Tag Archives: milea

Dilan 1990 (2018) – Dilan dan Mereka yang Tidak Jelas

Sebelumnya, kami meminta maaf karena kembali membahas sesuatu yang sepertinya sudah agak terlambat untuk dibicarakan. Terlalu banyak kesibukan duniawi yang menghalangi untuk menyelesaikan hobi kami yang tulus dari hati dan tidak dibayar ini. Namun biarpun begitu, kami rasa belum terlambat bagi kami untuk mendiskusikan satu film Indonesia yang mungkin tidak terlalu bagus, namun penting untuk dibicarakan karena animo serta angka penjualan tiketnya yang sangat tinggi.

Tayang pada 25 Januari lalu, Dilan 1990 sukses menjadi bahan pembahasan utama mayoritas penduduk Indonesia. Volume pembicaraan yang menggunung selama dua bulan berturut-turut di sosial media ini juga sukses memancing tidak hanya institusi pemerintahan, namun juga brand-brand terkemuka di Indonesia untuk menjadikan kutipan film ini sebagai gimmick demi menarik minat dan perhatian target konsumen mereka.

Sudah banyak sekali yang membahas tentang film ini dari berbagai sudut pandang. Detha Prastyphylia membahas tentang bagaimana film ini bisa laku keras di Indonesia lewat akun Twitter miliknya. Stephany Josephine, blogger film “suka-suka”, membahas daya tarik film ini lewat sudut pandang penonton awam dengan gaya bahasa yang mengundang gelak tawa di blog miliknya. Kami pun pada awalnya berniat membahas film ini dari perspektif yang umum, namun seiring berjalannya percakapan, kami berdua menemukan kecemasan yang sama terhadap salah satu unsur penting di film ini: para karakternya.

  • Tommy: “Nah Bung, sebagai orang yang cuma pernah diceritain tentang Dilan 1990, gue menilai Dilan 1990 sebagai sebuah cerita yang sebenernya komedi romansa, bukan serius. Cerita ini menurut gue adalah komedi romansa dengan unsur unik di mana unsur seriusnya dibawakan oleh situasi dan skenario, sedangkan komedinya sendiri dibangkitkan oleh para karakternya. Nah, gue pun secara fisik menilai Dilan penggambaran Pidi sebagai sesosok pria SMA Sunda yang caleuy, sok ganteng, tapi punya prinsip kuat. Begitu gue denger kabar bahwa Iqbal CJR yang bakal meranin Dilan, antusiasme gue langsung turun. Dari yang males nonton sampe anjir ogah banget.”
  • Bunga: “Hahaha wajar sih, Tom. Terus, menurut lo gimana setelah nonton?”
  • Tommy: “Asli, Bung. Gue merasa bodoh banget udah mikir kayak gitu. Gila Iqbal, bagus banget jadi Dilan.”
  • Bunga: “YA KAN? Gue juga awalnya amat sangat bingung waktu tau Dilan bakal diperanin sama Iqbal. Jangan salah sangka, gue dari dulu ngikutin Iqbal (dan kalaupun bukan fans CJR) tapi tau kalo kemampuan akting dia kalau diasah bakalan bagus. Gue cuma gak yakin apakah dia bisa menjadi “Dilan” seperti yang ada di buku. Ehhhh ternyata…kaget gue. Asli. 100% melebihi ekspektasi. Dia ngasih warna ke Dilan, yang visualisasinya masih burem banget buat pembacanya. Cheesy quotes-nya gak berkesan “pendek” dan maksa. Salut deh pokoknya.”
  • Tommy: “Asli gue juga mikir kayak gitu, Bung! Eh, tapi gue penasaran deh. Menurut lo yang udah tamat baca bukunya, Dilan itu karakter yang seperti apa?”
  • Bunga: “Hmm… karena gue sudah baca buku Dilan jauh sebelum nonton filmnya, buat gue buku ini bisa masuk ke berbagai genre seperti komedi, drama, keluarga, dan bahkan nyerempet sedikit ke literatur, tapi tetap di dominasi sama romansa yang unik dan punya gaya nya sendiri. Karakter Dilan itu buat gue, your high school bad boy with a twist. Entah gimana caranya dia bisa bikin segala hal yang cliche menjadi nyeleneh dan “Dilan” banget. Dia ganteng, tapi bukan sekedar ganteng. Dia puitis, tapi suka ngakak. Dia bandel, tapi gak pernah kurang ajar. Tapi betul kata lo, yang jelas dia punya prinsip.”
  • Tommy: “Yes, I hate to say this, tapi Iqbal ke karakter Dilan tuh seakan akan udah kayak Nicholas Saputra ke karakter Rangga. His true aura empower Dilan’s character. Nggak akan ada lagi yang bisa meranin Dilan sebagus dia. Biarpun mungkin memang cara dia delivering his lines itu terdengar sangat textbook, tapi ya memang karakternya Dilan begitu kan di buku? Dia kalo ngomong nggak kayak orang biasa. Kadang terlalu baku, jadi aneh. Gue sepakat sama lo tentang karakter Dilan. He’s one of a kind character that you can relate to, and he’s the one you definitely can root for.”
  • Bunga: “Betul. Banyak yang bilang kalau akting Iqbal sebagai Dilan & cara dia menyampaikan dialog itu kaku banget, tapi justru gue kebalikannya. Di dalam kekakuan karakter Dilan, Iqbal justru berhasil membuat kakunya menjadi kaku yang punya makna terselubung. Something that’s bigger than the words said themselves, kalaupun memang nggak bisa dibandingkan dengan cara remaja biasa ngomong in reality.
  • Tommy: “Betul, Bung. Nah tapi cuma satu yang bikin gue sedikit resah.
  • Bunga: “Nah, kayaknya gue tahu lo mau ngomong apa nih, Tom…”
  • Tommy: “I know you know it, karena lo feminis dan gue anti-patriarkis, pasti pikiran kita sama soal satu karakter ini.”
  • Bunga: “Milea?”
  • Tommy: “Ya iyalah. Siapa lagi? Hahaha.”

  • Bunga: “Sejujurnya gue lebih menaruh harapan ke Vanesha dibandingkan Iqbal, mungkin karena gue udah liat akting kakaknya (Sissy Priscillia) duluan di berbagai film dan instantly menganggap kalau Vanesha akan ngasih justice buat Milea juga. Tapi ternyata gue salah. Gue gak bilang akting Vanesha jelek (it’s her debut, for God’s sake!) tapi memang gak bisa dibohongin kalau Milea yang gue “cari” nggak ada disitu. Ibaratnya, Milea sebagai karakter cuma ada untuk ngebalesin Dilan doang. Gue gak bisa menangkap sifat dia, apa yang dia suka dan gak suka, kenapa dia mau sama Dilan (selain karena digombalin) dan Dilan mau sama dia, dan lain sebagainya. Dia gak punya personality yang cukup signifikan untuk jadi sebuah karakter, let alone protagonis.”
  • Tommy: “Wah, sangat menarik nih. Soalnya gue udah ngomong sama dua orang tentang hal ini: Fira dan temen kerjaan gue Annisa. Mereka berdua bilang bahwa Milea itu di buku memang nggak jelas maunya apa. Annisa yang bahkan udah baca semua seri buku Dilan pun bilang bahwa Milea dari awal sampe akhir bakal gitu terus. Manic Pixie Dream Girl versi nggak ada rasanya. Nah bagi lo sendiri, Milea yang lo baca di novel itu seperti apa? Mungkin lo punya interpretasi yang beda dari Annisa nih…”
  • Bunga: Gue setuju dengan Annisa yang bilang Milea itu nggak jelas maunya apa. Menurut gue, di buku Milea adalah karakter yang plain banget. Lebih mengarah ke pemanis cerita dibandingkan protagonis yang bold & solid seperti Dilan. Dia itu ibarat kanvas putih polos yang belum diisi apa-apa. Entah Milea yang asli orangnya memang begitu atau gimana, gue kurang tau juga. Cuma gue sedikit kaget aja kalau Milea yang di film bisa bener-bener sehambar ini… hahahaha.
  • Tommy: “Berarti secara tidak sengaja, Vanesha sebenarnya bisa dibilang sukses jadi Milea dong ya?”
  • Bunga: “HAHAHAHAHA WOI JAHAT AH!”
  • Tommy: “HAHAHAHA! Anyway, gue seneng dengan ceritanya Dilan yang almost plotless tapi nggak mencoba mendramatisir apa yang sebetulnya nggak perlu. Film Dilan 1990 ini juga tahu apa yang ingin dituju dan apa yang ingin dikisahkan. Fresh banget untuk film-film romansa remaja Indonesia.”
  • Bunga: “Yes! Plotless adalah hal pertama yang ada di pikiran gue setelah keluar dari bioskop. Dilan adalah film yang punya tujuan, tetapi tetap realistis dan memilih untuk “menggantungkan” penonton demi membuat mereka penasaran nonton film selanjutnya. Gue suka bagaimana Dilan tidak takut untuk menunjukkan bahwa cewek dipukul cowok itu — unfortunately — masih lumrah, terutama di kalangan anak muda (karena yang biasanya kesorot itu cuma orang tua). Plus adegan tawuran & geng motor yang nyeremin, tetapi emang masih bener terjadi di dunia nyata. Eksplisit banget. Gue sampai sekarang masih belum bisa lupa tatapan Dilan yang keras saat naik motor, jadi panglima tempur di paling depan. Seakan-akan, ini loh sisi lain Dilan yang 180 derajat dari si tukang gombal dengan bahasa khas EYD.”
  • Tommy: “Betul. Mereka bener bener ngegambarin dunia nyata tanpa harus mendramatisir hal-hal yang sebenernya nggak perlu. Dilan ini cerita yang sebenernya character-driven. Dilan nggak cuma pegang komando geng motor, tapi dia pegang kontrol atas cerita tentang dirinya sendiri, and isn’t that amazing? I mean, segala hal yang ada di film ini, kalo nggak ada interupsi Dilan, pasti jadinya plain banget. Walaupun ada saat-saat di mana Dilan ilang, kita masih dibuat selalu menunggu “apa yang bakal Dilan lakukan ya?” Sebenernya hal seperti ini bisa dibilang sesuatu yang minus juga, karena hal ini bikin Milea ga bisa berkembang jadi karakter yang menarik.
  • Bunga: “This movie takes the importance of Dilan’s character to a whole new level. Di satu sisi bagus karena kita benar-benar ngerasain emosi, sifat & perilaku Dilan firsthand, meskipun di sisi lain pada akhirnya karakter-karakter lainnya (baik protagonis, antagonis dan pendukung) jadi sedikit “terlupakan”, including Milea-nya sendiri. Gue sendiri sejujurnya masih bingung sama esensinya karakter Kang Adi di film ini. Not gonna lie that he’s really an eye candy though, hehe.”

  • Tommy: “HAHAHA ANJIR ngomongin Kang Adi lagi. Agak ngakak loh gue ngeliat karakter Kang Adi bener-bener terlecehkan di film ini. Cuma sebagai Guru Privat Milea yang diem diem suka sama dia doang. Kenapa sih dua lelaki terhormat seperti Dilan dan Kang Adi harus suka sama Milea. Hmm mungkin karena amat sangat submisif kali ya?”
  • Bunga: “Sedih gue huh. Kang Adi potensinya banyak banget, entah memang belum dikembangkan (disimpan untuk lanjutan film Dilan) atau hanya hadir sebagai guru privat. Tapi kalau ternyata yang kedua yang benar, disayangkan banget sih.”
  • Tommy: “Iyaaa! Kalau nggak salah itu aktornya juga yang kemarin main Galih dan Ratna kan?”
  • Bunga: “Oh iya, ya. By the way, gila gue suka banget Galih dan Ratna! It was a really nice movie.”
  • Tommy: “Hadeh gue belum sempet nonton lagi. Oh iya, adegan favorit lo di film Dilan 1990 apa nih, Bung? Kalo gue sih jelas, pas Dilan tubir. Both sama gurunya yang nampar dia dan juga sama Anhar.”
  • Bunga: “Hmm, gue setuju sama lo waktu Dilan tubir. Feelnya dapet banget. Waktu dia naik motor, natap kamera dengan intens dengan background orang-orang bersorak ria yang super anarkis. Bener-bener bikin merinding. Gue juga enjoy waktu scene Milea dipukul sama temannya Dilan di warung tongkrongan mereka. Buat gue, itu adalah salah satu scene yang berhasil menepis stereotype di masyarakat. Wake up, masih banyak loh di luar sana, in reality, yang cowok berani mukul cewek! And it’s not always about KDRT!”
  • Tommy: “Whoa preach girl!”
  • Bunga: “Eh sorry-sorry gue ngegas. Tapi gimana ya, Tom. Karena buat gue potrayal dari violence itu penting banget (karena sayangnya masih marak di Indonesia), jadi agak seneng kalau ada ranah seperti ini diangkat ke layar lebar. Serem banget sih, tapi gue rasa bikin kita jadi mikir 2x dalam berkata dan berperilaku saat kita lagi emosi. Sama seperti Posesif.”
  • Tommy: “HAHAHA santai bungs, we should be uneasy about that stuff anyway.
  • Bunga: “Yes of course we should. Anyway, what’s your least favorite scene?”
  • Tommy: “If I have to say my least favorite scene, yaitu semua scene yang ada Kang Adi nya hahahaha. Sumpah, saking numpang lewatnya itu karakter gapenting, jadi resah terus bawaannya gue. Kayak “woi relevansinya apaan anjeng kasian ini karakter kaga jelas banget munculnya tiba tiba perginya juga tiba tiba, cuma buat jadi orang yang diem diem suka sama Milea aja hhhh”. Anyways, kalo lo gimana Bung? Least favorite scene lo apa?
  • Bunga: “Halah, gue juga scenes-nya Kang Adi sih.”
  • Tommy: “Sudah lah Bung ya, makin diomongin makin perih hahaha.”
  • Bunga: “Oh ya! Patut diacungi jempol juga akting Brandon Salim sebagai slut-shaming boyfriend nya Milea. Asli, akting dia bagus tapi underrated banget. Mungkin karena udah pada terlanjur fokus ke Dilan kali ya, hehehe. But thumbs up buat dia!”
  • Tommy: “Gue setuju banget. Brandon Salim aktingnya bagus jadi anak cengeng yang sok sok maskulin dan overprotektif.”

  • Tommy: “Kalau secara keseluruhan cerita dan treatmentnya, menurut lo Dilan gimana Bungs?”
  • Bunga: “Dilan is a heartwarming coming-of-age slash romance slash comedy slash drama movie that takes you on a rollercoaster ride of cheesy yet poetic pick up lines and how reality doesn’t really have endings. It just simply goes on, seperti yang divisualisasikan film Dilan itu sendiri. Which is a good thing karena buat gue, terkadang dunia perfilman Indonesia (terutama dalam genre romansa) sering terbuai sama safety-nya happy endings. It’s nice to see film-film romansa belakangan seperti Dilan dan Posesif perlahan mengubah stigma tentang itu.”
  • Tommy: “Interesting! Kalo menurut gue, film ini disajikan secara puitis dan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan HLHKNTL…”
  • Bunga: “HAHAHAHAHA “HLHKNTL” SERIUS AH TOMS :)))”
  • Tommy: “HAHAHAH SORRY …but seriously I love how Dilan 1990 serve the plotless story in a very modest manner as a reminder for everyone on how beautiful it is to be young, silly, idealist, and in love. Dan gue setuju terhadap deskripsi lo tentang film Dilan. Ia menjadi sebuah kisah cinta romantis lintas generasi yang semata-mata ingin menghidupkan kembali nostalgia remaja SMA tahun 1990 secara manis dan tetap realistis. Mungkin tetap juga, Dilan bisa dikatakan happy ending, tapi cerita ini pun seperti nggak ada awal dan nggak berakhir. Cerita Dilan juga mungkin akan berlanjut, seperti apa yang akhir film ini katakan, tapi berakhir di sini pun sebenarnya sudah cukup. It’s already a satisfactory nostalgia less-sugar candy for everyone who has ever feel love in their high school age.”
  • Bunga: “Karena mungkin emang untuk film-film seperti Dilan, gak butuh particular happy ending atau sad ending. Dengan mereka mengusut cerita yang realistic, seharusnya memang gak perlu ada ending, kan? I’m actually more excited for what is about to come in the second movie. Apakah mereka bisa menghidupkan kembali Dilan yang ini? Apakah Milea masih submisif? Apakah Dilan masih menjadi pusat dari filmnya? Apakah Kang Adi masih menjadi relevan? So many questions inside my head that are begging to be solved. Gue pun merasa film ini melebihi ekspekstasi gue, karena di awal udah drop sekaligus tinggi banget (aneh gak tuh?). But it really gives a nice tone to begin 2018, so I’m most likely almost satisfied.”
  • Tommy: “Biarpun memang agak biasa aja, tapi Dilan melebihi ekspektasi gue. Ini film yang cukup manis dan sama sekali nggak norak. Dan sebenernya separah apapun temen-temen gue tidak merekomendasikan Dilan karena novelnya sama sekali tidak memberikan perubahan pada karakter Milea, gue masih tetep penasaran apakah ke depannya sang filmmaker pada akhirnya mencoba untuk mengubah konsep cerita dan melakukan sesuatu pada si karakter perempuan utama tersebut.”
  • Bunga: “Right, right! Last thing, Tom. Who do you think should watch this movie?”
  • Tommy: “Film ini sangat baik untuk ditonton bagi orang-orang yang capek baru pulang kerja, terutama para pria. Enak gitu kelar kerja, stres, nonton Dilan ngalusin anak orang. Ngeliat kisah cinta mereka, terus berandai-andai jadi Dilan. Anak motor, ganteng, jago ngalusin anak orang, eh bisa dapetin MPDG kayak Milea. Atau, simply, ya orang-orang Bandung berumur 30-an ke atas yang pengen nostalgia masa-masa SMA mereka. Kalau menurut lo, Bung?”
  • Bunga: “Iya, sejujurnya buat gue biarpun latar film ini SMA, film ini lebih cocok untuk audience yang bukan anak SMA (atau setidaknya anak SMA dengan pola pikir yang diatas umurnya). Tapi, yang SMA tetep boleh nonton kok. Kali-kali aja bisa jadi referensi kalo mau ngemodusin cewek. Hehe.”

Masa muda, memang masanya bercinta. Namun sangat disayangkan apabila tradisi dan budaya berkencan anak muda zaman sekarang mesti terus menerus diromantisasi dengan karakter-karakter pasif yang tak mempunyai kejelasan motivasi namun selalu berhasil menemukan apa yang ia mau dan mendapatkannya tanpa ada usaha apapun yang signifikan. Dilan 1990 adalah film yang menarik, namun akan jauh lebih menarik bila karakter Milea dapat lebih dipertajam dengan motivasi dan effort yang lebih jelas agar tidak hanya mampu menarik simpati gadis-gadis muda, namun juga memotivasi mereka untuk mencari jati diri yang lebih kuat selain soal pacaran dengan ketua geng motor ganteng dan juga harus melakukan upaya yang nyata untuk mendapatkannya selain hanya menunggu untuk dikejar.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.