Tag Archives: indonesia

Critical Eleven (2017) – Suka Duka Kesempatan Kedua

Di dunia ini, tidak ada cinta yang sempurna layaknya cerita dongeng. Sekalipun cinta yang larut dalam indahnya kota-kota besar seperti New York, Jakarta dan pesisir Meksiko. Tetapi, apakah dengan kehilangan kita akan belajar untuk saling melengkapi? Diangkat dari novel terlaris karya Ika Natassa, Critical Eleven menceritakan tentang suka duka kesempatan kedua, berikut dengan pilihan hidup yang terkadang tidak sejalan dengan ekspektasi.

Menceritakan tentang Ale dan Anya Risjad, sepasang suami istri dengan kehidupan pernikahan yang serba ada dibawah gemerlap kota New York, Critical Eleven mengangkat sebuah analogi unik yang berdasarkan sebuah istilah populer dalam dunia penerbangan dengan nama yang sama, critical eleven — dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Berdasarkan data statistik, 80% dari kecelakaan pesawat biasanya terjadi pada saat masa-masa kritis tersebut. Sedangkan, dalam novel/film ini, dikatakan bahwa 11 menit pertama dari sebuah pertemuan merupakan masa paling kritis yang akan menentukan kemana sebuah hubungan akan dibawa. 3 menit saat pembentukan kesan pertama, dan 8 menit sebelum perpisahan.

Tetapi, setelah dihadapkan pada realita yang berbanding 180 derajat dengan apa yang awalnya mereka harapkan, apakah 11 menit tersebut mampu menjadi alasan dibalik kekuatan cinta Ale dan Anya?

“Bisa bayangin nggak, kita lewatin jembatan bareng, terus kita bakar jembatan itu. Nggak ada jalan untuk kembali. Aku sama kamu kayak gitu, Nya. Ayo bakar jembatan bareng.”

Mungkin, istilah the calm before the storm sangat pas untuk menggambarkan keseluruhan film Critical Eleven secara general.  Meskipun film ini telah berhasil menyorot berbagai spot legendaris kota New York yang indah, serta teknik pengambilan gambar yang berhasil membuat siapa saja yang menontonnya berdecak kagum, rasanya agak sedikit sulit untuk benar-benar menikmatinya when their marriage life begins to sink faster than the Titanic.

Dengan kehidupan pernikahan Ale dan Anya yang (hampir) sempurna, ditambah dengan berita kehamilan Anya yang tidak disangka-sangka, kedua pasangan ini justru dihadapkan pada suatu kenyataan pahit dimana gelar orang tua yang hampir mereka raih dirampas secara ironis, saat dokter menyatakan bahwa Anya mengalami keguguran. The fact that it’s almost impossible to keep themselves composed over the searing pain of losing their son, and the aftermath of every single thing that happened beyond their consent is truly heartbreaking. Tidak hanya itu, pada saat penonton dibuat menangis sendu di klimaks cerita, even more plot twists — yang meskipun relevan, terkadang sedikit antiklimaks dan dipaksakan — start to bombard the remaining scenes until the very, very end.

Tetapi, untuk memuaskan hasrat para penonton yang telah sukses dibuat tersenyum dan menangis tidak karuan selama kurang lebih 135 menit, (dengan penuh kebingungan) Critical Eleven pun memutuskan untuk tidak mengikuti alur epilog yang ada di dalam novel, serta mengikuti tren yang tetap berada dalam comfort zone industri perfilman: a happy, fairytale-like ending.

Meskipun begitu, tidak dapat dikatakan bahwa Critical Eleven is not worth the watch. If you’re a sucker for adult-themed melodramatic romance with fancy settings, this one’s for you. Dengan sinematografi yang patut diacungi jempol, kata-kata mutiara penuh makna yang tidak henti-hentinya dilontarkan oleh Ale dan Anya, chemistry para pemain, eksistensi pemeran pendukung yang tidak kalah besar impact-nya, serta antusiasme penonton yang kebanyakan telah lebih dulu membaca novelnya, Critical Eleven merupakan sebuah film yang tepat untuk menggambarkan fantasi dan romantisme kehidupan pernikahan, serta sakitnya kehilangan orang yang paling kita cintai dengan tulus, bahkan sebelum kita dapat benar-benar bertatap muka dengan mereka.

Mimpi Anak Pulau (2016) – Mendayung Mimpi

Ada tiga penyakit terbesar yang biasanya menjangkiti film-film Indonesia, terutama yang bertema triumph of the spirit. Ketiga penyakit tersebut adalah: narasi yang pretensius, naskah yang preachy, dan eksploitasi tokoh dengan hagiografi demi menyesuaikan arus pasar (quoting PicturePlay). Sinema Indonesia belakangan ini seperti kehilangan arah dalam menentukan ciri khas mereka dari segi visual, naratif, dan kontekstual cerita sehingga terkesan pretensius karena seperti ada ambisi untuk menyamai Hollywood. Lihat saja Rudy Habibie yang terkesan mengimitasi The Imitation Game dan menjadikan tokoh Rudy sebagai sosok utama yang sempurna, pusat dari tata peredaran tokoh-tokoh ‘pelengkap’ lainnya. Ada juga Modus Anomali, film Indonesia yang tidak ingin menjadi Indonesia, meskipun Joko Anwar pada akhirnya membayarnya dengan telak di film A Copy of My Mind. Perfilman Indonesia terlalu sibuk mencoba menjadi Hollywood sampai mereka lupa bagaimana rasanya saat Laskar Pelangi sukses menghajar belantika bioskop tanah air dengan kehangatan yang jujur dan otentik, tanpa pretensi dan kesan menceramahi.

Diadaptasi dari novel karya Abidah El-Khalieqy, Mimpi Anak Pulau bercerita tentang seorang bocah laki-laki bernama Gani (diperankan oleh Daffa Permana), anak pertama dari Rabiah (diperankan oleh Ananda Lontoh) dan Lasa (diperankan oleh Ray Sahetapy) yang tinggal di pesisir pantai Nongsa, Pulau Batam. Gani menjalani masa kecilnya dengan penuh semangat dan harapan meski kenyataan yang dia hadapi sering berujung pahit, apalagi setelah ayahnya meninggal. Kerasnya hidup tidak berarti apa-apa bagi Gani. Terkadang ia menangis di pelukan ibunya, tapi ia tidak pernah lupa untuk tetap bangkit dan mencari cara untuk mengejar mimpinya: menuntut ilmu dan membeli sepatu baru.

Secara teknis, Mimpi Anak Pulau memang sangat jauh bila harus dibandingkan dengan Laskar Pelangi. Struktur naratifnya pun bisa dibilang berantakan akibat terlalu sering mengambil sekuens inset yang (mungkin) sengaja ditujukan untuk memperkuat konteks, sehingga jalan cerita menjadi cenderung inkoheren dan penonton awam akan sulit mencerna apa yang sebenarnya ingin diceritakan film ini pada babak pertama dan kedua. Harus diakui dan juga dipuji, Kiki Nuriswan dan Ichsan Zulkarnain sudah berusaha keras membangun dramatisasi kisah nyata yang penuh kehangatan dengan believable sekaligus relatable, namun beberapa kalimat dialog terkesan sangat textbook, seakan dicomot langsung dari novel tanpa penyesuaian dengan akting dan reading dari para pemerannya, dan itu akan sedikit mengganggu bagi penonton yang peka dan senang memperhatikan hal-hal kecil. Film ini juga hampir terjangkit virus hagiografi karena Gani, sang karakter utama, lagi-lagi ditempatkan sebagai pusat tata edar tokoh-tokoh pembantu lainnya. Sekuens epilognya pun, aduh, dirancang dengan sangat lemah sehingga terlihat seperti iklan-iklan properti Agung Sedayu Group atau semacamnya. Entah, mungkin karena kekurangan bujet atau terlalu terburu-buru dalam mengeksekusi ide mentah.

Untungnya, banyak aspek dari Mimpi Anak Pulau yang menjadikan film ini cukup istimewa dan menyenangkan untuk ditonton. Pertama: lewat otentisitas yang berhasil diciptakan oleh gaya bertutur yang hangat dan berani untuk menjadi Indonesia, tidak peduli apapun latar belakang para penonton, mereka akan merasa sangat relate dengan keluguan Gani. Inilah yang mencegah terjangkitnya Mimpi Anak Pulau dari virus hagiografi. Karakter Gani berhasil menjadi utuh lewat perangainya yang tengil namun juga norak bila dihadapkan dengan hal-hal yang di luar batas pengetahuannya. Kedua: Ada beberapa adegan yang biasanya sangat rentan diisi dengan kalimat-kalimat preachy, yaitu sewaktu Gani sedang belajar di sekolah dan saat di pengajian. Untungnya, penulis naskah dan sutradara berhasil menjadikan kedua adegan tersebut hanya berfokus pada pemaparan detail karakter dan turning point dari plot, bukan pada penanaman pesan moral (yang sayangnya masih banyak dijadikan patokan bagus atau tidaknya sebuah film). Ketiga: Kerja sinematografi dan penyuntingan serta color grading yang harmonis dalam kesederhanaan akan mampu menyempurnakan keindahan latar Pulau Batam tahun 70-an di mata para penontonnya. Saya harus memuji salah satu adegan yang menunjukkan Gani dengan abangnya, Kodir, mendayung sampan menyeberangi pulau sambil diombang-ambing oleh badai di tengah malam. Terlihat sangat otentik dan nyata, seperti mereka memang melakukan pengambilan gambarnya di tengah laut. Keempat: Kombinasi akting Ray Sahetapy dan Ananda Lontoh di babak pertama mengejutkan saya. Sungguh. Di babak kedua dan ketiga pun istri dari Attar Syah ini masih tampil dengan prima, membuat mata para penonton tak bisa lepas darinya saat ia berada di dalam frame. Saya pikir Ananda Lontoh harus terlibat lebih banyak lagi di film-film besar Indonesia selanjutnya agar ia menemukan sutradara yang mampu membawanya ke batas tertinggi kemampuan aktingnya.

Setelah Laskar Pelangi, Mimpi Anak Pulau merupakan film yang hangat, otentik, dan penting untuk ditonton bagi seluruh orang Indonesia, terutama bagi para praktisi pendidikan dan pembangunan daerah tertinggal di Indonesia. Kenapa? Agar kita semua sadar bahwa mensinergikan pembangunan dan pendidikan demi menuntaskan hak bersekolah para anak di daerah tertinggal jauh lebih penting daripada membangun mal-mal megah di perkotaan dan menyalahkan rusaknya moral mereka akibat terlalu terpengaruh budaya konsumtif dan kebarat-baratan.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Koala Kumal (2016) – Patah Hati dan Konsistensi Realita

Setiap drama sejatinya adalah studi kasus tentang emosi manusia, dan setiap komedi sejatinya menyampaikan studi kasus tersebut dengan kritis dan menggelitik. Laurence Olivier, aktor Inggris pada abad ke-20, pernah berkata bahwa,

“The office of drama is to exercise, possibly to exhaust, human emotions. The purpose of comedy is to tickle those emotions into an expression of light relief; of tragedy, to wound them and bring the relief of tears. Disgust and terror are the other points of the compass.”

Bicara tentang Koala Kumal berarti bicara tentang Raditya Dika. Saya pernah berdiskusi dengan kerabat sesama film blogger, Picture Play, dan kami bersepakat bahwa Raditya Dika mempunyai potensi untuk menjadi Woody Allen-nya Indonesia. Mereka berdua mempunyai keresahan terhadap hal yang sama: cinta dan budaya berkencan di daerah asal mereka masing-masing. Mereka sama-sama dengan mudah menerjemahkan keresahan mereka lewat bahasa komedi mereka masing-masing (Woody nihilis, Dika sarkastis). Sayang, ada satu hal yang menjadi kekurangan besar Dika: ia terlalu nyaman bermain di ranah aman, di kerak sebuah persoalan tanpa berani menggali ke dalam inti sehingga pesan yang ingin ia sampaikan terkesan lemah dan tidak kritis.

Seperti yang telah tercantum di tagline, film komedi romantis ini berkisah tentang perjalanan seorang Dika untuk mendewasakan dirinya lewat patah hati. Putus cinta di ujung tanggal pernikahan, Dika mencoba untuk ‘move-on’ dengan berbagai cara yang konyol dan garing dibantu oleh Trisna (diperankan oleh Sheryl Sheinafia) yang tomboy. Judul Koala Kumal sendiri diambil berdasarkan kisah nyata seekor Koala dari New South Wales yang pulang kembali ke rumahnya di hutan setelah ditebangi. Ia kebingungan saat sampai karena rumah yang dulu ia naungi tidak lagi sama baginya. Ia merasa asing, seperti saat kamu mencium bau kamar yang biasa kamu tiduri menjadi seperti bau orang lain.

Film ketiga yang ia sutradarai setelah Marmut Merah Jambu dan Single ini mengalami peningkatan sinematik yang cukup signifikan. Dika seperti mulai mengerti bagaimana caranya menggunakan camera movement, komposisi, serta momentum editing untuk membuat sebuah komedi visual yang klasik dan tetap segar ditonton. Soal plotting dan cara Dika menyajikan setiap adegan dengan warna tematik dan kontekstual yang kental patut diacungi jempol. Sekuens yang paling saya sukai adalah saat adegan Dika datang ke rumah Trisna untuk minta penjelasan sampai kemudian selesai di adegan Dika lumpuh di atas panggung. Skema dramatik cerdas yang dibumbui referensi humor klasik ala-ala Marx bersaudara dan Warkop DKI inilah yang membuat saya menyandingkan dia dengan seorang Woody Allen.

Saat menonton film ini di bioskop, saya menyaksikan langsung hampir semua orang yang menonton tertawa terbahak-bahak di setiap momentum jokes. Mungkin, cuma saya yang tidak tertawa, meskipun saya mengagumi kecerdasan Dika dalam menulis materi komedi yang berbicara secara sarkastis dan realistis (meskipun kurang kritis) tentang budaya berpacaran pemuda Jakarta yang memang tidak jelas. Tapi saya tidak tertawa. Maka dari itu, saya mencari tahu alasan kenapa jokes Dika yang menurut saya cerdas itu tidak berhasil menggelitik saya, dan saya menemukan jawabannya. Saya tidak bersimpati pada tokoh-tokoh di film ini karena saya tidak bisa mempercayai karakter mereka, termasuk Dika sendiri. Karakter-karakter mereka bersifat dua dimensi dan cenderung tidak konsisten dengan realita yang dibentuk oleh cerita. Jika Dika berencana membuat alam cerita yang dipenuhi dengan karakter komikal seperti Trisna dan James, maka tokoh Andrea dan Kinara yang karakternya sangat aktual dengan gadis-gadis di kehidupan nyata tentunya adalah sebuah kesalahan fatal yang menggoyahkan keajaiban make-believe cerita Koala Kumal. Dialog antar tokoh pun terlalu cheesy, teeny-kind-of-preachy soal cinta tanpa ada ulasan yang lebih dalam dan kritis tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Alhasil, kemampuan film Koala Kumal dalam memberikan kritik romantika remaja dengan pesan pendewasaan emosional sama lemahnya seperti nasihat perbaikan sebuah hubungan dari teman SMA kamu yang jumlah mantan pacarnya sudah sampai dua digit.

Seniman dengan bakat sehebat apapun, apabila berkarya dengan tidak jujur dan setengah hati, maka hasilnya tidak akan maksimal. Saya melihat Dika sebagai orang cerdas dengan bakat luar biasa yang—sayangnya—terjebak dalam pengkultusan publik yang melihat dirinya lewat persepsi yang salah. Sedari awal, orang mengenal Dika sebagai blogger yang eksis lewat humor-humornya tentang kejombloan dan cinta monyet…atau brontosaurus. Setelah saya menonton Koala Kumal, saya semakin yakin bahwa Dika sebenarnya adalah seorang yang kritis, sedikit misantropis, dan mempunyai idealisme kuat yang sayangnya terkekang oleh konsistensi dari realita kehidupannya. Ada beberapa detail mise-en-scene yang sempat mencuri perhatian saya, salah satunya adalah kutipan Anais Nin, seorang tokoh esais abad 20 yang terkenal frontal, yang menghiasi dinding kamarnya. Cara dia mengalegorikan kehidupan koala New South Wales dengan pasangan yang balikan setelah patah hati juga membuktikan bahwa Dika sebenarnya punya kedalaman batin yang jauh melebihi dialog-dialog medioker yang ia tulis di film ini.

Namun jika ia tidak berani untuk mengambil langkah keluar dari zona aman, gagasan-gagasan besarnya tentang cinta dan patah hati akan membusuk di dalam kenyamanan selebritas dan popularitasnya.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) – Penebus Rindu

Hal yang paling dibenci setiap manusia adalah menunggu tanpa kepastian yang jelas. Kita semua mengerti dan pernah merasakan hal itu, maka saat Miles Film mengumumkan bahwa sekuel dari Ada Apa dengan Cinta resmi ditayangkan setelah empat belas tahun lamanya, hampir semua penikmat film Indonesia yang pernah hidup menyaksikan film romansa paling ikonik di Indonesia tersebut langsung antusias menyambutnya. Mereka tidak hanya ingin tahu bagaimana kabar Rangga dan Cinta serta Geng Mading SMA yang digawangi Cinta, Milly, Karmen, Maura, Alya, dan Mamet. Sebagai penikmat film Indonesia yang sudah terlalu lama terlena dengan film-film ‘asing’ yang selalu menjajah bioskop mereka, sebagian besar dari mereka juga berharap akan adanya plot twist yang unik dan menggemparkan di antara hubungan kedua pecinta sastra tersebut.

Sebagian dari mereka mungkin terlalu berharap banyak. AADC 2 yang kini disutradarai langsung oleh Riri Riza memang menghidupkan kembali nostalgia romansa terbaik yang pernah Indonesia miliki dengan lembut dan manis tanpa ada satu hal pun yang harus dilebih-lebihkan. Semua tokoh lama AADC tampil prima dengan charm dan karakteristik mereka masing-masing, kecuali tokoh-tokoh baru yang sayangnya hanya dijadikan tempelan agar cerita yang tidak bergerak kemana-mana ini terkesan progresif dan dinamis.

“Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku untuk memilikimu sekali lagi.”

Sama halnya seperti Cinta di film ini, cerita di AADC 2 tidak move-on ke arah yang seharusnya. Bisa dikatakan bahwa AADC 2 hanyalah sebuah medium storytelling yang menceritakan tentang apa yang terjadi dalam kurun waktu 14 tahun setelah akhir film AADC dan sebelum awal film AADC 2. Fungsi dari film ini hanyalah sebagai penebus rindu bagi para penggemarnya, atau seperti yang PicturePlay katakan, “brand continuation effort“. Sebagaimana penebus rindu berfungsi, film ini terlalu banyak berbicara tentang masa lalu. Adapun pembahasan masa depan yang hanya terdapat di paruh akhir act 3 film dapat diibaratkan layaknya MSG yang menjadi solusi tepat dan ‘murah’ kalau sang koki tidak yakin masakannya cukup enak untuk disukai banyak orang.

Namun, jangan salah paham. Mengatakan film ini buruk dan tidak layak untuk ditonton adalah sebuah hiperbola yang kejam dan tidak beralasan. Justru, plot film yang ‘terlihat-seperti-maju-namun-nyatanya-mundur‘ ini akan mampu mengiris-iris hati mereka yang masih belum bisa move-on dari hubungan mereka sebelumnya, baik yang pernah terjadi maupun yang hanya angan-angan saja. Aspek sinematografi, naskah, soundtrack, dan akting para tokoh pun sebenarnya sudah jauh dari kata buruk. Awalnya pada act 1, sangat jelas terlihat dari ritme editing dan dialog antar tokoh bahwa AADC 2 linglung dan pincang seperti orang yang baru saja berolahraga kembali setelah lebih dari empat belas tahun bermalas-malasan. Namun menjelang pertemuan Cinta dan Rangga kembali, film ini mulai mendapatkan nyawa yang seharusnya sudah hidup sejak awal cerita. Belum lagi ditambah rangkaian puisi indah yang ditulis oleh Aan Mansyur yang mampu menjadikan film ini memiliki subteks yang berlapis-lapis. Banyak yang berpendapat bahwa beberapa adegan saat pertemuan kembali Rangga dan Cinta terkesan klise dan kesinetron-sinetronan, namun penulis sendiri malah berpendapat bahwa cara Riri Riza menyajikan adegan ‘kesinetron-sinetronan’ tersebut dengan gaya satir dan komikal menunjukkan bahwa ia punya tujuan mulia untuk menghidupkan sedikit humor sarkastik di tengah pekatnya kegalauan yang meracau di film ini.

Besarnya antusiasme masyarakat pada AADC 2 yang membuat film ini mampu meraih 700 ribu penonton di hari ketiga penayangannya telah memberikan harapan bagi kebangkitan industri perfilman Indonesia akan kepercayaan penonton terhadap film-film yang mereka produksi. Tentu, penulis juga berharap hal ini akan berdampak positif pada perkembangan kualitas film romansa Indonesia, karena seharusnya dari kasus AADC 2 ini, para produser film Indonesia pun bisa belajar bahwa penonton film Indonesia tidak harus selalu disodori superfisialitas agar bisa menyukai film romansa. Sebagai sekuel penebus rindu, AADC 2 telah mempersembahkan sebuah nostalgia cinta yang manis, tulus, dan penuh warna tanpa pretensi dan pernyataan cinta yang berlebih-lebihan.

Namun layaknya sebuah penebusan rindu, film ini tidak akan membawamu kemana-mana kecuali ke masa lalu.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Iseng (2016) – Bercerita atau Berceramah?

Idealnya, dalam bercerita, seorang pencerita tidak boleh menyisipkan opini pribadi yang bersifat menceramahi pada penikmatnya. Secara logika bahasa pun, sebuah cerita seharusnya bertujuan untuk menceritakan. Jika tujuannya untuk menceramahi, namanya ceramah. Maxime du Camp, seorang penulis asal Perancis, pernah secara sarkastis mendeskripsikan gaya bercerita yang ideal dengan mereferensikan gaya penulisan sahabatnya yang juga seorang novelis, Gustave Flaubert:

“If a novel allows the author’s opinions to show through then the novel deserves to be thrown on the fire. Impersonal and impervious, the writer stands in for his characters. Thinks and acts like them. The subject of work of art…is as nothing, the execution is all that matters.”

Pernyataan du Camp tersebut menunjukkan bahwa seorang novelis, ataupun pencerita pada umumnya, haruslah menjadikan karakter mereka sebagai pedoman pokok dari sebuah cerita tanpa harus melemparkan penghakiman apapun terhadap apa yang para karakter ini lakukan. Dengan begitu, para karakterlah yang kemudian akan menjadi penggerak sebuah cerita dan bukan penulisnya. Cerita yang ideal haruslah menjadi sebuah studi kasus dengan interpretasi konklusi yang subjektif bagi para penikmatnya. Bukan seperti yang sinetron-sinetron murahan Indonesia dengan orang tua lemah, anak durhaka, rentenir kejam, ustadz, dan petir ataupun kutukan yang merepresentasikan Tuhan sebagai karakter utamanya.  Bukan juga seperti apa yang Iseng lakukan.

20 karakter dalam empat cerita yang berbeda terhubung secara tidak langsung ke dalam sebuah peristiwa bunuh diri dan pembunuhan pada suatu malam. Diceritakan dalam konteks kehidupan masyarakat urban Jakarta dengan berbagai macam kelas sosial yang ada, Iseng memiliki premis yang sangat menarik meskipun tidak bisa dibilang unik karena sudah pernah digunakan oleh Selamat Pagi, Malam sebelumnya. Ada beberapa poin di dalam film ini yang bisa penulis puji karena telah direncanakan dan dieksekusi dengan sangat baik, namun ada juga yang patut penulis kritik karena alasan krusial yang menyangkut tentang idealisme sebuah cerita.

Biarpun film yang disutradarai oleh Adrian Tang ini mempunyai jumlah tokoh yang bisa dikatakan terlalu banyak untuk standar film drama-thriller, namun semua tokoh tersebut mampu bersinar dengan karakteristik mereka masing-masing dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi para penonton setelah keluar dari ruangan teater. Bahkan untuk tokoh dengan screen time tersingkat seperti si ‘pelanggan’ yang diperankan oleh Cecep Arif Rahman dan Andi yang diperankan oleh Fauzi Baadila pun masih tetap mampu tampil mengesankan. Agak segar dan mengejutkan melihat kedua bintang bela diri seperti Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman mampu memberikan performa akting yang natural tanpa harus melakukan adegan perkelahian sengit seperti yang mereka lakukan di The Raid 2.

Keempat konflik besar yang diusung ke dalam film ini pun sangat menarik dan sederhana, karena siapapun yang menontonnya, terutama orang Jakarta, pasti mampu mengaitkan cerita ini dengan kehidupan sehari-hari mereka. Seorang sekretaris kantoran yang suka tebar pesona kemana-mana, sepasang sahabat yang berusaha mencari rezeki dengan melacur di pinggir jalanan Jakarta, sekelompok preman yang ditugaskan untuk membunuh wanita yang menjadi selingkuhan bosnya, dan seorang maniak seks yang bekerja sebagai seorang koki di sebuah rumah makan. Meskipun memang secara sekilas mereka semua terdengar agak ekstrim di telinga kita, namun cara mereka bertingkah, bahasa yang mereka gunakan saat berdialog, dan latar belakang personal yang mereka miliki sangat mirip dengan orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-harinya sehingga mereka tidak harus berusaha terlalu keras untuk dapat menarik simpati kita. Mungkin hal ini juga yang membantu para aktor untuk dapat tampil lebih natural dan menyatu dengan tokoh mereka masing-masing. Aplaus untuk kehebatan sang penulis naskah Husein M. Atmojo yang mampu merangkai struktur naratif yang cerdas dengan tokoh sederhana dan kompleksitas emosional yang akrab dengan kehidupan kita, masyarakat Jakarta.

Sayang, kecerdasan film ini kemudian hancur lebur luluh lantak saat sebuah teks muncul di layar hitam sebelum judul film dan kredit titel muncul diselingi epilog yang menampilkan sekuens latar belakang personal para tokoh dengan desaturasi warna seperti adegan-adegan flashback pada umumnya. Lewat kedua hal tersebut, seperti ada sebuah penghakiman terselubung dari sang sutradara dan penulis naskah yang mencoba menyatakan bahwa semua kemalangan yang terjadi pada tokoh-tokoh ini semata-mata adalah kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu. Penulis yang sempat dibuat kagum sepanjang keseluruhan film tiba-tiba langsung dibuat jijik oleh usaha sang pencerita untuk berceramah dan lepas tangan dengan menghilangkan keberpihakan mereka pada moral setiap tokoh yang mereka ciptakan. Seandainya semua kelebihan yang penulis nyatakan di awal tidak terdapat dalam film ini, mungkin penulis akan secara tegas menyimpulkan bahwa film ini tidak ada bedanya dengan sinetron-sinetron ‘ustadz kame-hame-ha’ yang tayang setiap fringe time di stasiun televisi lokal Indonesia.

Seandainya sutradara dan produser film Iseng berani untuk menghapus kedua hal yang penulis kritik di atas, maka Iseng sejatinya dapat menjadi sebuah film yang mampu bersaing di festival film mancanegara dan menjadi kebanggaan insan perfilman Indonesia karena berhasil memotret kehidupan Jakarta yang kejam dan tanpa ampun dengan akurat dan tidak kalah lantang dari A Copy of My Mind. Ini film yang bisa dibilang keren secara teknis dan naratif, namun dengan ending yang menghakimi tersebut, film ini tetap menjadi sebuah khotbah, bukan sebuah cerita.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

A Copy of My Mind (2015) – Jakarta dalam Cerita Cinta Nyata

Kita bisa menyebutkan banyak sekali kekurangan yang dimiliki kebanyakan film Indonesia yang telah diproduksi, namun yang paling sering diulang-ulang adalah keengganan dalam menyorot konteks sosial yang gamblang dan detail tentang kehidupan masyarakat Jakarta, khususnya daerah sub-urban. Demi konsumen mayoritas yang (mereka anggap) udik, mereka lebih memfokuskan pada kehidupan masyarakat menengah ke atas dan sudut kota Jakarta yang megah dan gemerlap. Jika sudah tidak ada lagi yang bisa dieksplorasi, ya sudah, tinggal shooting di luar negeri, bawa aktor-aktor Indonesia. Premis dan skrip pun ditulis sebasi mungkin, sebasi puisi-puisi kacangan akun fake official Line dengan satu tujuan yang sama: mengeksploitasi kenaifan remaja akan cinta. Jika kamu termasuk golongan orang-orang yang sudah muak akan materi-materi seperti yang telah disebutkan, maka ada dua film di awal 2016 ini yang akan menghidupkan kembali kepercayaanmu terhadap film-film Indonesia: Siti dan A Copy of My Mind. Bila Siti mungkin terlalu marjinal dan tersegmen untuk kamu yang biasa menonton film-film romansa hedonis berbujet mahal, kamu bisa mulai untuk menonton A Copy of My Mind terlebih dahulu.

1227161_a-copy-of-my-mind

Kita semua sebenarnya sudah tahu bahwa Jakarta bukan hanya tentang wanita-wanita dengan make-up tebal menenteng tas mahal berkeliling di dalam sebuah mal megah ditemani pria metroseksual yang tidak jelas apakah dia pacar, saudara, ayah, atau bodyguard. Jakarta juga tentang seorang gadis kleptomania pegawai salon kecil yang hidup di kos-kosan sepetak yang berpacaran dengan pria belel yang bekerja sebagai penerjemah subtitel DVD bajakan. Joko Anwar (Modus Anomali, Kala, Janji Joni) sebagai sutradara serta Tara Basro (Pendekar Tongkat Emas, Killers, Catatan Harian Si Boy) dan Chico Jericho (Filosofi Kopi, Cahaya dari Timur: Beta Maluku) sebagai pasangan pemeran utama berhasil merepresentasikan kehidupan masyarakat Jakarta golongan kelas menengah kebawah dengan detail dan jujur apa adanya. Akting serta chemistry mereka solid, tidak terbantahkan bahwa mereka sudah melebur dengan sempurna menjadi karakter mereka masing-masing. Adegan seks antara mereka berdua di dalam film ini pun bisa dibilang sebagai salah satu adegan seks terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia.

Joko Anwar, lewat akun Twitternya, pernah menyatakan bahwa film ini adalah film berbujet medium dengan set design, properti, serta perlengkapan yang sebagian merupakan buah kebaikan beberapa pihak yang bersedia meminjamkan kepemilikannya demi terlaksananya film yang memenangkan dana Rp150 Juta dari Asian Project Market di Busan Film Festival 2014 ini. Mungkin memang koinsidental, tapi segala yang membentuk film ini mulai dari struktur narasi sampai detail artistik dan sinematografi dapat saling mendukung satu sama lain dalam kesederhanaan dan ketidakcukupan untuk membentuk keutuhan kontekstual yang memperkuat nyawa cerita. Yang paling bisa dilihat dari hal ini adalah kepingan DVD bajakan yang menghiasi dinding kamar Alek serta absensi dari color grading pada keseluruhan film yang ditambal dengan komposisi serta pencahayaan yang manis. Jenius, low-budget, dan tetap relevan dengan konteks. Hal ini membuktikan bahwa film dengan kualitas yang baik tidak harus selalu didukung dengan bujet yang mahal. Proporsionalitas dan profesionalitaslah yang terpenting.

Jika penulis boleh meromantisir, A Copy of My Mind adalah sebuah kado Valentine dari Lo-Fi Flicks untuk mereka yang hidup di bawah garis ketidakcukupan dan masih mempertahankan cita-citanya untuk merasakan kenikmatan duniawi. Konteks politik yang berasal dari keresahan Joko Anwar terhadap korupsi dan suap menyuap antar pejabat pun juga melekat erat membumbui kisah cinta dari sudut Jakarta yang terabaikan ini. Jangan khawatir akan ‘berat’ nya tema yang kamu baca di sinopsis. Ini adalah kisah cinta yang mampu dengan mudah kamu hubungkan dengan kehidupanmu di dunia nyata, jadi nikmati saja.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Surat dari Praha (2016) – Kelantangan tanpa Kematangan

Keberanian untuk mengatakan sebuah fakta yang ditentang pemerintah lewat media film yang disebarluaskan secara publik adalah suatu hal yang patut dipuji dan dihargai. Oleh karena itu, penulis akan menghargai keberanian segenap tim produksi Surat dari Praha dengan secara jujur dan lantang mengulas film ini.

Propaganda komunisme lewat penyudutan citra PKI dan penentang Orde Baru sebagai komunis anti-Tuhan dan pemberontak adalah hal yang masih mendarah daging di dalam otak masyarakat umum Indonesia. Pembantaian ratusan ribu komunis dan kudeta politik dengan kedok ‘Gestapu’ masih dianggap sebagai hal yang lumrah bagi mereka, bahkan hingga saat ini, ketika sang jenderal telah mangkat dan kepemimpinan telah berganti berkali-kali lewat pemilihan umum yang demokratis. Inilah alasan mengapa Surat dari Praha menjadi film yang penting untuk disaksikan. Ia menceritakan kisah seorang manusia biasa penentang Orde Baru bernama Jaya (diperankan oleh Tio Pakusadewo) yang tersiksa oleh kondisi politik yang memisahkannya dengan cinta sejatinya, Sulastri (diperankan oleh Widyawati), beribu-ribu mil jauhnya dari Jakarta ke Praha. Lebih jauh lagi, film ini juga menceritakan keresahan seorang anak bernama Laras (diperankan oleh Julie Estelle) yang harus hidup di dalam keluarga di mana sang ibu tidak pernah benar-benar mencintai sang ayah karena selalu terbayang-bayang akan janji manis mantan kekasih yang tak pernah mampu dipenuhi.

“Saya pernah berjanji pada ibumu dua hal. Satu, saya akan menikahinya nanti setelah saya pulang ke Indonesia. Dua, saya akan mencintai dia selama-lamanya. Namun sayang, takdir hanya mengizinkan saya untuk menepati janji yang kedua.” – Jaya.

Lewat karakterisasi Laras dan Jaya yang sangat kuat, Surat dari Praha mampu mengoptimalkan performa akting kelas dunia dari Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Ditambah lagi dengan visual storytelling yang kuat khas film-film Angga Sasongko (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi) dan pencahayaan yang ditempatkan pada momen-momen yang tepat, film ini menjadi sangat lembut dan cantik untuk disaksikan oleh mata dan hati para penontonnya. Pemanfaatan lokasi Praha dengan memperlihatkan hitam putih kedua sisinya dan juga menceritakan latar belakang sejarahnya dengan Indonesia mampu menjadikan film ini beda dengan film-film Indonesia lain yang hanya berani mengeksploitasi keindahan titik-titik wisata kota asing demi menarik mayoritas penonton Indonesia yang mereka anggap udik.

019949700_1439546066-2015-08-13_12.41.15_1

Sayang seribu sayang, banyak sekali detail-detail kecil yang kurang diperhatikan, yang mana seharusnya pada film-film dengan dinamika yang lambat dan mengalun seperti ini, detail-detail kecil tersebut penting untuk terus dipoles sampai halus dan sempurna. Beberapa ‘stunt‘ terlihat terlalu mencolok di awal sehingga penonton akan dengan mudah menyadari kehadiran mereka kembali di beberapa adegan lain. Ada juga satu adegan di mana Jaya sedang memainkan harmonika dan menyanyikan ‘Sabda Rindu’ live di atas panggung, dan gerakan tangan pemain kontra bass, pianis, dan Jaya saat bermain harmonika sangat tidak sinkron dengan audio. Bagi para penonton yang bahkan cenderung menikmati detail-detail kecil, mereka juga akan merasa sangat terganggu dengan product placement yang mengacak-acak karakter Jaya (bapak-bapak Soekarnois idealis penggemar kretek handmade kopi kesukaannya Tora Bika Creamy Latte?? Permennya Kis Lemon?? Asu!) dan membuat semua usaha make-believe dalam penceritaan film ini gagal total. Tapi ya, sudah lah. Rentang perhatian orang-orang Indonesia awam juga singkat dan rendah, kok. Yang penting, ada Rio Dewanto di  film ini yang pastinya menyegarkan mata gadis-gadis belia, biarpun karakternya, Dewa, tidak punya raison d’etre yang kuat dan relevan dalam segi cerita maupun latar belakang sejarah yang membentuknya.

Musik-musik yang mengiringi Surat dari Praha juga patut untuk menjadi perhatian. Glenn Fredly tentunya telah memproduksi rangkaian musik yang indah untuk dihadirkan ke dalam film ini, namun layaknya gula untuk secangkir kopi, apa yang seharusnya menjadi pemanis yang apik malah akan membuat mual apabila kadar yang diberikan terlalu banyak dari takaran yang seharusnya. Bisa dibilang, film ini hampir gagal menceritakan melankoli yang dialami oleh Jaya dan Laras karena senyap di dalam film ini tidak mendapatkan porsi yang seharusnya lebih banyak dari musik-musiknya. Suara vokal yang mengiringi adegan-adegan sightseeing pun malah membuatnya menjadi berisik dan tidak pantas. Terlebih, pada adegan klimaks, alih-alih memberikan mereka ruang kedap suara untuk saling pandang dan diam tanpa bicara, film ini malah menyajikan duet ‘Nyali Terakhir’ yang kurang logis oleh Jaya dan Laras. Kenap kurang logis? Karena itu lagu ciptaan Laras, dan timing vokal Jaya yang sepersekian detik lebih cepat dan fasih dibandingkan Laras akan membuat penonton bertanya-tanya “Ini orang tua hapal dari mana lagunya? Sakti kali!”.

Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa film ini penting untuk disaksikan semua orang Indonesia, film ini belum bisa dikategorikan sebagai film yang bagus karena mengabaikan detail-detail penting yang seharusnya mampu dimatangkan dan memperkuat nyawa cerita. Terakhir, bila menggunakan logika berpikir Jaya,

“Menolak Soeharto dan mencintai ibumu adalah dua hal yang berbeda!”

Maka dapat disimpulkan pula bahwa menolak Soeharto dan menyukai film ini juga adalah dua hal yang berbeda.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.