pada saat penonton dibuat menangis sendu di¬†klimaks cerita, even more plot twists¬†‚ÄĒ yang meskipun relevan, terkadang sedikit antiklimaks dan dipaksakan ‚ÄĒ start to bombard¬†the remaining scenes¬†until the very, very end.

Tetapi, untuk memuaskan hasrat para penonton yang telah sukses dibuat tersenyum dan menangis tidak karuan selama kurang lebih 135 menit, (dengan penuh kebingungan) Critical Eleven pun memutuskan untuk tidak mengikuti alur epilog yang ada di dalam novel, serta mengikuti tren yang tetap berada dalam comfort zone industri perfilman: a happy, fairytale-like ending.

Meskipun begitu, tidak dapat dikatakan bahwa Critical Eleven is not worth the watch. If you’re a sucker for adult-themed melodramatic romance with fancy settings, this one’s for you. Dengan sinematografi¬†yang patut diacungi jempol, kata-kata mutiara penuh makna yang tidak henti-hentinya dilontarkan oleh Ale dan Anya, chemistry para pemain, eksistensi pemeran pendukung yang tidak kalah¬†besar impact-nya, serta antusiasme penonton yang kebanyakan telah lebih dulu membaca novelnya, Critical Eleven merupakan sebuah film yang tepat untuk menggambarkan fantasi dan¬†romantisme¬†kehidupan pernikahan, serta¬†sakitnya kehilangan orang yang paling kita cintai dengan tulus, bahkan sebelum kita dapat benar-benar bertatap muka dengan¬†mereka.

Mimpi Anak Pulau (2016) – Mendayung Mimpi

Ada tiga penyakit terbesar yang biasanya menjangkiti film-film Indonesia, terutama yang bertema triumph of the spirit. Ketiga penyakit tersebut¬†adalah: narasi yang pretensius, naskah yang preachy, dan eksploitasi tokoh dengan hagiografi demi menyesuaikan arus pasar (quoting PicturePlay). Sinema Indonesia belakangan ini seperti kehilangan arah dalam menentukan ciri khas mereka dari segi visual, naratif, dan kontekstual cerita sehingga terkesan pretensius karena seperti ada ambisi untuk menyamai Hollywood. Lihat saja Rudy Habibie yang terkesan mengimitasi¬†The Imitation Game¬†dan menjadikan tokoh Rudy sebagai sosok utama yang sempurna, pusat dari tata peredaran tokoh-tokoh ‘pelengkap’ lainnya. Ada juga Modus Anomali, film Indonesia yang tidak ingin menjadi Indonesia, meskipun Joko Anwar pada akhirnya membayarnya dengan telak di film A Copy of My Mind. Perfilman Indonesia terlalu sibuk mencoba menjadi Hollywood sampai mereka lupa bagaimana rasanya saat Laskar Pelangi sukses menghajar belantika bioskop tanah air dengan kehangatan yang jujur dan otentik, tanpa pretensi dan kesan menceramahi.

Diadaptasi dari novel karya Abidah El-Khalieqy, Mimpi Anak Pulau bercerita tentang seorang bocah laki-laki bernama Gani (diperankan oleh Daffa Permana), anak pertama dari Rabiah (diperankan oleh Ananda Lontoh) dan Lasa (diperankan oleh Ray Sahetapy) yang tinggal di pesisir pantai Nongsa, Pulau Batam. Gani menjalani masa kecilnya dengan penuh semangat dan harapan meski kenyataan yang dia hadapi sering berujung pahit, apalagi setelah ayahnya meninggal. Kerasnya hidup tidak berarti apa-apa bagi Gani. Terkadang ia menangis di pelukan ibunya, tapi ia tidak pernah lupa untuk tetap bangkit dan mencari cara untuk mengejar mimpinya: menuntut ilmu dan membeli sepatu baru.

Secara teknis, Mimpi Anak Pulau memang sangat jauh bila harus dibandingkan dengan Laskar Pelangi. Struktur naratifnya pun bisa dibilang berantakan akibat terlalu sering mengambil sekuens inset yang (mungkin) sengaja ditujukan untuk memperkuat konteks, sehingga jalan cerita menjadi cenderung inkoheren dan penonton awam akan sulit mencerna apa yang sebenarnya ingin diceritakan film ini pada babak pertama dan kedua. Harus diakui dan juga dipuji, Kiki Nuriswan dan Ichsan Zulkarnain sudah berusaha keras membangun dramatisasi kisah nyata yang penuh kehangatan dengan believable sekaligus relatable, namun beberapa kalimat dialog terkesan sangat textbook, seakan dicomot langsung dari novel tanpa penyesuaian dengan akting dan reading dari para pemerannya, dan itu akan sedikit mengganggu bagi penonton yang peka dan senang memperhatikan hal-hal kecil. Film ini juga hampir terjangkit virus hagiografi karena Gani, sang karakter utama, lagi-lagi ditempatkan sebagai pusat tata edar tokoh-tokoh pembantu lainnya. Sekuens epilognya pun, aduh, dirancang dengan sangat lemah sehingga terlihat seperti iklan-iklan properti Agung Sedayu Group atau semacamnya. Entah, mungkin karena kekurangan bujet atau terlalu terburu-buru dalam mengeksekusi ide mentah.

Untungnya, banyak aspek dari Mimpi Anak Pulau yang menjadikan film ini cukup istimewa dan menyenangkan untuk ditonton. Pertama: lewat otentisitas yang berhasil diciptakan oleh gaya bertutur yang hangat dan berani untuk menjadi Indonesia, tidak peduli apapun latar belakang para penonton, mereka akan merasa sangat relate dengan keluguan Gani. Inilah yang mencegah terjangkitnya Mimpi Anak Pulau dari virus hagiografi. Karakter Gani berhasil menjadi utuh lewat perangainya yang tengil namun juga norak bila dihadapkan dengan hal-hal yang di luar batas pengetahuannya. Kedua: Ada beberapa adegan yang biasanya sangat rentan diisi dengan kalimat-kalimat preachy, yaitu sewaktu Gani sedang belajar di sekolah dan saat di pengajian. Untungnya, penulis naskah dan sutradara berhasil menjadikan kedua adegan tersebut hanya berfokus pada pemaparan detail karakter dan turning point dari plot, bukan pada penanaman pesan moral (yang sayangnya masih banyak dijadikan patokan bagus atau tidaknya sebuah film). Ketiga: Kerja sinematografi dan penyuntingan serta color grading yang harmonis dalam kesederhanaan akan mampu menyempurnakan keindahan latar Pulau Batam tahun 70-an di mata para penontonnya. Saya harus memuji salah satu adegan yang menunjukkan Gani dengan abangnya, Kodir, mendayung sampan menyeberangi pulau sambil diombang-ambing oleh badai di tengah malam. Terlihat sangat otentik dan nyata, seperti mereka memang melakukan pengambilan gambarnya di tengah laut. Keempat: Kombinasi akting Ray Sahetapy dan Ananda Lontoh di babak pertama mengejutkan saya. Sungguh. Di babak kedua dan ketiga pun istri dari Attar Syah ini masih tampil dengan prima, membuat mata para penonton tak bisa lepas darinya saat ia berada di dalam frame. Saya pikir Ananda Lontoh harus terlibat lebih banyak lagi di film-film besar Indonesia selanjutnya agar ia menemukan sutradara yang mampu membawanya ke batas tertinggi kemampuan aktingnya.

Setelah Laskar Pelangi, Mimpi Anak Pulau merupakan film yang hangat, otentik, dan penting untuk ditonton bagi seluruh orang Indonesia, terutama bagi para praktisi pendidikan dan pembangunan daerah tertinggal di Indonesia. Kenapa? Agar kita semua sadar bahwa mensinergikan pembangunan dan pendidikan demi menuntaskan hak bersekolah para anak di daerah tertinggal jauh lebih penting daripada membangun mal-mal megah di perkotaan dan menyalahkan rusaknya moral mereka akibat terlalu terpengaruh budaya konsumtif dan kebarat-baratan.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Koala Kumal (2016) – Patah Hati dan Konsistensi Realita

Setiap drama sejatinya adalah studi kasus tentang emosi manusia, dan setiap komedi sejatinya menyampaikan studi kasus tersebut dengan kritis dan menggelitik. Laurence Olivier, aktor Inggris pada abad ke-20, pernah berkata bahwa,

“The office of drama is to exercise, possibly to exhaust, human emotions. The purpose of comedy is to tickle those emotions into an expression of light relief; of tragedy, to wound them and bring the relief of tears. Disgust and terror are the other points of the compass.”

Bicara tentang Koala Kumal berarti bicara tentang Raditya Dika. Saya pernah berdiskusi dengan kerabat sesama film blogger, Picture Play, dan kami bersepakat bahwa Raditya Dika mempunyai potensi untuk menjadi Woody Allen-nya Indonesia. Mereka berdua mempunyai keresahan terhadap hal yang sama: cinta dan budaya berkencan di daerah asal mereka masing-masing. Mereka sama-sama dengan mudah menerjemahkan keresahan mereka lewat bahasa komedi mereka masing-masing (Woody nihilis, Dika sarkastis). Sayang, ada satu hal yang menjadi kekurangan besar Dika: ia terlalu nyaman bermain di ranah aman, di kerak sebuah persoalan tanpa berani menggali ke dalam inti sehingga pesan yang ingin ia sampaikan terkesan lemah dan tidak kritis.

Seperti yang telah tercantum di tagline, film komedi romantis ini berkisah tentang perjalanan seorang Dika untuk mendewasakan dirinya lewat patah hati. Putus cinta di ujung tanggal pernikahan, Dika mencoba untuk ‘move-on’ dengan berbagai cara yang konyol dan garing dibantu oleh Trisna (diperankan oleh Sheryl Sheinafia) yang tomboy. Judul Koala Kumal sendiri diambil berdasarkan kisah nyata seekor Koala dari New South Wales yang pulang kembali ke rumahnya di hutan setelah ditebangi. Ia kebingungan saat sampai karena rumah yang dulu ia naungi tidak lagi sama baginya. Ia¬†merasa asing, seperti saat kamu mencium bau kamar yang biasa kamu tiduri menjadi seperti bau orang lain.

Film ketiga yang ia sutradarai setelah Marmut Merah Jambu dan Single ini mengalami peningkatan sinematik yang cukup signifikan. Dika seperti mulai mengerti bagaimana caranya menggunakan camera movement, komposisi, serta momentum editing untuk membuat sebuah komedi visual yang klasik dan tetap segar ditonton. Soal plotting dan cara Dika menyajikan setiap adegan dengan warna tematik dan kontekstual yang kental patut diacungi jempol. Sekuens yang paling saya sukai adalah saat adegan Dika datang ke rumah Trisna untuk minta penjelasan sampai kemudian selesai di adegan Dika lumpuh di atas panggung. Skema dramatik cerdas yang dibumbui referensi humor klasik ala-ala Marx bersaudara dan Warkop DKI inilah yang membuat saya menyandingkan dia dengan seorang Woody Allen.

Saat menonton film ini di bioskop, saya menyaksikan langsung hampir semua orang yang menonton tertawa terbahak-bahak di setiap momentum jokes. Mungkin, cuma saya yang tidak tertawa, meskipun saya mengagumi kecerdasan Dika dalam menulis materi komedi yang berbicara secara sarkastis dan realistis (meskipun kurang kritis) tentang budaya berpacaran pemuda Jakarta yang memang tidak jelas. Tapi saya tidak tertawa. Maka dari itu, saya mencari tahu alasan kenapa jokes Dika yang menurut saya cerdas itu tidak berhasil menggelitik saya, dan saya menemukan jawabannya. Saya tidak bersimpati pada tokoh-tokoh di film ini karena saya tidak bisa mempercayai karakter mereka, termasuk Dika sendiri. Karakter-karakter mereka bersifat dua dimensi dan cenderung tidak konsisten dengan realita yang dibentuk oleh cerita. Jika Dika berencana membuat alam cerita yang dipenuhi dengan karakter komikal seperti Trisna dan James, maka tokoh Andrea dan Kinara yang karakternya sangat aktual dengan gadis-gadis di kehidupan nyata tentunya adalah sebuah kesalahan fatal yang menggoyahkan keajaiban make-believe cerita Koala Kumal. Dialog antar tokoh pun terlalu cheesy, teeny-kind-of-preachy soal cinta tanpa ada ulasan yang lebih dalam dan kritis tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Alhasil, kemampuan film Koala Kumal dalam memberikan kritik romantika remaja dengan pesan pendewasaan emosional sama lemahnya seperti nasihat perbaikan sebuah hubungan dari teman SMA kamu yang jumlah mantan pacarnya sudah sampai dua digit.

Seniman dengan bakat sehebat apapun, apabila berkarya dengan tidak jujur dan setengah hati, maka hasilnya tidak akan maksimal. Saya melihat Dika sebagai orang cerdas dengan bakat luar biasa yang—sayangnya—terjebak dalam pengkultusan publik yang melihat dirinya lewat persepsi yang salah. Sedari awal, orang mengenal Dika sebagai blogger yang eksis lewat humor-humornya tentang kejombloan dan cinta monyet…atau brontosaurus. Setelah saya menonton Koala Kumal, saya semakin yakin bahwa Dika sebenarnya adalah seorang yang kritis, sedikit misantropis, dan mempunyai idealisme kuat yang sayangnya terkekang oleh konsistensi dari realita kehidupannya. Ada beberapa detail mise-en-scene yang sempat mencuri perhatian saya, salah satunya adalah kutipan Anais Nin, seorang tokoh esais abad 20 yang terkenal frontal,¬†yang menghiasi dinding kamarnya. Cara dia mengalegorikan kehidupan koala New South Wales dengan pasangan yang balikan setelah patah hati¬†juga membuktikan bahwa Dika sebenarnya punya kedalaman batin yang jauh melebihi dialog-dialog¬†medioker yang ia tulis di film ini.

Namun jika ia tidak berani untuk mengambil langkah keluar dari zona aman, gagasan-gagasan besarnya tentang cinta dan patah hati akan membusuk di dalam kenyamanan selebritas dan popularitasnya.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) – Penebus Rindu

Hal yang paling dibenci setiap manusia adalah menunggu tanpa kepastian yang jelas. Kita semua mengerti dan pernah merasakan hal itu, maka saat Miles Film mengumumkan bahwa sekuel dari Ada Apa dengan Cinta resmi ditayangkan setelah empat belas tahun lamanya, hampir semua¬†penikmat film Indonesia yang pernah hidup menyaksikan film romansa paling ikonik di Indonesia tersebut langsung¬†antusias menyambutnya. Mereka tidak hanya ingin tahu bagaimana kabar Rangga dan Cinta¬†serta¬†Geng Mading SMA yang digawangi Cinta, Milly, Karmen, Maura, Alya, dan Mamet. Sebagai penikmat film Indonesia yang sudah terlalu lama terlena dengan film-film ‘asing’ yang selalu menjajah bioskop mereka, sebagian besar dari mereka juga berharap akan adanya plot twist yang unik dan menggemparkan di antara hubungan kedua pecinta sastra tersebut.

Sebagian dari mereka mungkin terlalu berharap banyak. AADC 2 yang kini disutradarai langsung oleh Riri Riza memang menghidupkan kembali nostalgia romansa terbaik yang pernah Indonesia miliki dengan lembut dan manis tanpa ada satu hal pun yang harus dilebih-lebihkan. Semua tokoh lama AADC tampil prima dengan charm dan karakteristik mereka masing-masing, kecuali tokoh-tokoh baru yang sayangnya hanya dijadikan tempelan agar cerita yang tidak bergerak kemana-mana ini terkesan progresif dan dinamis.

“Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku untuk memilikimu sekali lagi.”

Sama halnya seperti Cinta di film ini, cerita di AADC 2¬†tidak move-on ke arah yang seharusnya. Bisa dikatakan bahwa AADC 2 hanyalah¬†sebuah medium storytelling yang menceritakan tentang apa yang terjadi dalam kurun waktu 14 tahun setelah akhir film AADC dan sebelum awal film AADC 2. Fungsi dari film ini hanyalah sebagai penebus rindu bagi para penggemarnya, atau seperti yang PicturePlay katakan, “brand continuation effort“. Sebagaimana penebus rindu berfungsi, film ini terlalu banyak berbicara tentang masa lalu. Adapun pembahasan masa depan yang hanya terdapat di paruh akhir act 3 film dapat diibaratkan layaknya MSG yang menjadi solusi tepat dan ‘murah’ kalau sang koki tidak yakin masakannya cukup enak untuk disukai banyak orang.

Namun, jangan salah paham. Mengatakan film ini buruk dan tidak layak untuk ditonton adalah sebuah hiperbola yang kejam dan tidak beralasan. Justru,¬†plot film yang ‘terlihat-seperti-maju-namun-nyatanya-mundur‘ ini akan mampu mengiris-iris hati mereka yang masih belum bisa move-on dari hubungan mereka sebelumnya, baik yang pernah terjadi maupun yang hanya angan-angan¬†saja. Aspek sinematografi, naskah, soundtrack, dan akting para tokoh pun sebenarnya sudah jauh dari kata buruk. Awalnya pada act 1,¬†sangat jelas terlihat dari ritme editing dan dialog antar tokoh bahwa AADC 2¬†linglung dan pincang seperti orang yang baru saja berolahraga kembali setelah lebih dari empat belas tahun bermalas-malasan. Namun menjelang pertemuan Cinta dan Rangga kembali, film ini mulai mendapatkan nyawa yang seharusnya sudah hidup sejak awal cerita. Belum lagi ditambah rangkaian puisi indah yang ditulis oleh Aan Mansyur yang mampu menjadikan film ini memiliki¬†subteks yang¬†berlapis-lapis.¬†Banyak yang berpendapat bahwa beberapa adegan saat pertemuan kembali Rangga dan Cinta terkesan klise dan¬†kesinetron-sinetronan, namun penulis sendiri malah berpendapat bahwa cara Riri Riza menyajikan adegan ‘kesinetron-sinetronan’ tersebut dengan gaya satir dan komikal menunjukkan bahwa ia punya tujuan mulia untuk menghidupkan sedikit humor sarkastik di tengah pekatnya kegalauan yang meracau di film ini.

Besarnya antusiasme masyarakat pada AADC 2 yang membuat film ini mampu meraih 700 ribu penonton di hari ketiga penayangannya telah memberikan harapan bagi kebangkitan industri perfilman Indonesia akan kepercayaan penonton terhadap film-film yang mereka produksi. Tentu, penulis juga berharap hal ini akan berdampak positif pada perkembangan kualitas film romansa Indonesia, karena seharusnya dari kasus AADC 2 ini, para produser film Indonesia pun bisa belajar bahwa penonton film Indonesia tidak harus selalu disodori superfisialitas agar bisa menyukai film romansa. Sebagai sekuel penebus rindu, AADC 2 telah mempersembahkan sebuah nostalgia cinta yang manis, tulus, dan penuh warna tanpa pretensi dan pernyataan cinta yang berlebih-lebihan.

Namun layaknya sebuah penebusan rindu, film ini tidak akan membawamu kemana-mana kecuali ke masa lalu.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Iseng (2016) – Bercerita atau Berceramah?

Idealnya, dalam bercerita, seorang pencerita tidak boleh menyisipkan opini pribadi yang bersifat menceramahi pada penikmatnya. Secara logika bahasa pun, sebuah cerita seharusnya bertujuan untuk menceritakan. Jika tujuannya untuk menceramahi, namanya ceramah. Maxime du Camp, seorang penulis asal Perancis, pernah secara sarkastis mendeskripsikan gaya bercerita yang ideal dengan mereferensikan gaya penulisan sahabatnya yang juga seorang novelis, Gustave Flaubert:

“If a novel allows the author’s opinions to show through then the novel deserves to be thrown on the fire. Impersonal and impervious, the writer stands in for his characters. Thinks and acts like them. The subject of work of art…is as nothing, the execution is all that matters.”

Pernyataan du Camp tersebut menunjukkan bahwa seorang novelis, ataupun pencerita pada umumnya, haruslah menjadikan karakter mereka sebagai pedoman pokok dari sebuah cerita tanpa harus melemparkan penghakiman apapun terhadap apa yang para karakter ini lakukan. Dengan begitu, para karakterlah yang kemudian akan menjadi penggerak sebuah cerita dan bukan penulisnya. Cerita yang ideal haruslah menjadi sebuah studi kasus dengan interpretasi konklusi yang subjektif bagi para penikmatnya. Bukan seperti yang sinetron-sinetron murahan Indonesia dengan orang tua lemah, anak durhaka, rentenir kejam, ustadz, dan petir ataupun kutukan yang merepresentasikan Tuhan sebagai karakter utamanya.  Bukan juga seperti apa yang Iseng lakukan.

20 karakter dalam empat cerita yang berbeda terhubung secara tidak langsung ke dalam sebuah peristiwa bunuh diri dan pembunuhan pada suatu malam. Diceritakan dalam konteks kehidupan masyarakat urban Jakarta dengan berbagai macam kelas sosial yang ada, Iseng memiliki premis yang sangat menarik meskipun tidak bisa dibilang unik karena sudah pernah digunakan oleh Selamat Pagi, Malam sebelumnya. Ada beberapa poin di dalam film ini yang bisa penulis puji karena telah direncanakan dan dieksekusi dengan sangat baik, namun ada juga yang patut penulis kritik karena alasan krusial yang menyangkut tentang idealisme sebuah cerita.

Biarpun film yang disutradarai oleh Adrian Tang ini mempunyai jumlah tokoh yang bisa dikatakan terlalu banyak untuk standar film drama-thriller, namun semua tokoh tersebut mampu bersinar dengan karakteristik mereka masing-masing dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi para penonton setelah keluar dari ruangan teater. Bahkan untuk tokoh dengan¬†screen time tersingkat¬†seperti si ‘pelanggan’ yang diperankan oleh Cecep Arif Rahman dan Andi yang diperankan oleh Fauzi Baadila pun masih tetap mampu tampil mengesankan. Agak segar dan mengejutkan melihat kedua bintang bela diri seperti Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman mampu memberikan performa akting yang natural tanpa harus melakukan adegan perkelahian sengit seperti yang mereka lakukan di The Raid 2.

Keempat konflik besar yang diusung ke dalam film ini pun sangat menarik dan sederhana, karena siapapun yang menontonnya, terutama orang Jakarta, pasti mampu mengaitkan cerita ini dengan kehidupan sehari-hari mereka. Seorang sekretaris kantoran yang suka tebar pesona kemana-mana, sepasang sahabat yang berusaha mencari rezeki dengan melacur di pinggir jalanan Jakarta, sekelompok preman yang ditugaskan untuk membunuh wanita yang menjadi selingkuhan bosnya, dan seorang maniak seks yang bekerja sebagai seorang koki di sebuah rumah makan. Meskipun memang secara sekilas mereka semua terdengar agak ekstrim di telinga kita, namun cara mereka bertingkah, bahasa yang mereka gunakan saat berdialog, dan latar belakang personal yang mereka miliki sangat mirip dengan orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-harinya sehingga mereka tidak harus berusaha terlalu keras untuk dapat menarik simpati kita. Mungkin hal ini juga yang membantu para aktor untuk dapat tampil lebih natural dan menyatu dengan tokoh mereka masing-masing. Aplaus untuk kehebatan sang penulis naskah Husein M. Atmojo yang mampu merangkai struktur naratif yang cerdas dengan tokoh sederhana dan kompleksitas emosional yang akrab dengan kehidupan kita, masyarakat Jakarta.

Sayang, kecerdasan film ini kemudian hancur lebur luluh lantak saat sebuah teks muncul di layar hitam sebelum judul film dan kredit titel muncul diselingi epilog yang menampilkan sekuens latar belakang personal para tokoh dengan desaturasi warna seperti adegan-adegan flashback pada umumnya. Lewat kedua hal tersebut, seperti ada sebuah penghakiman terselubung dari sang sutradara dan penulis naskah yang mencoba menyatakan bahwa semua kemalangan yang terjadi pada tokoh-tokoh ini semata-mata adalah kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu. Penulis yang sempat dibuat kagum sepanjang keseluruhan film tiba-tiba langsung dibuat jijik oleh usaha sang pencerita untuk berceramah dan lepas tangan dengan menghilangkan keberpihakan mereka pada moral setiap tokoh yang mereka ciptakan. Seandainya semua kelebihan yang penulis nyatakan di awal tidak terdapat dalam film ini, mungkin penulis akan secara tegas menyimpulkan bahwa film ini tidak ada bedanya dengan sinetron-sinetron ‘ustadz kame-hame-ha’ yang tayang setiap fringe time di stasiun televisi lokal Indonesia.

Seandainya sutradara dan produser film Iseng berani untuk menghapus kedua hal yang penulis kritik di atas, maka Iseng sejatinya dapat menjadi sebuah film yang mampu bersaing di festival film mancanegara dan menjadi kebanggaan insan perfilman Indonesia karena berhasil memotret kehidupan Jakarta yang kejam dan tanpa ampun dengan akurat dan tidak kalah lantang dari A Copy of My Mind. Ini film yang bisa dibilang keren secara teknis dan naratif, namun dengan ending yang menghakimi tersebut, film ini tetap menjadi sebuah khotbah, bukan sebuah cerita.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

A Copy of My Mind (2015) – Jakarta dalam Cerita Cinta Nyata

Kita bisa menyebutkan banyak sekali kekurangan yang dimiliki kebanyakan film Indonesia yang telah diproduksi, namun yang paling sering diulang-ulang adalah keengganan dalam menyorot konteks sosial yang gamblang dan detail tentang kehidupan masyarakat Jakarta, khususnya daerah sub-urban. Demi konsumen mayoritas yang (mereka anggap) udik, mereka lebih memfokuskan pada kehidupan masyarakat menengah ke atas dan sudut kota Jakarta yang megah dan gemerlap. Jika sudah tidak ada lagi yang bisa dieksplorasi, ya sudah, tinggal shooting di luar negeri, bawa aktor-aktor Indonesia. Premis dan skrip pun ditulis sebasi mungkin, sebasi puisi-puisi kacangan akun fake official Line dengan satu tujuan yang sama: mengeksploitasi kenaifan remaja akan cinta. Jika kamu termasuk golongan orang-orang yang sudah muak akan materi-materi seperti yang telah disebutkan, maka ada dua film di awal 2016 ini yang akan menghidupkan kembali kepercayaanmu terhadap film-film Indonesia: Siti dan A Copy of My Mind. Bila Siti mungkin terlalu marjinal dan tersegmen untuk kamu yang biasa menonton film-film romansa hedonis berbujet mahal, kamu bisa mulai untuk menonton A Copy of My Mind terlebih dahulu.

1227161_a-copy-of-my-mind

Kita semua sebenarnya sudah tahu bahwa Jakarta bukan hanya tentang wanita-wanita dengan make-up tebal menenteng tas mahal berkeliling di dalam sebuah mal megah ditemani pria metroseksual yang tidak jelas apakah dia pacar, saudara, ayah, atau bodyguard. Jakarta juga tentang seorang gadis kleptomania pegawai salon kecil yang hidup di kos-kosan sepetak yang berpacaran dengan pria belel yang bekerja sebagai penerjemah subtitel DVD bajakan. Joko Anwar (Modus Anomali, Kala, Janji Joni) sebagai sutradara serta Tara Basro (Pendekar Tongkat Emas, Killers, Catatan Harian Si Boy) dan Chico Jericho (Filosofi Kopi, Cahaya dari Timur: Beta Maluku) sebagai pasangan pemeran utama berhasil merepresentasikan kehidupan masyarakat Jakarta golongan kelas menengah kebawah dengan detail dan jujur apa adanya. Akting serta chemistry mereka solid, tidak terbantahkan bahwa mereka sudah melebur dengan sempurna menjadi karakter mereka masing-masing. Adegan seks antara mereka berdua di dalam film ini pun bisa dibilang sebagai salah satu adegan seks terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia.

Joko Anwar, lewat akun Twitternya, pernah menyatakan bahwa film ini adalah film berbujet medium dengan set design, properti, serta perlengkapan yang sebagian merupakan buah kebaikan beberapa pihak yang bersedia meminjamkan kepemilikannya demi terlaksananya film yang memenangkan dana Rp150 Juta dari Asian Project Market di Busan Film Festival 2014 ini. Mungkin memang koinsidental, tapi segala yang membentuk film ini mulai dari struktur narasi sampai detail artistik dan sinematografi dapat saling mendukung satu sama lain dalam kesederhanaan dan ketidakcukupan untuk membentuk keutuhan kontekstual yang memperkuat nyawa cerita. Yang paling bisa dilihat dari hal ini adalah kepingan DVD bajakan yang menghiasi dinding kamar Alek serta absensi dari color grading pada keseluruhan film yang ditambal dengan komposisi serta pencahayaan yang manis. Jenius, low-budget, dan tetap relevan dengan konteks. Hal ini membuktikan bahwa film dengan kualitas yang baik tidak harus selalu didukung dengan bujet yang mahal. Proporsionalitas dan profesionalitaslah yang terpenting.

Jika penulis boleh meromantisir, A Copy of My Mind adalah sebuah kado Valentine dari Lo-Fi Flicks untuk mereka yang hidup di bawah garis ketidakcukupan dan masih mempertahankan cita-citanya¬†untuk merasakan kenikmatan duniawi. Konteks politik yang berasal dari keresahan Joko Anwar terhadap korupsi dan suap menyuap antar pejabat pun juga melekat erat membumbui kisah cinta dari sudut Jakarta yang terabaikan ini. Jangan khawatir akan ‘berat’ nya tema yang kamu baca di sinopsis. Ini adalah kisah cinta yang mampu dengan mudah kamu hubungkan dengan kehidupanmu di dunia nyata, jadi nikmati saja.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Surat dari Praha (2016) – Kelantangan tanpa Kematangan

Keberanian untuk mengatakan sebuah fakta yang ditentang pemerintah lewat media film yang disebarluaskan secara publik adalah suatu hal yang patut dipuji dan dihargai. Oleh karena itu, penulis akan menghargai keberanian segenap tim produksi Surat dari Praha dengan secara jujur dan lantang mengulas film ini.

Propaganda komunisme lewat penyudutan citra PKI dan penentang Orde Baru sebagai komunis anti-Tuhan dan pemberontak adalah hal yang masih mendarah daging di dalam otak masyarakat umum Indonesia. Pembantaian ratusan ribu komunis dan kudeta politik dengan kedok ‘Gestapu’ masih dianggap sebagai hal yang lumrah bagi mereka, bahkan hingga saat ini, ketika sang jenderal telah mangkat dan kepemimpinan telah berganti berkali-kali lewat pemilihan umum yang demokratis. Inilah alasan mengapa Surat dari Praha menjadi film yang penting untuk disaksikan. Ia menceritakan kisah seorang manusia biasa penentang Orde Baru bernama Jaya (diperankan oleh Tio Pakusadewo) yang tersiksa oleh kondisi politik yang memisahkannya dengan cinta sejatinya, Sulastri (diperankan oleh Widyawati), beribu-ribu mil jauhnya dari Jakarta ke Praha. Lebih jauh lagi, film ini juga menceritakan keresahan seorang anak bernama Laras (diperankan oleh Julie Estelle) yang harus hidup di dalam keluarga di mana sang ibu tidak pernah benar-benar mencintai sang ayah karena selalu terbayang-bayang akan janji manis mantan kekasih yang tak pernah mampu dipenuhi.

“Saya pernah berjanji pada ibumu dua hal. Satu, saya akan menikahinya nanti setelah saya pulang ke Indonesia. Dua, saya akan mencintai dia selama-lamanya. Namun sayang, takdir hanya mengizinkan saya untuk menepati janji yang kedua.” – Jaya.

Lewat karakterisasi Laras dan Jaya yang sangat kuat, Surat dari Praha mampu mengoptimalkan performa akting kelas dunia dari Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Ditambah lagi dengan visual storytelling yang kuat khas film-film Angga Sasongko (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi) dan pencahayaan yang ditempatkan pada momen-momen yang tepat, film ini menjadi sangat lembut dan cantik untuk disaksikan oleh mata dan hati para penontonnya. Pemanfaatan lokasi Praha dengan memperlihatkan hitam putih kedua sisinya dan juga menceritakan latar belakang sejarahnya dengan Indonesia mampu menjadikan film ini beda dengan film-film Indonesia lain yang hanya berani mengeksploitasi keindahan titik-titik wisata kota asing demi menarik mayoritas penonton Indonesia yang mereka anggap udik.

019949700_1439546066-2015-08-13_12.41.15_1

Sayang seribu sayang, banyak sekali detail-detail kecil yang kurang diperhatikan, yang mana seharusnya pada film-film dengan dinamika yang lambat dan mengalun seperti ini, detail-detail kecil tersebut penting untuk terus dipoles sampai halus dan sempurna. Beberapa ‘stunt‘ terlihat terlalu mencolok di awal sehingga penonton akan dengan mudah menyadari kehadiran mereka kembali di beberapa adegan¬†lain. Ada juga satu adegan di mana Jaya sedang memainkan harmonika dan menyanyikan ‘Sabda Rindu’ live di atas panggung, dan gerakan tangan pemain kontra bass, pianis, dan Jaya saat bermain harmonika sangat tidak sinkron dengan audio. Bagi para penonton yang bahkan cenderung menikmati detail-detail kecil, mereka juga akan merasa sangat terganggu dengan¬†product placement yang mengacak-acak karakter Jaya (bapak-bapak Soekarnois idealis penggemar kretek handmade¬†kopi kesukaannya Tora Bika Creamy Latte?? Permennya Kis Lemon?? Asu!) dan membuat semua usaha make-believe dalam penceritaan film ini gagal total. Tapi ya, sudah lah. Rentang perhatian orang-orang Indonesia awam juga singkat dan rendah, kok. Yang penting, ada Rio Dewanto di ¬†film ini yang pastinya menyegarkan mata gadis-gadis belia, biarpun karakternya, Dewa, tidak punya raison d’etre yang kuat dan relevan dalam segi cerita¬†maupun latar belakang sejarah yang membentuknya.

Musik-musik yang mengiringi Surat dari Praha juga patut untuk menjadi perhatian. Glenn Fredly tentunya telah memproduksi rangkaian musik yang indah untuk dihadirkan ke dalam film ini, namun layaknya gula untuk secangkir kopi, apa yang seharusnya menjadi pemanis yang apik malah akan membuat mual¬†apabila kadar yang diberikan terlalu banyak dari takaran yang seharusnya. Bisa dibilang, film ini hampir gagal menceritakan melankoli yang dialami oleh Jaya dan Laras karena senyap di dalam film ini tidak mendapatkan porsi yang seharusnya lebih banyak dari musik-musiknya. Suara vokal yang mengiringi¬†adegan-adegan sightseeing pun malah membuatnya menjadi berisik dan tidak pantas. Terlebih, pada adegan klimaks, alih-alih memberikan mereka ruang kedap suara untuk saling pandang dan diam tanpa bicara, film ini malah menyajikan duet ‘Nyali Terakhir’ yang kurang logis oleh Jaya dan Laras. Kenap kurang logis? Karena itu lagu ciptaan Laras, dan timing vokal Jaya yang sepersekian detik lebih cepat dan fasih dibandingkan Laras akan membuat penonton bertanya-tanya “Ini orang tua hapal dari mana lagunya? Sakti kali!”.

Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa film ini penting untuk disaksikan semua orang Indonesia, film ini belum bisa dikategorikan sebagai film yang bagus karena mengabaikan detail-detail penting yang seharusnya mampu dimatangkan dan memperkuat nyawa cerita. Terakhir, bila menggunakan logika berpikir Jaya,

“Menolak Soeharto dan mencintai ibumu adalah dua hal yang berbeda!”

Maka dapat disimpulkan pula bahwa menolak Soeharto dan menyukai film ini juga adalah dua hal yang berbeda.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.