Tag Archives: romance

You are the Apple of My Eye (2011) – Chances We Didn’t Take

Masa muda tentunya adalah masa-masa yang paling indah. Bukan hanya tentang manis pahitnya percintaan, kita juga belajar tentang indahnya persahabatan, hubungan kekeluargaan, serta lika-liku kehidupan. Begitu pula dengan film bergenre komedi romantis garapan Giddens Ko yang diangkat dari novelnya dengan judul yang sama, You are the Apple of My Eye. Tidak hanya menjadi box office di negaranya sendiri, film ini merupakan salah satu bukti bahwa dunia perfilman Taiwan juga mampu bersaing dalam skala internasional yang lebih besar.

Para tahun 1994, dikisahkan tentang tujuh orang sahabat yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Our heroines Ko Ching-teng (diperankan oleh Ko Chen-tung) is your typical mischievous bad boy yang tidak pernah belajar dan selalu membuat onar bersama kawan-kawannya, sedangkan Shen Chia-yi (diperankan oleh Michelle Chen) adalah seorang murid teladan yang bukan hanya pintar secara akademis, tetapi juga cantik dan memiliki tekad yang kuat untuk membahagiakan orang-orang disekelilingnya.

Tetapi, tunggu dulu! Jika pikiran skeptikal bahwa You are the Apple of My Eye tidak lain adalah sebuah cerita klasik “good girl meets bad boy” mulai terbesit di benak anda, then everything is just an illusion.

“I was wrong. In fact, when you really like a girl, you’d be happy for her. When you see her finding her Mr. Right, you will want them to be together and live a happy life.”

Berbeda halnya dengan film-film komedi romantis yang hanya sekedar menitikberatkan alur cerita pada kisah percintaan pasangan utamanya, You are the Apple of My Eye mengulas tentang bagaimana sekelompok individu dengan segala sita dan kebiasaan yang berbeda 180 derajat, mampu mengalahkan ego mereka masing-masing demi sebuah persahabatan yang tulus. Ko Ching-teng yang awalnya nakal dan tidak pernah memperdulikan apapun yang ada disekitarnya, rela belajar mati-matian demi mendapatkan nilai yang baik untuk lulus ujian masuk perguruan tinge. Berikut dengan Shen Chia-yi, yang juga belajar bahwa kepintaran seseorang bukanlah segalanya. Diwarnai dengan kelima sahabat mereka lainnya yang tidak kalah kompak dan berhasil mendatangkan tawa, we are left with a massive relatable feeling that will make us reminisce our old days youth.

And, of course . . . dibalik segala canda tawa yang disuguhkan dalam film ini, penonton juga dibuat menangis terharu saat Ko Ching-teng dan Shen Chia-yi mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah berani mengungkapkan perasaan mereka yang sesungguhnya – in fear of destroying their friendship and themselves – hingga film berakhir dan Shen Chia-yi dipersunting laki-laki lain. Meskipun begitu, dengan eksekusi plot yang luar biasa jujur (dan terkadang menyakitkan) serta sinematografi yang terkesan vintage dan patut diacungi jempol, hal ini merupakan bukti nyata, yang mungkin akan “membangunkan” para pemimpi cinta, bahwa tidak selamanya kisah kasih di SMA akan berakhir bahagia. That sometimes, people grow apart and there’s nothing they can do about it.

Fast forward to the present day, salah satu scene yang (mungkin) meninggalkan kesan terdalam untuk para penontonnya, adalah saat ketujuh sahabat yang sudah sibuk dengan kuliah masing-masing dan berhenti berkomunikasi secara intens, tiba-tiba dikagetkan dengan gempa bumi dahsyat yang mengguncang ibukota Taipei. Refleks, bermodalkan sebuah handphone Nokia tahun 2000an, dengan penuh kekhawatiran Ko Chin-teng berlari keluar area kampusnya demi mendapatkan sinyal untuk menelfon Shen Chia-yi, yang pada akhirnya menjadi titik balik kedua belah pihak untuk memulai semuanya dari awal lagi, meskipun hanya sebatas teman.

Secara garis besar, Giddens Ko berhasil membawa para penonton menaiki sebuah emotional rollercoaster panjang yang bukan hanya membuat sesak di dada, tetapi juga mengajarkan berbagai nilai kehidupan yang tidak kalah pentingnya. Bahwa disaat kita terjatuh dan berada di masa-masa yang paling terpuruk, sahabat sejati akan selalu ada untuk membantu kita kembali berdiri diatas kaki sendiri, apapun masalahnya. Everything was portrayed raw and realistic.

Meskipun begitu, perlu juga diingat bahwa film ini kurang cocok dipertontonkan untuk anak-anak dibawah umur, dengan beberapa uncensored scenes yang terlalu vulgar seperti referensi seksual, nudity dan kata-kata makian yang terkesan sedikit dipaksakan. But, overall, You are the Apple of My Eye is a heartwarming coming-of-age movie that will leave you smiling and crying, as the chances we regret are the chances we didn’t take.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Critical Eleven (2017) – Suka Duka Kesempatan Kedua

Di dunia ini, tidak ada cinta yang sempurna layaknya cerita dongeng. Sekalipun cinta yang larut dalam indahnya kota-kota besar seperti New York, Jakarta dan pesisir Meksiko. Tetapi, apakah dengan kehilangan kita akan belajar untuk saling melengkapi? Diangkat dari novel terlaris karya Ika Natassa, Critical Eleven menceritakan tentang suka duka kesempatan kedua, berikut dengan pilihan hidup yang terkadang tidak sejalan dengan ekspektasi.

Menceritakan tentang Ale dan Anya Risjad, sepasang suami istri dengan kehidupan pernikahan yang serba ada dibawah gemerlap kota New York, Critical Eleven mengangkat sebuah analogi unik yang berdasarkan sebuah istilah populer dalam dunia penerbangan dengan nama yang sama, critical eleven — dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Berdasarkan data statistik, 80% dari kecelakaan pesawat biasanya terjadi pada saat masa-masa kritis tersebut. Sedangkan, dalam novel/film ini, dikatakan bahwa 11 menit pertama dari sebuah pertemuan merupakan masa paling kritis yang akan menentukan kemana sebuah hubungan akan dibawa. 3 menit saat pembentukan kesan pertama, dan 8 menit sebelum perpisahan.

Tetapi, setelah dihadapkan pada realita yang berbanding 180 derajat dengan apa yang awalnya mereka harapkan, apakah 11 menit tersebut mampu menjadi alasan dibalik kekuatan cinta Ale dan Anya?

“Bisa bayangin nggak, kita lewatin jembatan bareng, terus kita bakar jembatan itu. Nggak ada jalan untuk kembali. Aku sama kamu kayak gitu, Nya. Ayo bakar jembatan bareng.”

Mungkin, istilah the calm before the storm sangat pas untuk menggambarkan keseluruhan film Critical Eleven secara general.  Meskipun film ini telah berhasil menyorot berbagai spot legendaris kota New York yang indah, serta teknik pengambilan gambar yang berhasil membuat siapa saja yang menontonnya berdecak kagum, rasanya agak sedikit sulit untuk benar-benar menikmatinya when their marriage life begins to sink faster than the Titanic.

Dengan kehidupan pernikahan Ale dan Anya yang (hampir) sempurna, ditambah dengan berita kehamilan Anya yang tidak disangka-sangka, kedua pasangan ini justru dihadapkan pada suatu kenyataan pahit dimana gelar orang tua yang hampir mereka raih dirampas secara ironis, saat dokter menyatakan bahwa Anya mengalami keguguran. The fact that it’s almost impossible to keep themselves composed over the searing pain of losing their son, and the aftermath of every single thing that happened beyond their consent is truly heartbreaking. Tidak hanya itu, pada saat penonton dibuat menangis sendu di klimaks cerita, even more plot twists — yang meskipun relevan, terkadang sedikit antiklimaks dan dipaksakan — start to bombard the remaining scenes until the very, very end.

Tetapi, untuk memuaskan hasrat para penonton yang telah sukses dibuat tersenyum dan menangis tidak karuan selama kurang lebih 135 menit, (dengan penuh kebingungan) Critical Eleven pun memutuskan untuk tidak mengikuti alur epilog yang ada di dalam novel, serta mengikuti tren yang tetap berada dalam comfort zone industri perfilman: a happy, fairytale-like ending.

Meskipun begitu, tidak dapat dikatakan bahwa Critical Eleven is not worth the watch. If you’re a sucker for adult-themed melodramatic romance with fancy settings, this one’s for you. Dengan sinematografi yang patut diacungi jempol, kata-kata mutiara penuh makna yang tidak henti-hentinya dilontarkan oleh Ale dan Anya, chemistry para pemain, eksistensi pemeran pendukung yang tidak kalah besar impact-nya, serta antusiasme penonton yang kebanyakan telah lebih dulu membaca novelnya, Critical Eleven merupakan sebuah film yang tepat untuk menggambarkan fantasi dan romantisme kehidupan pernikahan, serta sakitnya kehilangan orang yang paling kita cintai dengan tulus, bahkan sebelum kita dapat benar-benar bertatap muka dengan mereka.

7 Film Terbaik untuk Wanita-Wanita Hopeless Romantics

Setelah memberikan rekomendasi film-film terbaik untuk para pria pencundang asmara, kini saatnya penulis merekomendasikan film-film terbaik untuk para wanita-wanita hopeless romantics.

Tidak semua yang kita harapkan dapat berjalan mulus. Terkadang, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan-pilihan sulit yang harus kita lewati, dan berusaha untuk menerima segalanya dengan tangan terbuka. Tanpa pilihan-pilihan sulit tersebut, kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya belajar dari kesalahan, mengikhlaskan segala hal yang tidak mudah diikhlaskan, serta menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan yang sudah kita buat dengan seksama. Berikut adalah daftar film-film terbaik pilihan Distopiana yang dapat disaksikan untuk para wanita-wanita hopeless romantics, yang sedang berusaha menerima realita pahit dengan tangan terbuka, dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja selama masih menyisakan harapan.

  1. Something Borrowed (2011) directed by Luke Greenfield

tumblr_n1a9ugpl5E1qgxmqno1_500

Diangkat dari novel Emily Giffin dengan judul yang sama, Something Borrowed merupakan film drama romantis yang sudah pasti akan meninggalkan kesan speechless untuk anda. Diperankan oleh dua aktris ternama seperti Ginnifer Goodwin dan Kate Hudson, diceritakan lika-liku kisah percintaan Rachel White (Goodwin), seorang attorney muda yang bekerja untuk sebuah firma hukum ternama di kota New York. Setelah one-night stand penuh makna yang ia lalui dengan Dex (Egglesfield), seorang pengusaha mapan yang kebetulan merupakan high school crush Rachel sendiri, hidup Rachel berubah 360 derajat saat ia berusaha menyembunyikan perselingkuhannya dengan Dex, yang merupakan tunangan sahabatnya sendiri, serta mengalami mental breakdown berkepanjangan, saat ia tersadar bahwa Dex tidak pernah benar-benar mencintainya.

2. Love, Rosie (2014) directed by Christopher Ditter

tumblr_o6iioslPEt1v0ttqao1_500

Film drama komedi yang satu ini dijamin akan membuat kalian para wanita-wanita hopeless romantics tertawa terbahak-bahak sambil meneteskan air mata. Bagaimana tidak, film yang diangkatan dari novel Where Rainbows End karya Cecelia Ahern ini membahas tentang isu-isu yang masih jarang diperlihatkan kepada masyarakat luas. Mulai dari persahabatan, kehamilan remaja, hingga pencapaian mimpi dan aspirasi. Dikisahkan dua sahabat kecil bernama Rosie Dunne (Lily Collins) dan Alex Stewart (Sam Claflin), yang secara tidak sengaja mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah menemukan keberanian untuk mengakui perasaan mereka. Pada film ini, para penonton juga akan disuguhkan berbagai keindahan yang kota London dan New York tawarkan. Secara tegas, film Love, Rosie mengajarkan kita bahwa timing dan komunikasi merupakan salah satu hal yang paling esensial dalam suatu hubungan.

3. About Time (2013) directed by Richard Curtis

8-The-Time-Travelers-Wife-quotes

About Time merupakan sebuah film karya sutradara sekaligus penulis naskah terkenal bernama Richard Curtis, yang diantara karyanya merupakan Love Actually, Mr. Bean’s Holiday dan Notting Hill. Film ini mengisahkan tenting, Tim Lake (Domhnall Gleeson), seorang laki-laki yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Cornwall di Inggris, yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan waktu. Dengan kemampuan spesial yang ia miliki ini, Tim pun bertekad untuk mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Konflik ceritapun mulai memanas ketika ia memutuskan untuk pindah ke London dan bertemu dengan seorang perempuan asal Amerika bernama Mary (Rachel McAdams) di sebuah restoran.

4. Finding Mr. Destiny (2010) directed by Jang Yoo-jeong

tumblr_n3iinjIZcJ1rw93m3o1_r1_500

Film box office asal Korea Selatan ini menceritakan tentang Seo Ji-woo (Lim Soo-jung), seorang perempuan yang berpergian ke India seorang diri dan bertemu cinta pertamanya, Kim Jong-ok (Woo Ki-jun), seorang dokter handal di negara asalnya. Setelah berpisah dengan Jong-ok, Ji-woo yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa hubungan mereka telah berakhir memutuskan untuk mendatangi sebuah perusahaan biro jodoh terkenal untuk membantunya mencari Jong-ok. Tidak disangka-sangka, Ji-woo justru bertemu dengan Han Gi-joon (Gong Woo), pemilik perusahaan biro jodoh tersebut yang akan membantunya untuk mendapatkan Jong-ok kembali. Bersama-sama, mereka pergi berkeliling Korea Selatan dan dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka mulai merasa nyaman terhadap satu sama lain.

5. One Day (2011) directed by Lone Scherfig

tumblr_mdc62u884v1rodugmo1_500

Film yang diangkat dari novel David Nicholls ini dijamin akan membuat para penonton banjir air mata. Diperankan oleh Anne Hathaway dan Jim Sturgess, film ini mengisahkan tentang persahabatan dua mahasiswa yang baru saja lulus dari University of Edinburgh, Dexter Mayhew (Sturgess) dan Emma Morley (Hathaway). Secara kronologis, film ini menceritakan kisah Dexter dan Emma (terkadang disajikan secara terpisah) yang awalnya bertemu pada tanggal 14 Juli, dan dilanjutkan pada setiap tanggal 15 Juli selama delapan belas tahun berturut-turut. Dengan berbagai konflik yang dilewati pasangan protagonisnya, One Day menyuguhkan berbagai pesan moral tentang cinta, persahabatan, serta serentetan pilihan yang harus mereka buat secara berani.

6. Safe Haven (2013) directed by Lasse Hallström

movie-quotes-quote-safe-haven-Favim.com-836586

Diangkat dari novel bestseller Nicholas Sparks, film ini sungguh berbeda dari adaptasi-adaptasi film Nicholas Sparks lainnya. Safe Haven sendiri menceritakan tentang Erin Tierney (Julianne Hough), seorang istri dari polisi detektif yang berusaha melarikan diri dari Boston, dikarenakan suaminya yang secara diam-diam berperilaku abusive. Setelah memulai hidup barunya di Southport dengan nama Katie Feldman, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Alex Weathey (Josh Duhamel), seorang ayah tunggal yang masih belum bisa melepaskan kepergian istrinya yang meninggal karena kanker. Safe Haven merupakan film thriller romantis yang akan membawa anda menuju sebuah emotional rollercoaster penuh haru dan misteri yang mencengangkan.

7. A Little Thing Called Love (2010) directed by Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn & Wasin Pokpong

tumblr_luuwzqcw5V1r2iejoo1_500

Sleeper hit asal Thailand ini merupakan film yang paling digemari para hopeless romantics. Dengan akting dan penjiwaan para aktornya yang menjanjikan, bagaimana mungkin kita mampu melewatkan film yang satu ini? Dengan alur cerita the-ugly-duck-meets-the-prince-charming yang klise, A Little Thing Called Love dapat dipastikan mengubah perspektif kita tentang the prince charming itu sendiri. Dikisahkan tentang seorang remaja SMA bernama Nam (Pimchanok Baifern) dengan wajah yang tidak cantik dan kepribadian introvert, yang berusaha mati-matian untuk mengubah dirinya demi Shone (Mario Maurer), kayak kelas Nam yang pintar, tampan, dan disukai banyak orang. Dalam perjalanannya untuk mempercantik diri, Nam pun belajar bahwa tidak semua hal yang ia inginkan dapat berjalan sesuai ekspektasinya.

tumblr_mkdru2k7281racrzqo1_

Setelah menonton film-film yang telah di rekomendasikan, kita dapat belajar bahwa tidak segalanya cinta itu indah dan penuh jawaban. Flowers can’t grow without a little rain, and that’s perfectly okay. Terkadang, saat kita sudah mengikhlaskan apa yang kita inginkan, aspirasi tersebut justru akan tercapai. Intinya, keihklasan merupakan suatu keharusan, dan kita sebagai para hopeless romantics harus bisa menyikapinya dengan seksama. Hidup tidak selamanya mulus dan penuh kebahagiaan, tapi justru turbulensi-turbulensi itulah yang mampu membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Honorable Mention: Never Let Me Go (2010), Il Mare (2000), Stuck in Love (2012), He’s Just Not That Into You (2009).

7 Film Terbaik untuk Pria-Pria Pecundang Asmara

Sering merasa putus asa terhadap diri kita karena terlalu lama sendiri dan tidak pernah bisa menjalin hubungan asmara yang baik dengan siapapun? Tenang, itu semua manusiawi. Penulis juga pernah mengalaminya. Jangan merasa terlalu cepat rendah diri, karena hal itu tidak selalu berarti bahwa kita adalah pribadi yang tidak pantas untuk dicintai. Bisa saja itu karena kita terlalu idealis memberikan kriteria pasangan hidup atau kita berada di dalam lingkungan sosial dengan iklim gersang yang tidak mampu menyuburkan bibit-bibit pasangan hidup yang ideal bagi kita. Bagian yang terpenting adalah: kita tidak sendirian, dan seburuk-buruknya kita menilai kehidupan cinta kita, masih ada kisah yang menarik untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan kita ke depannya. Tidak percaya? Berikut ini adalah daftar film-film terbaik bagi kita, pria-pria pecundang asmara, untuk disaksikan agar kita mampu merenungkan dengan damai tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan tanpa harus membanding-bandingkan keadaan kita dengan pria-pria beruntung di sekitar kita.

  1. Annie Hall (1977) directed by Woody Allen

Film yang menurut Roger Ebert menandai berakhirnya era “Hollywood Golden Age” ini bercerita tentang Alvy Singer (diperankan oleh Woody Allen) seorang stand-up comic melankolis yang memiliki tingkatan idealisme yang terlampau tinggi. Sayangnya, hal itu bukannya membuat hidupnya menjadi lebih bertaraf, namun malah jadi merepotkan dirinya sendiri, terutama dalam menjalani hubungannya dengan seorang gadis bernama Annie Hall (diperankan oleh Diane Keaton). Semua—bahkan hal-hal kecil pun—akan dikomentari oleh Alvy dan tak jarang membuat mentalnya depresi. Begitulah Alvy, seorang hardcore nerd nihilis yang bahkan kritis terhadap ‘kode’ dari wanita yang menyukainya. Tonton saja percakapan saat Annie dan Alvy bertemu pertama kali di lapangan tenis, dan kalian akan tahu sendiri.

  1. Ruby Sparks (2012) directed by Jonathan Dayton and Valerie Faris

Pernah membayangkan bagaimana jika seandainya gadis imajiner yang sering kalian impikan tiba-tiba hidup dan secara instan menjadi kekasih hati kalian? Hanya lelaki beruntung seperti Calvin (diperankan oleh Paul Dano) yang pernah secara ajaib mengalaminya. Seorang penulis novel itu suatu pagi dikejutkan oleh kemunculan Ruby (diperankan oleh Zoe Kazan), seorang gadis imajiner dengan kecantikan surgawi yang dijadikan inspirasi oleh Calvin untuk sebuah karakter di novel yang sedang ia tulis. Ruby hidup ke dunia nyata sebagai kekasih Calvin, dan ini bukanlah penipuan atau semacamnya karena ternyata Calvin bisa mengendalikan Ruby hanya dengan menuliskan karakternya di mesin tik sesuai yang ia inginkan. Calvin memiliki kontrol sempurna atas Ruby, sebuah keleluasaan yang diimpikan pria manapun di Bumi. Kehidupan asmara Calvin, sang introvert pecundang asmara, yang bagaikan mimpi indah pada akhirnya berubah menjadi mimpi buruk karena ironisnya Calvin menyadari bahwa ia tidak memiliki kontrol sempurna atas hubungan dan rasa cintanya dengan Ruby. Cerita dan naskah film ini ditulis oleh Zoe Kazan sendiri, dan mungkin itu sebabnya di samping berbicara tentang keseimbangan kuasa di dalam sebuah hubungan, film ini juga memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang tinggi.

  1. Her (2013) directed by Spike Jonze

Sutradara dari film Being John Malkovich ini membuat sebuah film yang membahas tentang interdependensi dari cinta, intelijensi buatan, dan filsafat keberadaan. Diceritakan Theodore (diperankan oleh Joaquin Phoenix) adalah seorang pemurung dan penyendiri yang bekerja sebagai penulis surat-surat cinta bagi mereka yang tidak mampu atau tidak mau menulis surat mereka sendiri. Setelah perceraiannya dengan Catherine (diperankan oleh Rooney Mara), Theodore membeli sebuah sistem operasi dengan intelijensi buatan yang diberi nama Samantha (disuarai oleh Scarlett Johannson). Pembicaraan mereka yang intim mengenai hal-hal kecil serta keberadaan Samantha yang selalu setia menemani kesendirian Theodore membuat mereka perlahan-lahan jatuh cinta pada satu sama lain. Ada sebuah ulasan mendalam dan filosofis yang ditulis oleh Mas Dony Iswara di blognya tentang Her yang penting untuk kalian—para pecundang asmara—baca dan bisa dilihat di tautan berikut ini.

  1. 500 Days of Summer (2010) directed by Marc Webb

Gue asumsikan semua orang sudah pernah menonton film ini, maka gue tidak perlu menceritakan ulang betapa Summer (diperankan oleh Zooey Deschanel) dengan kecantikan fisik dan perangainya yang tidak masuk akal tersebut berhasil mengobrak-abrik kehidupan Tom (diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt) dalam waktu 500 hari. Inilah yang terjadi, wahai pria-pria pecundang asmara, jika kita berharap terlalu banyak dalam suatu hubungan yang tidak jelas dan bukan malah menikmatinya seakan-akan hal tersebut bisa berakhir kapan saja. Tidak semua wanita mengharapkan komitmen, dan jika memang komitmen yang kita cari sejak awal, maka jangan coba-coba bermain api dengan ketidakjelasan, secantik apapun rupanya. Bersenang-senanglah. Hidup cuma sekali, kawan.

  1. In Search of A Midnight Kiss (2007) directed by Alex Holdridge

Tidak ada pecundang asmara yang lebih pecundang dari seorang Wilson (diperankan oleh Scott McNairy), yang pada malam Tahun Baru tertangkap basah sedang masturbasi dengan foto seorang bintang porno yang wajahnya di-photoshop dengan wajah Min (diperankan oleh Katy Luong), kekasih dari sahabatnya sendiri, Jacob (diperankan oleh Brian McGuire). Kasihan dengan Wilson, Jacob menyarankan sahabatnya tersebut untuk mencari teman kencan menghabiskan malam Tahun Baru lewat Craigslist. Secara mengejutkan, Wilson yang menulis di kolom deskripsinya ‘misanthrope looking for misanthropee’ menerima panggilan ‘audisi’ dari seorang gadis bernama Vivian (diperankan oleh Sara Simmonds) untuk menjadi teman kencannya di malam Tahun Baru ini. Film dengan pengambilan gambar serta penggunaan warna monochrome yang terkesan indie-looking ini agaknya seperti ‘Before Midnight’ yang ceritanya berpusat pada percakapan menarik antar karakter utama pria dan wanita (dalam film ini Wilson dan Vivian) serta apa yang mereka alami dari sore hari hingga tengah malam pada perayaan Tahun Baru. Perbedaannya hanya terdapat pada karakter Vivian dan Wilson yang jauh lebih quirky dan lebih manusiawi.

  1. Punch-Drunk Love (2002) directed by Paul Thomas Anderson

Sebelum menonton film ini, penulis sedikit meremehkan kemampuan akting Adam Sandler yang tidak pernah memiliki peran yang cukup menantang di tiap filmnya. Namun seperti layaknya Robin Williams dan Jim Carrey (yang akan penulis bahas di nomor berikutnya), komedian ini mencoba untuk sedikit ‘melawan arus’ dengan menjadi Barry Egan, seorang eksekutif di sebuah perusahaan furnitur toilet yang melankolis, introvert, kesepian, namun memiliki kemauan untuk melawan yang cenderung destruktif. Barry bahkan membenci dirinya sendiri yang memiliki kepribadian pecundang dan pasif sehingga ia sering melampiaskannya dengan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Di tengah kesepiannya yang menyakitkan, ia bertemu dengan Lena Leonard (diperankan oleh Emily Watson) yang—setelah kencan pertamanya di sebuah restoran—memutuskan untuk melakukan business trip ke Hawaii. Didorong keinginan untuk kabur dari para tukang pukul yang mengejarnya karena penipuan kartu kredit yang ia lakukan pada sebuah agensi ‘phone sex’, Barry memutuskan untuk menyusul Lena ke Hawaii dengan membeli puding cokelat Healthy Choice sebanyak-banyaknya demi sebuah tiket pesawat gratis ke Honolulu. Membayangkan betapa menyedihkannya Barry Egan di film ini kurang lebih sama seperti berkaca pada cermin retak, ya, wahai pria-pria kesepian?

  1. Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) directed by Michel Gondry

Menjadi lupa dipandang sebagai hal yang sangat menyenangkan bagi manusia-manusia yang dirundung patah hati, namun bagaimana bila itu semua masih tidak cukup? Inilah yang Michel Gondry dan Charlie Kaufman coba ceritakan di Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Joel Barish (diperankan oleh Jim Carrey) mendapati mantan kekasihnya, Clementine (diperankan oleh Kate Winslet), telah menghapus segala ingatan tentang dirinya lewat sebuah prosedur eksperimental yang dilakukan oleh Dr. Mierzwiak (diperankan oleh Tom Wilkinson). Lagi-lagi, penyebab putusnya hubungan mereka ditengarai oleh sifat Joel yang introvert dan posesif terhadap Clementine. Tidak mau kalah, Joel pun merelakan dirinya sebagai bahan eksperimen berikutnya demi menghapus segala ingatannya tentang Clementine. Di tengah proses penghapusan, Joel, di dalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba memutuskan untuk berontak dan mengamankan Clementine dari segala sudut memori yang telah terhapus dan melakukan perjalanan waktu demi membawa kekasihnya kembali merasakan cinta yang dulu pernah mereka rasakan sebelumnya. Film ini menjadi istimewa karena eksplorasi narasi dan visual yang begitu imajinatif, scoring yang indah dari Jon Brion, serta peran Jim Carrey sebagai sesosok pria patah hati yang pemurung, nihilis, dan melankolis. Film ini membawa konsep ‘pecundang asmara’ ke ranah yang lebih umum, yaitu pada ketidakberdayaan seseorang untuk ‘move-on’ dari cinta yang telah karam.

her-movie-still-3

Setelah menonton film-film yang ada di dalam daftar ini, kita tidak hanya akan merenungkan kembali apa yang harus kita benahi dalam diri kita, namun juga mendapati bahwa sebenarnya pria pecundang asmara adalah sosok paling romantis yang sayangnya tidak mampu dipahami oleh gadis-gadis awam. Coba kita pikirkan kembali, bukankah itu sebenarnya hal yang baik? Proses seleksi alam akan terjadi dengan sendirinya sehingga apa yang kita dapati merupakan hal yang memang benar-benar terbaik dan cocok untuk kita. Jadi, mengapa harus khawatir, wahai pria-pria pecundang asmara? Cintailah diri kita sendiri dan berbahagialah dengan kesendirian ini, niscaya ketika saatnya gadis itu datang, akan banyak kebahagiaan yang dapat kita bagi bersamanya.

Honorable Mention: Breakfast at Tiffany’s (1961), Napoleon Dynamite (2004), Taxi Driver (1976), Nightcrawler (2014).

Beginners (2010) – The History of Sadness

Secara umum dalam film, kesedihan memang berkaitan dengan tangis dan rasa sakit yang disajikan dengan skoring menyayat, narasi dan dialog yang melodramatis, serta akting yang meledak-ledak di tiap emosi yang ditampilkan sehingga semua karakternya terkesan seperti bipolar. Tidak banyak film-film unik yang menceritakan kesedihan dan kesendirian dengan cara yang cantik dan tidak berlebihan, namun penulis menemukan Beginners yang memenuhi kriteria untuk bisa penulis ulas.


Oliver (diperankan oleh Ewan McGregor) ditinggal mati oleh ibunya, Georgia (diperankan oleh Mary Page Keller) karena kanker. Enam bulan setelahnya, ayahnya, Hal (diperankan oleh Christopher Plummer) membuat pengakuan pada Oliver bahwa Hal sebenarnya gay. Didorong keinginan untuk menjadi dirinya sendiri seutuhnya, Hal bergabung dalam sebuah komunitas gay dan menjalin hubungan dengan Andy (diperankan oleh Goran Visnjic) sampai empat tahun kemudian Hal meninggal dan Oliver sendirian. Pada suatu hari, Oliver diundang oleh rekan kerjanya di sebuah agensi desain grafis untuk datang ke sebuah pesta kecil. Di pesta inilah ia bertemu dengan seorang gadis bernama Anna (diperankan oleh Melanie Laurent) yang akan menemaninya bersama-sama di dalam kesendiriannya.


Tiga hal yang unik di dalam film ini adalah: penyajian, alur cerita, dan performa akting. Ketimbang memaparkan kesendirian Oliver lewat ekspresi akting yang berlebihan, sutradara dan penulis Mike Mills lebih memilih untuk melakukan eksplorasi lewat medium fotografi, hand-drawing, dan street-graffiti (atau vandalisme) yang secara tematik Oliver sebut sebagai The History of Sadness (Sejarah Kesedihan). Untuk memanjakan penontonnya, film ini memberikan tone warna yang lembut serta background music yang membuat kita ikut menikmati kemurungan yang Oliver, Anna, dan Hal rasakan. Akting mereka pun di sini cukup minimalis untuk standar film drama. Dengan alur yang non-linear tanpa terkesan memaksa, film ini berhasil menyajikan kisah Oliver sebelum kesendirian dan setelah kedatangan Anna dalam hidupnya.


Selain berbicara tentang kesendirian dan kemurungan, film yang dibuat berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan ayah kandung sang sutradara sendiri ini juga berbicara tentang cinta secara luas dan sederhana. Kita akan diajak menelusuri kehidupan Oliver dan merasakan kehangatan cinta yang ia dapatkan sejak kecil, dimulai dari ibunya, kemudian dari ayahnya, lalu dari anjingnya Arthur, dan kemudian dari Anna. Di balik kemurungannya, Oliver adalah sosok anak yang penuh kasih sayang. Ia menemani ibunya pergi ke berbagai pameran seni dan bermain-main agar ibunya dapat melupakan sikap ayahnya yang dingin terhadapnya. Ia mendukung penuh keputusan ayahnya untuk menjadi seorang gay yang aktif dan terus berada di sampingnya sampai kematiannya. Ia pun membawa Arthur kemanapun ia pergi setelah itu, termasuk ke pesta kecil di mana ia bertemu Anna yang kemudian menjadi pendamping hidupnya yang setia. Bagi yang pernah menonton Lilting mungkin akan merasa sedikit familiar dengan premis dan kehangatan yang ditawarkan. Cinta tidak terbatas pada orientasi seksual, dan apa yang paling penting dari cinta adalah pengabdian dan ketulusan.

Beginners adalah jenis film yang bisa membuatmu tetap fokus menikmati cerita dari awal sampai akhir tanpa harus mengandalkan intensitas dramatik yang fluktuatif. Semuanya stagnan, dari awal sampai akhir. Bahkan adegan perkelahian Oliver dan Anna pun dibuat seminimalis mungkin sehingga terkesan tidak seperti berkelahi. Lagipula, biarpun film ini bermain di ranah kesedihan dan kesendirian, pada intinya Beginners juga membahas tentang cinta dengan kesimpulan yang begitu sederhana. You give love, and you’ll get love. Sesederhana itu, bukan?

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

The Disappearance of Eleanor Rigby (2014) – Kisah tentang Cinta, Luka, dan Trauma

Oke, ini bukan salah satu film yang terinspirasi dari The Beatles ataupun lagu mereka, Eleanor Rigby, yang berkisah tentang kesendirian. Bahkan satu-satunya cara film ini mereferensikan The Beatles hanyalah lewat dialog antara satu tokoh dengan tokoh yang lain di salah satu scene. Ceritanya bahkan tidak terlalu rumit, hanya tentang dua orang suami istri bernama Conor dan Elly yang mengalami perpisahan setelah satu insiden yang menimbulkan trauma seumur hidup bagi mereka. Uniknya, film ini terbagi menjadi tiga versi. Him (menampilkan cerita dari perspektif Conor), Her (menampilkan cerita dari perspektif Elly), dan Them (gabungannya/sudut pandang orang ketiga).

Film yang dibintangi oleh Dr. Xavier muda James McAvoy dan sang ‘Osama hunter’ Jessica Chastain ini mengusung tema cinta dan perpisahan dengan menggunakan atmosfer yang realis serta plot yang dewasa dan alur yang sedikit non-linear sehingga cenderung terkesan datar dan lamban. Penonton yang tidak biasa dengan film-film drama realis mungkin akan merasa sedikit jengah, namun filmgoers pemburu festival akan puas menyaksikan studi karakter dan psikologi kedua tokoh serta akting yang luar biasa natural dari James McAvoy dan Jessica Chastain.

Dilihat dari judulnya, pasti semua orang–termasuk gue–mendapat kesan awal bahwa film ini bercerita tentang pencarian seorang wanita yang hilang, Fokus cerita ini, kiranya, sebenarnya tentang pencarian kembali jati diri yang hilang karena sebuah hubungan yang hancur. Seperti yang Conor katakan pada Elly,

“You know, before you, i had no idea who i was. Then we were together, I thought i had it all figured out. Now i’m just back to wondering again.” – Conor Ludlow.

Seperti pada umumnya drama realis, kita akan banyak melihat hal-hal yang sangat familiar dengan kehidupan sehari-hari kita dan bagaimana cara kita dalam menyelesaikan permasalahan. Elly yang mengambil mata kuliah ‘Art Theory’ hanya dengan alasan “The class sounds interesting” demi perjalanan hidup yang baru dan menemukan dirinya sendiri lagi, Conor yang terlalu idealis untuk mandiri dan tidak mau ketergantungan terhadap ayahnya demi sebuah penebusan dosa atas rasa bersalah akibat trauma yang diderita, dan mereka yang berkali-kali menemukan satu sama lain dan berkali-kali memutuskan untuk berpisah sebelum akhirnya bertemu kembali hanya untuk membicarakan masa lalu yang mereka tak bisa lari darinya. Karena itu tidak heran jika di akhir film penonton akan merasa susah move-on dari kedua karakter yang sangat manusiawi ini. Alasannya sederhana, kita merasa sehancur dan setidak berdaya mereka.

Kalian tidak harus menonton ketiga versi film ini untuk bisa menikmati ceritanya. Cukup tonton ‘Them’. Namun kalau kalian memang tertarik untuk melakukan pembelajaran karakter dan psikologi Elly dan Conor dan menghubungkannya pada dunia nyata, maka kalian wajib meluangkan sehari penuh liburan kalian demi menonton ketiganya.

DISTOPIANA’S RATING:  3.5 out of 5.

6 Film Romance yang Dapat Mengubah Pandanganmu terhadap Cinta

Ngaku deh, beberapa dari kita udah bosen dengan film-film romance yang cuma mengunggulkan kegantengan dan/atau kecantikan para aktornya tanpa alur cerita yang substansial dan quotable conversation yang kedaluwarsa. Mungkin memang mayoritas penonton–apalagi di Indonesia–nggak peduli terhadap bagus atau tidaknya cerita yang ditawarkan karena memang dalam kehidupan mereka segala hal yang berkaitan dengan romansa memang gitu-gitu aja. Nah, buat kamu yang udah terlanjur muak dan pengen mendapatkan experience yang berbeda dalam menonton film romance, gue bakal kasih list 6 film yang bukan hanya bisa ngasih kamu perspektif yang berbeda tentang cinta.

1. Closer (2004)

Oke, film ini dibintangi oleh Jude Law, Clive Owen, Julia Roberts, dan Natalie Portman. Cukup gila bukan? Belum. Film ini bercerita tentang manusia-manusia yang saling berusaha untuk menjaga ketulusan di dalam lubang kebohongan dan godaan yang terlanjur memerangkap mereka. Banyak yang mendeskripsikan film ini sebagai circle of love, tapi buat gue ini adalah circle of seduction, karena yang gue lihat ngga ada yang bener-bener mencintai satu sama lain di sini. Perasaan-perasaan yang membuat mereka emosional hanyalah hasil dari pengkhianatan dan pretensi yang mereka ciptakan sendiri. Ngga ada yang bener-bener jatuh cinta dan ngga ada yang bisa disalahin.

Perspective Offered:

Pikir-pikir lagi deh sebelum bikin komitmen sama seseorang. Lo beneran cinta sama dia atau lo cuma penasaran dan tergoda doang? Nanti kalo kegoda sama yang lain atau dianya digoda sama yang lain gimana? Yang salah siapa?

2. Before Sunrise, Before Sunset, dan Before Midnight (1995-2014)

Beberapa temen yang udah gue rekomendasiin film ini banyak yang nggak suka karena dari awal sampai akhir isinya cuma dua orang yang ngobrol dan jatuh cinta lewat obrolan mereka masing-masing. Tapi film ini menceritakan secara realistis bagaimana kita harus menyikapi cinta ketika ruang, waktu, dan kehidupan saling berkonspirasi untuk mengacak-acak hubungan kita. Yah, kalo kalian suka ngobrolin hal-hal kecil namun pengen sesuatu yang beda dari yang lain, coba deh perhatiin seberapa quotable percakapan-percakapan kecil mereka.

Perspective Offered:

3. Casablanca (1942)

“Eh buset, filmnya ngga ada yang lebih tua lagi, Tom?” Coba deh tonton dulu. Film ini emang tua banget. Akting para casts di film ini memang masih mentah banget dan kualitas gambar juga memang masih hitam putih. Tapi IMO sampai sekarang belum ada film romantic epic yang ceritanya bisa sebaik dan sedewasa film ini. Dari film ini lah orang-orang bisa belajar tentang the mind and attitude of the true ladies and gentlemen.

Perspective Offered:

Gentlemen, please look at Rick and Victor. They don’t fight over a girl. Love is not about possession. Love is giving what is best for each other for the sake of love itself.

4. Love Exposure/Ai no Mukidashi (2007)

Yang sering kita tonton di bioskop maupun di rumah adalah film-film romance tentang perfect people in an imperfect world (how is world perfect, anyway?), tetapi film ini menawarkan sebuah cerita romansa unik tentang imperfect people in an ultimately imperfect universe. Konten film ini agak sedikit ngaco karena film ini tergolong film arthouse yang lebih ditujukan kepada konsumen festival dan ngga semua common public bisa nerima. Udah gitu durasinya lama banget (+-4 jam), tapi bagi yang seneng nonton film action jepang dan yang bisa nyambung sama kekonyolan dan ke-WTF-an film ini bakal betah mantengin ini film dan bakal ngasi applause di akhir film yang dramatis.

Perspective Offered:

5. The One I Love (2014)

Yes, people. It’s so weird, but it’s mindblowingly relatable. Dua pasangan suami istri harus berhadapan dengan kejadian-kejadian aneh di luar logika saat mereka mencoba menenangkan diri di sebuah villa demi memperbaiki hubungan mereka yang sudah retak. Film ini memiliki ide yang sangat sederhana namun tidak mampu terpikirkan oleh banyak orang. Kalau kalian suka film-film romance dengan plot twist yang tidak biasa, film ini recommended banget buat kalian.

Perspective Offered:

Would you surrender with something that is not real, but makes you  feel instantly happy? Or would you fix what is real and try to be happy with something real and fight for your happiness together?

6. Blue Valentine (2010)

Love hurts, and love can run out. Film ini berkisah tentang pernikahan yang kandas di tengah jalan karena sang istri merasa jengah dan risih berkepanjangan atas kondisi emosional sang suami yang selalu berubah-ubah. Bukan hanya itu, alur film yang non-linear juga akan membawa kita kedalam sebuah perjalanan manis getir Dean dan Cindy sejak mereka pertama kali bertemu sampai akhirnya mereka bercerai. And…boy, no matter how good your first sight story is, marriage can absolutely screws you over. Oh iya, endingnya simpel tapi nyakitin loh.

Perspective Offered:

You think love is sweet? Think again.

Honorable Mention:

[500] Days of Summer (2009) ; Punch-Drunk Love (2002); Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004); Roman Holiday (1953); Revolutionary Road (2008).

What If (2014) – Escaping Friendzone 101

Harry Potter got friendzoned by Ruby Sparks. Could it be any funnier? Seenggaknya ini kesan pertama gue saat ngebaca logline dan cast dari film ini. Harry Potter, Friend-Zone, Ruby Sparks. Tiga elemen yang secara subjektif menjadi favorit gue. Awalnya gue berpikir film ini akan jadi semacam 500-Days-of-Harry-and-Ruby, tapi ternyata Michael Dowse, sang sutradara, berhasil meramu film ini menjadi sesuatu yang lain.

Berkisah tentang Wallace (diperankan oleh Daniel Radcliffe) yang bertemu dengan seorang gadis bernama Chantry (diperankan oleh Zoe Kazan) di sebuah pesta setelah setahun mengurung diri di rumahnya karena patah hati. Mereka kemudian menjalin sebuah hubungan yang mereka sebut sebagai ‘pertemanan’ di saat mereka tahu bahwa mereka saling menyukai satu sama lain namun Chantry sudah terlebih dulu memiliki kekasih bernama Ben (diperankan oleh Rafe Spall), seorang praktisi HAKI di UN yang sangat menyayanginya. Peristiwa demi peristiwa mereka lalui sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka terlalu banyak berbohong pada diri mereka masing-masing tentang perasaan mereka pada satu sama lain.

Iya, inti alur ceritanya memang hanya sesimpel itu. Namun detail yang disajikan oleh sang sutradara Michael Dowse dan sang penulis skrip Elan Mastai membuat film ini menjadi sebuah permainan perasaan yang tidak pernah kita tahu kapan saja dia berkata jujur atau dusta. Like I said before, film ini tentang dua orang yang saling jatuh cinta namun saling membohongi perasaannya masing-masing karena situasi pribadi yang tengah mereka alami. Wallace dengan hati yang retak dan “Love is Stupid” principle-nya dengan Chantry yang sudah lebih dulu punya pacar yang menyayanginya.

Sebagai seorang cowok, film ini lucu buat gue. Lucu, by means “cute”. Meskipun gue jauh lebih mengagumi cuteness dari Ruby Sparks (which is cuteness overload!) tetapi film ini juga mampu dikategorikan sebagai one of those cute films karena dua aspek. Pertama, film ini memperlihatkan secara natural bagaimana saat manusia senang membohongi dirinya sendiri. Kita biasa melihat di banyak film drama bagaimana manusia saling membohongi satu sama lain, namun dalam film ini Daniel dan Zoe berakting dengan sangat baik sehingga membentuk chemistry yang ‘cute’ dan memberikan rasa yang lebih kental dari film-film bertemakan ‘friendzone’ yang lain (ya…bahkan dibandingkan Ron Weasley & Hermione Granger, Harry’s childhood friend). Kedua, hal-hal kecil yang ada di film ini seperti “How much does Elvis colon weight when he died?” (Like, really…?), permainan ‘fridge puzzle’ yang mempertemukan mereka, serta ‘Fools Gold gift exchange’ membuat jomblo-jomblo mengenaskan (iya, termasuk gue. I.Y.A.) sedikit berandai-andai tentang kehidupan cinta yang mungkin akan dialami bersama seorang sahabat yang direncanakan untuk menjadi pacar di masa depan.

Film ini cukup unik dan mendapat nilai positif buat gue di antara film-film romantic comedy lain. Kalian yang senang dengan semi-fantasy love-life atau pria-pria nelangsa bernasib serupa namun berwajah tidak sama dengan Daniel Radcliffe, kalian wajib nonton film ini sebagai salah satu referensi kalian.

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5