Tag Archives: opinion

Nonton Film di Bioskop Sendirian? Siapa Takut?

Pola sosial yang terbentuk pada masyarakat perkotaan dengan jumlah bioskop yang membludak membuat suatu pandangan bahwa menonton di bioskop HANYA merupakan salah satu cara untuk mengisi waktu luang bersama kerabat dan teman dekat. Paradigma ini nyatanya juga secara tidak langsung mempengaruhi pandangan mereka terhadap orang-orang yang memilih untuk menonton film di bioskop sendirian. Segala macam cap mereka lontarkan sembarangan, seperti “Kasian banget sih lo kayak ngga ada temennya” atau  “Duh, jomblo ya? Makanya cari pacar gih biar ngga ngenes-ngenes banget”, atau bahkan yang sedikit ekstrim seperti “dasar freak”. Gue pribadi–yang memang termasuk senang menonton film sendirian–sering dipandang sinis bahkan sama mbak-mbak penjual tiket di bioskop karena pas ditanya “buat berapa orang?” gue cuma jawab “satu aja”. Kebiasaan labeling seperti ini membuat orang-orang yang senang untuk menonton sendirian di bioskop merasa rendah diri atau bahkan menjadi kapok untuk menonton sendirian lagi.

Tapi serius deh, apa salahnya sih menonton di bioskop sendirian?

Lewat artikel ini gue akan mencoba mewakili para individual moviegoers (yang senang menonton di bioskop sendirian) untuk menjelaskan pada collective moviegoers (yang tidak mau menonton di bioskop kalau ngga ada yang menemani) bahwa mereka punya alasan yang lebih kuat terhadap kebiasaan mereka menonton film sendirian di bioskop daripada sekedar ‘ngga ada yang mau temenan sama gue’.

1. Apresiasi dan Rasa Cinta yang Tinggi

Please deh, untuk beberapa collective moviegoers yang sering memandang rendah para individual moviegoers, coba kalian renungi lagi kenapa kalian memandang mereka seperti itu. Di saat kalian, collective moviegoers, memandang film hanya sebagai sebuah hiburan numpang lewat yang akan kalian lupakan di kemudian hari (meskipun secara obyektif tidak ada salahnya untuk berpikiran seperti itu), namun para individual moviegoers lebih melihat film sebagai sebuah medium penyampaian pesan yang penting untuk diserap dan/atau karya seni yang patut diapresiasi. Belum lagi bagi para geek yang tergila-gila dengan beberapa sutradara atau cast film yang orang awam jarang mengenal, seperti Wes Anderson, Takeshi Miike, Meryl Streep, (alm) Philip Seymour Hoffman dll. Kalau mereka tidak menganggap film itu penting, untuk apa mereka menyusahkan diri datang ke bioskop sendirian dan mengeluarkan uang sebanyak demikian?

2. Pendirian dan Prinsip yang Kuat

Sudah jelas, bukan? Mungkin beberapa dari collective moviegoers mempunyai kecintaan dan pikiran yang sama terhadap film layaknya individual moviegoers seperti yang sudah gue terangkan di poin sebelumnya, namun karena pendirian dan prinsip mereka yang mudah goyah, mereka akhirnya menjadi minder dan lebih memilih untuk mengabaikan rasa cinta dan apresiasi mereka hanya karena tidak ingin dianggap freak atau forever alone oleh lingkungan sekitar mereka. Kalau gue jadi Rangga di film Ada Apa dengan Cinta (2002), gue bakal ngatain mereka “Kayak ngga punya pendirian aja sih”, namun jujur sebenarnya gue bersimpati terhadap collective moviegoers seperti ini, karena memang pada dasarnya manusia memang peduli dengan kasih sayang dan image pribadi mereka, namun baca artikel ini sampai selesai dan gue akan jelasin kenapa mereka patut untuk memperkuat pendirian dan prinsip mereka. Untuk individual moviegoers, selamat!

3. Sense of Intimacy

Tak bisa dipungkiri, individual moviegoers punya suatu hubungan yang erat dan sakral dengan film yang berakar dari dua poin yang gue sebutkan sebelumnya: rasa cinta, apresiasi, pendirian, dan prinsip. Jika kalian merasakan dengan seksama, akan ada sesuatu dalam diri kalian yang berubah setelah kalian menonton sebuah film. Entah kalian akan merasa jauh lebih badass, melankolis, atau bahkan bisa merujuk pada gejala psikosomatis, tergantung film yang kalian tonton. Pas dulu gue menonton premiere The Raid 2 (2014), gue merasa badan gue sakit semua setelah film selesai, dan gue langsung ingin pergi ke panti pijat atau spa terdekat, namun di satu sisi gue juga merasa lebih perkasa, tangguh, dan bahkan lebih ‘terbakar’ daripada sebelumnya. Hal inilah yang sebenarnya menjadi prioritas bagi sebagian individual moviegoers. Film itu seperti narkotik bagi mereka, dan mereka harus fokus untuk bisa merasakan pengalaman yang berbeda-beda secara total tanpa harus ada campur tangan atau pengaruh dari orang lain yang menonton bersama mereka. Kalau yang namanya menonton bersama orang lain, pasti mereka akan diajak mengobrol ataupun diberikan opini-opini (yang terkadang tidak relevan) yang akan mengganggu konsentrasi mereka. Bagi mereka, “Ngapain menonton bareng orang lain? Ganggu doang.”

4. Idealisme Pilihan Film

Ini sebenarnya alasan paling sederhana yang memang benar adanya bagi para individual moviegoers. Kalau kalian pergi ke bioskop sendirian, nggak akan terjadi perdebatan sengit dengan pihak lain tentang film apa yang harus kalian tonton, dan bagi sebagian pecinta film yang kurang digandrungi masyarakat awam, menonton sendirian tidak akan membuat mereka harus mengalah terhadap keputusan mayoritas. Ini perihal kebebasan memilih, Bung!

5. The Joy of Solitude

Shia-LaBeouf-Watching-His-Own-Movies-Pictures

Poin ini sebenarnya hanya berlaku bagi para introvert, individualis, dan bahkan juga para anti-sosial. Film adalah sarana untuk menyalurkan hasrat eskapis mereka yang sudah merasa cukup muak terhadap omong kosong dan kepalsuan realita, dan agak hipokrit bagi mereka untuk menonton film dengan ditemani oleh bagian-bagian dari realita mereka yang mereka anggap busuk. Mereka ingin istirahat sejenak dan meluncur di atas kereta wisata menuju dunia yang dirancang sang sutradara. Sendirian. Mungkin bagi sebagian orang, ini bukan alasan yang baik, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan harus berbagi kebahagiaan satu sama lain. Namun dipandang dari perspektif eksistensialisme, terlepas dari segala macam klise dan jargon tentang kebersamaan, kita semua berjalan sendirian di dunia ini, dari hidup sampai mati. Terhadap mereka yang berpikiran seperti itu, sah-sah saja buat gue. Atau ada pula dari mereka yang sebenarnya secara sosial tidak canggung, namun mereka manusia mandiri yang sudah mengerti bahwa satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan mereka hanyalah diri mereka sendiri, dan mereka tidak mau repot-repot membujuk teman mereka yang sedang sibuk untuk menonton bersama-sama, pun tidak menganggap itu sebagai halangan untuk menonton film yg ingin mereka tonton.

Ada begitu banyak alasan yang logis dan relevan untuk kalian sebagai individual moviegoers untuk melanjutkan kebiasaan kalian menonton film sendirian di bioskop, dan untuk para collective moviegoers, semoga artikel ini bisa memberikan kalian pandangan baru untuk belajar memahami serta tidak melemparkan sembarang labeling pada individual moviegoers yang bisa menyakiti perasaan dan self-esteem mereka, apalagi sampai merusak image mereka di mata lingkungan sosial mereka. Pada akhirnya, kita sama-sama manusia yang senang menonton film. Buat apa saling merendahkan satu sama lain?