Tag Archives: jennifer lawrence

10 Tokoh Wanita Terkuat dan Inspiratif di Film dan TV Series

Sebagai seorang pria yang dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang wanita, saya mengagumi mereka sebagai sosok yang tangguh dan perkasa, terlepas dari segala stereotipe yang ada di dalam kepala saya dulu, saat saya masih mengenal RA Kartini hanya sebagai wanita yang harinya dirayakan. Saya yakin sekali sebenarnya para kaum patriarki di luar sana juga menganggap wanita sebagai sosok yang berbahaya dan mengancam citra maskulinitas lelaki yang sudah dibentuk oleh tradisi, makanya dahulu (dan sampai sekarang) banyak sekali tatanan yang mereka bentuk untuk membatasi ruang gerak wanita di dunia.

Kini dunia semakin modern, dan gerakan emansipasi wanita di seluruh dunia semakin kuat dan berpengaruh, menghasilkan berbagai tatanan yang juga memberikan kesetaraan derajat dan hak bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan kerja dan perlakuan yang setara dengan laki-laki. Dengan kondisi seperti ini, tentu penggambaran wanita sebagai sosok damsel in distress sudah tidak relevan dan bertentangan dengan akal sehat. Why would picture them weak if they are actually strong?

Ada banyak sekali tokoh wanita tangguh di film dan serial televisi, namun saya akan menulis tentang sepuluh tokoh yang menurut saya paling tepat menjadi representasi wanita terkuat di dunia modern dan, hopefully, juga dapat menjadi pedoman bagi kaum lelaki untuk bagaimana seharusnya kita memandang wanita.

Bagaimana kita seharusnya memandang mereka?

Just treat them equally, and don’t mess with them…

  1. Elizabeth Sloane – Miss Sloane (2017)


Tanpa berlebihan, Elizabeth Sloane is an epitome of resilience and dedication. Pekerjaannya sebagai lobbyist tidak pernah mengguncang moral compass yang ia pegang teguh, terutama persoalan gun control di Amerika Serikat. Dia hanya bekerja kepada klien yang sejalan dengan pemikiran yang ia anut, which also means that she only works in her own favor. She knows her things, and if she doesn’t, she will master it before her opponents can blink their eyes. She will not rest until she wins, no matter how small her team is or how fast her opponent moves, she will only move three times faster and grow stronger. Satu hal yang paling menarik dari Sloane adalah: pendiriannya mempunyai basis yang dikokohkan oleh argumen moral tanpa disertai sedikitpun unsur personal dan emosional di dalamnya. Tentu hal ini juga memiliki kekurangannya tersendiri. Kemampuannya dalam berempati sangat buruk sehingga cenderung menjadi manipulatif. Namun yah, mau bagaimana lagi? Dalam seni lobbying, empati memang lebih baik digunakan sebagai pedang, bukan tameng.

2. Louise Banks – Arrival (2016)

Banks adalah figur seorang ibu yang selalu kita idamkan. Penyabar, intuitif, ulet, dan pemberani. Sebagai seorang pakar linguistik, ia tahu persis bahwa senjata utama yang harus dikeluarkan pertama kali saat konflik terjadi adalah “komunikasi”. Kaum lelaki mungkin akan menganggap Banks pribadi yang gegabah karena bertindak keluar dari protokol dan menyalahi aturan, namun Banks akan tetap kokoh pada pendiriannya bahwa “gegabah” yang sebenarnya adalah melakukan tindakan agresif dalam konflik sebelum terjalinnya komunikasi yang baik dari kedua belah pihak.

You: “Mah, aku kesel. Masa sahabat aku Si Anto tadi jalan gandengan tangan sama Gladis, pacar aku!
Banks: “Yo wes lah ajak Anto sama Gladis ke sini ngopi dulu, biar kalian bisa ngobrol.”
You: “But Mom, science says…”
Banks: “If you want science, go ask your Father.”

3. Katniss Everdeen – The Hunger Games Trilogy (2012 – 2015)

Kalau Louise Banks adalah figur ibu idaman, maka Katniss Everdeen adalah figur kakak idaman. She always treats you well, she prioritize you first, and she will do anything to protect you. Oke lah, kamu nggak mau kakakmu gegabah “volunteering as a tribute” demi ngelindungin kamu, tapi kamu harusnya juga tahu kalo kakakmu nggak selemah itu untuk mati sia-sia jadi hiburan para aristokrat di Capitol. Faktanya, dia juga membenci Capitol, dan orang sekuat dan seulet kakakmu itu bisa menjadi simbol perlawanan yang kuat untuk menginspirasi para pemberontak lain menusuk jantung Capitol dari dalam.

Please…be a decent one and don’t talk about what happened with Primrose. It’s not her fault.

4. Leia Skywalker – Star Wars Universe (since 1977)


Berbeda dengan Louise Banks dan Katniss Everdeen, Leia Skywalker mungkin adalah seorang figur pacar idaman kita semua (kecuali bagi kalian para lelaki patriarkis lemah yang gengsi kalo pacarmu lebih bisa ngelindungin kamu). Cantik? Nggak ada yang meragukan. Cerdas? Sudah jelas. However, most importantly, she’s one kind of a strong, fearless lover that will dare to fight side by side with you, no matter how terrifying your opponents are. With love, forever and always.

Rest in Peace, Carrie Fisher. The Force is with you.

WARNING: Sebelum memacari wanita seperti Leia, pastikan dulu bahwa dia bukan saudara kandung kamu ya.

5. Hermione Granger – Harry Potter Series (2001 – 2011)

Semua penggemar Harry Potter pastinya pengen banget macarin Hermione Granger, tapi bagi saya, Hermione itu tipe wanita yang pas banget untuk jadi pacarnya sahabat kita, terutama jika sahabat kita itu lelaki yang cenderung gegabah dalam mengambil keputusan dan agak careless sama dirinya sendiri. Hermione ini meskipun independen, kuat, dan cerdas setengah mati, tapi dia orang yang perhatian dan protektif banget. Lihat sendiri bagaimana hubungan dia dengan Ron dari awal Sorcerer’s Stone sampai Deathly Hallows part 2. Biarpun sering banget berbeda pendapat dan cekcok, tapi Hermione masih tetep care banget sama Ron. Kamu juga nggak perlu khawatir kalau temen kamu bukan tipe orang yang bisa ngelindungin pacarnya, karena Hermione bisa banget ngelindungin bukan hanya dirinya sendiri, tapi sahabat kamu juga. Yah, sekali lagi, kalau sahabat kamu itu patriarkis akut dan nggak kuat sama cewek yang sekeras kepala dan sebawel Hermione, bakal susah cocoknya.

6. Cersei Lannister – Game of Thrones (since 2011)

Untuk yang satu ini, you don’t want to do anything with her. You don’t even want to be her child, because, well, she is obviously a pretty bad Mom. Mungkin kalian heran dari sekian banyaknya karakter di Game of Thrones, kenapa gue malah milih Cersei dan bukan Daenerys, Brienne the Tarth, atau malah Lyanna Mormont idola baru kita itu. Well, look at what she’s been through and where she is now. Banyak orang yang ingin membunuhnya dan merebut kuasa dari tangannya, namun sepanjang Season 1 – 6, dia adalah satu-satunya sosok yang tak pernah kehilangan genggaman kekuasaannya.

Daenerys? She has dragons. Dia bisa dapetin tentara Unsullied dan ngerebut Yunkai dan Meereen juga karena bantuan Rhaegal, Viserion, dan Drogon. Oke lah, sebut nama Jorah Mormont, Daario Naharis, dan Missandei. She is a good person and she can take people’s heart, but to be honest and frank, she is really suck at politic.

Lyanna? Okay, she is fierce for his own age, but look at how small her army is, plus she hadn’t even started anything yet.

Cersei has lost so many things since the beginning at series. Her husband Robert Baratheon, her children, Joffrey and Tommen, and even her own dignity by Walk of Shame. At this point, she almost have nothing.

Look where she is now.

7. Jessica Jones – Jessica Jones (since 2015)

Gelap, pahit, dan rapuh, Jessica Jones adalah representasi dari survivor sekaligus petarung sisi gelap realita kehidupan. Setelah melepaskan diri dari manipulasi dan mental abuse yang dilakukan mantan kekasihnya, Kilgrave (sebuah personifikasi nyata dari domestic abuse dan sexism), ia berusaha bangkit melawan post-traumatic stress disorder dan membangun kembali hidup baru sebagai seorang private investigator. Jessica mungkin terlihat sebagai orang yang sudah kehilangan empati karena sifatnya yang cenderung cuek dan pahit and she’s been too hard on herself, but she knows how the world works, and nothing entertains her more than stopping Kilgrave and make the darkest side of the world gets brighter.

8. Diana – Wonder Woman (2017)

Jika anda bertanya kepada banyak orang siapa karakter favorit mereka di Batman V Superman: Dawn of Justice, pasti mayoritas akan menjawab “Wonder Woman”. Yup, saat pertama kali tampil di film tersebut, dia sudah mencuri perhatian banyak orang dengan pesonanya sebagai wanita yang tangguh dan kuat. Ketika film solonya tayang, ia langsung menjadi simbol wanita independen dan tangguh, dan banyak sekali mereka yang terinspirasi oleh segala sifat yang dimilikinya: tangguh, lugu, memiliki sense of justice yang tinggi, serta penuh rasa empati dan kasih sayang. Bagaimana Bruce Wayne dan Kal-El menyikapi Wonder Woman saat bertarung bersama-sama menghadapi Doomsday adalah cerminan bagaimana seharusnya kita, sebagai lelaki, menyikapi wanita di tempat kerja. Equally, cooperatively, and not sexually.

9. Claire Underwood – House of Cards (since 2013)

Dude. She is the President of The United States.

Kuat dan memiliki pendirian yang teguh, Claire Underwood adalah tipe wanita yang tenang dan dingin dalam memangsa para lawannya secara buas. A true Machiavellist with no empathy. Dia adalah orang yang mengerti bagaimana cara menggunakan kekuasaannya secara tepat agar dia bisa naik lebih tinggi dan membantai semua yang mencoba menggoyahkannya, termasuk suaminya sendiri, Frank Underwood. Dengan manuver-manuver politik liar dan cerdik, ia berhasil menaiki tangga hierarki tertinggi di Amerika Serikat dengan berturut-turut menjadi Second Lady of the United States, First Lady of the United States, the United States Ambassador to the United Nations, Vice President of the United States, dan pada akhirnya President of the United States.

Dear sexist men, if you think women’s tendency for being emotional makes them unfit for the job you think men like you should be capable of, I advise you to watch House of Card, take full attention to Claire Underwood, and reconsider your toxic view immediately.

10. Ellen Ripley – Alien Series (1979 – 1997)

Before Gal Gadot’s Wonder Woman, Sigourney Weaver’s Ellen Ripley in Alien film series might be the strongest face of women we’ve ever had. Empat seri film dan semua Xenomorph habis dibantai tanpa sisa. Ridley Scott, sang sutradara film Alien, pernah mengatakan bahwa sebelumnya ia berniat menjadikan tokoh utamanya sebagai seorang lelaki, namun ia berpikir “What would you think if Ripley was a woman? People will not expecting her to be the main character. People would think she’s gonna be the one who died first.”

Hasilnya? Sigourney Weaver mendapat nominasi Oscar untuk film tersebut, dan banyak media yang menjadikan dia sebagai salah satu karakter terbaik yang pernah ada dalam sejarah fiksi dunia.

It’s nice to know that Ridley Scott used those rotten stereotype as an element of surprise, which is also done by Adam Wingard in You’re Next (2013). But it’s even nicer to realise that nowadays we have so much female leads, enough to wipe that stereotype away from the face of our modern culture.

HONORABLE MENTIONS.

Clarice Starling – Silence of The Lambs (1991)
Elle Woods – Legally Blonde (2001)
Buffy – Buffy The Vampire Slayer (1997)
Imperator Furiosa – Mad Max Fury Road (2015)
The Bride – Kill Bill series (2003 – 2004)

5 Film Yang Membahas Tentang Kesehatan Mental

“If mental disorders could be seen on a sufferer, maybe society wouldn’t say ‘get over it’.”

450 juta orang di dunia mengalami masalah gangguan jiwa, baik depresi, schizophrenia, epilepsy, penyalahgunaan alkohol, narkoba, percobaan bunuh diri dan masih banyak lagi. Untuk lebih detailnya, setiap 40 detik seseorang yang mengalami depresi melakukan percobaan bunuh diri. Angka tersebut bisa dibilang cukup fatal, terutama dikarenakan masalah gangguan jiwa yang tidak mengenal umur maupun cara mereka bersosialisasi di lingkungan sekitarnya.

Dalam artikel kali ini, Distopiana akan berbicara mengenai 5 film yang membahas tentang kesehatan mental. Sudah sewajarnya kita sebagai bagian dari lapisan masyarakat menyadari pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental, dan bukan hanya kesehatan fisik. Masalah-masalah psikologis seperti yang sudah disebutkan diatas juga membutuhkan atensi yang sama banyaknya, terlebih dikarenakan sebagian besar dari kita mengalaminya sendiri.

  1. It’s Kind of a Funny Story (2010) directed by  Anna Boden & Ryan Fleck

large

Mungkinkah seseorang yang tidak menghadapi permasalahan fatal apapun dalam hidupnya mengalami depresi? Jawabannya, ya. Diangkat dari novel Ned Vizzini dengan judul yang sama, It’s Kind of a Funny Story membuka mata setiap penontonnya dengan satu ungkapan: not everyone is doing great, even if they look like it. Film ini mengisahkan tentang seorang remaja asal New York bernama Craig Gilner (Keir Gilchrist), yang setelah gagal melakukan percobaan bunuh diri dengan cara melompat dari Brooklyn Bridge secara diam-diam datang ke rumah sakit untuk mencari bantuan. Dengan orang tua yang selalu mendorongnya untuk menjadi yang terbaik, aplikasi summer school yang menguras pikiran, dan rasa tidak percaya dirinya terhadap orang-orang disekitarnya, Craig pun belajar bahwa tidak semua rencana dapat berjalan sesuai dengan harapan. Menjadi terbuka dengan orang lain bukanlah sesuatu yang memalukan, apapun alasannya.

2. The Perks of Being a Wallflower (2012) directed by Stephen Chbosky

paul-rhodd

Ditulis dan disutradarai oleh Stephen Chbosky, para penikmat film maupun literature judah pasti akrab dengan The Perks of Being a Wallflower. Diangkat dari novel dengan judul yang sama, film ini sudah pasti akan membuat anda meneteskan air mata, merenungkan pilihan-pilihan hidup yang telah anda buat dan tersenyum tiada henti, sambil sesekali bernostalgia menuju awal tahun 90-an. Meskipun sedikit berbeda dengan alur cerita yang ada pada novel, film ini tetap mama memenangkan hati para penontonnya. Bagaimana tidak? Diceritakan Charlie Kelmeckis (Logan Lerman), seorang high school freshman yang berusaha melewati post-traumatic stress disorder yang diakibatkan oleh sexual abuse yang dialaminya sewaktu kecil. Dengan sekolah baru, teman-teman baru, dan gaya hidup baru, Charlie dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua orang yang ia temui akan menganggapnya sebagai ‘freak’. Buktinya, Charlie justru bertemu dengan Sam (Emma Watson) dan Patrick (Ezra Miller), dua senior yang mau menerimanya dengan tangan terbuka, tanpa mempermasalahkan kecanggungannya terhadap dunia sekitar.

3. Silver Linings Playbook (2012) directed by David O. Russell 

9-Silver-Linings-Playbook-quotes

Dibintangi oleh berbagai aktor dan aktris papan atas seperti Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert DeNiro dan Julia Stiles, film yang diangkat dari novel Matthew Quick ini judah pasti dapat memuaskan kecintaan anda terhadap film-film yang bertajuk romantic comedy-drama. Dikisahkan Patrick “Pat” Solitano, Jr. (Cooper), seorang pasien penderita bipolar disorder yang baru saja keluar dari rumah sakit dan pada akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama kedua orangtuanya. Bertekad untuk merebut kembali hati mantan istrinya, Pat bertemu dengan Tiffany Maxwell (Lawrence), seorang janda yang menawarkan bantuan untuk mendapatkan istrinya jika Pat bersedia untuk menemaninya mengikuti sebuah kompetisi menari. Seiring berjalannya waktu, Pat dan Tiffany pun belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan terhadap hubungan-hubungan yang mereka pernah jalani, selagi mempertimbangkan pilihan-pilihan mereka dalam hidup.

4. Side Effects (2013) directed by Steven Soderbergh

Sebuah film psychological thriller yang ditulis oleh Scott Z. Burns ini menceritakan tentang seorang perempuan muda bernama Emily Taylor (Rooney Mara) dengan gangguan mental yang membunuh suaminya sendiri setelah mendapatkan rekomendasi obat anti-depresan baru yang masih bersifat experimental oleh kedua psikiaternya, Dr. Jonathan Banks (Jude Law) dan Dr. Victoria Siebert (Catherine Zeta-Jones). With its main focus on psychological issues, stock price manipulation, title malfunction, law abundance dan masih banyak lagi, Side Effects dijamin mampu membuat para penonton menggeleng-gelengkan kepala dengan segala plot twist mencengangkan yang disajikan.

5. Still Alice (2014) directed by Richard Glatzer & Wash Westmoreland

Early-onset Alzheimer’s Disease, seperti yang dikisahkan dalam novel dan film Still Alice, adalah salah satu jenis penyakit Alzheimer yang paling jarang kita temui. Selain menyerang penderita dibawah umur 65 tahun, Early-onset Alzheimer’s Disease juga diwariskan secara turun temurun / genetik secara autosomal dominan, layaknya sebuah kromosom. Diceritakan seorang perempuan paruh baya bernama Alice Howland (Julianne Moore), seorang profesor linguistik di Columbia University yang baru saja berulang tahun ke-50. Setelah beberapa kali mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi-materi dalam lecture-nya, keluarga Alice pun memiliki kecurigaan bahwa ia mengalami penurunan kesehatan mental, yang ternyata dibuktikan sebagai penyakit Alzheimer. Dengan penulis novel Still Alice yang juga merupakan seorang neuroscientist ternama, Lisa Genova, penonton dibawa melewati sebuah lorong sains emosional, yang dijamin akan membuat mereka meneteskan air mata.

Sometimes, life gives you thousands of choices… or nothing at all. Dan terkadang, pilihan-pilihan tersebut tidaklah ideal dengan apa yang ada di benak kita. Tetapi kita tetap harus maju. Harus memilih. Karena para akhirnya, happiness is indeed one of the most fragile feelings, but it’s always worth the try. You just have to believe in yourself in order to do so. Jangan menyerah dan patah semangat, apalagi merasa bahwa kita adalah orang yang paling bersedih di dunia ini. Karena sejujurnya, saat kita membuka mata dan melihat melihat sekitar, ada banyak sekali orang-orang yang mendukung dan mau menerima kita apa adanya, meskipun kasih sayang tersebut tidak selalu ditunjukkan secara terang-terangan. You just have to look a little deeper.

The Hunger Games: Mockingjay pt.2 (2015) – A Hero Hanging by A Tree

Kebanyakan dari kita punya persepsi yang berbeda-beda terhadap makna dari pahlawan. Mereka yang nasionalis menganggap pahlawan adalah orang-orang yang membebaskan negeri mereka dari penjajahan. Para aktivis feminisme, LGBT, dan apartheid akan menyebutkan pejuang-pejuang terdahulu mereka sebagai pahlawan. Masyarakat awam akan berterima kasih kepada orang tua dan guru mereka karena telah menjadi pahlawan yang berarti dalam hidup mereka. Anak-anak yang gemar menonton film laga dan superhero akan menganggap pahlawan sebagai makhluk berkekuatan super yang selalu menolong orang-orang yang ditimpa bencana tanpa pamrih. Berdasarkan hal-hal tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pahlawan adalah setiap mereka yang berbuat baik dan mengubah hidup orang di sekitarnya menjadi lebih baik. Namun bila dikatakan demikian, maka setiap dari kita adalah pahlawan bagi mereka yang ada di sekitar kita, dan tentu masih ada hal yang janggal rasanya bila menyebutkan bahwa semua orang adalah pahlawan. Jadi apa yang kurang?

The Hunger Games: Mockingjay pt.2 menjawab pertanyaan tersebut dengan mengangkat Katniss Everdeen sebagai pahlawan bagi rakyat Panem. The Mockingjay. Apa yang salah dari Katniss? Dia gegabah, ceroboh, dan labil. Meskipun harus diakui kemampuan memanah dan pengetahuan bertahan hidupnya sangat mumpuni, itu semua tidak mampu menyelamatkannya dari tragedi yang pada akhirnya menimpa orang yang paling ia sayangi di akhir film ini. Kepahlawanan Katniss tidak serta merta datang secara tiba-tiba, namun dibantu oleh President Alma Coin dan Plutarch Heavensbee lewat propaganda yang mereka bangun. Ada pernyataan kuat yang dibangun film ini dari awal sampai akhir: pahlawan hanyalah simbol, dan di balik setiap cerita kepahlawanan, selalu tersembunyi kepentingan politik yang lebih besar, meninggalkan sang pahlawan sebagai topeng dari konspirasi masif yang ada di luar kendalinya. Mockingjay berhasil memberikan gambaran realistis tentang betapa mengerikannya politisi dalam memegang kendali media dan menjadikan seorang pahlawan yang jujur dan tulus sebagai wayang dalam sandiwara pertempuran yang mereka ciptakan. Bahwa pahlawan sebenarnya adalah manusia dengan kepentingan sesederhana melindungi keluarga mereka. Bahwa pahlawan juga bisa menjadi seorang pencinta yang mencari pelampiasan setelah kepercayaannya dikhianati.

Secara utuh, film ini menyuguhkan aksi laga ala film action-horror dan drama cinta segitiga serta intrik politik dengan kadar intensitas yang sama tingginya tanpa kehilangan relevansi dari cerita sebenarnya. Penggemar film-film action-adventure dengan epic happy ending pasti akan sedikit kecewa dengan akhir film yang tragis dan terlalu realistis ini. Namun patut dipuji bahwasanya film yang berdasarkan dari novel YA karya Suzanne Collins ini menyajikan ending yang tidak biasa untuk target anak-anak remaja yang sedang beranjak dewasa. Francis Lawrence sebagai sutradara dan James Newton Howard sebagai komposer musik berhasil menciptakan atmosfer apokaliptik yang ideal tanpa harus menurunkan derajat agar bisa diterima target penontonnya.

Kekurangan di dalam film ini adalah ketiadaan chemistry yang kuat antara Katniss dan Peeta. Bagi penonton yang belum membaca bukunya, sangat sulit untuk mengetahui apakah Katniss benar-benar mencintai Peeta dan melakukan semua yang ia lakukan demi melindungi Peeta atas dasar cinta atau hanya sekedar rasa tanggung jawab dan balas budi terhadap perbuatan baik Peeta yang juga selalu melindungi Katniss sepanjang trilogi. Apakah absensi romantisme di epilog film ini bermaksud menunjukkan yang demikian, ataukah hanya kegagalan yang disebabkan oleh hal-hal teknis, ataukah Jennifer dan Francis ingin menunjukkan satu sisi lain dari Katniss yang linglung pasca tragedi yang telah menimpanya? Apapun itu, film ini mempunyai konklusi yang tidak jelas penyampaiannya dan bahkan tidak bisa disebut open-ending, dan ini kesalahan yang cukup fatal dalam kaidah penuturan cerita apapun, khususnya film.

Agak disesalkan bahwa Lionsgate harus membagi Mockingjay menjadi dua film, karena treatment film ini akan menjadi lebih brutal apabila pace film ini dipercepat dan dipadatkan menjadi satu film saja. Paling tidak, Mockingjay pt.2 layak untuk ditonton bagi penggemar serial buku The Hunger Games dan juga bagi para remaja beranjak dewasa yang sudah lebih dahulu mengerti apa artinya menjadi dewasa dan dilindas oleh kaki-kaki penguasa.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

The Hunger Games: Mockingjay Pt.1 (2014) – A Fine Beginning to an End

To be honest, gue bukan pembaca serial buku Suzanne Collins ini, namun gue setia ngikutin sekuel film The Hunger Games dari awal. Gue tertarik dengan dystopian future theory—yang juga menjadi alasan kenapa gue bikin blog ini—dan sekuel The Hunger Games menawarkan konsep dystopian future yang menarik untuk diulas. Karena gue terlanjur nonton dan tertarik sama filmnya duluan, maka mungkin gue baru akan baca bukunya setelah gue udah nonton semua sekuel filmnya sampai selesai untuk mengetahui apakah Francis Lawrence berhasil menginterpretasikan isi kepala Suzanne Collins atau tidak. Jadi kali ini gue akan ulas film ini dari sudut pandang cerita film tanpa membandingkan dengan bukunya.

Katniss Everdeen (diperankan oleh Jennifer Lawrence) memercikkan api pemberontakan terhadap Capitol setelah menembakkan panahnya ke electric barrier saat Quarter Quell di film sebelumnya (Baca: Hunger Games – Catching Fire Ending and Spoiler Discussion). Dia berhasil diselamatkan oleh Gale ke District 13, markas tempat di mana para pemberontak terkuat berpusat dan menggerak serta mengakomodir para pemberontak seluruh distrik di Panem. Di sana, Katniss mendapatkan 3 kabar buruk: District 12 telah hancur menjadi puing-puing, Peeta telah ditawan dan dimanfaatkan oleh Capitol, dan bahwa dia kini menjadi satu-satunya sosok yang mampu menjadi simbol resistensi dan membakar gerakan pemberontakan di Panem—The Mockingjay. Dipandu oleh President Alma Coin (diperankan oleh Julianne Moore) dan Plutarch (diperankan oleh mendiang Phillip Seymour Hoffman), Katniss menyuarakan propaganda lewat rekaman video pergerakannya bersama kru tentara yang disutradarai oleh Cressida (diperankan oleh Natalie Dormer) dan yang kemudian akan disiarkan ke seluruh distrik lewat frequency hijacking oleh Beetee (diperankan oleh Jeffrey Wright).

Francis Lawrence berhasil membangun ketegangan lewat percakapan antar tokoh dan akting yang intens. Secara tidak terduga, kita tidak akan menemukan banyak action di film ini. Sebagian temen-temen gue di social media bahkan bilang film ini adalah yang paling membosankan di antara seri The Hunger Games lainnya. Mungkin mereka sebelumnya mempunyai harapan bahwa akan ada lebih banyak ledakan, kehancuran, dan kematian tragis di film ini dibandingkan film sebelumnya (link: Hunger Games – Catching Fire Review). Namun sebagai orang yang senang menonton film drama-thriller, menurut gue Mockingjay pt.1 berhasil membangun sebuah suspense yang konsisten lewat warna yang gelap dan pesan yang kuat sehingga cenderung terkesan politis. Bagaimana Capitol memanfaatkan Peeta sebagai instrumen anti-propaganda merupakan sebuah satir terhadap pengalihan fungsi media massa dan public figure sebagai alat kontrol politik dan pengendali opini masyarakat. Kita juga akan disuguhkan dengan Marketing Video: Directing Tutorial dan How to Do Viral Campaign oleh Plutarch, Coin, dan Cressida. Mereka mendemonstrasikan aplikasi semiotika dengan baik dalam film ini, terutama di scene “People of Panem, we fight, we dare, we end our hunger for justice! (pfft)” dan scene di mana Finnick berbicara panjang lebar untuk mengacaukan frekuensi gelombang pertahanan Capitol.

Bicara soal warna film, penggambaran visual tentang kekacauan dan huru-hara pemberontakan di film ini sudah cukup baik walaupun memang kurang ramai dibandingkan film-film epik lain (mungkin karena memang cerita ini pada dasarnya bukan epik). Scene yang memperlihatkan tumpukan tulang mayat-mayat di District 12 dan kondisi rumah sakit darurat di District 8 mampu menciptakan momen emosional karena penataan seni dekorasi dan sinematografi yang hebat. Scene “8-Minute Evacuation” menjadi favorit gue karena menggunakan permainan lighting yang biasa dipakai di film-film survival horror. Namun lumayan banyak pertanyaan muncul di scene “Dam Bombing” karena para pemberontak terlihat sangat kekurangan strategi; menembus pertahanan pintu masuk dam dengan hanya menggunakan human shield sebagai pelindung para bomber. Bila memang ‘showing brave-to-death volunteers dying for hope’ semata untuk membangun atmosfer tragis, maka hal tersebut reasonable untuk dilakukan, biarpun menurut gue gagal, karena seharusnya barisan depan bisa menggunakan pelindung dari kayu atau logam untuk mengurangi korban dan lebih efektif untuk menabrakkan diri mereka dengan keras pada pasukan pertahanan Capitol.

Seriously, kalau kalian tertarik mendalami dunia marketing, tanpa harus menonton dua film sebelumnya pun, film ini bisa jadi sangat menarik untuk kalian tonton. Untuk kalian yang ingin menonton film ini untuk mendapatkan keseruan ringan atau sekadar mengikuti jaman, catatan bagi kalian adalah: segera urungkan niat untuk dihibur oleh aksi-aksi akrobat Katniss dan nikmati film ini sebagai appetizer untuk sebuah akhir yang (semoga) spektakuler.

If we burn, you burn with us!”

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5