Tag Archives: sci-fi

Star Wars Ep. VII: The Force Awakens (2015) – Unleashing The True Forces

Sebagian penggemar Star Wars sudah pernah merasakan kekecewaan yang mendalam ketika George Lucas dengan sangat gegabah memproduksi Star Wars Episode I-III tanpa memikirkan ulang kematangan konsep dan karakter. Ditambah dengan pemilihan aktor yang sembrono untuk karakter utama, Lucas sukses membuat mereka berpikiran bahwa keputusannya merilis ulang Star Wars yang sukses besar di tahun 1977 dengan embel-embel “Episode IV: A New Hope” hanya sekadar strategi bisnis murahan untuk memberikan harapan palsu bagi para penggemarnya. Banyak opini yang bermunculan bahwa sejak Episode I: The Phantom Menace, Star Wars hanyalah sebuah jebakan uang yang dibuat oleh kapitalis serakah dan impoten, sehingga banyak yang sangsi bahwa kebangkitan besar akan terjadi ketika Lucasfilm memutuskan untuk menghidupkan Star Wars kembali lewat Episode VII: The Force Awakens dan menunjuk J. J. Abrams, maestro sci-fi dengan signature yang kental, sebagai sutradaranya.

Well, their lack of faith are disturbing, because The Force Awakens brings a new hope for the fans.

Tanpa sedikit pun berlebihan, film ini adalah segalanya yang pernah diharapkan bagi para penggemar Star Wars. Film ini membunuh berbagai opini negatif lewat kerapihan konsep, komposisi drama yang tepat, serta dalam dan padatnya lapisan tiap karakter baik dari protagonis maupun antagonis, yang mana tidak kita temukan pada prequel trilogy (I-II-III). Sangat mengesankan bahwa tidak seperti Jurassic World, film ini tidak hanya unggul karena menyajikan nostalgia yang diolah dengan treatment inovatif, namun juga karena menawarkan karakter-karakter baru seperti Rey, Finn, Poe, dan BB-8 yang sangat ikonik dan bahkan mampu bersinar lebih terang dari Luke Skywalker, Han Solo, Chewbacca, Leia Organa, R2-D2, dan C3PO yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah (in a good way). Mengagumkan bagaimana J. J. Abrams dan Lawrence Kasdan menyusun sebuah premis dengan porsi yang ideal bagi karakter baru untuk timbul tanpa perlu mengecewakan penggemar dengan kurangnya durasi penampilan karakter legendaris.

Poin yang sangat menarik untuk dibahas adalah Kylo Ren. Darth Vader–dengan segala detail lahiriah dan batiniah yang karismatik–adalah ikon penjahat yang karakternya sulit untuk ditandingkan. Tidak akan ada yang bisa mengantisipasi betapa Kylo dan rahasia gelapnya mampu menarik hati para penonton, baik penggemar berat Star Wars yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan Vader maupun khalayak umum. Kylo mencuri simpati kita dengan cara yang berbeda dari Vader, walaupun luka dan bisa yang mereka bawa lari sama pedih dan perinya. Selain dari jenis lightsaber, perbedaan mereka juga terdapat pada manajemen amarah dan pengambilan keputusan terhadap hal-hal yang bersifat kekeluargaan. Biarpun ia cengeng minta ampun, tapi Kylo Ren adalah suatu kegelapan yang segar dan memiliki potensi untuk bersanding dengan iblis-iblis kultur pop terbaik seperti Joker, King Joffrey, dan Ultron.

Baik penggemar Star Wars maupun kritikus film memiliki kesamaan yang unik: mereka membenci segala cacat dalam prequel trilogy namun mencintai segala cacat dalam original trilogy. Sangat terlihat dalam film ini betapa Abrams memahami hal tersebut, karena premis yang sedikit menyerupai repetisi naratif dari film-film original trilogy Star Wars ini dikemas dengan intensitas emosional tinggi yang tidak kita temukan di prequel trilogy dan menggunakan dramatical cliche serta fandom jokes di dalam original trilogy menjadi sebuah bumbu nostalgia yang tidak hanya gurih, namun bergizi. Konkritnya apa? Adegan pertarungan lightsaber yang emosional, contohnya, atau Finn yang tidak lihai dalam menembak karena ia seorang mantan Stormtrooper, atau saat Rey menyebut Millenium Falcon ‘butut’.

Kekurangan film ini bisa dibilang sangat minim. Permasalahannya hanya ada pada treatment visual khas J. J. Abrams yang seakan mengaburkan garis tebal yang memisahkan Star Wars dan Star Trek. Itu pun hanya ada pada adegan pertempuran di luar angkasa. Hal ini masih bisa dikategorikan sebagai suatu kesalahan yang patut dimaklumi, karena sangat terlihat bahwa dari segi make-up effects, costume design, dan character relations, Abrams berusaha keras untuk membuat rasa film ini tetap khas film Star Wars dan bukan khas film J. J. Abrams.

Secara metaforikal, pada scene di mana:
1. Rey secara kebetulan mampu bekerja sama dengan Han Solo saat pertama kali bertemu,
2. Finn menyebut dirinya sendiri–yang tidak tahu apa-apa–sebagai ‘orang penting’ di hadapan Han Solo, dan
3. Adegan terakhir di mana kita menyadari bahwa tidak hanya Jedi dan ex-Jedi yang bisa bertarung menggunakan lightsaber,
Abrams memperlihatkan bahwa meskipun film ini adalah jawaban dari semua doa para penggemar Star Wars, ia tidak mengeksklusifkan film ini hanya untuk die-hard fans, tapi juga untuk anak-anak baru yang ingin mengenal Star Wars lebih dekat tanpa peduli apakah pendekatan mereka polos seperti Rey atau pretensius seperti Finn. Hindarilah untuk menghina mereka dengan sebutan ‘karbitan’ dan mari kita nikmati kesuksesan produksi film ini sebagai awal yang baik karena dengan ini, Abrams telah menciptakan suatu standar baru yang ideal untuk film-film Star Wars di kemudian hari. Berdoalah semoga Episode VIII dan IX akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang menggantung di akhir film ini dengan relevan dan masuk akal.

Dan bersyukurlah Chewbacca tidak diubah menjadi makhluk CGI.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

The Hunger Games: Mockingjay pt.2 (2015) – A Hero Hanging by A Tree

Kebanyakan dari kita punya persepsi yang berbeda-beda terhadap makna dari pahlawan. Mereka yang nasionalis menganggap pahlawan adalah orang-orang yang membebaskan negeri mereka dari penjajahan. Para aktivis feminisme, LGBT, dan apartheid akan menyebutkan pejuang-pejuang terdahulu mereka sebagai pahlawan. Masyarakat awam akan berterima kasih kepada orang tua dan guru mereka karena telah menjadi pahlawan yang berarti dalam hidup mereka. Anak-anak yang gemar menonton film laga dan superhero akan menganggap pahlawan sebagai makhluk berkekuatan super yang selalu menolong orang-orang yang ditimpa bencana tanpa pamrih. Berdasarkan hal-hal tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pahlawan adalah setiap mereka yang berbuat baik dan mengubah hidup orang di sekitarnya menjadi lebih baik. Namun bila dikatakan demikian, maka setiap dari kita adalah pahlawan bagi mereka yang ada di sekitar kita, dan tentu masih ada hal yang janggal rasanya bila menyebutkan bahwa semua orang adalah pahlawan. Jadi apa yang kurang?

The Hunger Games: Mockingjay pt.2 menjawab pertanyaan tersebut dengan mengangkat Katniss Everdeen sebagai pahlawan bagi rakyat Panem. The Mockingjay. Apa yang salah dari Katniss? Dia gegabah, ceroboh, dan labil. Meskipun harus diakui kemampuan memanah dan pengetahuan bertahan hidupnya sangat mumpuni, itu semua tidak mampu menyelamatkannya dari tragedi yang pada akhirnya menimpa orang yang paling ia sayangi di akhir film ini. Kepahlawanan Katniss tidak serta merta datang secara tiba-tiba, namun dibantu oleh President Alma Coin dan Plutarch Heavensbee lewat propaganda yang mereka bangun. Ada pernyataan kuat yang dibangun film ini dari awal sampai akhir: pahlawan hanyalah simbol, dan di balik setiap cerita kepahlawanan, selalu tersembunyi kepentingan politik yang lebih besar, meninggalkan sang pahlawan sebagai topeng dari konspirasi masif yang ada di luar kendalinya. Mockingjay berhasil memberikan gambaran realistis tentang betapa mengerikannya politisi dalam memegang kendali media dan menjadikan seorang pahlawan yang jujur dan tulus sebagai wayang dalam sandiwara pertempuran yang mereka ciptakan. Bahwa pahlawan sebenarnya adalah manusia dengan kepentingan sesederhana melindungi keluarga mereka. Bahwa pahlawan juga bisa menjadi seorang pencinta yang mencari pelampiasan setelah kepercayaannya dikhianati.

Secara utuh, film ini menyuguhkan aksi laga ala film action-horror dan drama cinta segitiga serta intrik politik dengan kadar intensitas yang sama tingginya tanpa kehilangan relevansi dari cerita sebenarnya. Penggemar film-film action-adventure dengan epic happy ending pasti akan sedikit kecewa dengan akhir film yang tragis dan terlalu realistis ini. Namun patut dipuji bahwasanya film yang berdasarkan dari novel YA karya Suzanne Collins ini menyajikan ending yang tidak biasa untuk target anak-anak remaja yang sedang beranjak dewasa. Francis Lawrence sebagai sutradara dan James Newton Howard sebagai komposer musik berhasil menciptakan atmosfer apokaliptik yang ideal tanpa harus menurunkan derajat agar bisa diterima target penontonnya.

Kekurangan di dalam film ini adalah ketiadaan chemistry yang kuat antara Katniss dan Peeta. Bagi penonton yang belum membaca bukunya, sangat sulit untuk mengetahui apakah Katniss benar-benar mencintai Peeta dan melakukan semua yang ia lakukan demi melindungi Peeta atas dasar cinta atau hanya sekedar rasa tanggung jawab dan balas budi terhadap perbuatan baik Peeta yang juga selalu melindungi Katniss sepanjang trilogi. Apakah absensi romantisme di epilog film ini bermaksud menunjukkan yang demikian, ataukah hanya kegagalan yang disebabkan oleh hal-hal teknis, ataukah Jennifer dan Francis ingin menunjukkan satu sisi lain dari Katniss yang linglung pasca tragedi yang telah menimpanya? Apapun itu, film ini mempunyai konklusi yang tidak jelas penyampaiannya dan bahkan tidak bisa disebut open-ending, dan ini kesalahan yang cukup fatal dalam kaidah penuturan cerita apapun, khususnya film.

Agak disesalkan bahwa Lionsgate harus membagi Mockingjay menjadi dua film, karena treatment film ini akan menjadi lebih brutal apabila pace film ini dipercepat dan dipadatkan menjadi satu film saja. Paling tidak, Mockingjay pt.2 layak untuk ditonton bagi penggemar serial buku The Hunger Games dan juga bagi para remaja beranjak dewasa yang sudah lebih dahulu mengerti apa artinya menjadi dewasa dan dilindas oleh kaki-kaki penguasa.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

6 Film dengan Teka-Teki yang Tak Pernah Terjawab

Kita pernah dibuat terkagum-kagum oleh bagaimana Christopher Nolan mampu menyelipkan petunjuk-petunjuk kecil di balik misteri ending film Inception. Ya, sebagaimana layaknya sulap dan teori konspirasi bekerja, manusia adalah makhluk yang senang dibuat penasaran setengah mati oleh hal-hal yang ada di luar batas kemampuan bernalar mereka. Bahkan lingkungan pergaulan kita pun dengan sembarangan menciptakan sendiri sebuah istilah untuk film-film yang penuh teka-teki seperti Inception, yaitu “film mikir”.

Tidak seperti Inception, ada beberapa film dengan teka-teki yang ditinggalkan oleh sutradara dan penulisnya tanpa ada satu jawaban pasti dan hanya bisa diinterpretasikan oleh penonton dan kritikus film dengan berbagai macam cara. Meminjam istilah pergaulan kita, film-film yang bakal gue diskusikan di daftar ini bisa dibilang adalah “film-film mikir tingkat dewa”. Bagi kalian yang senang melatih kemampuan berpikir kalian dengan misteri-misteri yang rumit dan membingungkan, ini akan menjadi daftar film yang bisa membuat kalian merasa tertantang.

1. Eyes Wide Shut (1999) directed by Stanley Kubrick

Tentang Apa?: Setelah sang istri yang bernama Alice (diperankan oleh Nicole Kidman) mengakui bahwa ia pernah berfantasi seksual dengan seorang pria yang pernah ia temui, seorang dokter bernama Bill (diperankan oleh Tom Cruise) secara tidak sengaja mendapati dirinya terjebak di dalam lingkaran pengkultusan seksualitas dan perzinahan.

Apa Yang Membingungkan?: Beberapa penggemar teori konspirasi mempunyai dugaan kuat bahwa sang sutradara ingin mengungkap tirai dari organisasi rahasia umum yang beranggotakan para elit dan pemegang kekuasaan penting (Illuminati, Freemason dll). Segala detail yang ada di dalam film ini sangat merujuk ke arah sana, mulai dari dekorasi mansion Ziegler yang dipenuhi simbol-simbol politeisme Mesir kuno hingga penamaan karakter yang seakan menjadikan film ini sebagai alegori dari sebuah konspirasi besar di akhir zaman. Belum lagi ditambah fakta bahwa sang sutradara, Stanley Kubrik, meninggal tepat lima hari setelah ia menyerahkan potongan terakhir dari film ini kepada distributor film. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa alur cerita film yang membingungkan ini seperti memberi kesan bahwa apa yang dialami Bill hanyalah sebuah manifestasi psikologi terhadap obsesinya akan eksplorasi dan kepuasan seksual. Sampai sekarang, belum ada teori yang memuaskan tentang misteri dari film yang sangat gamblang menggambarkan sebuah kegiatan masquerade orgy ini, namun film ini tetap menjadi sangat menarik untuk disimak karena, yah, Tom Cruise dan Nicole Kidman.

2. Primer (2004) directed by Shane Carruth

Tentang Apa?: Sekelompok pemuda yang bereksperimen untuk membuat sebuah mesin waktu sederhana.

Apa Yang Membingungkan?: Jika ada teman kalian yang baru menonton film ini sekali dan bilang bahwa dia mengerti tentang keseluruhan ceritanya, maka entah dia adalah seorang pembohong atau delusional. Akan sangat jelas bagi kalian setelah menonton lebih dari dua kali bahwa Primer bukanlah sebuah film yang bersifat naratif dan mampu dijelaskan secara mudah. Beberapa kritikus film bahkan mengibaratkan Primer seperti sebuah dokumentasi para ilmuwan gila tanpa ada eksposisi yang jelas dan kita sebagai penonton seakan-akan hanya menguping percakapan dan mengintip kejadian yang tidak kita mengerti maknanya, namun sangat menarik untuk disaksikan. Ada beberapa teori yang dibuat oleh penonton yang bisa diandalkan untuk membantu kalian memahami cerita. Film ini tidak akan memberikan kalian kepuasan sains fiksi yang dipaparkan dengan sederhana seperti teori wormhole di Interstellar, namun jelas akan membuat kalian menebak-nebak dan menonton film ini lebih dari sekali.

3. Cache (2005) directed by Michael Haneke

Tentang Apa?: Sebuah keluarga diteror oleh kiriman kaset misterius yang berisi rekaman-rekaman pengamatan yang diambil dari luar rumah mereka. Lama kelamaan, sang peneror semakin merambah ke permasalahan pribadi serta rahasia-rahasia kelam di masa lalu sang suami yang selama ini ia sembunyikan dari istrinya.

Apa Yang Membingungkan?: Film ini awalnya terlihat biasa saja dan mudah dicerna sampai pada akhirnya kita dikejutkan pada kenyataan bahwa film ini TIDAK mengungkapkan siapakah sang peneror tersebut di akhir film. Kita akan mulai menonton ulang dan membaca semua pertanda-pertanda kecil yang diberikan sang sutradara sampai akhirnya kita selesai menonton dan masih tidak mengerti. Roger Ebert, kritikus film ternama, bahkan membahas film ini lewat jurnal pribadinya. Beberapa penonton juga menyebutkan bahwa ada beberapa petunjuk kecil di tengah alur cerita dan SATU petunjuk besar di adegan terakhir film ini yang ditinggalkan oleh sang sutradara untuk kita menebak sendiri. Gue sudah mengetahui apa petunjuknya, dan gue pribadi merasa itu masih belum cukup kuat. Entah. Silahkan kalian tonton sendiri.

4. Donnie Darko (2001) directed by Richard Kelly

Tentang apa?: Seorang pemuda dengan permasalahan psikologis bernama Donnie Darko (diperankan oleh Jake Gyllenhaal) mengalami keanehan-keanehan beruntun dalam hidupnya, termasuk mesin jet pesawat yang jatuh tepat di atas atap rumahnya dan kemunculan sesosok kelinci raksasa bertopeng tengkorak yang selalu menghantuinya.

Apa Yang Membingungkan?: Mungkin tidak terhitung jumlahnya betapa banyak teori yang dibuat oleh para penonton terkait apa sebenarnya yang dialami oleh Donnie dan mengapa dia melakukan hal-hal gila di dalam film yang mengeksploitasi eksistensialisme ini. Tidak seperti Primer, film ini koheren secara naratif dan teknis, sehingga tidak membuat para penonton kesulitan untuk mengikuti film ini dari awal sampai akhir. Belum lagi keberadaan kakak beradik Jake & Maggie Gyllenhaal yang bisa membuat lelaki dan perempuan betah untuk tidak beranjak dari layar. Namun ending film yang sangat gelap dan misterius akan menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi dari awal. Website resmi film ini pun memberikan penjelasan yang cukup sederhana–walaupun nggak sederhana-sederhana amat–namun jika kalian melihat kolom komentar dan membaca teori-teori yang dikemukakan oleh penonton lain, kalian akan sadar bahwa kompleksitas detail Donnie Darko akan menjadikan film ini jauh lebih baik ditinggalkan begitu saja dengan membiarkan penonton menjelaskan sendiri maknanya.

5. Mulholland Drive (1999) directed by David Lynch

Tentang Apa?: Betty (diperankan oleh Naomi Watts), seorang gadis yang mengejar mimpinya untuk menjadi aktris Hollywood, harus menolong seorang gadis amnesia yang selamat dari kecelakaan tragis (diperankan oleh Laura Harring) untuk menemukan siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya.

Apa Yang Membingungkan?: David Lynch, The Maestro of Bizarre, membuka film ini dengan sekuens yang…yah, artistically bizarre! Sekumpulan pasangan berdansa jitterbug dengan latar belakang magenta dan kemunculan Betty serta dua orang tua bermimik absurd yang merangkulnya sambil tersenyum ke arah cahaya terik yang menyinari mereka. Lalu kemudian alur film berjalan dengan sederhana sampai pada Act 3 yang mengacaukan dugaan kita tentang apa yang sebenarnya film ini berusaha ceritakan. Beberapa film kritikus menyatakan bahwa Mulholland Drive adalah sebuah teka-teki yang menyampaikan pesan penting tentang kondisi industri film Hollywood dan para pekerja serta aktrisnya yang sedang dirundung kekacauan pada masa itu. Lagipula, bukan teka-teki namanya kalau tidak ada petunjuknya. Sebelum dan sesudah film ini rilis, David Lynch menyatakan bahwa dia tidak akan mengungkap apa makna sebenarnya dari Mulholland Drive bagi sang sutradara sendiri. Namun layaknya Donnie Darko, beberapa penonton–yang sungguh berdedikasi tinggi–mempublikasikan petunjuk-petunjuk di website resmi film ini yang bisa kita gunakan untuk memecahkan misteri di balik keanehan Mulholland Drive.

6. Memento (2000) directed by Christopher Nolan

Tentang Apa?: Leonard Shelby (diperankan oleh Guy Pearce), seorang pria yang menderita short-term memory loss, harus mencari siapa pembunuh istrinya dengan melakukan investigasi independen dan mentato setiap petunjuk yang ia temukan di tubuhnya agar ia tak pernah melupakannya.

Apa Yang Membingungkan?: Sebelum Inception dan The Dark Knight, Christopher Nolan telah lebih dahulu membuat Memento, sebuah thriller masterpiece dengan struktur cerita yang expensively unconventional dan ending yang membuat kepala kita seakan meledak-ledak dan butuh jawaban pasti tentang siapa yang membunuh istri Leonard. Kita dibuat merasa konyol oleh Christopher Nolan yang telah memasukkan kita ke dalam kepala Leonard dengan mempertanyakan di akhir film apakah Leonard benar-benar dapat dipercaya karena Teddy (diperankan oleh Joe Pantoliano) yang kita curigai dari awal pada akhirnya menjadi satu-satunya tokoh yang paling mampu kita percayai. Apakah Leonard yang ternyata membunuh istrinya sendiri? Apakah ada permainan manipulasi di antara Leonard, Teddy, serta seorang bartender bernama Natalie (diperankan oleh Carrie-Anne Moss) yang memiliki femme fatale gestures? Tidak ada jawaban yang tepat tentang hal ini dan tidak seperti Inception, Nolan tidak memberikan pernyataan apapun terkait hal ini.

Sebagai penutup, perlu gue peringatkan satu hal. Tidak direkomendasikan bagi kalian untuk membuka tautan yang gue masukkan di artikel ini terkait petunjuk dan penjelasan untuk setiap film, kecuali kalian sudah menonton film-film tersebut lebih dari dua kali dan masih benar-benar tidak mengerti. Tantangan itu mahal, namun lebih mahal lagi harga yang harus kita bayar jika kita menjadi orang yang gampang menyerah terhadap tantangan. Jadi selamat menonton dan selamat bersenang-senang!

Ant-Man (2015) – Why Go Big When You Can Go Small?

Menjadi lebih kecil tidak selalu buruk. Setidaknya itulah hal paling sederhana yang film ini coba sampaikan. Ukuran bukanlah segalanya, dan hukum ini berlaku dalam segala hal, termasuk dalam urusan film superhero. Sebelum film ini rilis, banyak publik yang skeptis karena menurut mereka Ant-Man mempunyai kemampuan yang terlalu konyol untuk dapat dikategorikan sebagai superhero. Bahkan anak dari pemeran Scott Lang (Paul Rudd) di film ini pun bilang “That sounds really ridiculous” saat ayahnya bercerita bahwa ia akan memerankan seorang superhero dari Marvel yang dapat mengecilkan tubuhnya menjadi seukuran semut. Well, gue bukan salah satu di antara mereka. Pertama kali mendengar tentang Ant-Man, entah kenapa gue ngga membayangkan ‘semut’, tapi lebih kepada ‘self-conscious bullet’ karena selain mengecilkan ukuran, kostum ciptaan Hank Pym yang menjadi medium kekuatan itu juga meningkatkan kapasitas tenaga menjadi berkali-kali lipat dan membuat pemakainya mampu mengendalikan serangga-serangga lain.

Tidak sekonyol seperti yang terdengar, sebenarnya, dan film ini berhasil membuktikan bahwa ada gunanya mengecilkan tubuh. Conducting heist, misalnya. Scott Lang di film ini adalah seorang mantan narapidana yang dipenjara karena berhasil meretas dan menjebol sistem keamanan tingkat tinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Bukan, superhero kita bukan orang jahat. Perusahaan itu melakukan fraud dengan menerapkan harga yang berlebihan pada pelanggannya, sehingga naluri kepahlawanan Scott membuatnya untuk mengembalikan seluruh jumlah pendapatan kotor perusahaan tersebut kepada semua pelanggan yang dirugikan. Kelakuan Scott Lang yang unik ini menarik simpati Hank Pym (Michael Douglas), seorang mantan ilmuwan S.H.I.E.L.D. yang memberhentikan diri karena mengetahui Howard Stark telah beberapa kali mencoba membuat replika dari penemuannya tanpa seizinnya. Dengan cara terselubung, Hank menguji Scott untuk merampok rumahnya dan meletakkan sebuah kostum aneh sebagai harta karun di dalam brangkas. Saat Scott berhasil menerobos masuk dan terkejut mendapati tidak adanya harta apapun di dalam brangkas kecuali kostum tersebut, Scott mengambil kostumnya dan mencobanya di kemudian hari. Inilah awal seorang Scott Lang berlatih bela diri, adaptasi, dan mind-control demi menjadi Ant-Man dan membantu Hank serta anak perempuannya Hope van Dyne (Evangeline Lily) untuk merampok pakaian Yellowjacket hasil replika eksperimen Hank buatan Darren Cross (Corey Stoll) yang masih belum stabil dan berpotensi untuk menciptakan kehancuran brutal bila jatuh ke tangan yang salah.

Ant-Man bisa dikategorikan sebagai film yang cukup unik karena meskipun hakikat penciptaannya adalah sebagai film superhero, film ini malah lebih terlihat sebagai film heist (Ocean Twelve, Now You See Me) atau film spy (Mission: Impossible, Kingsman: The Secret Service). Menembus top-level security system, memalsukan identitas dan berkamuflase, berhadapan dengan laser guard, berhubungan dengan locksmith yang standby di dalam minivan bersama dengan transporter, dan berkejar-kejaran dengan polisi dan staf keamanan korporasi, apa lagi namanya kalau bukan heist/spy film? Namun seperti hal-hal yang sudah sering Hollywood lakukan sebelumnya, film ini crossing genre. Ada pula momen di mana film ini menjadi film superhero, seperti adegan pertarungan Ant-Man melawan Falcon (Anthony Mackie) dari Avengers (and that was a really cool fighting scene) dan adegan pertarungan terakhir si manusia pengendali serangga melawan Darren Cross yang memakai kostum Yellowjacket. Secara keseluruhan, film ini sangat baik dalam eksekusinya. Paul Rudd dan Michael Pena (sebagai Luis, rekan kriminal Scott) layak mendapatkan pujian karena telah memberikan comedic charm yang menjadi salah satu nilai plus film ini. Gue juga menyadari ada beberapa signature dari penyutradaraan Edgar Wright yang melekat erat seperti di tiap adegan di mana Luis menceritakan sesuatu yang penting dengan antusiasme yang berlebihan pada Scott. Cukup mengherankan mengingat Edgar Wright telah hengkang dari kursi penyutradaraan Ant-Man sejak Mei 2014 dan digantikan oleh Peyton Reed karena ‘perbedaan visi kreatif’.

Marvel Studios sudah benar-benar ingin menguasai keseluruhan gaya penceritaan. Setiap kali film superhero Marvel tayang, mereka ingin masyarakat menilai image dan karakter dari film tersebut sebagai ‘Film Marvel’. It is Marvel Studios, and not the director, that owns the film, sementara Edgar Wright mempunyai ciri khas yang sangat kental dan branding jika melihat dari film-film besutannya terdahulu seperti Hot Fuzz, Shaun of The Dead, dan The World’s End. Biar lebih jelas seperti apa, coba tonton video di bawah ini.

Tidak ada salahnya memang, karena Marvel Studios sudah berniat untuk kaffah dalam membangun MCU demi film-film lain yang akan mereka produksi di masa depan. Hal ini dapat dilihat dari terlalu banyaknya Peyton Reeddalam memberikan eksposisi tentang keberadaan Avengers dan menerangkannya dengan detail yang cukup jelas lewat dialog hingga terkesan berlebihan seakan-akan mereka ingin berkata “Hey look, people, we’re on the same universe as The Avengers!” kepada para penontonnya. Ambil positifnya, mungkin Ant-Man memang akan menjadi karakter yang sangat penting dalam Captain America: Civil War di 2016 nanti, namun menurut gue terlalu berlebihan sehingga mengurangi kadar seberapa pentingnya penonton menganggap Ant-Man sebagai fokus utama di film ini dan malah membuat penonton teralihkan pada bayang-bayang prematur Captain America: Civil War sepanjang film berlangsung. Padahal seberapa saling sambung-menyambungnya MCU, Ant-Man harusnya tetap menjadi sebuah standalone film, bukan prekuel. Strategi pemasaran? Oke, alasan diterima.

Dirilis di Indonesia tepat pada saat libur panjang, Ant-Man sangat baik untuk ditonton bersama keluarga karena menurut gue ini adalah film superhero Marvel yang paling family-oriented dengan porsi action dan humor yang seimbang layaknya Spy Kids dengan kearifan Marvel. Terlebih lagi, tingkah Scott dan Luis akan mengundang gelak tawa dan antusiasme terutama bagi anak-anak dan bagi orang tua yang masih mau jadi anak-anak, dan kasih sayang antar ayah dan anak yang ditunjukkan oleh acting chemistry dari Scott dan Cassie (Abby Ryder Fortson) akan mampu menimbulkan suasana haru dan hangat di tengah keluarga.

N.B.: IMPORTANT NOTES! Akan ada dua additional scenes di film ini, yaitu Mid-Credit Scene dan Post-Credit Scene. Jadi jangan pulang dulu sebelum credit title benar-benar berakhir, because the Post-Credit Scene kicks ass!!

Interstellar (2014) – Emotional Transcendence

“We used to look up at the sky and wonder at our place in the stars, now we just look down and worry about our place in the dirt.” – Cooper

Nolan did it again! Dua tahun penantian gue sebagai Nolan fanboy untuk menunggu film selanjutnya berakhir di tanggal 6 November kemarin. Sempet penasaran banget sama film yang satu ini karena posisi DOP yang dikemudikan oleh Hoyte van Hoytema (Her, Tinker Taylor Soldier Spy) menggantikan Wally Pfister yang kemarin sibuk dengan debut penyutradaraannya, Transcendence. Film ini juga merupakan terobosan baru bagi Nolan dari segi tema dan konsep setelah mencoba mengeksploitasi mimpi, muslihat, dan kriminalitas di beberapa film sebelumnya. Banyak juga yang memprediksi bahwa film ini tidak akan dapat menandingi—atau bahkan sejajar—dengan film-film yang pernah dia buat sebelumnya.

Saat masa depan tengah dilanda bencana ekologis berupa hama, anomali cuaca, dan badai pasir yang kian memarah, semua tenaga kerja manusia dipaksa untuk menjadi petani darurat demi memenuhi kebutuhan pangan yang semakin menipis. Cooper (diperankan oleh Matthew McConaughey), seorang mantan pilot pesawat terbang dan insinyur, mendapatkan sebuah koordinat dari anomali gravitasi di kamar anaknya yang menuntun dia menuju sebuah fasilitas NASA yang tersembunyi dan dirahasiakan oleh pemerintah. Dituntun oleh Prof. Brand (diperankan oleh Michael Caine), anaknya Amelia (diperankan oleh Anne Hathaway), dan dua astronot NASA lain, dia mempelajari bahwa krisis ekologis ini akan segera mengakhiri peradaban manusia di Bumi, dan bahwa ada 12 astronot dalam proyek Lazarus yang menunggu untuk dijemput di sebuah planet di galaksi lain yang memiliki potensi kehidupan layaknya Bumi. Tanpa punya pilihan lain, Cooper terpaksa meninggalkan anak-anaknya, Tom (diperankan oleh Timothee Calamet dan Casey Affleck) dan Murph (diperankan oleh Mackenzie Foy dan Jessica Chastain) untuk melakukan penjelajahan antar galaksi demi mencari rumah yang lebih baik lagi untuk umat manusia.

Meskipun tidak lebih baik dari Inception dan The Dark Knight, menurut gue ini adalah film paling emosional yang pernah dibuat Nolan selama ini. Nolan mengeksplor penjelajahan luar angkasa dari sisi yang lebih manusiawi dan sentimental. Terlebih treatment visual dan musik latar yang epic membuat film ini terlihat seperti 2001: A Space Odyssey dengan sentimen dan twist modern khas Nolan di dalamnya. Ini juga merupakan film Nolan yang paling eksperimental dalam segi apapun. Di bagian visual, Hoyte van Hoytema menggunakan kamera analog 35mm dan kamera IMAX untuk pengambilan gambar sehingga tekstur film terlihat sedikit kasar namun dapat dinikmati tiap detilnya. Belum lagi visualisasi luar angkasa, wormhole, dan blackhole di dalam film ini yang menurut gue jauh lebih spektakuler dari yang pernah diberikan Gravity (of course, Gravity didn’t give you any wormhole or blackhole, didn’t it? Aaand did I mention about the tsunami and glacier inside the inhabited planets? It’s awesome) Dalam segi durasi, ini merupakan film terpanjang Nolan dengan 169 menit waktu tayang di luar kredit. Namun tentu panjangnya durasi film tidak pernah menjadi suatu kekurangan untuk setiap film-film yang dia buat. Dalam Interstellar, dia selalu memanfaatkan setiap detik yang ada untuk mengaduk-aduk perasaan penontonnya lewat kekuatan penulisan skrip. Dalam adegan di mana Cooper dan Amelia masing-masing menonton transmit pesan dari keluarga mereka di Bumi, terdapat monolog serta akting terbaik yang pernah gue liat dan dengar dalam film-film di tahun 2014 ini. Emotional, heartbreaking, ditambah komposisi musik dari Hans Zimmer yang menurut gue layak banget dapet nominasi Best Original Scoring untuk Oscar tahun depan. Mackenzie Foy sebagai Murph kecil sukses mencuri perhatian dalam setengah jam pertama film ini. She’s so adorable I wish my daughter in the future resembles her.

Sebagian orang, termasuk gue, mungkin bakal banyak bertanya-tanya selepas keluar menonton film ini dari bioskop. Di samping tema yang diambil memang thought-provoking dan kontroversial dalam segi sains itu sendiri (tentang interstellar travel melalui wormhole dan fifth dimensional space yang berada pada satu titik di dalam black hole), ada beberapa hal dalam film ini yang menurut gue seharusnya bisa dieksekusi dengan lebih baik oleh Nolan:

  • Pertama, pernyataan Amelia tentang “Love is the one thing that transcends time and space” (huwek). Gosh, kenapa tiba-tiba harus muncul pernyataan seperti ini dari mulut seorang intergalactic space scientist di dalam dialog film seorang Christopher Nolan? I mean, I know she was desperate and she can say anything she wants, but isn’t that line is too cheesy for Nolan to be forgiven?
  • Kedua, I hate the ending. Period. Kecuali ada pernyataan dari Nolan bahwa 15 menit terakhir film tersebut hanyalah imajinasi visual Cooper menjelang detik-detik kematiannya di dalam black hole, gue menganggap ini adalah ending paling sampah yang pernah dibuat Nolan. Seriously, dengan ending-ending spektakuler yang pernah dia buat di Following, Memento, dan The Prestige, Nolan surely can do it damn better than that crappy-too-happy ending.

Banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa Interstellar adalah film space travel terbaik yang mengilustrasikan blackhole dan wormhole secara ilmiah namun ringan (meskipun beberapa kontroversi tentang tidak adanya spaghettification di dalam blackhole). Di samping segala kekurangan kecilnya, film ini tidak boleh dilewatkan sama sekali dan harus kalian tonton di bioskop (I recommend, much much recommend IMAX! With Dolby ATMOS!) dan selamat melakukan penjelajahan antar galaksi sambil menangis tersedu-sedu!

P.S: Dear, Anne Hathaway. Stop rolling your eyes like that *blushing*

DISTOPIANA’S RATING: 3 out of 5

Lucy (2014) – Kuliah Eksistensialisme dari Scarlett Johannson

Pierre del Rio: “I’d rather be late than be dead”
Lucy                 : “We never really die.”

Sebagai pribadi yang ngga mau ngabisin waktunya untuk nonton film jelek, gue selalu membiasakan diri untuk liat logline film sebelum memutuskan apakah gue akan nonton film ini atau tidak. Saat gue ngebaca logline dari ‘Lucy’, yang pertama kali terpikir oleh gue adalah “Meh. Limitless. Boring.” Namun gue penasaran karena penggarapnya adalah Luc Besson (sutradara dari Leon: The Professional) dan dibintangi oleh Scarlett Johannson (you don’t know her? Your life is worthless). Gue tonton trailernya. Meh, Transcendence. Boring. Gue sempet skeptis karena tingkat orisinalitas film sudah mulai meragukan, sampai akhirnya seorang kolega (yang paham akan hobi gue menonton film –and his taste of films are good) merekomendasikan film ini ke gue dengan sangat antusias. Walhasil, yaudah gue tonton aja. The result was half beyond my expectation. Until now, I still can’t even tell if this film is good or bad. Respon gue sesaat setelah selesai menonton film adalah “I’m gonna review this film in my blog.”

Bercerita tentang seorang wanita bernama Lucy (diperankan oleh Scarlett Johannson) yang diculik oleh mafia narkoba dan dipaksa untuk menyelundupkan sekantung obat-obatan terlarang yang bernama CPH4. Karena suatu kecelakaan, Lucy tanpa sengaja menyerap sebagian obat-obatan tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Beruntungnya—atau lebih tepat, SIALNYA—hal ini membuat Lucy dapat mengakses dan menggunakan otaknya hingga mencapai 100% (berdasarkan salah satu pseudo-scientific theory yang mengatakan bahwa manusia selama ini paling maksimal hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya). Berkat unlimited access tersebut, Lucy memiliki kekuatan di luar batas yang bisa dijamah manusia—bahkan logika. Dia mampu mengingat segala yang pernah terjadi dalam hidupnya, termasuk saat dia baru pertama kali dilahirkan dari rahim ibunya. Dia mampu mengontrol apapun, mulai dari gelombang telekomunikasi nirkabel di seluruh dunia, gaya gravitasi, sampai sistem metabolisme tubuh orang lain dengan kuasanya. Menyadari konsekuensi kekuatan yang dia miliki, Lucy bekerjasama dengan Prof. Samuel Norm (diperankan oleh Morgan Freeman) untuk mencari jalan agar kekuatannya dapat dimanfaatkan untuk kebaikan ilmu pengetahuan dan sains manusia sebelum akhirnya konsekuensi dari kekuatan itu membuat dirinya menghilang dari dunia selamanya.

Film ini mempunyai banyak kelebihan meskipun kekurangannya juga tidak kalah banyak. Alur film ini sangat umum dan sederhana, namun thrill yang disuguhkan dari high-octane, playful action membuat film ini tetap seru untuk disaksikan dari awal sampai akhir (I’ve recognized that the punch-impact special effect is kinda looked like they have learned about fighting more from The Raid). I’m not gonna say it’s a popcorn movie because you would have no such time to realize that you have a cup of popcorn in your hand until the film is finished. ScarJo tampil menawan sebagai seorang gadis naif partygoer yang berubah menjadi heartless demi-God. Seperti tinggal mengulang kembali aktingnya sebagai Anna (He’s Just Not That into You) saat masih normal dan menggabungkan antara kelihaian bertarung Natasha Romanoff (The Avengers) dan kekakuan serta curiosity Laura (Under the Skin) saat sudah menjadi more-than-10-percent girl. Dari beberapa cooling-down scene yang ada di film ini, gue sempet mendadak kangen nyokap pas hospital scene di mana Lucy menelepon ibunya untuk menceritakan apa yang dia alami. Great script, but part of it were kinda cheesy somehow. Yang unik—dan paling seru untuk dibahas—kali ini adalah betapa Luc Besson mengemas konsep pseudo-scientific theory of underused brain capability (baca: The Under-used Brain? It’s All in The Mind) menjadi sedikit lebih crossing the boundaries. Secara eksplisit, masyarakat awam dapat mengartikan pesan dari film ini sebagai “100% access of human brain is a capability only God strong enough to handle it.” Namun bila kita memperhatikan lagi tesis demi tesis yang Lucy ungkapkan saat berhadapan dengan para scientist—termasuk saat sendirian dengan Prof. Norm—dapat kita cerna dan simpulkan bahwa Luc mencoba mengkaji dampak dari chaos theory in humanity lewat pendekatan eksistensialisme di film ini. Hal ini memang unsur yang unik untuk menjadikan film ini berkesan bagi penonton. Memberikan mereka something worth questioning and discussing for setelah keluar dari bioskop.

Namun lagi-lagi kekurangan yang berasal dari lack of originality di film ini memang pantas untuk ditegur. ‘Lucy’ seperti campuran antara ‘Limitless’ (the 10% concept), Leon: The Professional (Mr. Jang character similarity to Norman Stansfield and the action cinematography), Transcendence (the super-brain ability…aaand the lack of motivation & twist), The Avengers (Black Widow mostly), dan 2001: A Space Odyssey (the ending). Memang Luc pernah memberikan statement bahwa ‘Lucy’ terinspirasi dari beberapa film (baca: Luc Besson Says Lucy was Inspired by Three Unexpected and Unique Movies). Namun dengan mengimitasi karakteristik dari banyak film tanpa memberikan sedikit ruang bagi orisinalitas untuk show-off bukan merupakan suatu hal yang bisa dipuji. Dipandang secara idealis, ‘Lucy’ bukan tipe film yang bisa dikategorikan sebagai one of the best films in 2014, but at least it is still a good film for you to watch. Lumayan kalo kamu lagi pengen mulai belajar filsafat dikit-dikit. ScarJo is not a disappointment also (did I already told you she looked curvier than in ‘Under the Skin’?) and will blow your mind with her magic trick (…called it maaagic~).

“We’ve codified our existence to bring it down to human size, to make it comprehensible, we’ve created a scale so we can forget its unfathomable scale.”
DISTOPIANA’S RATING: 2.5 out of 5

Edge of Tomorrow (2014) – Loser.Die.Repeat.Hero

Dari tagline nya, kalian pasti bakal mikir bahwa film ini ngga akan jauh beda konsepnya dengan Source Code atau Groundhog Day. ‘Live. Die. Repeat.’ Tapi kalau kalian kira bakal jadi membosankan karena konsep ‘mengulang-ulang’ yang terlalu sering diulang-ulang, maka siap-siap untuk terkejut karena segala aspek dalam film ini akan mampu memuaskan kalian.

Saat kondisi Bumi tengah genting akibat invasi makhluk asing bernama ‘Mimic’, Officer Bill Cage (diperankan oleh Tom Cruise), seorang pembicara dari angkatan bersenjata US, ditugaskan untuk turun langsung ke barisan depan peperangan lepas pantai di Perancis tanpa memiliki pengalaman bertarung sekalipun. Sesaat dia berhasil membunuh satu spesies Mimic langka bernama ‘Alpha’ dan terkena limpahan darahnya (dia membunuhnya dengan meledakkan makhluk itu tepat satu meter di depan tubuhnya), dia terkontaminasi oleh racun yang membuatnya terjebak di dalam infinite-time loop di mana dia harus hidup kembali dan terbangun di waktu dan tempat yang sama setelah dia mati.

Kondisi ini ternyata mempertemukannya dengan Rita Vrataski (diperankan oleh Emily Blunt), prajurit wanita tangguh yang dijuluki The Angel of Verdun karena mampu membunuh ratusan Mimics dan menjadi penentu kemenangan di hari pertama dia bertarung di Verdun, Perancis—dan belakangan diketahui penyebabnya adalah karena dia pernah mempunyai kondisi yang sama seperti yang Bill alami (penegasan pada kata ‘pernah.’ Kekuatannya hilang akibat transfusi darah saat dia dirawat di RS setelah peperangan). Pertemuan mereka memaksa Bill untuk ikut serta dalam strategi yang telah disusun oleh Rita dan koleganya, seorang ilmuwan fisika partikel Dr. Carter (diperankan oleh Noah Taylor), untuk menghabisi seluruh spesies Mimic di Bumi dengan mencari lokasi induk semangnya yang bernama ‘Omega’ dan menghancurkannya.

Cerita film ini diadaptasi dari light visual-novel karya Hiroshi Sakurazaka berjudul ‘All You Need is Kill’ (I bet you never heard about that…or is it just me?). Cukup mengejutkan karena meskipun penulisan skrip dan alur ceritanya telah diubah dan disesuaikan dengan Hollywood-Blockbuster-style oleh Christopher McQuarry dan Jez Butterworth, namun film ini masih mampu bersaing dengan film-film time loop sebelumnya dan tetap terlihat berbeda walaupun sekilas menyerupai kombinasi dari Pacific Rim, Source Code, dan Saving Private Ryan.

Doug berhasil menemukan nilai-nilai baru yang fresh dari konsep film time-loop yang sudah sering dieksploitasi. Walaupun film epic action sci-fi ini terkonsep dengan sangat kompleks dan cermat, Evolusi karakter Bill Cage—dari seorang public talker menjadi silent warrior (from zero to hero)—membuat film ini berhasil untuk menjadi lebih manusiawi dari sekedar mecha-suit soldier-shooting, slashing, and bombing-the-gruesome-alien film.

*SPOILER ALERT*

Mungkin juga akting Tom Cruise dan Emily Blunt serta chemistry yang sukses mereka ciptakan yang membuat atmosfer film ini menjadi hidup dan bermakna lebih dari sekedar alien datang -> mati -> hidup lagi -> ulangi -> bunuh lagi. Personal, boundless, cold-but-silently-deceitful, and no-string-attached man-and-woman affection yang mereka tunjukkan saat saling melindungi satu sama lain dan menghabisi mimic bersama-sama akan membuat beberapa penonton seperti gue ngga peduli dengan long-term-continual relationship—yang tidak jelas apakah terjadi atau tidak—di ending film ini. Mungkin bisa dibilang gue kecewa karena di ending mereka tidak benar-benar mati. Mungkin gue orang yang terlalu meninggikan konsep ‘veiled-and-cold-happiness-of-having-each-other-behind-their-struggle’ di dalam cerita dibandingkan sekedar usual ‘udah-gitu-aja’ happy ending. Entah apakah Chris dan Jez menginginkan agar endingnya berhasil memuaskan penonton mayoritas. I like the story much better before it hits the ending.

Film ini istimewa dan layak untuk ditonton karena menawarkan sesuatu yang segar di antara kelahiran banyaknya film sci-fi di 2014 yang gitu-gitu aja. Tom Cruise, lagi-lagi, menciptakan pesona yang menonjol di film ini dengan aktingnya yang total. Film ini recommended buat siapapun, terutama bagi para remaja nanggung yang butuh memahami arti dari YOLO secara komprehensif dan filosofis.

DISTOPIANA’S RATING: 4 out of 5.