Tag Archives: jared leto

Suicide Squad (2016) – #SquadFails

Sebelum saya memberikan ulasan, saya harus menyatakan sebelumnya bahwa saya mempunyai kepedulian yang besar terhadap masa depan film-film DC Comics. Sekitar Agustus tahun lalu, saya pernah menulis tentang bagaimana DC Comics akan mampu mengimbangi Marvel Studio dalam segi konsep penuturan cerita. Maka dari itu, seburuk apapun saya akan mengulas film yang sudah saya nanti-nanti sejak tahun lalu ini, itu semua karena saya peduli. Hal yang sama juga berlaku pada kritikus Rotten Tomatoes yang ingin diboikot oleh para penggemar fanatik DC Comics karena dituduh selalu menjelek-jelekkan film DCEU. Saya yakin mereka semua juga sebenarnya peduli, dan bahwasanya harus dimengerti bahwa kritik film bukan hanya bertujuan untuk melindungi dompet penonton dari film buruk, namun juga bertujuan untuk menyelamatkan para produsen film dari malapetaka yang mungkin tidak mereka sadari ada di dalam film yang mereka buat. Jangan berpikiran seperti Cara DeLevingne yang bilang bahwa kritikus film membenci film superhero, padahal mereka pernah memberi nilai yang luar biasa bagus pada film The Dark Knight, yang notabene merupakan film superhero dari DC Comics.

Suicide Squad dibuka dengan pengenalan bertahap setiap penjahat super dengan mengeksposisi backstory mereka satu persatu mulai dari Deadshot (diperankan oleh Will Smith), Harley Quinn (diperankan oleh Margot Robbie), Captain Boomerang (diperankan oleh Jai Courtney), Killer Croc (diperankan oleh Adewale Akinnuoye-Agbaje), Enchantress/June Moone (diperankan oleh Cara DeLevingne), dan El Diablo (diperankan oleh Jay Hernandez). Tidak hanya para penjahat, namun para pelaksana proyek yaitu Rick Flag (diperankan oleh Joel Kinnaman) dan Amanda Waller (diperankan oleh Viola Davis) juga mendapat giliran perkenalan. Terlalu banyak tokoh? Setuju, apalagi dengan diperparah oleh pola penyuntingan yang berantakan dan tidak terkonsep dengan baik sehingga menjadikan keunikan karakter para tokoh tersebut saling tumpang tindih dan sulit untuk dinikmati.

Jika sebuah film action-adventure menawarkan sekumpulan penjahat kelas kakap dengan kekuatan super, seorang kolonel tangguh dan perkasa, dan seorang pemimpin bertangan dingin untuk mempertahankan sebuah kota dari serangan teror misterius, akan lebih bijak jika sutradara dan penulis skenario memanfaatkan keahlian unik masing-masing dari mereka semua untuk merancang sebuah skenario pertempuran yang tidak hanya epik, namun juga otentik dan ikonik. Entah apakah ini salah David Ayer sebagai sutradara dan penulis, ataukah salah Warner Bros. Executive yang terkenal senang mengintervensi visi sutradara dengan argumen yang labil, namun setiap adegan pertempuran di film ini menjadi sangat monoton karena hanya terdiri dari tembak-menembak, pukul-memukul, tebas-menebas, dan bakar-membakar. Brutal memang, jika berbicara tentang jumlah kerusakan yang dihasilkan, namun dilakukan dengan gaya yang terlalu konvensional, minim kecerdasan, dan tanpa emosi, seperti layaknya kita temukan di Man of Steel dan Batman v Superman: Dawn of Justice. Beberapa penjahat seperti Captain Boomerang, Katana, dan Slipknot menjadi hampir tidak berguna karena kekuatan spesial yang mereka miliki tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya di film ini. Well, we just can’t have them all, right?

Yang menjadi penyelamat film ini adalah penampilan Margot Robbie, Will Smith, dan Jay Hernandez. Dengan penggambaran tokoh yang tepat sasaran, mereka berhasil membuat film ini menjadi lebih berwarna dengan kehangatan dan humor jenaka yang tidak pernah kita temukan di DCEU sebelumnya. El Diablo sukses menjadi kuda hitam dengan karakter dan backstory yang mampu menarik simpati kita tanpa perlu bersusah payah ingin terlihat keren, gila, dan edgy seperti para tokoh yang lain. Ada satu adegan di mana para penjahat beserta komandan regu duduk dan minum bersama di dalam sebuah bar yang tak berpenghuni kemudian berdiskusi tentang kejahatan mereka di masa lalu. Biarpun pembicaraan lagi-lagi hanya didominasi oleh Deadshot dan El Diablo, namun ironisnya adegan eksplorasi karakter ini justru menjadi satu-satunya adegan yang menarik di dalam Suicide Squad, dan bukan salah satu di antara adegan baku tembak dan hantam. Finale-nya pun, aduh, nggak banget, apalagi ditambah dengan akting Cara DeLevingne yang sangat buruk dan treatment third act yang sangat kacangan.

Satu hal yang paling dinanti-nanti Suicide Squad adalah keberadaan The Joker yang diperankan oleh sang maestro Jared Leto. Ada satu permasalahan yang sangat vital yang saya temukan pada The Joker di Suicide Squad, yaitu pada penggambaran hubungannya dengan Harley Quinn. Tidak salah jika kita mengharapkan hubungan yang abusif dan manipulatif di mana Joker selalu memperdaya Harley dengan cinta yang palsu, karena memang origin story mereka dari komik ke komik seperti itu. Bicara soal moral, hubungan abusif dan manipulatif tidak seharusnya diromantisasi, karena hal tersebut merupakan isu yang serius dan sering terjadi di kehidupan nyata. Itu kalau bicara soal moral. Lain lagi dari sudut pandang komersil. Pernah mendengar betapa suksesnya buku-buku dan film The Twilight Saga serta Fifty Shades of Grey? Ditambah dengan banyaknya remaja tanggung yang memuja betapa ‘kerennya’ hubungan mereka berdua, sudah pasti Suicide Squad akan menjangkau pasar lebih luas jika romantisasi itu diterapkan. Warner Bros dan DC Comics nampaknya setuju akan hal ini, jadi ya, mereka meromantisasi hubungan mereka berdua, tentunya dengan pendekatan yang—urgh—cheesy dan soundtrack seduktif submisif dari Kehlani sebagai lagu ‘peresmian’ hubungan mereka berdua. Hasilnya adalah crazy-love-cheesy-manipulative version of The Joker. Yak, betul, jika kamu mengharapkan versi The Joker yang filosofis, kuat, dan penting seperti versi Heath Ledger di The Dark Knight, kamu akan amat sangat kecewa.

Lagipula The Joker tidak akan berfungsi dengan sempurna jika tidak berhadapan dengan Batman.

Banyak yang bilang, penonton Suicide Squad yang kecewa alasannya adalah karena berharap terlalu banyak. Jujur, saya kecewa, tapi saya pikir saya tidak berharap terlalu banyak. Saya hanya mengharapkan sebuah film dengan konsep yang solid dan konsisten, dan Suicide Squad terlalu keras mencoba untuk menjadi brutal dan “pop” secara bersamaan sehingga malah berakhir berantakan dan dangkal. Bagi penonton film santai, mereka tentu akan menikmati kegilaan Harley, humor kebapakan Deadshot, dan asiknya soundtrack lagu-lagu pop yang memenuhi film. Namun percayalah,  film ini tidak akan menjadi lebih dari tiga hal tersebut.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar

Kalian menangis ketika menonton kisah cinta tujuh menit pada awal film Up? Atau mungkin kalian juga ikut merasa simpati saat Wall-E masuk ke dalam pesawat luar angkasa dan mengelilingi seluruh galaksi hanya untuk bertemu dengan Eve? Harus gue akuin, itu emang momen-momen yang bisa bikin manusia paling perkasa di dunia langsung klemar-klemer nyariin tisu buat ngelap pipinya. Tapi kalau kalian memang senang menyiksa diri kalian dengan kesedihan-kesedihan semacam itu, berikut akan gue list beberapa film penguras air mata yang mungkin jarang kalian dengar, namun harus kalian tonton.

1. Detachment (2012)

Di film ini, Adrien Brody menjadi Henry, seorang guru pengganti yang ditempatkan di sebuah sekolah di mana murid-muridnya sudah tidak menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang penting buat mereka dan bahkan berani untuk meneriaki dan melempari guru mereka. Kita akan dibawa menuju sebuah kota di mana setiap jiwa penduduknya hancur berantakan dan sistem sosial sudah tidak mampu lagi berfungsi dengan baik. Lambat laun, dengan ketabahan dan cara mengajarnya yang tidak biasa, Henry mampu menjadi teladan bagi mereka dalam berempati. Namun sayangnya, tidak ada yang mampu untuk menyelamatkan manusia-manusia tersebut dari depresi dan kebencian mereka terhadap diri mereka sendiri. Banyak kritikus yang menulis ulasan buruk tentang film ini karena pesan yang disampaikan di akhir film cenderung nihilis dan depresif sehingga tidak memberikan solusi yang baik untuk permasalahan psikososial yang dibicarakan. Namun menurut gue malah ending yang seperti itu cukup mampu untuk memberi gambaran nyata dan menggugah masyarakat untuk sadar terhadap bahaya apati dan racun sosial lainnya sehingga kita bisa memperlakukan satu sama lain agar lebih baik lagi. Humans do have conscience, after all.

After Taste:

2. Short Term 12 (2013)

Secara sederhana, film ini menceritakan sebuah hubungan batin antara seorang pengasuh yang memiliki kondisi emosional rapuh dengan anak-anak di panti asuhannya. Atmosfernya mungkin kurang lebih sama seperti Detachment (2012), namun film ini lebih banyak berbicara soal keterasingan, pengabaian, dan kekerasan terhadap anak di bawah umur. Para calon orang tua layaknya wajib untuk menonton film ini agar mereka bisa melihat secara lebih dekat apa akibatnya bila mereka terlalu sering mengabaikan, melarang-larang, dan melakukan kekerasan baik fisik maupun emosional terhadap anak mereka. Oh, kalian bakal pecah saat Marcus menyanyikan lagu ciptaannya sendiri dan saat Jayden membacakan sebuah cerita yang ia tulis sendiri. Dunia kita sudah berantakan, kawan.

After Taste:

3. Silenced/Crucible (2007)

Di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Korea di mana murid-muridnya diperkosa dan disodomi oleh seluruh pihak sekolah, seorang guru bernama In Hoo (diperankan oleh Gong Yoo) harus memperjuangkan hak dari anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan melawan pihak sekolah yang menutup-nutupi kasus tersebut meskipun itu artinya dia harus melawan raksasa yang dilindungi oleh kejaksaan dan kepolisian yang korup. Lihat betapa tersiksanya anak-anak di sekolah tersebut, maka kalian akan tahu kenapa gue masukin film ini ke dalam list.

After Taste:

4. Grave of The Fireflies/Hotaru No Haka (1988)

Diceritakan sepasang kakak beradik bernama Seita dan Setsuko harus bertahan hidup setelah ditinggal mati ibunya dan ditinggal perang oleh ayahnya di masa Perang Dunia II. Seita yang tidak sudi diasuh oleh bibinya yang terlalu keras memilih untuk mengasuh sendiri adiknya dan tinggal di sebuah cerukan di bantaran sungai. Film ini banyak berbicara tentang perang dan dampak buruknya terhadap masyarakat sipil dengan animasi yang begitu memanjakan mata dan menyayat jiwa secara bersamaan. Gue sangat menyayangkan bahwa hanya sedikit orang yang tahu tentang film ini karena film ini harus ditonton oleh semua orang untuk mengingatkan mereka betapa berharganya hal-hal sederhana yang mereka miliki.

After Taste:

5. One Hour Photo (2002)

Yes, it is Robin Williams, your childhood favorite. Di film ini, dia menunjukkan sisi lain dari kemampuan aktingnya yang cenderung terkesan selalu ceria dan menceriakan. Di film ini dia berperan sebagai tukang cuci foto bernama Sy Parrish yang kesepian dan terobsesi pada sebuah keluarga pelanggan cuci foto di tempatnya bekerja. Robin tidak berperan sebagai komedian di sini, namun karakternya merepresentasikan orang-orang kesepian yang sering kita hiraukan, atau bahkan kita bully di dunia nyata. Bagi kalian yang merasa kesepian cuma karena jomblo, film ini bisa membuka mata hati kalian lebar-lebar tentang bagaimana rasa kesepian yang sebenarnya.

After Taste:

6. Dancer in The Dark (2002)

Beberapa orang yang sudah terbiasa menonton film Hollywood mungkin akan merasa jenuh menonton film ini karena medium film nya masih menggunakan pita seluloid dengan warna terbatas dan framingnya kurang memanjakan mata. Bjork, musisi eksperimental dari Iceland, di film musikal ini berperan sebagai Selma, single-mother periang yang senang berdansa, menyanyi, dan mendengarkan musik. Terdengar menyenangkan ya? Tentu tidak setelah lo tahu bahwa Selma mengalami penyakit kebutaan bertahap yang diwariskan oleh gen dan ia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik demi menabung untuk operasi kornea mata anaknya. Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh Selma akan membuat lo muak terhadap hidup yang terlalu kejam bahkan pada orang-orang baik seperti Selma.

After Taste:

7. Requiem for A Dream (2000)

Bentar, tarik nafas dulu.

Oke, untuk film yang satu ini, gue ngga bener-bener mengharuskan kalian untuk nonton. Seriously, nuansa film ini bukan buat semua orang. Film ini menceritakan tentang empat orang pecandu narkoba yang semakin lama semakin tenggelam dalam kecanduan yang pada akhirnya menggerogoti hidup mereka sampai hancur berantakan. Requiem for A Dream mungkin tidak membuat kalian menangis, tapi setidaknya akan membuat kalian berjanji untuk tidak akan pernah memakai narkoba dan tidak akan pernah menonton film ini lagi.

Serius, menurut gue dan sebagian film blogger lainnya, film ini terlalu menyakitkan untuk ditonton. Tapi kalau kalian masih penasaran ya, terserah. I warned you.

After Taste:

Honorable Mention : Sophie’s Choice (1982), Leaving Las Vegas (1995), Blue Valentine (2010), Revolutionary Road (2008).