Tag Archives: Musical

Whiplash (2014) – Neiman and Fletcher Love Story

Anda bosan dengan film-film musikal yang dipenuhi dengan lagu-lagu pop easy-listening? Jenuh dengan kisah cinta dan persaingan remaja bau kencur yang diiringi oleh musikal ala-ala Disney yang dinyanyikan dengan suara cempreng? Ingin melihat sebuah film musikal yang ganteng, seksi, dan maskulin tanpa dibumbui terlalu banyak romansa klise dan menye-menye? Dengan durasi 106 menit, sebuah film berjudul “Whiplash” akan mengabulkan keinginan anda!

Film ini adalah cerita tentang ambisi buta seorang pria bernama Andrew Neiman (diperankan oleh Miles Teller) untuk menjadi seorang drummer jazz legendaris. Demi mencapai mimpinya, ia harus menarik perhatian Fletcher (diperankan oleh J.K. Simmons), seorang guru penting di New York Music School dan juga konduktor di sebuah band orkestra jazz terbaik di Amerika. Segala cara dan pengorbanan dilakukannya, termasuk meninggalkan gadis idamannya yang telah berhasil ia kencani (diperankan oleh Melissa Benoist) dan membiarkan dirinya dilecehkan dengan kekerasan fisik yang dilakukan berulang kali oleh sang Fletcher, yang dikenal memiliki temperamen tinggi serta metode pelatihan yang sangat keras sehingga semua muridnya takut dengannya.

Rumusan permasalahan yang menjadi akar dari keunikan cerita ini adalah: “Seberapa jauh anda akan melangkah demi mengejar mimpi anda? Seberapa gila anda akan mendorong diri anda sendiri?” Memang terdengar biasa saja, namun cara Damien Chazelle—sang sutradara—menuturkan problema ini dalam sebuah hubungan antara seorang pelajar dengan gurunya dan ambisi mereka yang saling kejar mengejar satu dengan yang lain mampu membuktikan kepada pasar bahwa ‘ambisi’ merupakan suatu tema yang bisa mengalahkan ‘cinta’ yang lambat laun membasi karena diolah terus menerus tanpa membuahkan evolusi yang nyata. Terlebih, performa Teller dan Simmons serta editing dan sinematografi film ini—which is more to European style than Hollywood—akan membuat anda bergidik dan kesulitan untuk menenangkan diri sepanjang film berlangsung.

Ada suatu pernyataan penting yang diutarakan oleh Fletcher dalam film ini. “The most dangerous two words in the English language are good job.” Sebuah kalimat yang membuat kita berfikir apakah memang suatu bakat yang luar biasa dapat dipanen dari pembudidayaan potensi dengan metode radikal seperti yang Fletcher demonstrasikan? Dipandang dari berbagai sudut, hal ini merupakan sesuatu yang abu-abu dan menarik untuk diperdebatkan, meskipun mungkin memang secara empiris terbukti metode seperti ini menciptakan kualitas-kualitas prima. Bagi sebagian orang, hal ini juga membuat mereka mempertimbangkan apakah karakter Fletcher bisa dikategorikan sebagai seorang protagonis, mengingat di film ini karakter Neiman lah yang paling sok tahu, merasa paling benar, dan ambition-driven.

Di samping bermacam kegantengan visual, kematangan cerita, serta akting luar biasa yang akan memanjakan mata dan pikiran, musik-musik yang disuguhkan di film ini juga akan membuat telinga anda orgasme berkali-kali—especially the ending, oh what an ending. Whiplash mungkin akan menjadi sebuah tolak ukur baru terhadap film-film drama musikal lain ke depannya, dan jika prediksi gue yang sok tahu ini ternyata benar, then it’s gonna be jizzy jazzy!

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.

Begin Again (2014) – Can A Song Save Your Life?

Sebelum menonton film ini, jangan gantungkan harapan terlalu besar. Hanya karena film ini disutradarai oleh John Carney dan dibintangi one of the biggest pop stars Adam Levine, kemudian ‘Begin Again’ mampu menandingi the miraculous-lifetime masterpiece of ‘Once’. However, this film is decent enough for you to spend time for.

Berkisah tentang Dan (diperankan oleh Mark Ruffalo), yang mencoba untuk bangkit kembali setelah dipecat dari record label company yang pernah dia kembangkan karena terlalu idealis sehingga tidak produktif lagi dalam mencari bakat-bakat musik. Dia hampir bunuh diri ketika tiba-tiba mendengar Gretta (diperankan oleh Keira Knightley)—yang baru saja putus dengan kekasihnya, Dave (diperankan oleh Adam Levine)—bernyanyi di sebuah bar kecil dekat stasiun kereta bawah tanah tempat Dan akan meloncat ke tengah rel saat kereta datang. Dengan lagu ciptaannya dan bakat mentah yang ia miliki, Gretta mampu menarik perhatian Dan untuk memulai kembali karir musiknya dengan memproduseri Gretta. Mereka pun membuat demo tape dengan konsep ‘New York Street Summer Soundtrack’ yang membuat Gretta merekam lagu-lagunya dengan ‘mobile recording studio’ di tempat-tempat unik mulai dari gang kecil sampai di rooftop gedung di New York City bersama orkestra sederhana yang dikumpulkan oleh Dan.

Sekali lagi, Carney menjadi seorang talented romance storyteller yang mampu menempatkan cinta pada ruang yang sakral dan mampu membuat kita terdiam sejenak dan tersenyum dengan kontemplatif tanpa harus menonjolkan hal-hal vulgar. Carney doesn’t ever need his film to be sex-driven. He only needs music, smiles, and tears to screw everything into pieces and mend it over again by his own will. Yeah, note that. BY HIS OWN WILL. He’s a talented, idealist bastard. You will love Carney’s love story because it’s not exactly a fairy-tale love story, but a realistic life story.

SPOILER ALERT!!

Bakat kedua Carney adalah dia mampu menginterpretasikan ‘happy ending’ lewat perspektif yang cukup unik. Sekali lagi, kita tidak akan menemukan ‘two broken people which finding each other by music’ akan bersatu dan menjalin kisah cinta di akhir cerita. In this film, he’d rather mend those people’s broken things back and let those two fixed people ‘just be friends’. I mean, what the hell, right? However, if you think about it, they are happy after all. So…is it a happy ending? Or are we just being too selfish that we want them to have a sweet relationship to end the story without knowing what’s best for them? Who are we to judge?

Anyway, akting Keira Knightley dan Mark Ruffalo juga cukup memberikan atmosfer yang tepat pada film ini agar menjadi hangat tanpa harus ‘terlalu panas’. Yeah, I mean like casual, natural acting without being too over-dramatic. I love how Keira being a Gretta by just being her own self (or does she?). You’ll love that kind of lovely, laugh-out-loud-in-fragility Keira. No, sorry. You’ll love every characters in this film by how real they are. They’re all gray, not black and white. This film is about life and consequences fucking them up.

Musik di film ini mayoritas ditulis dan diaransemen oleh Gregg Alexander dan John Carney sendiri (like I said, he’s a talented bastard). Mungkin gue terlalu membanding-bandingkan film ini dengan ‘Once’, jadi gue ngga bisa menikmati musiknya seperti gue menikmati ‘Once’. Tapi secara obyektif, ‘Lost Stars’ dan ‘Like a Fool’ akan mampu membuat gaung yang cukup bertahan lama di kepala kita bersama memorable scenes saat lagu itu berkumandang. You’ll be surprised on how Keira actually have that beautiful voice inside her. Oh, and after you heard Adam sings ‘Lost Stars’ in the end of this film, you’d wish he quit Maroon 5 and starts a solo career instead. The song is a classic, ‘Songs about Jane’ pop typical style which you won’t find in Overexposed or V. Film ini recommended buat kamu yang lagi nyari film rom-com berkualitas tapi ringan dan full-music. Fans nya Adam Levine juga wajib nonton film ini.

Distopiana’s Rating: 3.5 out of 5