Tag Archives: oscar

55 Years of Julianne Moore – Better Late than Never

Ada sebuah ungkapan yang cukup populer di seluruh dunia yang disebutkan dengan berbagai macam bahasa: “better late than never” (lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali). Selama dinominasikannya Julianne Moore sebagai Best Supporting Actress of Oscars 1998 di film Boogie Nights sampai pada akhirnya ia mendapatkan penghargaan Best Lead Actress di film Still Alice, dapatkah kita katakan bahwa penghargaan tersebut sedikit terlambat untuk sampai kepadanya?

“Only five people got nominated in that category, and that’s not very many people. So I did all right.” – on losing her Oscar 2000 nomination.

Sampai saat ini terhitung 76 proyek yang telah ia selesaikan, dan aktris berdarah Inggris-Amerika yang mengawali karir aktingnya lewat opera sabun berjudul As The World Turns ini bisa dikatakan sebagai pribadi profesional yang produktif, total, namun tetap rendah hati. Dia tidak percaya dengan glamorisme dan hedonisme meskipun kejayaan Hollywood telah membesarkan namanya. Dia percaya bahwa kesahajaan hidup akan membuat dirinya lebih maksimal dalam menyelesaikan setiap pekerjaan, dan konsistensi gaya hidup serta lima nominasi Oscar yang telah ia kumpulkan sejak 1998 telah membuktikan kebenaran pahamnya. Pada artikel yang dilansir oleh Entertainment Weekly, ia berkata bahwa ia selalu membaca setiap skrip yang datang padanya dari awal sampai akhir, baik yang ia terima maupun tidak. Dia tidak pernah membiarkan agennya untuk mendikte skrip seperti apa yang pantas baginya. Hal ini juga yang mungkin membuat filmografinya cukup banyak diwarnai oleh film-film musim panas Box Office seperti Seventh Son, Carrie, Non-Stop, dan The Hunger Games: Mockingjay pt.1 & 2.

”The time that I would have been reading novels for pleasure, that goes out the window.” – on reading every script she received.

Ada ketidakadilan yang cukup kejam bila kita membahas kehebatan akting Julianne Moore hanya lewat peran-peran yang membuat ia dinominasikan di Academy Awards. Sejak Short Cuts, film ambisius tentang perjalanan kehidupan yang mengisahkan 22 karakter dalam 9 cerita berbeda yang saling berkaitan, akting Julianne Moore sebagai Marian Wyman dinilai sangat berani dan mengejutkan bagi kritikus film saat itu, mengingat bahwa dia masih sekedar aktris opera sabun sebelumnya. Lewat film tersebut, Todd Haynes, sutradara film independen yang sekarang menghentak jagad perfilman Hollywood lewat Carol, tertarik untuk mengajaknya berperan di sebuah film thriller berjudul Safe, di mana ia berperan sebagai Carol White, seorang istri paranoid yang merasa bahwa dia alergi terhadap segala sesuatu di sekitarnya, entah apapun itu. Banyak yang beranggapan bahwa film itu adalah penampilan terbaiknya sepanjang masa, namun malang rasanya ketika ia tidak mendapatkan penghargaan yang sepadan.

“I try to make my characters as specific as I can.” – on Still Alice, 2015.

Nominasi Oscar baru datang padanya setelah ia memerankan seorang veteran bintang porno bernama Amber Waves di Boogie Nights. Aktingnya yang menonjolkan banyak lapisan emosional dan kemampuannya meracik segala komplikasinya menjadi manusiawi dan alamiah tanpa harus membumbuinya dengan melodramatisasi yang dangkal (terlambat) dinilai oleh AMPAS sebagai sebuah terobosan yang jenius. Terlebih, dia harus puas untuk terpilihnya Kim Basinger sebagai Best Supporting Actress of Oscars 1998 di film L.A. Confidential, melangkahinya dan tiga nominee lainnya.

Karir terus berjalan. Nama Julianne Moore sebagai aktris yang handal memerankan wanita-wanita dengan gangguan mental pun melesat walaupun bergerilya hanya di kalangan para penikmat film. Orang-orang awam penonton Box Office musim panas pada saat itu hanya mengenalnya sebagai Sarah Harding, seorang paleontologis, sementara ia berjaya di film-film festival dengan banyak memorable scene seperti adegan “Strongly Vaginal Art” di The Big Lebowski  dan adegan “Motherf*cker” di Magnolia. Nominasi demi nominasi ia terima di film-film berikutnya, seperti The End of The Affair, The Hours, dan Far From Heaven. Entah apa yang membuat penampilannya yang dahsyat dan meledak-ledak di film-film seperti Magnolia, A Single Man, dan Maps to The Stars bagaikan luput dari perhatian AMPAS.

Di luar layar, tidak hanya dikenal sebagai wanita yang secara vokal menyuarakan dukungannya terhadap kebijakan-kebijakan politik liberal, Julianne dikenal sebagai pribadi yang sangat keibuan dan mencintai keluarganya sama dalamnya seperti ia mencintai karirnya sebagai seorang aktris. Untuk itu, ia berkomitmen untuk tetap menjaga prioritas gaya hidupnya pada karir dan keluarga. Tidak ada yang lain.

“What did [Gustave Flaubert] say? ‘Be ordinary in your life so that you can be violent and original in your work!’ I believe that.”

Kendati demikian, dalam sebuah wawancara dengan Ben Shepherd di program Good Morning Britain, ia menyatakan bahwa anak-anaknya tidak pernah menonton filmnya, karena filmnya sendiri kebanyakan bukan film-film yang seharusnya ditonton anak-anak. Ia terlalu banyak bicara tentang manusia dan dosa-dosanya, dan terkadang memang ia butuh untuk telanjang dan akan banyak sekali adegan hubungan seksual yang tidak mungkin dilihat oleh Caleb dan Liv. Pola hidup yang memang sepertinya agak aneh, namun tidak mustahil untuk dilakukan. Sutradara Todd Haynes pun mengakui konsistensi Julianne sebagai seorang ibu dan aktris profesional. Dia menyebut Julianne sebagai seorang perempuan yang tahu aturan-aturan apa saja yang harus ia mainkan agar kedua prioritas tersebut mampu ia jaga dengan baik.

”She has reached her level of success and stardom completely on her own terms.” – Todd Haynes, on Julianne Moore.

Ia tercatat memiliki peran penting sebagai ambassador dari Save the Children, sebuah gerakan sosial yang menangani anak-anak pra-sejahtera dan sampai sekarang sudah mampu menjangkau 70,000 jumlah target di Amerika Serikat per tahun. Di website resmi Save the Children, dinyatakan bahwa Julianne telah berkontribusi penuh untuk memastikan anak-anak pedesaan agar dapat membaca. “One thing I say about reading to children is that you can really, you can do anything if you can read,” ungkap Julianne. Ia pun memiliki respon yang cerdas terhadap publik yang nyinyir terhadap kepeduliannya yang terlihat seperti terbatas hanya pada anak-anak di Amerika. “It’s not that I don’t believe there are many, many needy causes all over the world, particularly in the Third World, but I do believe in terms of poverty in our country, often, people hide in plain sight,” katanya, seperti dilansir oleh CNN. “There’s a refusal, because we have so much in the United States. There’s sometimes a refusal to acknowledge what’s going on right here.”

Ia mencintai anak-anak, bukan dalam pandangannya sebagai seorang ibu, namun sebagai seorang anak. Istri dari Bart Freundlich ini telah menulis buku berjudul Freckleface Strawberry, yang ia ambil dari nama julukan yang ia dapat oleh teman-temannya sewaktu kecil. “In grade school I was a complete geek. You know, there’s always the kid who’s too short, the one who wears glasses, the kid who’s not athletic. Well, I was all three,” katanya. Buku tersebut dikemas dengan cerita yang sangat familiar dan membawa pesan penting tentang penerimaan terhadap diri sendiri.

Kita mungkin bisa bebas beropini tentang terlambat atau tidaknya Julianne Moore mendapat penghargaan paling bergengsi dalam ranah seni peran film tersebut, namun ia telah memenangkan hati dunia sejak pertama kali ia menunjukkan totalitasnya sebagai seorang aktris profesional dan mendapatkan nominasi pertamanya di tahun 1998. Lagipula, bukan Academy Awards, Golden Globes, BAFTA, Cannes, atau festival-festival film mewah lain yang memutuskan apakah seorang aktris bisa disebut sebagai yang terbaik. Lalu apa? Net worth, jumlah film yang telah dibintangi, atau kecantikan fisik yang tidak pernah memudar seiring usia bertambah? Bukan. Komitmen mereka terhadap kehidupan, profesionalitas karir, dan konsistensi pesan yang mereka bawakan dengan kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat yang membutuhkanlah yang membuat mereka patut untuk mendapat penghargaan yang pantas dari dunia. Menjadi yang terbaik bukan berarti harus mengalahkan pesaing-pesaing lain di dunia akting. Menjadi yang terbaik artinya mampu untuk mengalahkan iblis dalam diri sendiri, meningkatkan kualitas hidup dari waktu ke waktu dengan memberikan yang terbaik dan merayakan kebahagiaan sesederhana mungkin bersama orang-orang yang mereka sayangi. Menjadi yang terbaik bukanlah demi kekayaan material ataupun ketenaran komersil. Menjadi yang terbaik adalah demi menginspirasi orang-orang untuk berbuat baik, menginspirasi dunia untuk menjadi lebih baik.

Julianne Moore tidak pernah terlambat untuk menjadi yang terbaik dari dirinya sendiri.

“When someone says, ‘I’m not political’, I feel like what they’re saying is, ‘I only care about myself. In my bathtub. Me and my bathtub is what I care about’.”

Seperti pernyataan di awal paragraf, better late than never, so happy 55th birthday, Julianne Moore. Live your Oscar.

Bridge of Spies (2015) – Every Person Matters

Ada alasan yang cukup valid mengapa Steven Spielberg menjadi salah satu figur yang paling penting di dalam sejarah pembuatan film. Bukan hanya karena dia yang merancang Jaws, Indiana Jones, dan Jurassic Park yang telah menghiasi masa kecil banyak orang dan mengubah warna film Blockbuster Hollywood menjadi seperti sekarang, bukan. Spielberg menjadi legenda perfilman dunia karena di samping film-film yang telah disebutkan tadi, ia juga telah membuka jendela hati penontonnya dan menggambarkan sebuah kehidupan manusia dan fungsinya dalam sebuah tatanan sosial lewat gaya naratifnya yang merangkul dengan keteguhan hati tokoh utamanya yang cenderung lugu, awam, namun unik dan membawa perubahan tanpa terkesan menceramahi di film-film lainnya. Lewat film terbarunya Bridge of Spies yang diangkat dari kisah nyata ini, ia kembali berbicara tentang hal yang sangat penting: Nasionalisme vs HAM.

Ada suatu stereotipe yang digunakan sebagai formula narasi dalam setiap film spy action-thriller bahwa orang-orang yang mengabdi di bidang intelijen akan dihapus identitas kenegaraannya dan dicabut Hak Asasi Manusianya sebelum menjalankan satu tugas penting demi keamanan nasional. Mereka bukan hanya tidak akan diakui oleh negaranya, namun juga diwajibkan untuk bunuh diri jika mereka gagal dalam tugas. Demi keamanan nasional. Tentunya, dengan gaya narasi yang berfokus pada super-heroisme sang protagonis dalam menghadapi ancaman demi ancaman yang menantang dari sang antagonis, kita akan dibuat lupa terhadap betapa manusiawinya mereka. Betapa dekatnya mereka dengan kita. Bridge of Spies menantang stereotipe ini dengan menjadi tesis tentang kemanusiaan di dalam patriotisme intelijen. Lewat film yang ditulis oleh Matt Charman & Coen Brothers ini, kemanusiaan para petugas intelijen tersebut ditunjukkan dengan sangat halus. Layaknya di Tinker Tailor Soldier Spy, petugas intelijen digambarkan secara realistis sebagai pemberi, penerima, dan penerjemah informasi penting tanpa harus melakukan aksi-aksi bela diri, penembakan, atau praktik misoginis dengan menaklukkan wanita-wanita dengan status penting seperti anak presiden atau kepala institusi. Loh, jadi apa yang dilakukan mereka untuk menghabiskan waktu? Melukis, membaca buku, atau mengukir. Sesederhana itu, sesendiri itu.

Film ini dibuka dengan sebuah shot perspektif yang memperlihatkan seorang tua yang sedang melukis dirinya sendiri dengan kanvas di sebelah kanan dan cermin di sebelah kiri. Badan orang tua tersebut membelakangi kita sehingga kita figur yang bisa kita tangkap dari orang tua itu hanyalah refleksi natural dari cermin dan hasil interpretasi orang tua tersebut terhadap dirinya sendiri yang juga ia tangkap lewat cermin dan ia manifestasikan lewat lukisan. Shot pembukaan ini secara mengagumkan mampu menggambarkan filosofi penceritaan film ini, di mana cermin adalah sumber cerita yang filmmaker tangkap dari berbagai macam sumber sejarah dan di mana lukisan adalah film yang berhasil filmmaker buat. Kebenaran sejati ada di tengah, tidak bersembunyi, hanya tidak mampu kita lihat dikarenakan keterbatasan yang kita punya. Meskipun begitu, ia menjembatani di antara keduanya, yang merupakan konsep yang juga merupakan judul dari film ini, Bridge of Spies.

Shot tersebut hanyalah satu dari sekian banyak simbolisme yang secara halus dan teratur Spielberg terapkan di dalam film yang berdurasi 2 jam 15 menit ini. Kombinasi kekuatan pemilihan komposisi dan warna dari Janusz Kaminski sebagai DoP dan Michael Kahn sebagai editor serta skoring yang minimalis dari Thomas Newman—yang mana ketiganya telah lama bekerja dengan Spielberg sejak Schindler’s List dan The Lost World: Jurassic Park—mampu menciptakan efektifitas narasi dan membangun skrip yang ditulis oleh Coen Brothers & Matt Charman menjadi tidak hanya padat oleh semantik, namun juga mampu menimbulkan sebuah ketegangan yang membuat penonton awam bahkan mampu menerima absensi dari aksi bela diri maupun baku tembak dalam film yang bagaimana pun masih bisa disebut spy-thriller ini. Alur film—yang awalnya gue kira non-linear—pun ternyata adalah simbolisme dari sebuah konsep ‘jembatan’ yang sangat halus. Di awal Act 1, kita akan melihat Rudolph Abel (diperankan oleh Mark Rylance), sang mata-mata Soviet, dari sudut pandangnya sendiri yang kemudian di pertengahan Act 1 dilanjutkan dengan sudut pandang Jim Donovan (diperankan oleh Tom Hanks) sebagai pengacara dengan integritas profesional tinggi yang ditugaskan untuk membela Abel. Begitupun di awal Act 2, kita melihat Francis Gary Powers (diperankan oleh Austin Stowell) dari sudut pandangnya sendiri sebagai pilot militer yang direkrut menjadi mata-mata tanpa mempunyai pengalaman sebelumnya, yang kemudian dilanjutkan kembali dengan sudut pandang Jim Donovan yang melihat peluang sempurna untuk menjembatani kesepakatan yang menguntungkan dua pihak. Act 3 pun berfungsi sebagaimana seharusnya sebuah jembatan yang telah dibangun dengan penuh pertimbangan dan berlandaskan pondasi yang kokoh.

Propaganda nasionalisme dan patriotisme yang sistematis memang akan menjadikan targetnya egois dan buta, melihat setiap manusia tidak sama rata. Seperti halnya propaganda anti-komunisme pada era Perang Dingin yang bahkan masih berdampak pada sebagian negara-negara penganut demokrasi liberal. Bahkan Indonesia yang Pancasila-is pun masih tenggelam dalam propaganda bahwa orang komunis itu tidak bertuhan dan pantas dihukum mati. Bridge of Spies tidak berceramah tentang ketuhanan, hitam putih moralitas, ataupun kemanusiaan. Lewat karakter-karakter Jim, Abel, Francis, serta agen CIA dan KGB lainnya, film ini hanya menceritakan manusia-manusia yang menjalankan tugasnya dan mengerti resiko apa yang harus mereka hadapi. Kendati memperlihatkan dua sisi koin lewat penjelasan paham liberalis-komunis, Bridge of Spies lebih memilih untuk melakukannya dengan menunjukkan kontras perspektif masyarakat sipil dan pemerintahan, yang jika mengacu pada filosofi politik adalah ‘dua jenis binatang yang berbeda’. Tidak melulu serius, film ini juga mempunyai lelucon ringan yang dieksekusi dengan familiar khas film-film Spielberg sebelumnya. Biarpun sebenarnya tidak sebegitu ringan untuk ditonton setelah bekerja seharian penuh, film Spielberg yang satu ini tidak boleh dilewatkan oleh para pecinta film festival karena dipastikan akan menjadi kandidat kuat pada Oscar 2016 nanti.

Distopiana’s Rating: 4.5 out of 5.

9 Tokoh Anti-Hero Modern Terfavorit dalam Film

Akui saja, kita tahu bahwa kita mulai dewasa ketika kita menganggap ‘anti-heroes’ itu seksi dan layak dicintai. Mereka adalah representasi dari betapa lemah dan tidak berdayanya kita dalam mencoba untuk merangkak naik menuju puncak tertinggi dari pandangan idealis kita terhadap kesempurnaan. Di mata kita yang sudah terbiasa mencicipi pahitnya realita, ‘anti-heroes’ layaknya malaikat yang jatuh ke Bumi dan menjelma menjadi berbagai macam wujud: pecundang yang baik hati, penjahat yang menyedihkan, ataupun seorang idealis humanis yang tolol. Dalam kebudayaan film modern, ada beberapa tokoh ‘anti-hero’ yang patut kita simak dan perhatikan bagaimana mereka mampu merefleksikan diri kita dalam kehidupan nyata.

1. Riggan Thomson – Birdman (2014)


Why?: Impian paling sederhana dari seorang pecundang adalah untuk tidak dianggap sebagai pecundang. Sesederhana itu, dan Michael Keaton berhasil memerankan seorang Riggan Thomson yang ingin lepas dari bayang-bayang masa lalunya sebagai maskot superhero komersil anak-anak dan ingin membuktikan bahwa sebagai individu ia memiliki talenta seni yang pantas untuk diakui, dan seperti layaknya seorang ‘anti-hero’, he overestimated himself too much.

2. Andrew Neiman – Whiplash (2014)


Why?: Siapa yang tidak jatuh cinta dengan anak muda menyedihkan dengan idealisme dan ambisi buta untuk menjadi musisi legendaris? Siapa yang tidak merasa simpati ketika dia harus berhadapan dengan guru brutal yang kejam dan bengis demi mencapai mimpinya? Terlebih lagi, siapa yang tidak terpesona melihat pemuda ini merangkak keluar dari mobil dan berlari memaksakan diri bermain drum di panggung audisi dengan darah yang masih berceceran di sekujur tubuhnya?

3. Frank & Roxy – God Bless America (2012)

Why?: Mereka berdua sama-sama membenci apa yang kita benci. Pembodohan publik, disfungsi sosial, dan kefanatikan. Mereka merupakan perwakilan dari imajinasi terliar kita dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut: “Bunuh-bunuhin aja sampai semua sumber masalahnya mati, kan kelar tuh”. Kita tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan salah. Tapi kita mampu memaklumi mereka dan pada akhirnya ikut bersimpati terhadap miringnya jalan pikiran mereka dan konsekuensi yang harus mereka hadapi di akhir cerita.

4. Yu Honda – Love Exposure (2007)

Why?: Pada saat diwawancarai di acara BAFTA: A Life in Pictures, David Fincher, salah satu sutradara ternama Hollywood, mengatakan bahwa “Basically, people are perverts.” Inilah kenapa gue memasukkan Yu sebagai salah satu anti-hero terfavorit, karena dia mampu menunjukkan betapa mesumnya kita, terutama para pria, dan bagaimana kebodohannya membuat dia melakukan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan, seperti mengabdi di perguruan mesum dan menjadi seorang maestro dalam memotret celana dalam wanita. Lagi-lagi kita akan merasa ikutan malu dibuatnya.

5. Mark Zuckerberg – The Social Network (2010)

Why?: Terlepas dari akurat atau tidaknya penggambaran sang inventor Facebook dalam film garapan David Fincher ini, Jesse Eisenberg mampu menjadi karakter nerd yang mampu membuat pecundang asmara dan sosial seperti kita merasa simpatik dan terhubung satu sama lain. Gue pribadi sih, jadi merasa bersyukur mengetahui bahwa gue nggak sendirian, dan orang-orang sehebat Mark ternyata mampu membuat sebuah alternatif yang (nyaris) sempurna terhadap pergaulan dan jejaring sosial yang tradisional. Coba deh, sebelum ada Facebook, para nerd cuma berani show-off dan curhat tentang dirinya di dalam diary, bukan di status updates.

6. Sonny Wortzik – Dog Day Afternoon (1975)

Why?: Dia adalah tipe penjahat yang sebenarnya bukan orang jahat dan nggak bisa jadi jahat. Pada awal perampokan bank, semua berjalan dengan menegangkan sampai suatu ketika Sonny bilang “I’m a Catholic. I don’t want to hurt anybody.” Kemudian semua akan berubah menjadi sangat menyenangkan saat kita tahu bahwa penjahat konyol yang diperankan oleh Al Pacino ini merampok bank untuk membiayai operasi transgender pacarnya.

7. Neville Longbottom & Severus Snape – Harry Potter Series (2001 – 2012)


Why?: Alright, alright. Calm down, Muggles, I’m on your side! Gue mengalami perkembangan pola pikir dan beranjak dewasa bersama Harry Potter series. Selain trio wizards yang menjadi tokoh utama, kedua orang ini adalah penyihir-penyihir yang ada di belakang Harry dan ikhlas serta setia melindunginya. Neville Longbottom, dengan karakternya yang pada awalnya introvert dan penakut, ternyata berani menolak untuk tunduk pada kekuasaan tertinggi kegelapan Lord Voldemort dan dia pula yang menggotong mayat Harry sambil berpidato di depan kubu Voldemort dan Hogwarts bahwa “Harry Potter akan selalu hidup di dalam hati kita!” Dan si malang Severus Snape? Dia adalah simbol dari lelaki lemah yang memilih untuk tetap setia pada cinta terakhirnya yang tak akan pernah berbalas. Severus Snape adalah kita. Hidup Severus Snape!

8. Tyler Durden – Fight Club (1999)

Why?: Di dalam bukunya yang berjudul “Stranger than Fiction”, Chuck Palahniuk, yang juga menulis novel Fight Club yang akhirnya diadaptasi menjadi sebuah film oleh David Fincher ini memberikan penjelasan bahwa semua cerita yang ia tulis berkisah tentang orang-orang yang mencari cara-cara unik untuk berinteraksi dengan kehidupan sosialnya. Inilah yang sebenarnya berusaha diceritakan oleh Fight Club. Kebanyakan orang lebih terfokus pada permasalahan psikologi yang dialami Tyler dan narator, tapi mereka lupa bahwa film ini banyak membuat perumpamaan terhadap manusia-manusia yang membenci dirinya sendiri dan lebih memilih untuk tenggelam dan hilang dalam identitas palsu yang mereka buat demi sebuah penerimaan.

9. Travis Bickle – Taxi Driver (1976)

Why?: Ngga perlu nanya kenapa sih kalau kalian udah nonton salah satu masterpiece dari Martin Scorsese ini. Travis Bickle adalah icon modern dari Sisyphus. Dia adalah produk dari sebuah pemikiran eksistensialisme manusia-manusia kesepian dan bodoh yang ingin mengejar sebuah konsep kesempurnaan dari idealisme mereka. Travis tahu apa yang dia inginkan, dan dia tahu itu semua tidak akan jatuh tiba-tiba di atas tempat tidurnya, jadi ia terus berusaha, meskipun lama kelamaan dia hanya terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Lagipula, bukankah kita juga seperti itu?

Long live Anti-Heroes!

Honorable Mention:

Frank Darbo – Super (2009), Dave Lizewski – KickAss (2010), Mike & Mallory – Natural Born Killers (1994), Vincent & Jules – Pulp Fiction (1994).

Whiplash (2014) – Neiman and Fletcher Love Story

Anda bosan dengan film-film musikal yang dipenuhi dengan lagu-lagu pop easy-listening? Jenuh dengan kisah cinta dan persaingan remaja bau kencur yang diiringi oleh musikal ala-ala Disney yang dinyanyikan dengan suara cempreng? Ingin melihat sebuah film musikal yang ganteng, seksi, dan maskulin tanpa dibumbui terlalu banyak romansa klise dan menye-menye? Dengan durasi 106 menit, sebuah film berjudul “Whiplash” akan mengabulkan keinginan anda!

Film ini adalah cerita tentang ambisi buta seorang pria bernama Andrew Neiman (diperankan oleh Miles Teller) untuk menjadi seorang drummer jazz legendaris. Demi mencapai mimpinya, ia harus menarik perhatian Fletcher (diperankan oleh J.K. Simmons), seorang guru penting di New York Music School dan juga konduktor di sebuah band orkestra jazz terbaik di Amerika. Segala cara dan pengorbanan dilakukannya, termasuk meninggalkan gadis idamannya yang telah berhasil ia kencani (diperankan oleh Melissa Benoist) dan membiarkan dirinya dilecehkan dengan kekerasan fisik yang dilakukan berulang kali oleh sang Fletcher, yang dikenal memiliki temperamen tinggi serta metode pelatihan yang sangat keras sehingga semua muridnya takut dengannya.

Rumusan permasalahan yang menjadi akar dari keunikan cerita ini adalah: “Seberapa jauh anda akan melangkah demi mengejar mimpi anda? Seberapa gila anda akan mendorong diri anda sendiri?” Memang terdengar biasa saja, namun cara Damien Chazelle—sang sutradara—menuturkan problema ini dalam sebuah hubungan antara seorang pelajar dengan gurunya dan ambisi mereka yang saling kejar mengejar satu dengan yang lain mampu membuktikan kepada pasar bahwa ‘ambisi’ merupakan suatu tema yang bisa mengalahkan ‘cinta’ yang lambat laun membasi karena diolah terus menerus tanpa membuahkan evolusi yang nyata. Terlebih, performa Teller dan Simmons serta editing dan sinematografi film ini—which is more to European style than Hollywood—akan membuat anda bergidik dan kesulitan untuk menenangkan diri sepanjang film berlangsung.

Ada suatu pernyataan penting yang diutarakan oleh Fletcher dalam film ini. “The most dangerous two words in the English language are good job.” Sebuah kalimat yang membuat kita berfikir apakah memang suatu bakat yang luar biasa dapat dipanen dari pembudidayaan potensi dengan metode radikal seperti yang Fletcher demonstrasikan? Dipandang dari berbagai sudut, hal ini merupakan sesuatu yang abu-abu dan menarik untuk diperdebatkan, meskipun mungkin memang secara empiris terbukti metode seperti ini menciptakan kualitas-kualitas prima. Bagi sebagian orang, hal ini juga membuat mereka mempertimbangkan apakah karakter Fletcher bisa dikategorikan sebagai seorang protagonis, mengingat di film ini karakter Neiman lah yang paling sok tahu, merasa paling benar, dan ambition-driven.

Di samping bermacam kegantengan visual, kematangan cerita, serta akting luar biasa yang akan memanjakan mata dan pikiran, musik-musik yang disuguhkan di film ini juga akan membuat telinga anda orgasme berkali-kali—especially the ending, oh what an ending. Whiplash mungkin akan menjadi sebuah tolak ukur baru terhadap film-film drama musikal lain ke depannya, dan jika prediksi gue yang sok tahu ini ternyata benar, then it’s gonna be jizzy jazzy!

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.