Tag Archives: Jessica Chastain

10 Tokoh Wanita Terkuat dan Inspiratif di Film dan TV Series

Sebagai seorang pria yang dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang wanita, saya mengagumi mereka sebagai sosok yang tangguh dan perkasa, terlepas dari segala stereotipe yang ada di dalam kepala saya dulu, saat saya masih mengenal RA Kartini hanya sebagai wanita yang harinya dirayakan. Saya yakin sekali sebenarnya para kaum patriarki di luar sana juga menganggap wanita sebagai sosok yang berbahaya dan mengancam citra maskulinitas lelaki yang sudah dibentuk oleh tradisi, makanya dahulu (dan sampai sekarang) banyak sekali tatanan yang mereka bentuk untuk membatasi ruang gerak wanita di dunia.

Kini dunia semakin modern, dan gerakan emansipasi wanita di seluruh dunia semakin kuat dan berpengaruh, menghasilkan berbagai tatanan yang juga memberikan kesetaraan derajat dan hak bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan kerja dan perlakuan yang setara dengan laki-laki. Dengan kondisi seperti ini, tentu penggambaran wanita sebagai sosok damsel in distress sudah tidak relevan dan bertentangan dengan akal sehat. Why would picture them weak if they are actually strong?

Ada banyak sekali tokoh wanita tangguh di film dan serial televisi, namun saya akan menulis tentang sepuluh tokoh yang menurut saya paling tepat menjadi representasi wanita terkuat di dunia modern dan, hopefully, juga dapat menjadi pedoman bagi kaum lelaki untuk bagaimana seharusnya kita memandang wanita.

Bagaimana kita seharusnya memandang mereka?

Just treat them equally, and don’t mess with them…

  1. Elizabeth Sloane – Miss Sloane (2017)


Tanpa berlebihan, Elizabeth Sloane is an epitome of resilience and dedication. Pekerjaannya sebagai lobbyist tidak pernah mengguncang moral compass yang ia pegang teguh, terutama persoalan gun control di Amerika Serikat. Dia hanya bekerja kepada klien yang sejalan dengan pemikiran yang ia anut, which also means that she only works in her own favor. She knows her things, and if she doesn’t, she will master it before her opponents can blink their eyes. She will not rest until she wins, no matter how small her team is or how fast her opponent moves, she will only move three times faster and grow stronger. Satu hal yang paling menarik dari Sloane adalah: pendiriannya mempunyai basis yang dikokohkan oleh argumen moral tanpa disertai sedikitpun unsur personal dan emosional di dalamnya. Tentu hal ini juga memiliki kekurangannya tersendiri. Kemampuannya dalam berempati sangat buruk sehingga cenderung menjadi manipulatif. Namun yah, mau bagaimana lagi? Dalam seni lobbying, empati memang lebih baik digunakan sebagai pedang, bukan tameng.

2. Louise Banks – Arrival (2016)

Banks adalah figur seorang ibu yang selalu kita idamkan. Penyabar, intuitif, ulet, dan pemberani. Sebagai seorang pakar linguistik, ia tahu persis bahwa senjata utama yang harus dikeluarkan pertama kali saat konflik terjadi adalah “komunikasi”. Kaum lelaki mungkin akan menganggap Banks pribadi yang gegabah karena bertindak keluar dari protokol dan menyalahi aturan, namun Banks akan tetap kokoh pada pendiriannya bahwa “gegabah” yang sebenarnya adalah melakukan tindakan agresif dalam konflik sebelum terjalinnya komunikasi yang baik dari kedua belah pihak.

You: “Mah, aku kesel. Masa sahabat aku Si Anto tadi jalan gandengan tangan sama Gladis, pacar aku!
Banks: “Yo wes lah ajak Anto sama Gladis ke sini ngopi dulu, biar kalian bisa ngobrol.”
You: “But Mom, science says…”
Banks: “If you want science, go ask your Father.”

3. Katniss Everdeen – The Hunger Games Trilogy (2012 – 2015)

Kalau Louise Banks adalah figur ibu idaman, maka Katniss Everdeen adalah figur kakak idaman. She always treats you well, she prioritize you first, and she will do anything to protect you. Oke lah, kamu nggak mau kakakmu gegabah “volunteering as a tribute” demi ngelindungin kamu, tapi kamu harusnya juga tahu kalo kakakmu nggak selemah itu untuk mati sia-sia jadi hiburan para aristokrat di Capitol. Faktanya, dia juga membenci Capitol, dan orang sekuat dan seulet kakakmu itu bisa menjadi simbol perlawanan yang kuat untuk menginspirasi para pemberontak lain menusuk jantung Capitol dari dalam.

Please…be a decent one and don’t talk about what happened with Primrose. It’s not her fault.

4. Leia Skywalker – Star Wars Universe (since 1977)


Berbeda dengan Louise Banks dan Katniss Everdeen, Leia Skywalker mungkin adalah seorang figur pacar idaman kita semua (kecuali bagi kalian para lelaki patriarkis lemah yang gengsi kalo pacarmu lebih bisa ngelindungin kamu). Cantik? Nggak ada yang meragukan. Cerdas? Sudah jelas. However, most importantly, she’s one kind of a strong, fearless lover that will dare to fight side by side with you, no matter how terrifying your opponents are. With love, forever and always.

Rest in Peace, Carrie Fisher. The Force is with you.

WARNING: Sebelum memacari wanita seperti Leia, pastikan dulu bahwa dia bukan saudara kandung kamu ya.

5. Hermione Granger – Harry Potter Series (2001 – 2011)

Semua penggemar Harry Potter pastinya pengen banget macarin Hermione Granger, tapi bagi saya, Hermione itu tipe wanita yang pas banget untuk jadi pacarnya sahabat kita, terutama jika sahabat kita itu lelaki yang cenderung gegabah dalam mengambil keputusan dan agak careless sama dirinya sendiri. Hermione ini meskipun independen, kuat, dan cerdas setengah mati, tapi dia orang yang perhatian dan protektif banget. Lihat sendiri bagaimana hubungan dia dengan Ron dari awal Sorcerer’s Stone sampai Deathly Hallows part 2. Biarpun sering banget berbeda pendapat dan cekcok, tapi Hermione masih tetep care banget sama Ron. Kamu juga nggak perlu khawatir kalau temen kamu bukan tipe orang yang bisa ngelindungin pacarnya, karena Hermione bisa banget ngelindungin bukan hanya dirinya sendiri, tapi sahabat kamu juga. Yah, sekali lagi, kalau sahabat kamu itu patriarkis akut dan nggak kuat sama cewek yang sekeras kepala dan sebawel Hermione, bakal susah cocoknya.

6. Cersei Lannister – Game of Thrones (since 2011)

Untuk yang satu ini, you don’t want to do anything with her. You don’t even want to be her child, because, well, she is obviously a pretty bad Mom. Mungkin kalian heran dari sekian banyaknya karakter di Game of Thrones, kenapa gue malah milih Cersei dan bukan Daenerys, Brienne the Tarth, atau malah Lyanna Mormont idola baru kita itu. Well, look at what she’s been through and where she is now. Banyak orang yang ingin membunuhnya dan merebut kuasa dari tangannya, namun sepanjang Season 1 – 6, dia adalah satu-satunya sosok yang tak pernah kehilangan genggaman kekuasaannya.

Daenerys? She has dragons. Dia bisa dapetin tentara Unsullied dan ngerebut Yunkai dan Meereen juga karena bantuan Rhaegal, Viserion, dan Drogon. Oke lah, sebut nama Jorah Mormont, Daario Naharis, dan Missandei. She is a good person and she can take people’s heart, but to be honest and frank, she is really suck at politic.

Lyanna? Okay, she is fierce for his own age, but look at how small her army is, plus she hadn’t even started anything yet.

Cersei has lost so many things since the beginning at series. Her husband Robert Baratheon, her children, Joffrey and Tommen, and even her own dignity by Walk of Shame. At this point, she almost have nothing.

Look where she is now.

7. Jessica Jones – Jessica Jones (since 2015)

Gelap, pahit, dan rapuh, Jessica Jones adalah representasi dari survivor sekaligus petarung sisi gelap realita kehidupan. Setelah melepaskan diri dari manipulasi dan mental abuse yang dilakukan mantan kekasihnya, Kilgrave (sebuah personifikasi nyata dari domestic abuse dan sexism), ia berusaha bangkit melawan post-traumatic stress disorder dan membangun kembali hidup baru sebagai seorang private investigator. Jessica mungkin terlihat sebagai orang yang sudah kehilangan empati karena sifatnya yang cenderung cuek dan pahit and she’s been too hard on herself, but she knows how the world works, and nothing entertains her more than stopping Kilgrave and make the darkest side of the world gets brighter.

8. Diana – Wonder Woman (2017)

Jika anda bertanya kepada banyak orang siapa karakter favorit mereka di Batman V Superman: Dawn of Justice, pasti mayoritas akan menjawab “Wonder Woman”. Yup, saat pertama kali tampil di film tersebut, dia sudah mencuri perhatian banyak orang dengan pesonanya sebagai wanita yang tangguh dan kuat. Ketika film solonya tayang, ia langsung menjadi simbol wanita independen dan tangguh, dan banyak sekali mereka yang terinspirasi oleh segala sifat yang dimilikinya: tangguh, lugu, memiliki sense of justice yang tinggi, serta penuh rasa empati dan kasih sayang. Bagaimana Bruce Wayne dan Kal-El menyikapi Wonder Woman saat bertarung bersama-sama menghadapi Doomsday adalah cerminan bagaimana seharusnya kita, sebagai lelaki, menyikapi wanita di tempat kerja. Equally, cooperatively, and not sexually.

9. Claire Underwood – House of Cards (since 2013)

Dude. She is the President of The United States.

Kuat dan memiliki pendirian yang teguh, Claire Underwood adalah tipe wanita yang tenang dan dingin dalam memangsa para lawannya secara buas. A true Machiavellist with no empathy. Dia adalah orang yang mengerti bagaimana cara menggunakan kekuasaannya secara tepat agar dia bisa naik lebih tinggi dan membantai semua yang mencoba menggoyahkannya, termasuk suaminya sendiri, Frank Underwood. Dengan manuver-manuver politik liar dan cerdik, ia berhasil menaiki tangga hierarki tertinggi di Amerika Serikat dengan berturut-turut menjadi Second Lady of the United States, First Lady of the United States, the United States Ambassador to the United Nations, Vice President of the United States, dan pada akhirnya President of the United States.

Dear sexist men, if you think women’s tendency for being emotional makes them unfit for the job you think men like you should be capable of, I advise you to watch House of Card, take full attention to Claire Underwood, and reconsider your toxic view immediately.

10. Ellen Ripley – Alien Series (1979 – 1997)

Before Gal Gadot’s Wonder Woman, Sigourney Weaver’s Ellen Ripley in Alien film series might be the strongest face of women we’ve ever had. Empat seri film dan semua Xenomorph habis dibantai tanpa sisa. Ridley Scott, sang sutradara film Alien, pernah mengatakan bahwa sebelumnya ia berniat menjadikan tokoh utamanya sebagai seorang lelaki, namun ia berpikir “What would you think if Ripley was a woman? People will not expecting her to be the main character. People would think she’s gonna be the one who died first.”

Hasilnya? Sigourney Weaver mendapat nominasi Oscar untuk film tersebut, dan banyak media yang menjadikan dia sebagai salah satu karakter terbaik yang pernah ada dalam sejarah fiksi dunia.

It’s nice to know that Ridley Scott used those rotten stereotype as an element of surprise, which is also done by Adam Wingard in You’re Next (2013). But it’s even nicer to realise that nowadays we have so much female leads, enough to wipe that stereotype away from the face of our modern culture.

HONORABLE MENTIONS.

Clarice Starling – Silence of The Lambs (1991)
Elle Woods – Legally Blonde (2001)
Buffy – Buffy The Vampire Slayer (1997)
Imperator Furiosa – Mad Max Fury Road (2015)
The Bride – Kill Bill series (2003 – 2004)

The Martian (2015) – Mars is Fun!

Saat pertama kali melihat trailernya, ada beberapa hal dalam film The Martian yang membuat penulis berpikir bahwa film ini mirip dengan Interstellar yang dirilis pada tahun 2014 kemarin. Pertama: film ini bercerita tentang astronot di luar angkasa, sama seperti Interstellar. Kedua: ada Matt Damon dan Jessica Chastain, seperti di Interstellar. Ketiga: Di Interstellar, Matt Damon menjadi seorang astronot yang terdampar di Planet Edmund, dan di The Martian, Matt Damon menjadi seorang astronot yang terdampar di Planet Mars sendirian. Awalnya gue ragu menonton film ini karena selain sudah terlalu bosan dengan film-film bertema space exploration, layaknya M. Night Shyamalan, Ridley Scott seperti sedang mengalami paceklik.

Premisnya sedehana. Mark Watney (diperankan oleh Matt Damon) terdampar di Planet Mars karena sebuah kecelakaan badai pasir yang menyebabkan semua krunya terpaksa harus menganggapnya telah mati dan meninggalkannya. Watney, yang kemudian tertinggal sendirian di sebuah planet tanpa kehidupan, harus memikirkan segala cara untuk bertahan hidup dan menjalin jaringan komunikasi dengan NASA di Bumi agar ia bisa dijemput dan pulang kembali.

Dugaan gue tentang kemiripan film ini dengan Interstellar ternyata salah besar. Film ini tidak mengandalkan twist serta drama yang sentimental untuk bercerita tentang sebuah kesendirian yang dialami seorang manusia di sebuah planet yang (sebelumnya) diduga tanpa air. Film ini terlalu gampang ditebak. Bahkan, tidak ada yang begitu istimewa dari efek visualnya, karena memang secara realistis, di Mars hanya ada tanah kering dan badai pasir—setidaknya sebelum penemuan air oleh NASA baru-baru ini, atau apalah itu yang belum menjadi air. Satu hal yang membuat film ini menarik adalah bagaimana sebuah film dengan premis yang begitu suram dapat disajikan dengan sangat humoris dan menyenangkan. Alih-alih memberi eksposisi dramatis pada kondisi Watney yang semakin hari semakin memburuk, Ridley Scott lebih memilih untuk memfokuskan pada bagaimana Watney selalu mencoba menghibur diri dengan bercocok tanam di ‘rumah kaca’ buatannya dan mendengarkan lagu-lagu disko jelek milik Komandan Lewis (diperankan oleh Jessica Chastain) demi mengusir kesepian yang ia alami. Scott mencoba untuk sesedikit mungkin melakukan eksploitasi emosional dan memberikan aura positif pada film yang berdurasi 2 jam 12 menit ini dan memfokuskan tensi pada sains dan teknologi, bukan penderitaan dan malapetaka. Sepengetahuan penulis, film space travel memang belum pernah ada yang seoptimis ini, dan itu merupakan hal yang sangat baik untuk penontonnya. Terlebih untuk NASA, Amerika Serikat, dan Cina, yang di dalam film ini memberikan bantuan pada NASA untuk menyelamatkan Watney.

Mungkin film ini tidak lebih mengagumkan daripada Interstellar, namun misi Christopher Nolan untuk menyemangati manusia-manusia di Bumi dalam melakukan perjalanan luar angkasa mampu disampaikan dengan lebih baik oleh Ridley Scott di The Martian. Beberapa orang berpendapat bahwa Gravity dan Interstellar telah membuat anak-anak takut untuk menjadi astronot karena mereka tidak ingin mati melayang-layang di angkasa luar ataupun pulang dengan melihat anaknya di masa depan menjadi jauh lebih tua darinya. Dengan harapan dan optimisme dari The Martian, cita-cita seorang anak untuk berpetualang ke antariksa akan timbul kembali dan semakin banyak dari mereka yang akan termotivasi untuk menghasilkan penemuan-penemuan yang bisa membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

The Disappearance of Eleanor Rigby (2014) – Kisah tentang Cinta, Luka, dan Trauma

Oke, ini bukan salah satu film yang terinspirasi dari The Beatles ataupun lagu mereka, Eleanor Rigby, yang berkisah tentang kesendirian. Bahkan satu-satunya cara film ini mereferensikan The Beatles hanyalah lewat dialog antara satu tokoh dengan tokoh yang lain di salah satu scene. Ceritanya bahkan tidak terlalu rumit, hanya tentang dua orang suami istri bernama Conor dan Elly yang mengalami perpisahan setelah satu insiden yang menimbulkan trauma seumur hidup bagi mereka. Uniknya, film ini terbagi menjadi tiga versi. Him (menampilkan cerita dari perspektif Conor), Her (menampilkan cerita dari perspektif Elly), dan Them (gabungannya/sudut pandang orang ketiga).

Film yang dibintangi oleh Dr. Xavier muda James McAvoy dan sang ‘Osama hunter’ Jessica Chastain ini mengusung tema cinta dan perpisahan dengan menggunakan atmosfer yang realis serta plot yang dewasa dan alur yang sedikit non-linear sehingga cenderung terkesan datar dan lamban. Penonton yang tidak biasa dengan film-film drama realis mungkin akan merasa sedikit jengah, namun filmgoers pemburu festival akan puas menyaksikan studi karakter dan psikologi kedua tokoh serta akting yang luar biasa natural dari James McAvoy dan Jessica Chastain.

Dilihat dari judulnya, pasti semua orang–termasuk gue–mendapat kesan awal bahwa film ini bercerita tentang pencarian seorang wanita yang hilang, Fokus cerita ini, kiranya, sebenarnya tentang pencarian kembali jati diri yang hilang karena sebuah hubungan yang hancur. Seperti yang Conor katakan pada Elly,

“You know, before you, i had no idea who i was. Then we were together, I thought i had it all figured out. Now i’m just back to wondering again.” – Conor Ludlow.

Seperti pada umumnya drama realis, kita akan banyak melihat hal-hal yang sangat familiar dengan kehidupan sehari-hari kita dan bagaimana cara kita dalam menyelesaikan permasalahan. Elly yang mengambil mata kuliah ‘Art Theory’ hanya dengan alasan “The class sounds interesting” demi perjalanan hidup yang baru dan menemukan dirinya sendiri lagi, Conor yang terlalu idealis untuk mandiri dan tidak mau ketergantungan terhadap ayahnya demi sebuah penebusan dosa atas rasa bersalah akibat trauma yang diderita, dan mereka yang berkali-kali menemukan satu sama lain dan berkali-kali memutuskan untuk berpisah sebelum akhirnya bertemu kembali hanya untuk membicarakan masa lalu yang mereka tak bisa lari darinya. Karena itu tidak heran jika di akhir film penonton akan merasa susah move-on dari kedua karakter yang sangat manusiawi ini. Alasannya sederhana, kita merasa sehancur dan setidak berdaya mereka.

Kalian tidak harus menonton ketiga versi film ini untuk bisa menikmati ceritanya. Cukup tonton ‘Them’. Namun kalau kalian memang tertarik untuk melakukan pembelajaran karakter dan psikologi Elly dan Conor dan menghubungkannya pada dunia nyata, maka kalian wajib meluangkan sehari penuh liburan kalian demi menonton ketiganya.

DISTOPIANA’S RATING:  3.5 out of 5.