Tag Archives: raditya dika

Koala Kumal (2016) – Patah Hati dan Konsistensi Realita

Setiap drama sejatinya adalah studi kasus tentang emosi manusia, dan setiap komedi sejatinya menyampaikan studi kasus tersebut dengan kritis dan menggelitik. Laurence Olivier, aktor Inggris pada abad ke-20, pernah berkata bahwa,

“The office of drama is to exercise, possibly to exhaust, human emotions. The purpose of comedy is to tickle those emotions into an expression of light relief; of tragedy, to wound them and bring the relief of tears. Disgust and terror are the other points of the compass.”

Bicara tentang Koala Kumal berarti bicara tentang Raditya Dika. Saya pernah berdiskusi dengan kerabat sesama film blogger, Picture Play, dan kami bersepakat bahwa Raditya Dika mempunyai potensi untuk menjadi Woody Allen-nya Indonesia. Mereka berdua mempunyai keresahan terhadap hal yang sama: cinta dan budaya berkencan di daerah asal mereka masing-masing. Mereka sama-sama dengan mudah menerjemahkan keresahan mereka lewat bahasa komedi mereka masing-masing (Woody nihilis, Dika sarkastis). Sayang, ada satu hal yang menjadi kekurangan besar Dika: ia terlalu nyaman bermain di ranah aman, di kerak sebuah persoalan tanpa berani menggali ke dalam inti sehingga pesan yang ingin ia sampaikan terkesan lemah dan tidak kritis.

Seperti yang telah tercantum di tagline, film komedi romantis ini berkisah tentang perjalanan seorang Dika untuk mendewasakan dirinya lewat patah hati. Putus cinta di ujung tanggal pernikahan, Dika mencoba untuk ‘move-on’ dengan berbagai cara yang konyol dan garing dibantu oleh Trisna (diperankan oleh Sheryl Sheinafia) yang tomboy. Judul Koala Kumal sendiri diambil berdasarkan kisah nyata seekor Koala dari New South Wales yang pulang kembali ke rumahnya di hutan setelah ditebangi. Ia kebingungan saat sampai karena rumah yang dulu ia naungi tidak lagi sama baginya. Ia merasa asing, seperti saat kamu mencium bau kamar yang biasa kamu tiduri menjadi seperti bau orang lain.

Film ketiga yang ia sutradarai setelah Marmut Merah Jambu dan Single ini mengalami peningkatan sinematik yang cukup signifikan. Dika seperti mulai mengerti bagaimana caranya menggunakan camera movement, komposisi, serta momentum editing untuk membuat sebuah komedi visual yang klasik dan tetap segar ditonton. Soal plotting dan cara Dika menyajikan setiap adegan dengan warna tematik dan kontekstual yang kental patut diacungi jempol. Sekuens yang paling saya sukai adalah saat adegan Dika datang ke rumah Trisna untuk minta penjelasan sampai kemudian selesai di adegan Dika lumpuh di atas panggung. Skema dramatik cerdas yang dibumbui referensi humor klasik ala-ala Marx bersaudara dan Warkop DKI inilah yang membuat saya menyandingkan dia dengan seorang Woody Allen.

Saat menonton film ini di bioskop, saya menyaksikan langsung hampir semua orang yang menonton tertawa terbahak-bahak di setiap momentum jokes. Mungkin, cuma saya yang tidak tertawa, meskipun saya mengagumi kecerdasan Dika dalam menulis materi komedi yang berbicara secara sarkastis dan realistis (meskipun kurang kritis) tentang budaya berpacaran pemuda Jakarta yang memang tidak jelas. Tapi saya tidak tertawa. Maka dari itu, saya mencari tahu alasan kenapa jokes Dika yang menurut saya cerdas itu tidak berhasil menggelitik saya, dan saya menemukan jawabannya. Saya tidak bersimpati pada tokoh-tokoh di film ini karena saya tidak bisa mempercayai karakter mereka, termasuk Dika sendiri. Karakter-karakter mereka bersifat dua dimensi dan cenderung tidak konsisten dengan realita yang dibentuk oleh cerita. Jika Dika berencana membuat alam cerita yang dipenuhi dengan karakter komikal seperti Trisna dan James, maka tokoh Andrea dan Kinara yang karakternya sangat aktual dengan gadis-gadis di kehidupan nyata tentunya adalah sebuah kesalahan fatal yang menggoyahkan keajaiban make-believe cerita Koala Kumal. Dialog antar tokoh pun terlalu cheesy, teeny-kind-of-preachy soal cinta tanpa ada ulasan yang lebih dalam dan kritis tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Alhasil, kemampuan film Koala Kumal dalam memberikan kritik romantika remaja dengan pesan pendewasaan emosional sama lemahnya seperti nasihat perbaikan sebuah hubungan dari teman SMA kamu yang jumlah mantan pacarnya sudah sampai dua digit.

Seniman dengan bakat sehebat apapun, apabila berkarya dengan tidak jujur dan setengah hati, maka hasilnya tidak akan maksimal. Saya melihat Dika sebagai orang cerdas dengan bakat luar biasa yang—sayangnya—terjebak dalam pengkultusan publik yang melihat dirinya lewat persepsi yang salah. Sedari awal, orang mengenal Dika sebagai blogger yang eksis lewat humor-humornya tentang kejombloan dan cinta monyet…atau brontosaurus. Setelah saya menonton Koala Kumal, saya semakin yakin bahwa Dika sebenarnya adalah seorang yang kritis, sedikit misantropis, dan mempunyai idealisme kuat yang sayangnya terkekang oleh konsistensi dari realita kehidupannya. Ada beberapa detail mise-en-scene yang sempat mencuri perhatian saya, salah satunya adalah kutipan Anais Nin, seorang tokoh esais abad 20 yang terkenal frontal, yang menghiasi dinding kamarnya. Cara dia mengalegorikan kehidupan koala New South Wales dengan pasangan yang balikan setelah patah hati juga membuktikan bahwa Dika sebenarnya punya kedalaman batin yang jauh melebihi dialog-dialog medioker yang ia tulis di film ini.

Namun jika ia tidak berani untuk mengambil langkah keluar dari zona aman, gagasan-gagasan besarnya tentang cinta dan patah hati akan membusuk di dalam kenyamanan selebritas dan popularitasnya.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.