Tag Archives: Keira Knightley

The Imitation Game (2014) – The Enigma of Equality

Salah seorang sineas ternama asal Polandia bernama Andrzej Wajda pernah mengatakan bahwa,

“When a film is created, it is created in a language, which is not only about words, but also the way that very language encodes our perception of the world, our understanding of it.”

Gue selalu terkagum-kagum setiap kali menemukan sebuah film yang dapat membahasakan banyak unsur kehidupan dan kemanusiaan dalam durasi yang relatif terbatas. Ada kalanya gue mencoba menulis ulasan tentang film tersebut, namun gue sering merasa kurang kredibilitas dan kurang ilmu yang pada akhirnya ngga jadi-jadi terus, termasuk The Imitation Game (2014) yang dulu urung gue ulas karena konten di film ini terlalu sensitif dan di luar batas kemampuan gue. Kali ini, gue mau mencoba menulis ulasan film yang sebenernya udah gue tonton dari empat bulan yang lalu ini dengan mencoba sedikit sok tahu. Sudah lulus kuliah kok, sekarang. Masak belum mau ada perkembangan?

Di tahun 1939, pasukan Nazi Jerman memulai serangannya ke Polandia, dan bersamaan dengan mobilisasi British Armed Force serta evakuasi rakyat sipil Inggris untuk mengantisipasi serangan udara dari Jerman, seorang ahli matematika terbaik di Inggris bernama Alan Turing (the famous Benedict Cumberbatch) direkrut oleh Commander Denniston untuk memecahkan Enigma, sebuah perangkat sandi paling mutakhir yang pernah dirancang sepanjang sejarah.

Meskipun bercerita tentang sebuah misi pemecahan kode sandi rahasia, treatment film ini sangat jauh dari atmosfer action-thriller ataupun war. Layaknya sebuah biographical drama, sutradara Morten Tyldum serta penulis skrip Graham Moore memfokuskan film ini pada konflik dramatis yang menimpa Alan Turing baik yang melibatkan rekan-rekan kerjanya maupun dirinya sendiri. Yang menarik adalah, seperti sub-judul yang gue berikan pada artikel ini, terdapat banyak sekali sandi-sandi yang mereka gunakan untuk membahasakan persamaan hak dan derajat bagi umat manusia. Tidak ada satu scene pun–atau bahkan satu dialog pun–yang terbuang sia-sia. Akan sangat panjang jika gue membahas scene demi scene, tapi gue akan coba merincikan beberapa poin penting yang gue dapatkan dalam film ini.

1. The Nature of Bullying, War, and Violence

“Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction and the act becomes hollow.” – Alan Turing

Alan mengatakan hal ini dua kali di dalam film ini. Yang pertama adalah flashback sequence Alan Turing saat di masa sekolah dasarnya, di mana ia sering ditumpahkan makanan dan dikurung di bawah papan kayu lantai kelas oleh anak-anak lain karena dianggap ‘aneh’. Yang kedua adalah ketika Alan dipukul oleh Hugh Alexander (Matthew Goode) karena menghalanginya untuk memberitahu Commander Denniston atas rencana agresi Jerman ke arah iring-iringan kapal penumpang di Samudera Atlantik.

 “Do you know why people like violence? It is because it feels good.” – Alan Turing

Tentu, kekerasan memang terasa menyenangkan bagi sang pelaku. Kekerasan adalah salah satu cara yang paling disukai sebagian manusia untuk merasa menjadi kuat dan perkasa di dunia yang berat bebannya membuat mereka menjadi lemah dan tak berdaya. Bagi yang sudah familiar dengan konsep cycle of abuse dari Lenora Walker (1979) tentu mengerti bahwa kekerasan bisa dikategorikan sebagai gaya hidup tidak sehat yang masih sering dianggap lumrah oleh masyarakat di lingkungan sekitar kita. Mengapa? Karena mereka tahu betapa menyenangkannya kekerasan, dan mereka memaklumi perbuatan itu biarpun mereka tahu bahwa korban merasakan sakit fisik dan mental. Mereka juga sudah memaklumi itu sebagai sebuah siklus kehidupan dan tidak mau ikut campur urusan pelaku dan korban. Mungkin film ini memang tidak menjadikan bullying atau violence sebagai pusat perputaran tata cerita, tapi untuk menyejajarkan kekerasan dalam konteks ‘bullying’ dengan ‘peperangan’ lewat repetisi dialog pada dua scene yang berbeda yang telah disebutkan sebelumnya adalah strategi yang cukup efektif untuk menyindir kelalaian dan ketidakpedulian kita terhadap kekerasan kendati cukupnya pemahaman kita tentang sebab bahaya dari kekerasan itu sendiri.

2. Feminism

“You said to finish under six minutes.” – Joan Clarke

Yap, semua dimulai saat Joan Clarke (Keira Knightley) masuk ke ruang ujian dengan disambut oleh pandangan skeptis para pengawas yang tidak percaya bahwa seorang perempuan berhasil memecahkan teka-teki silang. Melihat pada sejarah feminisime sendiri, meskipun kaum wanita sudah memperoleh hak untuk bekerja pada sektor non-militer dan industri, tahun 1939 memang masih menjadi zaman yang tabu bagi mereka untuk melakukan pekerjaan otak, apalagi di sektor intelijen. Blame the sexism. Nyatanya Joan membuktikan bahwa ia bisa jauh lebih unggul dibanding peserta ujian lain yang semuanya pria. Terlebih lagi, kedisiplinan serta kontribusi fisik maupun emosional yang Joan berikan terhadap Turing Machine maupun terhadap Alan sendiri memperlihatkan posisinya sebagai mitra kerja yang sejajar di dalam sebuah tim yang–lagi-lagi–semuanya pria. Graham Moore sebagai penulis skrip mampu merefleksikan karakter yang three-dimensional pada pribadi Joan Clarke lewat dialog yang mampu diperankan dengan sempurna oleh Keira Knightley dari awal kemunculan sampai akhir film. Penggambaran yang sangat baik ini seharusnya menjadikan Joan Clarke sebagai salah satu ikon baru bagi para modern feminist.

3. LGBT

“Do you know what they do to
homosexuals? You’ll never be able
to work again. Never be able to
teach. Your precious machine —
doubt you’ll ever see him again.” – John Cairncross

Sejujurnya, satu topik inilah yang beberapa kali membuat gue urung mengulas film ini. Bukan karena pandangan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih menganggap isu ini tabu, namun karena kompleksitas masalah yang disajikan. Sekilas, The Imitation Game dengan baik menggambarkan kondisi di dalam catatan sejarah di mana homoseksualitas masih dianggap sebuah penyimpangan berbahaya, dan menurut gue karakter Alan Turing serta plot yang disajikan di film ini–bagaimana Alan menamai mesinnya Christopher, pernyataan Alan pada Joan tentang orientasi seksualnya, ancaman dari John sang mata-mata terhadap Alan yang memergokinya, dan hukuman yang diderita Alan karena pengakuannya sebagai seorang homoseksual pada polisi–cukup baik menggambarkan tentang kekejaman pandangan masyarakat dan juga pemerintah Inggris yang salah kaprah terhadap sebab dan akibat dari homoseksualitas. Namun di lain pihak, film ini mendapatkan protes dari beberapa komunitas gay karena tidak adanya ‘gay sex scene’ sehingga menurut mereka Morten Tyldum dan Graham Moore tidak mempunyai nyali yang cukup untuk mengkampanyekan kebebasan hak kaum gay di seluruh dunia dan malah menganggap bahwa mereka berdua takut akan perolehan Box Office yang tidak mencapai target jika adegan yang masih ditabukan oleh banyak orang itu ditayangkan. Belum lagi adanya beberapa pihak yang mempermasalahkan orientasi seksual Graham Moore yang heteroseksual sebagai penyebab dari tidak adanya ‘gay sex scene’ di dalam film ini. Like, come on, gue orang yang netral terhadap isu homoseksualitas, namun bicara soal treatment film, adanya ‘gay sex scene’ hanya akan membuang-buang durasi karena seperti yang Morten Tyldum katakan di The Guardian,

The only reason to have a sex scene in the film would be to satisfy critics who feels that every gay character needs to have a gay sex scene.”

Pada hakikatnya, semua filmmaker memahami bahwa dalam setiap frame, setiap adegan, dan setiap dialog harus memiliki unsur yang sepadat mungkin untuk bisa menceritakan suatu hal yang banyak dan penting dengan durasi yang sesingkat dan seefektif mungkin, dan pernyataan Morten Tyldum di atas menurut gue cukup kuat untuk mempertahankan keputusannya dalam membentuk The Imitation Game menjadi sebuah film berdurasi sedang yang sangat padat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan persamaan hak.

The Imitation Game, sekali lagi, tidak mengandalkan twist dan suspense untuk menceritakan sebuah pemecahan kode rahasia paling mutakhir dalam sejarah PD II. Maka jangan berharap Benedict akan menjadi seorang Sherlock (TV Series) yang keren dan teknik editing yang secara visual meledak-ledak di film ini. The Imitation Game berbicara tentang manusia dengan cara yang sangat manusiawi, dan itulah sebabnya gue sangat merekomendasikan film ini untuk kalian tonton.

Apa, memang masih ada yang belum nonton?

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.

N.B.: Pidato kemenangan Oscar yang luar biasa menggerakkan dari Graham Moore sebagai Best Adapted Screenplay 2015.

“When I was 16, I tried to kill myself, because I felt weird, and I felt different, and I felt that I did not belong. And now I’m standing here, and I would like this moment to be for that kid out there who feels she’s weird or she’s different or she doesn’t fit in anywhere. Yes, you do. … Stay different, and then when it’s your turn, and you’re standing on this stage, please pass the message to the next person that comes along.”

Begin Again (2014) – Can A Song Save Your Life?

Sebelum menonton film ini, jangan gantungkan harapan terlalu besar. Hanya karena film ini disutradarai oleh John Carney dan dibintangi one of the biggest pop stars Adam Levine, kemudian ‘Begin Again’ mampu menandingi the miraculous-lifetime masterpiece of ‘Once’. However, this film is decent enough for you to spend time for.

Berkisah tentang Dan (diperankan oleh Mark Ruffalo), yang mencoba untuk bangkit kembali setelah dipecat dari record label company yang pernah dia kembangkan karena terlalu idealis sehingga tidak produktif lagi dalam mencari bakat-bakat musik. Dia hampir bunuh diri ketika tiba-tiba mendengar Gretta (diperankan oleh Keira Knightley)—yang baru saja putus dengan kekasihnya, Dave (diperankan oleh Adam Levine)—bernyanyi di sebuah bar kecil dekat stasiun kereta bawah tanah tempat Dan akan meloncat ke tengah rel saat kereta datang. Dengan lagu ciptaannya dan bakat mentah yang ia miliki, Gretta mampu menarik perhatian Dan untuk memulai kembali karir musiknya dengan memproduseri Gretta. Mereka pun membuat demo tape dengan konsep ‘New York Street Summer Soundtrack’ yang membuat Gretta merekam lagu-lagunya dengan ‘mobile recording studio’ di tempat-tempat unik mulai dari gang kecil sampai di rooftop gedung di New York City bersama orkestra sederhana yang dikumpulkan oleh Dan.

Sekali lagi, Carney menjadi seorang talented romance storyteller yang mampu menempatkan cinta pada ruang yang sakral dan mampu membuat kita terdiam sejenak dan tersenyum dengan kontemplatif tanpa harus menonjolkan hal-hal vulgar. Carney doesn’t ever need his film to be sex-driven. He only needs music, smiles, and tears to screw everything into pieces and mend it over again by his own will. Yeah, note that. BY HIS OWN WILL. He’s a talented, idealist bastard. You will love Carney’s love story because it’s not exactly a fairy-tale love story, but a realistic life story.

SPOILER ALERT!!

Bakat kedua Carney adalah dia mampu menginterpretasikan ‘happy ending’ lewat perspektif yang cukup unik. Sekali lagi, kita tidak akan menemukan ‘two broken people which finding each other by music’ akan bersatu dan menjalin kisah cinta di akhir cerita. In this film, he’d rather mend those people’s broken things back and let those two fixed people ‘just be friends’. I mean, what the hell, right? However, if you think about it, they are happy after all. So…is it a happy ending? Or are we just being too selfish that we want them to have a sweet relationship to end the story without knowing what’s best for them? Who are we to judge?

Anyway, akting Keira Knightley dan Mark Ruffalo juga cukup memberikan atmosfer yang tepat pada film ini agar menjadi hangat tanpa harus ‘terlalu panas’. Yeah, I mean like casual, natural acting without being too over-dramatic. I love how Keira being a Gretta by just being her own self (or does she?). You’ll love that kind of lovely, laugh-out-loud-in-fragility Keira. No, sorry. You’ll love every characters in this film by how real they are. They’re all gray, not black and white. This film is about life and consequences fucking them up.

Musik di film ini mayoritas ditulis dan diaransemen oleh Gregg Alexander dan John Carney sendiri (like I said, he’s a talented bastard). Mungkin gue terlalu membanding-bandingkan film ini dengan ‘Once’, jadi gue ngga bisa menikmati musiknya seperti gue menikmati ‘Once’. Tapi secara obyektif, ‘Lost Stars’ dan ‘Like a Fool’ akan mampu membuat gaung yang cukup bertahan lama di kepala kita bersama memorable scenes saat lagu itu berkumandang. You’ll be surprised on how Keira actually have that beautiful voice inside her. Oh, and after you heard Adam sings ‘Lost Stars’ in the end of this film, you’d wish he quit Maroon 5 and starts a solo career instead. The song is a classic, ‘Songs about Jane’ pop typical style which you won’t find in Overexposed or V. Film ini recommended buat kamu yang lagi nyari film rom-com berkualitas tapi ringan dan full-music. Fans nya Adam Levine juga wajib nonton film ini.

Distopiana’s Rating: 3.5 out of 5