The Night Comes for Us (2018) – The Bloody Dance of Redemption

Belakangan ini, gue emang lebih banyak ngulas film-film yang gue tonton di akun Instagram Distopiana. Alasannya adalah karena gue terlalu sibuk dengan kerjaan dan side-job yang terlalu makan waktu, plus gue juga agak sedikit ngerasa losing my touch in article-based writing. Jadi blog ini sempet vakum selama beberapa bulan sampai akhirnya saat ini gue memutuskan untuk nulis di sini lagi. Kenapa? Karena ada satu film yang berhasil bikin gue untuk mau nulis dengan format artikel lagi, judulnya The Night Comes for Us. Gue merasa, semua hal yang harus gue ungkapin tentang film ini nggak akan cukup untuk dibagikan di Instagram. Lagipula semua filmmaker yang terlibat di segala departemen produksi film ini patut untuk gue berikan apresiasi lebih dari sekadar ulasan singkat di sosial media yang bahkan menurut gue sendiri pun cukup malas.

The Night Comes for Us bercerita tentang Ito (diperankan oleh Joe Taslim), salah satu dari The Six Seas, sebuah tim yang berperan sebagai “pelicin” dari organisasi kriminal Triad untuk menjalankan bisnis gelap penyelundupan barang mereka ke seluruh negara-negara Asia Timur dan Tenggara. Terlalu lama tenggelam di dalam dunia yang gelap dan tak berperikemanusiaan, hati Ito tergerak seutuhnya saat ia harus memutuskan untuk membunuh seorang gadis kecil dari sebuah desa yang harus ia habisi seutuhnya karena telah mencurangi bisnis Triad. Setelah membelot dari Triad dan membawa gadis kecil bernama Reina tersebut, Ito harus menghadapi serangan brutal dari para pihak yang mencoba membunuhnya tanpa belas kasihan, termasuk teman masa kecilnya yang ambisius bernama Arian (diperankan oleh Iko Uwais).

Sekilas, premisnya memang terdengar seperti template film aksi yang biasa-biasa saja. Belum lagi reputasi Timo Tjahjanto sebagai sutradara film-film berbau kekerasan dengan cerita yang dangkal dan naskah yang sering tidak masuk akal bikin gue punya ekspektasi awal yang cukup rendah terhadap film ini. Namun nyatanya, Timo sama sekali nggak main-main dalam mengolah skenario, cerita, maupun penuturan film yang akhirnya dibeli lisensi penuhnya oleh Netflix ini. Gue kaget ngelihat banyaknya porsi drama dalam film ini yang mengobrak-abrik emosi gue. Meskipun porsi dialog yang disajikan cukup minimalis, Timo menuturkan cerita The Night Comes for Us dengan lebih efektif lewat aspek-aspek storytelling intrinsik lain yang membuat tone film ini dapat dideskripsikan lewat tiga kata: badass melancholic bitch. Beberapa yang bisa gue sebutin tanpa ngebocorin film ini: adegan saat Bobby Bule (diperankan oleh Zack Lee) mencoba melindungi Shanti, istri Ito (diperankan oleh Salvita Decorte) dari gerombolan anak buah Yohan dengan mendorongnya keluar dan berpura-pura seakan-akan Shanti adalah pelacur yang baru saja ia sewa. Momen ini hanya berlangsung kurang dari lima menit, namun memiliki emotional impact yang besar bukan hanya karena shot, cut, dan slow-motion effect-nya dilakukan dengan tingkat presisi yang tinggi, namun juga karena akting yang memukau dari dua pemeran tokoh tersebut. Belum lagi, adegan terakhir Fatih saat menyetel lagu “Benci untuk Mencinta” di dalam mobilnya sebelum melakukan kamikaze. Ketepatan penggunaan lagu di momen tersebut pastinya bakal memberikan sensasi yang bikin jantung lo serasa ditusuk berkali-kali.

Adegan memorable lainnya? The fucking ending. Right before the fucking credit shows the name of the person who is responsible for this piece of hellish creation. One of the best ending since Call Me by Your Name. I shit you not.

Tentu sebuah naskah yang baik nggak akan berfungsi kalau semua tokoh yang dihadirkan nggak mampu menjaring simpati penontonnya. Maka dari itu, saya ingin memberikan penghormatan setinggi-tingginya pada Timo karena telah berhasil menciptakan banyak ikon heroik yang ANJING KEREN-KEREN BANGET BANGSAT! Ito dengan senyumnya yang menyerupai iblis saat mengintimidasi musuh-musuhnya. Bobby Bule yang dulu tingkahnya sembarangan tapi sekarang pincang, mengidap PTSD, dan akan melakukan segalanya demi membayar semua kesalahan yang dia perbuat. Fatih (diperankan oleh Abhimana Aryasatya) yang bijak, protektif, dan setia kawan. Alma (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) yang playful dan sering tertawa dengan senjata senar Yo-Yo yang sangat khas dan Elena (diperankan oleh Hannah Al Rashid) yang dingin namun mempunyai banyakan gerakan dansa maut yang indah. The Operator (diperankan oleh Julie Estelle) yang misterius dan mematikan. Arian si anak bawang ambisius yang jago berantem tapi gampang dimanfaatin. Semua karakter bersatu padu di dalam harmoni cerita dan koreografi pertarungan yang solid membentuk jalinan adegan demi adegan yang akan selalu membekas di dalam ingatan lo semua. Nggak percaya? Tonton aja sendiri gimana bocah-bocahnya Fatih dan Bobby Bule mati-matian bentrok sama kroco-kroconya Yohan buat ngelindungin Reina. Atau gimana saat Elena ngebalikin salib di dinding rumah sebelum ngehajar The Operator bareng Alma. Atau di pertarungan terakhir saat persaudaraan Ito dan Arian diuji lewat pukulan dan serangan bertubi-tubi yang diluncurkan. Oleh karena itu, big round of applause untuk para aktor luar biasa yang telah memerankan tokoh-tokoh penuh warna tersebut dengan penuh penghayatan.

Ada satu tokoh penting yang sedari tadi gue sebut, namun belum gue bahas secara mendalam. Kenapa? Karena karakter yang satu ini terlalu menarik untuk tidak diberikan satu paragraf penuh pemaparan detailnya. Iya betul, dia adalah Yohan. Seorang pengedar kokain berkedok tukang potong daging yang diperankan oleh Revaldo, sang Rangga dari miniseries AADC yang sering diparodikan oleh kreator meme lokal sebagai kembaran dari Adam Driver. Siapa sangka, setelah banyak hal buruk yang telah ia lalui (termasuk direhabilitasi karena kasus narkoba), ia kembali ke hadapan para penikmat sinema dengan menghadirkan sosok Yohan, sang bos kriminal amatir yang banyak gaya namun cengeng dan nggak bisa ngapa-ngapain tanpa anak buahnya. Memang terdengar receh, secara ia hanyalah sebuah sub-plot yang menggiring cerita masuk ke dalam konflik babak kedua. Namun, kehadirannya mampu menyalakan atmosfir yang mencekam sekaligus komikal dan iba secara bersamaan. Saya senang sekali bagaimana karakter anak-anak hipster Jakarta Selatan dapat sepenuhnya terwakilkan lewat cara Yohan bertutur kata. Bagaimana kata-kata yang dianggap tabu dalam dialog film Indonesia seperti “ngentot” dan “Cina bangsat” dapat terucap dengan lantang dan tepat sasaran lewat mulutnya. Bagaimana Yohan mengakhiri kalimatnya dengan “man” saat berbicara dengan bahasa Inggris via telpon (“Ito is here, man!”). Tidak hanya memberikan Revaldo awal baru yang sangat baik untuk kemajuan karirnya di masa depan, hal ini juga sepatutnya dapat meyakinkan penonton bahwa Timo telah mengawali pembenahan penulisan naskahnya lewat penulisan tokoh yang memperhatikan detail sekecil apapun peran mereka.

Biarpun begitu, gue nggak bilang bahwa The Night Comes for Us tanpa cela. Masih ada tokoh dengan motivasi yang kurang jelas dan bikin kita susah untuk root for them, yaitu The Operator dan Wisnu (diperankan oleh Dimas Anggara). Gue udah nonton tiga kali di Netflix dan masih nggak ngerti maksud The Operator ngomong “Jawaban lo bakal menentukan apa yang bakal gue lakuin ke lo malem ini” pas dia nanya ke Ito dia masih Six Seas atau bukan. Gue juga nggak ngerti kenapa pada akhirnya dia memutuskan untuk melindungi Reina. Gue juga nggak ngerti kenapa si Wisnu ini cuma kayak pesuruh yang planga-plongo doang tapi matinya susah bener pas ngelindungin Reina. Mungkin pada akhirnya itu semua akan terjawab di sekuel yang sudah dijanjikan sama Timo. Tapi tetap saja sebuah hal yang membuat frustasi apabila mengangkat sesuatu yang tidak ada kejelasannya sama sekali sampai film berakhir cuma demi memperluas angkasa cerita.

Kalau soal koreografi pertarungan, tidak usah banyak dibahas lagi. Timo belajar banyak dari Gareth Evans soal penyajian adegan-adegan bela diri, dan aman bagi gue untuk mengatakan bahwa tingkat kebrutalan yang ditampilkan film ini berada di atas The Raid 2. Nggak ada satu pun tulang dan daging yang selamat. Setiap kali gue nonton ulang adegan pertarungan di film ini, gue selalu khawatir sama kesehatan para aktor dan extra yang udah dipatah-patahin badannya di film ini. Gimana caranya Timo bikin semua adegan beranten serealistis ini tanpa harus beneran bunuh orang? Itu bocah yang disangkutin di kaitan tempat ngegantung daging sapi apa kabar sekarang?

Perbedaan mencolok dari adegan pertarungan The Raid 2 dan The Night Comes for Us adalah dari kapasitas humornya. Saat The Raid 2 menawarkan one long take untuk memancarkan keindahan tarian bela diri pembunuhan, The Night Comes for Us mewarnai tiap koreografi lewat humor slapstick yang diselipkan secara subtle. Contohnya, saat pukulan Ito meleset dan malah mengenai tiang beton, tendangan susulan Arian pun meleset dan walhasil tulang keringnya berbenturan mesra dengan hal serupa dan pertandingan terhenti beberapa saat karena kedua pihak saling kesakitan dengan gestur yang tepat berada di satu titik antara kejenakaan dan kebrutalan. Anda yang gampang terhibur juga pasti tertawa melihatnya.

Sangat menyenangkan untuk mengetahui bahwa meskipun kita mungkin selamanya tidak akan pernah mendapat titik terang tentang kemunculan The Raid 3, namun kita mendapatkan penggantinya yang mungkin akan lebih superior daripada franchise yang sudah mendapat predikat legendaris tersebut. Ini adalah sebuah awal yang baik untuk masa depan film action Tanah Air, dan gue seneng banget untuk mengetahui bahwa masa depan tersebut ada di tangan yang sangat baik.

Distopiana’s Rating: 4.5 out of 5.

Dilan 1990 (2018) – Dilan dan Mereka yang Tidak Jelas

Sebelumnya, kami meminta maaf karena kembali membahas sesuatu yang sepertinya sudah agak terlambat untuk dibicarakan. Terlalu banyak kesibukan duniawi yang menghalangi untuk menyelesaikan hobi kami yang tulus dari hati dan tidak dibayar ini. Namun biarpun begitu, kami rasa belum terlambat bagi kami untuk mendiskusikan satu film Indonesia yang mungkin tidak terlalu bagus, namun penting untuk dibicarakan karena animo serta angka penjualan tiketnya yang sangat tinggi.

Tayang pada 25 Januari lalu, Dilan 1990 sukses menjadi bahan pembahasan utama mayoritas penduduk Indonesia. Volume pembicaraan yang menggunung selama dua bulan berturut-turut di sosial media ini juga sukses memancing tidak hanya institusi pemerintahan, namun juga brand-brand terkemuka di Indonesia untuk menjadikan kutipan film ini sebagai gimmick demi menarik minat dan perhatian target konsumen mereka.

Sudah banyak sekali yang membahas tentang film ini dari berbagai sudut pandang. Detha Prastyphylia membahas tentang bagaimana film ini bisa laku keras di Indonesia lewat akun Twitter miliknya. Stephany Josephine, blogger film “suka-suka”, membahas daya tarik film ini lewat sudut pandang penonton awam dengan gaya bahasa yang mengundang gelak tawa di blog miliknya. Kami pun pada awalnya berniat membahas film ini dari perspektif yang umum, namun seiring berjalannya percakapan, kami berdua menemukan kecemasan yang sama terhadap salah satu unsur penting di film ini: para karakternya.

  • Tommy: “Nah Bung, sebagai orang yang cuma pernah diceritain tentang Dilan 1990, gue menilai Dilan 1990 sebagai sebuah cerita yang sebenernya komedi romansa, bukan serius. Cerita ini menurut gue adalah komedi romansa dengan unsur unik di mana unsur seriusnya dibawakan oleh situasi dan skenario, sedangkan komedinya sendiri dibangkitkan oleh para karakternya. Nah, gue pun secara fisik menilai Dilan penggambaran Pidi sebagai sesosok pria SMA Sunda yang caleuy, sok ganteng, tapi punya prinsip kuat. Begitu gue denger kabar bahwa Iqbal CJR yang bakal meranin Dilan, antusiasme gue langsung turun. Dari yang males nonton sampe anjir ogah banget.”
  • Bunga: “Hahaha wajar sih, Tom. Terus, menurut lo gimana setelah nonton?”
  • Tommy: “Asli, Bung. Gue merasa bodoh banget udah mikir kayak gitu. Gila Iqbal, bagus banget jadi Dilan.”
  • Bunga: “YA KAN? Gue juga awalnya amat sangat bingung waktu tau Dilan bakal diperanin sama Iqbal. Jangan salah sangka, gue dari dulu ngikutin Iqbal (dan kalaupun bukan fans CJR) tapi tau kalo kemampuan akting dia kalau diasah bakalan bagus. Gue cuma gak yakin apakah dia bisa menjadi “Dilan” seperti yang ada di buku. Ehhhh ternyata…kaget gue. Asli. 100% melebihi ekspektasi. Dia ngasih warna ke Dilan, yang visualisasinya masih burem banget buat pembacanya. Cheesy quotes-nya gak berkesan “pendek” dan maksa. Salut deh pokoknya.”
  • Tommy: “Asli gue juga mikir kayak gitu, Bung! Eh, tapi gue penasaran deh. Menurut lo yang udah tamat baca bukunya, Dilan itu karakter yang seperti apa?”
  • Bunga: “Hmm… karena gue sudah baca buku Dilan jauh sebelum nonton filmnya, buat gue buku ini bisa masuk ke berbagai genre seperti komedi, drama, keluarga, dan bahkan nyerempet sedikit ke literatur, tapi tetap di dominasi sama romansa yang unik dan punya gaya nya sendiri. Karakter Dilan itu buat gue, your high school bad boy with a twist. Entah gimana caranya dia bisa bikin segala hal yang cliche menjadi nyeleneh dan “Dilan” banget. Dia ganteng, tapi bukan sekedar ganteng. Dia puitis, tapi suka ngakak. Dia bandel, tapi gak pernah kurang ajar. Tapi betul kata lo, yang jelas dia punya prinsip.”
  • Tommy: “Yes, I hate to say this, tapi Iqbal ke karakter Dilan tuh seakan akan udah kayak Nicholas Saputra ke karakter Rangga. His true aura empower Dilan’s character. Nggak akan ada lagi yang bisa meranin Dilan sebagus dia. Biarpun mungkin memang cara dia delivering his lines itu terdengar sangat textbook, tapi ya memang karakternya Dilan begitu kan di buku? Dia kalo ngomong nggak kayak orang biasa. Kadang terlalu baku, jadi aneh. Gue sepakat sama lo tentang karakter Dilan. He’s one of a kind character that you can relate to, and he’s the one you definitely can root for.”
  • Bunga: “Betul. Banyak yang bilang kalau akting Iqbal sebagai Dilan & cara dia menyampaikan dialog itu kaku banget, tapi justru gue kebalikannya. Di dalam kekakuan karakter Dilan, Iqbal justru berhasil membuat kakunya menjadi kaku yang punya makna terselubung. Something that’s bigger than the words said themselves, kalaupun memang nggak bisa dibandingkan dengan cara remaja biasa ngomong in reality.
  • Tommy: “Betul, Bung. Nah tapi cuma satu yang bikin gue sedikit resah.
  • Bunga: “Nah, kayaknya gue tahu lo mau ngomong apa nih, Tom…”
  • Tommy: “I know you know it, karena lo feminis dan gue anti-patriarkis, pasti pikiran kita sama soal satu karakter ini.”
  • Bunga: “Milea?”
  • Tommy: “Ya iyalah. Siapa lagi? Hahaha.”

  • Bunga: “Sejujurnya gue lebih menaruh harapan ke Vanesha dibandingkan Iqbal, mungkin karena gue udah liat akting kakaknya (Sissy Priscillia) duluan di berbagai film dan instantly menganggap kalau Vanesha akan ngasih justice buat Milea juga. Tapi ternyata gue salah. Gue gak bilang akting Vanesha jelek (it’s her debut, for God’s sake!) tapi memang gak bisa dibohongin kalau Milea yang gue “cari” nggak ada disitu. Ibaratnya, Milea sebagai karakter cuma ada untuk ngebalesin Dilan doang. Gue gak bisa menangkap sifat dia, apa yang dia suka dan gak suka, kenapa dia mau sama Dilan (selain karena digombalin) dan Dilan mau sama dia, dan lain sebagainya. Dia gak punya personality yang cukup signifikan untuk jadi sebuah karakter, let alone protagonis.”
  • Tommy: “Wah, sangat menarik nih. Soalnya gue udah ngomong sama dua orang tentang hal ini: Fira dan temen kerjaan gue Annisa. Mereka berdua bilang bahwa Milea itu di buku memang nggak jelas maunya apa. Annisa yang bahkan udah baca semua seri buku Dilan pun bilang bahwa Milea dari awal sampe akhir bakal gitu terus. Manic Pixie Dream Girl versi nggak ada rasanya. Nah bagi lo sendiri, Milea yang lo baca di novel itu seperti apa? Mungkin lo punya interpretasi yang beda dari Annisa nih…”
  • Bunga: Gue setuju dengan Annisa yang bilang Milea itu nggak jelas maunya apa. Menurut gue, di buku Milea adalah karakter yang plain banget. Lebih mengarah ke pemanis cerita dibandingkan protagonis yang bold & solid seperti Dilan. Dia itu ibarat kanvas putih polos yang belum diisi apa-apa. Entah Milea yang asli orangnya memang begitu atau gimana, gue kurang tau juga. Cuma gue sedikit kaget aja kalau Milea yang di film bisa bener-bener sehambar ini… hahahaha.
  • Tommy: “Berarti secara tidak sengaja, Vanesha sebenarnya bisa dibilang sukses jadi Milea dong ya?”
  • Bunga: “HAHAHAHAHA WOI JAHAT AH!”
  • Tommy: “HAHAHAHA! Anyway, gue seneng dengan ceritanya Dilan yang almost plotless tapi nggak mencoba mendramatisir apa yang sebetulnya nggak perlu. Film Dilan 1990 ini juga tahu apa yang ingin dituju dan apa yang ingin dikisahkan. Fresh banget untuk film-film romansa remaja Indonesia.”
  • Bunga: “Yes! Plotless adalah hal pertama yang ada di pikiran gue setelah keluar dari bioskop. Dilan adalah film yang punya tujuan, tetapi tetap realistis dan memilih untuk “menggantungkan” penonton demi membuat mereka penasaran nonton film selanjutnya. Gue suka bagaimana Dilan tidak takut untuk menunjukkan bahwa cewek dipukul cowok itu — unfortunately — masih lumrah, terutama di kalangan anak muda (karena yang biasanya kesorot itu cuma orang tua). Plus adegan tawuran & geng motor yang nyeremin, tetapi emang masih bener terjadi di dunia nyata. Eksplisit banget. Gue sampai sekarang masih belum bisa lupa tatapan Dilan yang keras saat naik motor, jadi panglima tempur di paling depan. Seakan-akan, ini loh sisi lain Dilan yang 180 derajat dari si tukang gombal dengan bahasa khas EYD.”
  • Tommy: “Betul. Mereka bener bener ngegambarin dunia nyata tanpa harus mendramatisir hal-hal yang sebenernya nggak perlu. Dilan ini cerita yang sebenernya character-driven. Dilan nggak cuma pegang komando geng motor, tapi dia pegang kontrol atas cerita tentang dirinya sendiri, and isn’t that amazing? I mean, segala hal yang ada di film ini, kalo nggak ada interupsi Dilan, pasti jadinya plain banget. Walaupun ada saat-saat di mana Dilan ilang, kita masih dibuat selalu menunggu “apa yang bakal Dilan lakukan ya?” Sebenernya hal seperti ini bisa dibilang sesuatu yang minus juga, karena hal ini bikin Milea ga bisa berkembang jadi karakter yang menarik.
  • Bunga: “This movie takes the importance of Dilan’s character to a whole new level. Di satu sisi bagus karena kita benar-benar ngerasain emosi, sifat & perilaku Dilan firsthand, meskipun di sisi lain pada akhirnya karakter-karakter lainnya (baik protagonis, antagonis dan pendukung) jadi sedikit “terlupakan”, including Milea-nya sendiri. Gue sendiri sejujurnya masih bingung sama esensinya karakter Kang Adi di film ini. Not gonna lie that he’s really an eye candy though, hehe.”

  • Tommy: “HAHAHA ANJIR ngomongin Kang Adi lagi. Agak ngakak loh gue ngeliat karakter Kang Adi bener-bener terlecehkan di film ini. Cuma sebagai Guru Privat Milea yang diem diem suka sama dia doang. Kenapa sih dua lelaki terhormat seperti Dilan dan Kang Adi harus suka sama Milea. Hmm mungkin karena amat sangat submisif kali ya?”
  • Bunga: “Sedih gue huh. Kang Adi potensinya banyak banget, entah memang belum dikembangkan (disimpan untuk lanjutan film Dilan) atau hanya hadir sebagai guru privat. Tapi kalau ternyata yang kedua yang benar, disayangkan banget sih.”
  • Tommy: “Iyaaa! Kalau nggak salah itu aktornya juga yang kemarin main Galih dan Ratna kan?”
  • Bunga: “Oh iya, ya. By the way, gila gue suka banget Galih dan Ratna! It was a really nice movie.”
  • Tommy: “Hadeh gue belum sempet nonton lagi. Oh iya, adegan favorit lo di film Dilan 1990 apa nih, Bung? Kalo gue sih jelas, pas Dilan tubir. Both sama gurunya yang nampar dia dan juga sama Anhar.”
  • Bunga: “Hmm, gue setuju sama lo waktu Dilan tubir. Feelnya dapet banget. Waktu dia naik motor, natap kamera dengan intens dengan background orang-orang bersorak ria yang super anarkis. Bener-bener bikin merinding. Gue juga enjoy waktu scene Milea dipukul sama temannya Dilan di warung tongkrongan mereka. Buat gue, itu adalah salah satu scene yang berhasil menepis stereotype di masyarakat. Wake up, masih banyak loh di luar sana, in reality, yang cowok berani mukul cewek! And it’s not always about KDRT!”
  • Tommy: “Whoa preach girl!”
  • Bunga: “Eh sorry-sorry gue ngegas. Tapi gimana ya, Tom. Karena buat gue potrayal dari violence itu penting banget (karena sayangnya masih marak di Indonesia), jadi agak seneng kalau ada ranah seperti ini diangkat ke layar lebar. Serem banget sih, tapi gue rasa bikin kita jadi mikir 2x dalam berkata dan berperilaku saat kita lagi emosi. Sama seperti Posesif.”
  • Tommy: “HAHAHA santai bungs, we should be uneasy about that stuff anyway.
  • Bunga: “Yes of course we should. Anyway, what’s your least favorite scene?”
  • Tommy: “If I have to say my least favorite scene, yaitu semua scene yang ada Kang Adi nya hahahaha. Sumpah, saking numpang lewatnya itu karakter gapenting, jadi resah terus bawaannya gue. Kayak “woi relevansinya apaan anjeng kasian ini karakter kaga jelas banget munculnya tiba tiba perginya juga tiba tiba, cuma buat jadi orang yang diem diem suka sama Milea aja hhhh”. Anyways, kalo lo gimana Bung? Least favorite scene lo apa?
  • Bunga: “Halah, gue juga scenes-nya Kang Adi sih.”
  • Tommy: “Sudah lah Bung ya, makin diomongin makin perih hahaha.”
  • Bunga: “Oh ya! Patut diacungi jempol juga akting Brandon Salim sebagai slut-shaming boyfriend nya Milea. Asli, akting dia bagus tapi underrated banget. Mungkin karena udah pada terlanjur fokus ke Dilan kali ya, hehehe. But thumbs up buat dia!”
  • Tommy: “Gue setuju banget. Brandon Salim aktingnya bagus jadi anak cengeng yang sok sok maskulin dan overprotektif.”

  • Tommy: “Kalau secara keseluruhan cerita dan treatmentnya, menurut lo Dilan gimana Bungs?”
  • Bunga: “Dilan is a heartwarming coming-of-age slash romance slash comedy slash drama movie that takes you on a rollercoaster ride of cheesy yet poetic pick up lines and how reality doesn’t really have endings. It just simply goes on, seperti yang divisualisasikan film Dilan itu sendiri. Which is a good thing karena buat gue, terkadang dunia perfilman Indonesia (terutama dalam genre romansa) sering terbuai sama safety-nya happy endings. It’s nice to see film-film romansa belakangan seperti Dilan dan Posesif perlahan mengubah stigma tentang itu.”
  • Tommy: “Interesting! Kalo menurut gue, film ini disajikan secara puitis dan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan HLHKNTL…”
  • Bunga: “HAHAHAHAHA “HLHKNTL” SERIUS AH TOMS :)))”
  • Tommy: “HAHAHAH SORRY …but seriously I love how Dilan 1990 serve the plotless story in a very modest manner as a reminder for everyone on how beautiful it is to be young, silly, idealist, and in love. Dan gue setuju terhadap deskripsi lo tentang film Dilan. Ia menjadi sebuah kisah cinta romantis lintas generasi yang semata-mata ingin menghidupkan kembali nostalgia remaja SMA tahun 1990 secara manis dan tetap realistis. Mungkin tetap juga, Dilan bisa dikatakan happy ending, tapi cerita ini pun seperti nggak ada awal dan nggak berakhir. Cerita Dilan juga mungkin akan berlanjut, seperti apa yang akhir film ini katakan, tapi berakhir di sini pun sebenarnya sudah cukup. It’s already a satisfactory nostalgia less-sugar candy for everyone who has ever feel love in their high school age.”
  • Bunga: “Karena mungkin emang untuk film-film seperti Dilan, gak butuh particular happy ending atau sad ending. Dengan mereka mengusut cerita yang realistic, seharusnya memang gak perlu ada ending, kan? I’m actually more excited for what is about to come in the second movie. Apakah mereka bisa menghidupkan kembali Dilan yang ini? Apakah Milea masih submisif? Apakah Dilan masih menjadi pusat dari filmnya? Apakah Kang Adi masih menjadi relevan? So many questions inside my head that are begging to be solved. Gue pun merasa film ini melebihi ekspekstasi gue, karena di awal udah drop sekaligus tinggi banget (aneh gak tuh?). But it really gives a nice tone to begin 2018, so I’m most likely almost satisfied.”
  • Tommy: “Biarpun memang agak biasa aja, tapi Dilan melebihi ekspektasi gue. Ini film yang cukup manis dan sama sekali nggak norak. Dan sebenernya separah apapun temen-temen gue tidak merekomendasikan Dilan karena novelnya sama sekali tidak memberikan perubahan pada karakter Milea, gue masih tetep penasaran apakah ke depannya sang filmmaker pada akhirnya mencoba untuk mengubah konsep cerita dan melakukan sesuatu pada si karakter perempuan utama tersebut.”
  • Bunga: “Right, right! Last thing, Tom. Who do you think should watch this movie?”
  • Tommy: “Film ini sangat baik untuk ditonton bagi orang-orang yang capek baru pulang kerja, terutama para pria. Enak gitu kelar kerja, stres, nonton Dilan ngalusin anak orang. Ngeliat kisah cinta mereka, terus berandai-andai jadi Dilan. Anak motor, ganteng, jago ngalusin anak orang, eh bisa dapetin MPDG kayak Milea. Atau, simply, ya orang-orang Bandung berumur 30-an ke atas yang pengen nostalgia masa-masa SMA mereka. Kalau menurut lo, Bung?”
  • Bunga: “Iya, sejujurnya buat gue biarpun latar film ini SMA, film ini lebih cocok untuk audience yang bukan anak SMA (atau setidaknya anak SMA dengan pola pikir yang diatas umurnya). Tapi, yang SMA tetep boleh nonton kok. Kali-kali aja bisa jadi referensi kalo mau ngemodusin cewek. Hehe.”

Masa muda, memang masanya bercinta. Namun sangat disayangkan apabila tradisi dan budaya berkencan anak muda zaman sekarang mesti terus menerus diromantisasi dengan karakter-karakter pasif yang tak mempunyai kejelasan motivasi namun selalu berhasil menemukan apa yang ia mau dan mendapatkannya tanpa ada usaha apapun yang signifikan. Dilan 1990 adalah film yang menarik, namun akan jauh lebih menarik bila karakter Milea dapat lebih dipertajam dengan motivasi dan effort yang lebih jelas agar tidak hanya mampu menarik simpati gadis-gadis muda, namun juga memotivasi mereka untuk mencari jati diri yang lebih kuat selain soal pacaran dengan ketua geng motor ganteng dan juga harus melakukan upaya yang nyata untuk mendapatkannya selain hanya menunggu untuk dikejar.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Membedah “Posesif” (2017) – Orang Tua, Remaja, dan Keluguan yang Berbahaya

Kita semua pernah menjadi remaja, dan kita pasti merasa amat sangat bodoh bila mengingat kembali segala keputusan yang pernah kita ambil di masa remaja. Manjat pagar sekolah saat pintu gerbang ditutup karena telat, ngelawan guru dengan argumen-argumen sok pinter saat kita kena hukuman, pacaran sama cewek/cowok populer di kampus cuma karena mereka populer, jatuh cinta dengan obsesi serta kecemburuan yang mereka tunjukkan pada kita, dan hal-hal bodoh lainnya. Kebodohan yang kita lakukan tersebut tidak serta merta ada tiba-tiba, namun berasal dari lingkungan keluarga kita.

Inilah yang Posesif coba bahas secara berani dan gamblang. Berfokus pada isu toxic relationship, film yang disutradarai oleh Edwin tidak semata-mata memprovokasi kita untuk mengutuk dan mengecam pelaku kekerasan dalam sebuah hubungan, namun malah mengajak kita untuk memahami akar dari segala siklus kekerasan — yaitu pranata keluarga.

Film ini sangat istimewa buat saya. Saking istimewanya, saya memutuskan untuk tidak hanya mengulas film ini sendirian, namun juga membedah film ini secara dalam bersama rekan saya, Bunga Maharani, yang kebetulan sedang rehat sejenak dalam studi Psikologinya di Universitas Udayana. Agar terkesan mentah, familiar, serta enak dibaca, saya akan menyalin chat saya dan Bunga dari Line langsung sebagai ulasan film ini.

  • Tommy: “Halo Bungs! Akhirnya kita bisa review film bareng ya.”
  • Bunga  : “Yay! Setelah sekian lama 🙏🏻”
  • Tommy: “Nah, sebelum kita breakdown film ini, let’s start with one question: Apa kesan lo tentang Posesif sebelum nonton film ini?”
  • Bunga  : “Oh, look, it’s another coming-of-age romance! The premise does seem interesting though I’m not very sure about its execution, but let’s watch it anyway.
  • Tommy: “HAHAHA SAMA”
  • Bunga  : “I mean, it’s Indonesia’s teen romance after all…”
  • Tommy: “Kalo gue, awal ngeliat sih ‘Anjir lah Edwin kok berani sih masuk pasar mainstream tapi bawa premis yang terlalu biasa dan cheesy’?”
  • Bunga  : “I’ve been looking out for Edwin for quite awhile, but I never expected him to take an interest over film-film kayak gini. Karena film ini dari luar tidak terkesan complex. Meskipun pada akhirnya, ya… you know…”
  • Tommy : “Yess, secara gue ngikutin Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcard from The Zoo, nggak percaya lah gue Edwin bakal bikin film yang biasa aja. Apalagi produsernya Meiske Taurisia, yang bikin dokumenter “Potongan” yang blak blakan ngungkap LSF itu kayak gimana. Finally emang gue nggak kecewa sama sekali, dan kepercayaan gue terhadap Edwin sepenuhnya benar.”
  • Bunga  : “Dan satu poin lagi, when the word “posesif” crossed my mind, yang di otak gue adalah: pacar-pacaran SMA yang masih bersifat experimental, pasangan yang saling mengekang satu sama lain, atau A jealous sama B dan B jealous sama C. That’s it. Tapi ternyata… wah. So much more than that.”
  • Tommy : “Nah iya! Gue juga. I mean, film ini sukses ngangkat tema toxic relationship dari perspektif yang sungguh realistis, dengan narasi yang simpel tanpa ada unsur preaching sama sekali. Terlebih, bukan cuma sukses ngupas kulitnya, Edwin juga berhasil ngebedah daging dan akar-akarnya tanpa harus ngorbanin ceritanya menjadi sebuah khotbah Jumat ataupun pesan layanan masyarakat.”
  • Bunga  : “Karena pada akhirnya, yang masyarakat butuhkan adalah sebuah film yang bisa depict kejadian yang sehari-hari terjadi dengan cara yang paling simple, raw, tidak harus verbal (bisa dibuat metaphorical because, hey, some things are not always meant to be spoken out loud) tapi tetap ngena sampai ke hati dan bisa bikin kita mikir dua kali tentang life choices yang udah kita buat selama ini. Bukan cuma yang menggurui dan bias, atau bahkan jadi me-romanticize yang tidak seharusnya.”
  • Tommy  : “Goshhhh bener banget! Yuk langsung kita breakdown bareng filmnya!”
  • Bunga     : “Let’s goo!”

  • Tommy : “Di awal seperempat film, gue dibuat agak sedikit bingung sama perasaan gue sendiri.”
  • Bunga     : “And why was that?”
  • Tommy   : “Antara ‘Anjir ini cheesy abis mereka pedekate cepet amat, Yudhis kayak gaada tantangannya sama sekali buat dapetin Lala. Baru jalan sebentar langsung gambar-gambar pinguin di tangan’ sama ‘astaga kok treatmentnya indah banget. Tone filmnya seperti sebuah mixture lovely-lovely cinta monyet plus indie-indie Payung Teduh. Everything was visually beautiful’
  • Bunga   : “True! The visual aesthetics are so pleasing that I want to take screenshots of each scene and put them on my IG, hahahaha.”
  • Tommy  : “YAKAAN anjir itu gambar-gambarnya dibikin grid di IG bagus banget gila. Terkesan pop, tapi nggak murahan banget.”
  • Bunga    : “Dan lo notice kan, dari awal Yudhis itu terkesan… harmless. Your typical good guy with the perfect family and a balanced life. Well, that, until everything took a toll on both of them… *drumroll!!!*”
  • Tommy   : “Betul. Betul banget. Image good guy Yudhis perlahan diruntuhin sejak dia pertama kali nyamperin Lala latihan loncat indah pas malam hari. I mean…it’s not actually wrong, tapi kesan creepynya udah muncul.”
  • Bunga    : “Those laser beams, though, holy shit!!! Gue sama sekali tidak expect dia akan mulai transisi nya dengan nyenterin mata Jihan.”
  • Tommy  : “Kalo gue udah expect, tapi tetep aja gue ngeri pas dia akhirnya bener ngelakuin hal itu.”
  • Bunga    : “Ekspresi wajahnya Adipati bener-bener keren, dia bisa portray sisi-sisi lain Yudhis tanpa terkesan artificial. Yudhis yang manis, Yudhis yang posesif, Yudhis yang sakit.”
  • Tommy  : “Goddamn right. Ini bener bener penampilan Adipati terbaik sepanjang karir dia. Dari pembawaan Adipati sebagai Yudhis pas ngelaserin Jihan, gue malah udah bisa ngeliat kalo Yudhis itu cowok yang nggak bener buat Lala, he’s going to do something harmful to her sooner or later. Dia udah bisa bikin gue nerawang watak serigala di balik bulu dombanya.”
  • Bunga    : “Tidak perlu dengan gerak gerik yang berlebihan, cukup dari cara Yudhis menatap udah bisa bikin gue merinding. Dan ternyata dia umpetin lasernya di bawah sepatu! Sneakily clever.”
  • Tommy  : “Plus, treatment kamera dan editingnya bikin narasi jadi makin tajem. Mulai dari adegan Yudhis ngomong ke Lala di mobil pas siang “Aku itu pacar atau supir kamu” udah mulai serem, but somehow, lewat chemistry Adipati dan Putri Marino yang tajem, kita masih ngerasain manis-manisnya dikit.”
  • Bunga   : “Bikin kita pengen bilang “aww yudhis…” dan “anjinggg anjing anjing yudhis anjing” dalam waktu yang bersamaan.”
  • Tommy : “It’s not right to say “aww yudhis” because it’s not a good thing to do, tapi di sisi lain, kita bisa ngerti kalo dia ngelakuin itu karena sayang Lala dan cuma pengen ngabisin waktu lebih banyak sama dia.”
  • Bunga   : “FINALLY SOMEONE SAID IT. It’s the most fucked up “Aw Yudhis” ever.”
  • Tommy : “You’re damn right it is. Okay, sekarang let’s discuss about hubungan Lala dan ayahnya.”
  • Bunga    : “A heartbroken father who cares about his daughter but is unable to deliver his feelings the right way.”
  • Tommy  : “Nah, Fira kemaren baru abis nonton Posesif juga, dan dia bilang “Sayang banget hubungan Lala sama ibunya nggak begitu dalam dibahas di film ini“”
  • Bunga   : “True! It should have been explored more, kalau pun tidak perlu berlebihan.”
  • Tommy : “Nah, tapi menurut gue, memang harusnya persepsi penonton terhadap hubungan Lala dan ibunya harus dibuat seblur dan sesamar mungkin. Karena inilah alasannya mengapa Lala gampang banget jatuh ke Yudhis.”
  • Bunga   : “Yes, though us viewers are really curious about Lala’s mom, kalau misalnya ibu Lala diceritain secata detil dari awal, Lala nggak akan bisa segampang itu jatuh ke pelukan Yudhis. Gimana pun juga, ibu adalah role model anak perempuannya.”
  • Tommy : “Nah bener banget bung. Lala bener-bener harus dijauhin dari kasih sayang, supaya si viewers bisa dapet perception bias “cuma Yudhis yang bisa nyayangin dia”. Bapaknya nggak bisa ngungkapin rasa sayang ke anaknya karena lebih dibutakan sama ambisi agar Lala bisa push her limit. It doesn’t matter if Lala hated him. If it’s actually what it takes to make Lala to train harder and win the Olympiad, he would do it.
  • Bunga  : “Bapaknya terlalu sibuk dengan ambisi dan luka batinnya dia sendiri, dia lupa kalo anaknya juga punya trauma psikologis yang ekuivalen sama punya dia, atau mungkin lebih.”
  • Tommy  : “True. True banget.”
  • Bunga  : “Kelihatan banget dari ekspresi Lala waktu bapaknya bilang Jihan itu patokan dia. Pain, annoyance, mortification… tapi dia gak bisa bilang apa-apa (setidaknya sampai beberapa saat kedepan).
  • Tommy  : “Yup, bener banget. Nah, sekarang kita bahas adegan pas Lala main ke kafe sama Ega dan Rino.”
  • Bunga    : “Holy mother of God… THIS.”
  • Tommy  : “I KNOW RIGHT. INI ASIK BANGET BUAT DIBAHAS.”

  • Bunga   : “Gue dari awal udah greget banget waktu Lala bohong kalau nggak ada laki-laki yang ikutan nongkrong. ASLI.”
  • Tommy : “Kita tahu sebelumnya Yudhis udah sering ngebuntutin Lala secara creepy, dan Yudhis tuh udah mulai cemburu buta sama Rino.”
  • Bunga   : “Belasan, bahkan puluhan missed calls! Seriously, Yudhis?”
  • Tommy : “ANJING EMANG ITU GILAAAA 37 MISSED CALLS.”
  • Bunga   : “He failed to understand that guys and girls CAN be best friends. At least dalam circumstance ini. Waktu Lala keluar cafe dengan wajah panik dan ketemu Yudhis di depannya…wah.”
  • Tommy : “YES, when finally the shot shows the reflection of Yudhis di sebelah kanan, refleksi Lala di sebelah kiri, dan Lalanya sendiri di tengah menghadap ke belakang. ITU POETIC ABIS.”
  • Bunga : “Salut juga sih dengan pengambilan gambarnya — refleksi. Tidak haru tersirat tapi tetep ngena. Gesture nya simpleee banget, tapi nyes.”
  • Tommy : “Nah gue mau nanya nih bung. Menurut lo, gesturnya Rino sebagai temen cowok itu agak berlebihan nggak ke Lala?”
  • Bunga   : “As a girl who actually HAS a guy best friend… nggak berlebihan tapi nggak kekurangan, sih. Gue suka banget sama tagline Rino yang bilang, “gue ada buat lo”. Meskipun gue juga gak bisa nyalahin itu semua 100% Yudhis karena sebagai laki-laki, yang punya pacar dan pacarnya itu punya sahabat lawan jenis yang kenal duluan daripada dia, pasti akan ada sedikit (well, in this case banyak) sense of threat dalam dirinya. Rino is like…your gay best friend who is NOT gay — tipe persahabatan yang tulus dan asik, tapi paling mudah disalahartikan. Menurut lo?”
  • Tommy   : “Nah, sebagai orang yang punya pacar (dan sayang banget sama pacarnya), gue merasa Rino agak sedikit berlebihan. Gini loh, gue juga punya beberapa temen cewek yang akrab, tapi misal gue jadi Rino di situ, gue bakal nyuruh Ega buat ada di samping Lala secara personal, bukan nawarin bahu sendiri. Gue cuma bakal bilang “Gue ada buat lo” kalo misal temen cewek gue yang lagi sedih itu jomblo, ditinggalin gebetan, atau putus sama cowoknya. Selama permasalahan di antara temen cewek gue dan pacarnya bukan sesuatu yang ‘memutuskan hubungan’, gue gabakal mau risk myself nyelip di tengah tengah mereka. Makanya, menurut gue Rino salah di sini, tapi apa yang Yudhis lakukan ke Rino itu sama sekali nggak bisa dibenarkan. Dan apa yang Yudhis lakukan ke Lala (jambak-jambak kayak tai) itu juga salah. Salah banget.”
  • Bunga  : “Hmm, you do have a point sih. Karena bagaimana pun juga Rino itu laki-laki. Tapi perhatiin deh, Tom, ini sih point of view gue aja… dari semenjak tokoh Rino diperkenalkan, Rino itu udah keliatan banget kalo dia ngerasa kayak something’s up with Yudhis. Matanya, cara natapnya, gerak-gerik tubuhnya. Dan Ega gak bisa ngelihat itu. Maybe that’s why he decided to make an indirect intervention.”
  • Tommy   : “I see…you do have a point, too.”
  • Bunga  : “Gila, gue bawaannya pengen jambak Yudhis waktu nonton hahahaha. Setuju sih dengan tagline film Posesif — buat Lala, ini cuma cinta pertama. Tapi Yudhis mau selamanya. Tercermin banget di scene itu.”
  • Tommy  :  “Anjing ye ini film keliatannya simpel banget, tapi kalo dibedah bener-bener complicated.”
  • Bunga    : “Welcome to Edwin and Meiske’s world!”
  • Tommy  : “Okay, bahas caranya Yudhis pertama kali minta maaf ke Lala.”
  • Bunga   : “AH!”
  • Tommy: “Ini anjing treatmentnya bisa dibikin horror banget begitu. Lo notice kan…key shotsnya itu horror banget. Silhoutte behind the door. Suspense when Lala walks downstairs. Fokus shot ke gagang pintu yang digerak-gerakin dari luar…”
  • Bunga   : “YES. YES. YES. Apalagi dengan design rumah Lala yang agak “jadul” dan lampunya yang remang, lalu pintu kaca yang, hey, did you see a small hole on its surface?!
  • Tommy : “YA KAAAN?”
  • Bunga  : “Maafin aku, La… *jedotin kepala, ngetok pintu sampe gila*. Gue jadi Lala langsung telpon polisi lololol. Pancaran matanya bisa banget lho ini. Seakan-akan he lost control of himself and he KNEW that. Jarang lho ada orang abusive yang sadar akan kesalahan dia…”
  • Tommy  : ” Menurut lo, apa yang dilakukan sama Yudhis dengan jedotin kepala di pintu dan nampar nampar muka dia sendiri di depan Lala itu… Banyak ga sih cowo cowo yang kayak gitu? Because pas adegan ini di bioskop, ada sekumpulan cewek2 duduk di depan gue, mereka pada “Awwww kasian :3” pas Yudhis ngelakuin hal itu. Which I was like “no… That’s not how you suppose to react…“”
  • Bunga    : ” Dibilang banyak sih engga, tapi apakah cowok-cowok yang emotionally unstable punya tendensi untuk ngelakuin hal-hal itu? Iya. Karena gue — yang personally juga bilang kasian kalaupun gak pake aw juga sih HAHAHA — ngelihat Yudhis begitu lebih ke act of self-harm (because it’s so much more than slitting your wrist, hell). What he tried to showcase was self-hate, karena seperti yang tadi kita bahas dia lost control dan gak bisa jadi laki-laki yang baik untuk Lala, and self-hate IS considered self-harm. Seakan-akan dia punish dirinya sendiri, as if he deserved that kind of treatment and, surprise surprise! That kind of action was brought by none other than lingkungan sekitar dia, dan dalam case ini ibunya.
  • Tommy    : “Oh, I see. Thanks Bung! By the way, gue suka banget cara Lala meluk Yudhis di scene ini. Full of undescribable emotion yang bahkan gue juga ga bisa jelasin.”
  • Bunga   : “That was beatiful *sheds tear*”

  • Tommy  : “Lanjut ke scene clubbing.”
  • Bunga    : “LET’S! Don’t even get me started with this one. Dari awal sampe akhir scene clubbing cushion kursi bioskopnya udah gue cubit-cubitin parah.”
  • Tommy  : “Oke deh kalo gitu. Gue mau denger dari lo dulu tentang scene ini.”
  • Bunga    : “Intinya gue curiga sih, bener-bener penuh tanda tanya. Kenapa tiba-tiba Yudhis menurunkan ego dia dan mau berbaur sama temen-temennya Lala? ESPECIALLY RINO. Gak ada yang simple tentang behavior Yudhis. Dan bagaimana di club Yudhis selalu nyium Lala dengan agresif seakan-akan pengen nunjukin kalo, “she’s mine!” Dan ternyata, Rino juga notice hal ini setelah stealing glances here and there. Lo gimana?”
  • Tommy   : “Putri Marino jago banget nunjukin “Ih Yudhis apaan sih, freak banget. Jangan gitu dong sayang, jangan gini.” Dia tahu dengan hangout sama Ega dan Rino, Yudhis ngga bener-bener pengen mingle, tapi cuma pengen “membuktikan“, seperti kata Yudhis sebelumnya “aku bakal buktiin kalo aku bisa dapet maaf dari kamu.” And isn’t that such an annoying thing, dateng ke club tiba tiba, cuma pengen nunjukin “pembuktian”.
  • Bunga      : “YESSSSSS. Seakan-akan kasarnya kayak, “nih loh! gue udah main sama temen-temen lo! berarti kita baik-baik aja kan? udah puas?“”
  • Tommy    : “IYA.”
  • Bunga    : “And by the way, is it just me atau Rino keliatan aneh (baca: high) waktu scene pulang naik motor? As if someone spiked his drink or something? Atau dia emang kecapekan aja HAHA”
  • Tommy    : “Gue nggak ngeliat sih kayanya hahahaha tapi ya paling tipsy bungs, namanya juga party wqwq”
  • Bunga      : “HAHAHA been there done that. That scene tho, waktu Adipati bilang “hati-hati” ke Rino. Asli gue takut Tom. “
  • Tommy    : “What’s on your mind saat itu Bung, kenapa lo takut?”
  • Bunga  : “Karena hati-hati yang diucapin Yudhis itu kayak metafor. Perumpamaan dari sesuatu yang lebih besar, even when he wasn’t planning to do anything beforehand. Pasti ada ujungnya. And voila! Look what we got here.”
  • Tommy    : “Now i’m thinking about it again… And it DOES sounds scary. Kita masih belum tahu state of mind nya Yudhis itu beneran udah tobat apa emang cuma mau buktiin sesuatu karena ada maunya aja. Begitu dia ngomong “hati hati No“, it does become scary…”
  • Bunga      : “He was basically playing everyone’s minds. And guess what? The bitch made a u-turn and did the deeds.”
  • Tommy    : “Goddamnit… And how the film shows it. So subtle but so fucking intense.”
  • Bunga     : “Tidak perlu dialog (bahkan monolog) apapun, cukup dengan a simple hati-hati dan dampaknya anak orang dateng-dateng ke sekolah udah pake gips. Nice.”
  • Tommy   : “And… Is it just my imagination or… Pas Lala bangun dan nanya “Itu apa sayang?” Si Yudhis jawab “Bukan apa apa kok sayang” dengan suara yang parau banget. Seakan pengen nangis. Tau apa yang dia perbuat salah tapi demon nya dia lebih dominating his mind.”
  • Bunga    : “Antara bersalah sekaligus lega karena hasrat dia untuk nabrak Rino terpuaskan.”
  • Tommy  : “Right. Oke move on ke key scene selanjutnya. Pas Lala tiba tiba masuk UI.”
  • Bunga    : “Dilema kelas 12… *sighs* Gue agak kaget sih karena Lala teguh sama pendiriannya. Setelah serentetan kejadian antara dia sama Yudhis gue sangka bakalan ikut ke Bandung.”
  • Tommy    : “Justru menurut gue Lala salah di sini. Dia bohong sama Yudhis. Tapi Lala nggak bisa disalahkan begitu saja karena once again, dia takut sama Yudhis.”
  • Bunga   : “Fear makes people do illogical things, itu sih yg gue tangkep dari Lala dan Yudhis selama film berlangsung.”
  • Tommy : “Yesss bener banget. Posesif bagus banget nunjukin relasi hubungan yang rumit antara kasih sayang dan rasa takut. Also, I notice something really really scary about men’s tendency to demoralize women who reject her. “Udah dipake berapa orang lo? Berani banget ngelepasin cowok segampang ini?” Cowok itu makhluk yang paling fragile dan berbahaya kalo udah kena rejection dan humiliation. Sebagai cowok pun gue bisa mengakui hal ini.”
  • Bunga   : “HAHAHAHA. Males are complex indeed. Padahal kan bukan berarti kalo cewek punya pendirian aka sesuatu itu artinya dia bisa dengan mudah di konotasikan dengan stereotype2 gak beralasan.”
  • Tommy  : “Tapi lagi lagi kalo situasinya udah kayak gini, cowok tuh cuma mikirin perasaannya sendiri.”
  • Bunga    : ” Emotion is a scary mind trick.”

  • Tommy   : “Nah Bung, menurut lo, terlepas dari seberapa creepy dan horror treatment film ini, apa yang dilakukan Yudhis ke Lala pas surprise ulang tahunnya di tengah malem itu sebenernya creepy ngga?”
  • Bunga    : “HELL IT WAS. 1) entah gimana caranya Yudhis bisa dapetin kunci rumah cadangan Lala, 2) I don’t know — most people yg berniat bikin surprise itu gak se-frontal Yudhis yg langsung nyelinap masuk kayak pencuri. What do you have in mind?”
  • Tommy   : “MOTHERFUCKING YES. Gue nggak ngerti kenapa Lala (dan obviously, sekumpulan cewek yang duduk di depan gue pas gue nonton) bisa nganggep itu sweet dan “awwww soswit”.”
  • Bunga     : “HAHAHAHA mereka mikirnya gak sampe sana Tom. The sad thing is that Lala (dan beberapa cewek di depan lo itu) was so blinded from the surprise (which equals, coughs, happiness) dia gak perhatiin 2 hal creepy yang gue list barusan.”
  • Tommy  : “Tapi yah…mungkin Lala nggak perhatiin hal tersebut karena sekali lagi, dia nggak ngedapetin kasih sayang yang cukup dari keluarganya, sehingga dia terima-terima aja apapun yang Yudhis lakukan sebagai “bentuk kasih sayang”
  • Bunga      : “True…. sadly. Film ini ngajarin betapa penting nya peran lingkungan terhadap seseorang.”
  • Tommy    : “Termasuk lingkungan keluarga dan kedekatan orang tua terhadap kondisi psikologis anak. Eh, by the way, lo sadar kan bahwa di adegan ini ada kayak “subtle hint” yang menunjukkan bahwa mereka itu “ngapa-ngapain”?”
  • Bunga  : “Of course *winks like batshit crazy* Which eventually led us to pernyataan Yudhis bahwa Lala “udah dipakai berapa cowok?”. Seperti yg udah kita bahas sebelumnya”
  • Tommy    : “Terus Lala juga luluh luluh aja lagi dengan cara Yudhis minta maaf yang sangat freak tersebut. Atmosfirnya berhasil banget dibikin sama Edwin jadi romanticly creepy.”
  • Bunga    : “GILA LO YA. Kalo ada laki-laki yg minta maaf ke gue dengan cara yg sama kayak Yudhis…I would flip my shit.”
  • Tommy  : “Flip your shit in a positive or negative way? Hahahaha.”
  • Bunga    : “THE LATTER. This bitch ain’t no hopeless romantic. Would you do the same thing like Yudhis? Seandainya lo bikin kesalahan sama pacar lo dan lo berniat surprise-in dia.”
  • Tommy   : “Nope. Never. Unlike Yudhis, gue berbaur sama temen-temennya dia (cewek maupun cowok) sejak kita awal pacaran. And they’re gonna be the ones who help me do that for her. Seandainya mereka nggak approve my way of saying sorry atau mereka nganggep gue lebih baik leave her for good, then it’s time for me to actually leave for good.”
  • Bunga    : “*flashbacks to when Fira asked me to help her assemble your birthday surprise* that was lit, fam.”
  • Tommy  : “I’m such a lucky bastard, aren’t I? :”)”
  • Bunga    : “Yes you are.”
  • Tommy  : “HAHAHA oke balik lagi ke Posesif. Now it’s time to talk about our favorite part: Cut Mini Part.”
  • Bunga    : “HAIL CUT MINI. Jarang banget perfilman Indonesia itu ngangkat tentang orangtua yg abusive, apalagi antara anak laki-laki dan ibunya. Gue pun gak yakin kalaupun udah diangkat, apakah bisa se-ngena ini atau engga.”
  • Tommy    : “BENER BANGET.”
  • Bunga     : “Terkadang masyarakat lupa, abusive parents can come from ANY background. Tidak harus alkoholik, tidak harus ber-gender tertentu, tidak harus penuh benci 24/7 dan tidak harus menghasilkan luka lebam noticeable di badan anaknya. Buktinya, Yudhis’ mother came out as a beautiful-yet-stern real estate agent who was balancing her life as a single parent.”
  • Tommy : “True. Very true. Nah, by the way gue mau nanya sama lo nih Bung. Menurut lo, tepat nggak menyebut fenomena yang dialami Lala ke Yudhis sebagai Stockholm Syndrome? Karena menurut gue kurang tepat deh…tapi kayaknya banyak kaum netijen yang tetap menyebut hal ini dengan terminologi “Stockholm Syndrome.” Padahal menurut gue, yang sebenernya Stockholm Syndrome itu Yudhis ke Mamanya.”
  • Bunga  : “Stockholm Syndrome… hmm… *stretches fingers for a long ass explanation* Sejatinya, stockholm syndrome itu kan feeling of affection towards a captor. Disini posisinya, Lala adalah victim dan Yudhis adalah sang culprit. Buat gue, personally — maaf masih amatir — apakah tindakan Lala benar2 mencerminkan seseorang yg mengalami Stockholm Syndrome? Mungkin. Tapi gue rasa belum sejauh itu. The symptoms DID exist, though, bisa keterusan kalo gak “dipangkas” hubungannya. Karena yg gue analisa, selain afeksi Lala juga punya rasa takut yg bersifat subconscious terhadap Yudhis. Jadi tidak pure afeksi aja. What do you think?”
  • Tommy   : “Sama. Menurut gue kurang tepat karena belum sejauh itu. Basis keinginan Lala bertahan di dalam hubungan mereka masih didasarkan afeksi yang timbul dari kelakuan baik Yudhis terhadapnya, bukan dari kelakuan buruk Yudhis.”
  • Bunga   : “Lala itu masih dalam ranah experiment. Yudhis tidak. Lala belum bisa memilah mana yang baik dan tidak (setidaknya sampai dia “kepentok” dengan perlakuan Yudhis). Sedangkan Yudhis TAU dimana letak kesalahan dia, cuma bedanya dia gak bisa kontrol. Karena kalo Yudhis gak tau, gak mungkin dia bakalan minta maaf sama Lala, apalagi dengan cara seperti itu. Sejujurnya, “terlalu” itu emang bahaya. Terlalu baik, terlalu jahat, terlalu sayang, terlalu peduli, terlalu emosi. Kayak lagi naik rollercoaster aja, gak ada in between nya (kalopun ada ya singkat banget, gak berpengaruh yg signifikan).”
  • Tommy   : “Betul Bung. Setuju. Nah, tapi kalo Yudhis ke ibunya itu sudah tepat belum kalau disebut Stockholm Syndrome?”
  • Bunga     : “Bukan tepat, tapi “lebih tepat”. Dibandingkan antara Lala dan Yudhis. Karena Yudhis itu KETAKUTAN. Dan itu tidak subtle kayak Lala. Lihat aja expression dia waktu dihajar pake high heels.”
  • Tommy    : “Dan expression dia pas Lala nenangin dia dan ngajak dia kabur. Goddammit, ini emang akting terbaik Adipati sepanjang karirnya.”
  • Bunga      : “SHIT FAM THAT SCENE GOT ME FUCKED UP. Literal goosebumps.”

  • Tommy      : “Gila kaaan! Yuk lanjut pas mereka sing along Dan.
  • Bunga     : “Gue gak akan pernah bisa denger lagu itu the same way again. Liriknya simpel, tapi ngena. Dan. Pas.”
  • Tommy   : “YESSS! Dengan mereka sing along out of tune gitu malah bikin konteksnya jadi lebih tajem.”
  • Bunga    : “So many metaphors. “Dan” itu kan kata sambung… hampir sama kayak hubungan Lala dan Yudhis, apalagi dikuatkan dengan scene karaoke dadakan. Yang seharusnya hubungan mereka putus di level awal, karena hal ini itu etcetera, lanjut lagi. Padahal Lala tau kalo something is toxic dan Yudhis tau dia toxic-nya. Setelah adu mulut, jambak, sampe cekek-cekekan… mereka tetep lanjut. Puitis. Sampe pada akhirnya, di suatu titik, mereka berhenti. Nggak ada “dan” lagi. Terlalu filosofis gak sih gue? HAHAHA.”
  • Tommy     : “NO NO THAT’S GOOD. I mean… Ternyata ada perspektif lain dari lagu “Dan” yang lebih puitis..”
  • Bunga       : “Emang perspektif lo apa?”
  • Tommy     : “Gue cuma melihat “Dan…” dari perspektif Yudhis yang sayang banget sama Lala tapi sudah “menancapkan duri tajam” ke Lala dan membuatnya menangis…Gue nggak tahu… Somehow gue di scene ini tiba tiba merasa relate banget sama Yudhis.”
  • Bunga         : “Relate? Tell me about it.”
  • Tommy   : “Gue nggak tahu apakah karena gue selalu merasa punya inner demon di dalam diri gue dan gue takut banget suatu saat dia unleashed…Ataukah cuma karena gue punya tendensi untuk nyalahin diri gue sendiri tiap something goes wrong and i am involved in it…”
  • Bunga       : “Sometimes I feel that way too. But honestly, you know what? Setiap manusia itu pasti punya “demon” nya mereka masing-masing. No one’s a saint here. But whether it’s going to leash or unleash, itu semua pilihan. Including self-hate. Pasti ada bagian dari diri kita yang kita gak suka, dan itu gak bisa dihindarin. Baik lo maupun Yudhis, bahkan Lala, atau diri gue sendiri.”
  • Tommy    : “You’re right, Bung. Bener banget.”
  • Bunga      : “Let’s move on!”
  • Tommy    : “Okay, move on ke adegan SPBU.”
  • Bunga      : “*cries in the corner* I bawled my eyes out it was violent. No pun intended.”
  • Tommy    : “….HAHA :'(“
  • Bunga      : “Tell me how you feel about it.”
  • Tommy  : “Ini adegan sebenernya pasaran banget di film film romance Indonesia, tp Posesif bisa ngebawain adegan ini dengan sangat baik. Pengaruh directingnya Edwin plus akting mereka berdua sih.”
  • Bunga      : “It’s the kind of the cliche you keep coming back for more. Gue suka cara mereka membuat adegan “papasan tapi gak nyadar kalo lagi papasan” jadi berkelas. “
  • Tommy    : “You’re really good at describing things with simple words hhhh.”
  • Bunga         : “I don’t write fan fiction for nothing ;))))”
  • Tommy       : “Tapi gue seneng lewat adegan ini Yudhis sadar bahwa emotional issuenya ngebahayain Lala.”
  • Bunga        : “Kesadaran diri Yudhis itu plot twist banget buat gue Tom, like, expected YET unexpected. Oh ya, one more thing. Gue sangat kaget waktu tau kalo scene Lala dan Yudhis lebam-lebam di trailer itu bukan karna mereka saling pukul, tapi mereka ribut sama orang lain. BEST PLOT TWIST. Ngecoh penonton banget, not that it’s a bad thing though. They really broke the stereotypes.”
  • Tommy      : “YESS. And it’s such a rare case for an abusive person to realise that he’s abusive and harming the one he loves gitu nggak sih bung? Soalnya banyak juga yg bilang kalo dengan cara kayak gini, Posesif memberikan alasan bagi para pelaku abusive relationship buat mencari alasan pembenaran kelakuan mereka, supaya si korban tetep stay atas dasar pity.”
  • Bunga       : “It is a rare case indeed. To be honest buat gue bukan mencari pembenaran sih, Tom… from what I’ve been studying, that’s definitely NOT how it works.”
  • Tommy       : “Please do tell me how it works.”
  • Bunga        : “Justru mengajarkan kalo pelaku abusive relationship MASIH BISA belajar dari kesalahannya. Which is portrayed by Yudhis’s decision to leave Lala at the gas station seperti yg kita bahas kemaren. Yudhis masih bisa sadar, Yudhis masih bisa buat keputusan yg tepat kalaupun gak mudah — karena bukan Lala, bukan ibunya, bukan psikolog, yg bisa “merubah” dia seperti statement Lala sebelumnya. Tapi cuma Yudhis-nya sendiri.”
  • Tommy        : “I see. Thank you for the illumination, Bung.”
  • Bunga          : “You’re welcome!! Seneng liat film yg sakit tapi edukatif dalam waktu yg bersamaan, hahahaha.”
  • Tommy       : “Goddamn right, film ini eye opening banget ya. Terus montage sequence Lala carry on without Yudhis itu poetic banget ya. Ditambah lagu Banda Neira pula. Aku ndak kuat nahan sesak di dada…”
  • Bunga   : “Ada satu hal yang HARUS gue point out di sini. Beberapa netizen yg udah nonton gue lihat kecewa sama ending-nya Posesif. Karena ngambang, gak jelas dan creepy kenapa tiba-tiba jadi ada Yudhis waktu Lala lagi lari. Buat mereka aneh, susah dimengerti. Kompleks. Padahal menurut gue, wah… mereka justru bikin hal yg kompleks menjadi sangat simple dengan — lagi — metafor. Tidak perlu ada dialog verbal untuk kita ngerti semuanya. Yudhis berhenti, Lala terus lari. Buat gue itu udah cukup. Bener-bener bikin nyesss. And yes… Banda Neira slayed.”
  • Tommy    : “Fira abis nonton langsung nelpon gue nanya “Tom, kata kamu endingnya sedih banget. Kok aku malah ngerasa biasa aja ya? Flat gitu.” Untung gue sayang hehehe, jadinya gue jelasin aja bahwa itu metaphor. Dia baru ngerti. Padahal pas scene itu air mata gue netes banget.”
  • Bunga         : “Aw, good boyfriend mode activated :” Terkadang hidup itu emang open ending, Tom. Karena kalo happy (atau bahkan sad) ending, itu artinya manusia gak hidup lagi… anggap aja kita lagi liat electrocardiograph di RS. Kalo ada grafik hidup, selemah apapun itu, tapi kalo cuma segaris mati kan? Tapi Lala mau hidup. Mau lanjut. So was Yudhis. Bedanya, jalan sendiri-sendiri aja…”
  • Tommy         : “Yudhis nggak bisa terus bersama sama Lala. Yudhis is a fuck up. But Yudhis loves her. Jadi dia melanjutkan takdir dia sebagai seorang creep untuk “melihat Lala” tanpa harus melakukan interaksi apa apa lagi dengan dia. Dan ketika Lala sadar bahwa Yudhis kembali ngebuntutin dia, Lala nggak punya obligation apa apa untuk nyapa Yudhis ataupun kembali ke dia, pun Yudhis nggak punya hak juga untuk minta balikan. Karena cara terbaik bagi Yudhis untuk mencintai Lala adalah melepaskan dia dari belenggunya.”
  • Bunga            : “BETUL. Sometimes people love from afar and for them, mungkin emang yg paling baik gitu. Film ini penuh metafor, tapi nggak ngurangin esensi dari flow ceritanya itu sendiri.”
  • Tommy         : YAKAAAN! Oke deh, sekarang tinggal kesimpulan nih bung! Why do you think people need to watch Posesif?”
  • Bunga         : “Because it’s your typical high school romance with a twist. Disaat semua orang berfokus pada membuat film yg mendeskripsikan “youth” secara keseluruhan, Posesif memilih untuk menggali lebih dalam lagi. Bukan cuma di area percintaan nya aja, tapi keluarga, pertemanan and everything in between dari berbagai sisi yg berbeda. Karena semua itu punya side effects, errors and trials, selflessness and selfishness.”
  • Tommy       : “Mantap. Kalo menurut gue, Posesif layak tonton because even though Posesif discuss about toxic relationship and perfectly depicting the horrors of it, Posesif still manages to be a romance movie that is both sweet and heartbreaking without romanticizing abusive relationship, obsession, and manipulation itself. This film is a one-of-a-kind, and it deserves to be watched by as many Indonesians as possible.”
  • Bunga         : ” Whoa, It’s been LONG and wonderful so thank you Toms!”
  • Tommy      : “Thank you juga for this review session! It has been a wonderful time.”

Distopiana’s Rating : 5 out of 5.

The Big Five Mainstream Horrors of Early 2016: Short Review

Bagi kita, mungkin mudah sekali merasa takut sekaligus terlibat secara emosional saat menonton film horor yang baik. Kenyataannya, bagi para produsen film, horor adalah sebuah genre yang menuntut keahlian serta kepekaan ekstra dalam pembuatannya. Mengapa? Karena mayoritas film horor dibuat dengan bujet yang sangat terbatas, namun hampir selalu berhasil untuk menghasilkan keuntungan Box Office berkali-kali lipat, kadang tidak peduli seberapa buruk kualitas film tersebut. Ambil saja contoh kasus Annabelle. Film yang hanya mendapatkan rating 29% di Rotten Tomatoes (karena, yah, memang jelek) ini mendapatkan keuntungan worldwide yang bombastis ($256,873,813) dibandingkan bujetnya yang hanya berkisar $6.5 juta. Keuntungan ini tentunya juga dibantu dari kesuksesan The Conjuring sebelumnya yang mendapatkan keuntungan worldwide $318 Juta dari bujet $20 juta. Inilah yang membuat saya merasa bahwa para produsen film horor patut diberikan apresiasi lebih. Mereka mampu memanfaatkan keterbatasan untuk menciptakan ilusi realita yang maksimal.

Lewat artikel ini, saya ingin mengulas, mengapresiasi, serta mendiskusikan lima film horor mainstream dari awal tahun 2016 sampai artikel ini selesai ditulis.

1. The Conjuring 2, directed by James Wan.

Production Budget: $40,000,000
Worldwide Box Offfice: $320,070,008 (est. 19/09/2016)

Seperti film-film yang sebelumnya disutradarai James Wan, The Conjuring 2 adalah sebuah film yang sangat menyenangkan, terutama bila kamu menontonnya bersama keluargamu atau dengan temanmu yang orangnya kagetan. Premis ‘haunted family in a haunted house’ yang sudah sangat familiar di ranah film-film bergenre horor ini dikemas dengan treatment cerita yang lebih berorientasi pada anak-anak dan keluarga sehingga atmosfer film tidak melulu gelap, namun juga hangat dan penuh kasih sayang. Adegan saat Ed Lorraine (diperankan oleh Patrick Wilson) menyanyikan tembang “Can’t Help Falling in Love” dari Elvis Presley sambil bermain gitar di depan keluarga Hodgson adalah salah satu contoh kehangatan yang jarang kita temukan dari film-film horor modern kebanyakan. Tidak hanya itu, semua jump-scare yang terdapat dalam film pun ini dilakukan dengan crafting yang solid dan segar sehingga tepat sasaran dalam membuat para penonton berteriak kencang tanpa harus mempertanyakan relevansinya dengan logika cerita (that Nun-in-the-Mirror scene was perfect!).

Di antara semakin banyaknya film horor yang mempertontonkan kesadisan dan seksualitas, The Conjuring 2 adalah film horor yang paling aman untuk ditonton bersama anak anda dalam segala usia.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

2. The Wailing, directed by Na Hong-jin.

Production Budget: N/A
Worldwide Box Office: $51,252,403 (est. 19/09/2016)

Bisa dibilang, The Wailing adalah sebuah kombinasi apik antara Memories of Murder dan The Witch dengan kearifan mistik lokal dari Korea Selatan. Disutradarai oleh Na Hong-jin (The Chaser, The Yellow Sea) film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang diserang wabah penyakit mematikan setelah kedatangan seorang lelaki misterius ke desa tersebut. Seorang detektif ceroboh bernama Jong-goo (diperankan oleh Kwak Do-won) yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut malah berbalik menjadi korban tatkala anak perempuannya yang masih kecil ikut terjangkit wabah tersebut.

Biarpun dipenuhi dengan adegan-adegan yang keji, gila, dan agak disturbing, kengerian utama dalam film ini dihasilkan dari gaya penceritaan yang atmosferik dengan menempatkan elemen-elemes simbolis seperti burung-burung gagak yang mati, altar pemujaan setan dengan foto-foto misterius tertempel di dinding, serta iklim latar film yang sebagian besar diisi oleh hujan deras dengan awan yang gelap. Suspensi berlangsung dengan efektif dari awal film sampai akhir. Dalam dua jam lebih durasi film, setidaknya ada tiga plot twist di setiap titik pergantian babak. Kita akan dibuat curiga oleh semua tokoh dan kesal terhadap karakter Jong-goo yang tidak pernah bertindak rasional dalam menghadapi masalah (padahal dia seorang detektif) sampai pada akhirnya kita mengetahui bahwa semua hal tersebut merujuk kepada persoalan yang lebih besar dari sekadar praktik guna-guna.

The Wailing adalah sebuah film mystery-supernatural-horror yang pekat dan padat oleh atmosfer yang mengerikan. Cocok bagi kamu yang sudah bosan terhadap film-film horor dengan skenario yang sketched dan mengandalkan jump scare sebagai senjata utamanya.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

3. The Shallows, directed by Jaume Collet-Serra.

Production Budget: $17,000,000
Worldwide Box Office: $116,055,707 (est. 19/09/2016)

Nancy Adams (diperankan oleh Blake Lively), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran, pergi berlibur ke pantai terpencil untuk berselancar dan melipur lara setelah kematian sang Ibu tercinta. Saat sedang asyik bermain ombak di atas papan, tiba-tiba seekor hiu putih raksasa menyerang Nancy, menggigit kakinya, dan membuatnya terjebak di tengah batu karang besar di lautan bersama seekor burung camar yang ia beri nama Steven Seagull (nggak, burung camarnya nggak bisa Wing-Chun, mohon maaf).

Saat kita berpikir bahwa era film-film monster telah usai, Jaume Collet-Serra menghadirkan kembali kengerian teror serangan hiu buas dengan pendekatan yang sangat milenial di film The Shallows. Kenapa saya bilang milenial? Karena variasi komposisi shot, camera movement, dan editing yang terdapat di film ini mengingatkan saya pada video-video bertema paradise adventure yang sering diunggah para travel vlogger seperti Nainoa Langer, Giarro Giarratana, atau konten-konten viral marketing GoPro di YouTube. Bahkan bisa dibilang, hal tersebut lah yang menjadikan film ini unik dan berbeda dibanding film shark attack lain. Semua elemen lain yang terdapat di film ini sebenarnya sangatlah familiar bagi penonton, yaitu lanskap pantai yang memanjakan mata, eksploitasi pesona tubuh wanita, dan penggabungan premis ‘isolation terror‘ (Buried, 127 Hours, Gravity) dengan ‘monster terror’ (Lake Placid, Deep Blue Sea, Anaconda, Jaws). Selebihnya, tidak ada perbedaan yang signifikan, tapi dengan penyutradaraan yang solid dari Jaume Collet-Serra, The Shallows mampu menjadi sebuah wahana jungkir balik yang segar dan menyenangkan bagi para penikmat film horror-thriller.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

4. Don’t Breathe, directed by Fede Alvarez.

Production Budget: $9,900,000
Worldwide Box Office: $107,028,781 (est. 19/09/2016)

Bila seorang kakek tua mencoba menghabisi nyawa tiga orang anak muda yang berusaha untuk membunuh si kakek dan merampok rumahnya, siapa yang akan kamu salahkan? Hal inilah yang menjadi premis utama Don’t Breathe, film horror-thriller arahan sutradara Fede Alvarez. Dari adegan pembukaan pun, film ini sudah menegaskan untuk tidak bertele-tele dan langsung berangkat pada inti cerita: pembantaian tanpa ampun.

Tidak ada momen percintaan dramatis, tidak ada percakapan sok cerdas, hanya pembantaian dan kejar-kejaran.

Pengenalan terhadap keempat tokoh utama pun benar-benar dilakukan seminimal mungkin dan plot langsung masuk ke dalam permasalahan bahkan sebelum lima belas menit pertama berakhir. Dengan plot yang menyerupai Wait Until Dark, Don’t Breathe dikemas sesempit dan sepadat mungkin dengan sentuhan Panic Room dan Inside sehingga menjadi sebuah film yang, seperti judulnya, akan membuatmu sulit untuk bernafas.

Kekuatan utama film ini terdapat pada efektifitasnya dalam memanfaatkan premis yang standar dan lokasi yang minimalis menjadi kengerian klaustrofobik yang tanpa henti sepanjang pertunjukan berlangsung. Don’t Breathe dengan cermat memanfaatkan kompleksitas moral dan idiot plot untuk memaksimalkan potensi horor dari home-invasion thriller yang sudah banyak sekali dibuat. Teknik sinematografi yang digunakan Don’t Breathe juga cukup unik untuk sebuah film horror-thriller. Daripada memanfaatkan efek shaky camera atau fast-cutting untuk memicu ketegangan, Pedro Luque, sang sinematografer, cukup menggunakan teknik konvensional dengan pergerakan kamera yang mulus, komposisi yang rapi, dan penyuntingan yang jeli terhadap momentum. Plot-twist yang muncul di awal babak ketiga film pun cukup menambah sensasi kekacauan tokoh Pak Tua dan kelinglungan moral penonton, meskipun memang menimbulkan banyak kontroversi dari berbagai pihak. Namun jika kamu sedang mencari film horror-thriller yang tidak banyak basa-basi, Don’t Breathe adalah pilihan yang sangat tepat buatmu.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

5. Train to Busan, directed by Yeon Sang-ho.

Production Budget: $8,500,000
Worldwide Box Office: $99,067,452 (est. 13/9/2016)

Film zombie sudah ada sejak tahun 1932, dibuat secara independen dan dengan bujet yang sangat terbatas oleh Victor dan Edward Halperin. Kendati demikian, George Romero-lah yang pertama kali mempopulerkan zombie sebagai medium kritik sosial politik lewat Night of The Living Dead. Generasi Y dan Z mungkin akan lebih familiar dengan The Walking Dead (serial TV) dan World War Z, namun harus diakui, Train to Busan akan menjadi salah satu film zombie sarat kritik sosial yang sangat berkesan dalam pengalaman mereka menonton film horor.

Seorang fund manager bernama Seok-woo (diperankan oleh Gong Yoo) terjebak di dalam sebuah KTX bersama anaknya (Kim Soo-an) saat epidemik misterius yang membuat manusia berubah menjadi zombie menyebar di seluruh Korea Selatan, termasuk di dalam KTX yang mereka tumpangi. Bersama seorang calon ayah dan istrinya yang sedang hamil serta sepasang muda-mudi SMA yang saling mencintai, mereka harus bertahan hidup hingga kereta sampai di Busan, satu-satunya kota yang berhasil bertahan dari serangan wabah.

Setelah The Wailing, Don’t Breathe, dan The Shallows yang menggabungkan dua premis dan referensi film berbeda, Train to Busan juga bagaikan sebuah kombinasi apik antara Snowpiercer dan World War Z, lagi-lagi dengan kearifan lokal Korea Selatan yang terkadang penuh dengan dramatisasi yang klise. Ada banyak drama sosial yang diangkat di sini, dan meskipun porsi melodrama di babak ketiga film akan membuatmu sedikit mengernyitkan dahi, skenario yang dirancang sangat apik dan kokoh sejak permulaan sampai akhir film ini akan tetap berhasil membuatmu menyanyikan lagu “Aloha Oe” sambil menangis tersedu-sedu saat keluar dari bioskop. Disutradarai oleh Yeong San-ho, seorang mantan komikus yang juga pernah membuat film animasi Seoul Station, Train to Busan menghadirkan sebuah horror-thriller dengan pengadeganan yang elok dan tokoh-tokoh yang mampu membuat emosi kita bercampur aduk sepanjang film berlangsung. Meskipun ada Gong Yoo dan Jung Yu-mi yang pernah bermain di Silenced, namun tokoh yang berhasil menyajikan cita rasa yang beragam di film ini adalah Sang Hwa, sang calon ayah bertubuh besar (diperankan oleh Ma Dong-seok) dan Yong Suk, sang COO pengecut (diperankan oleh Kim Ui-seong).

Sebenarnya, inti dari kemantapan Train to Busan adalah kritiknya yang efektif dan lugas tentang strata dan fungsi sosial. Hal ini sebenarnya sudah dimunculkan saat Sang Hwa berkata pada istrinya bahwa Seok-woo itu lintah darat, namun kritik sosial selanjutnya dimasak dengan lezat dan cantik di babak kedua, saat skenario penumpang gerbong belakang versus depan dimulai. Dalam sekejap, horor klaustrofobik pun berubah menjadi drama politik sentimental tentang masyarakat yang mudah disetir opininya saat rasa takut mengancam mereka. Dalam situasi yang telah dibangun tersebut, Yeong San-ho pun menggunakan logika penyelesaian yang mengingatkan saya pada Ran, film dari Akira Kurosawa.

“In a mad world, only the mad are sane.” – Kyoami, Ran (1985).

Beberapa persoalan yang bersifat ilmiah dan rasional di film ini memang memiliki banyak permasalahan, namun dengan subteks ‘pengorbanan’ yang menjadi landasan utama skenario film ini (dan tanggal rilisnya yang kebetulan berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha), Train to Busan adalah film horror-thriller yang sangat menghibur dan cocok untuk ditonton bagi semua orang untuk mendalami esensi dari pengorbanan sebagai bentuk dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap kemanusiaan.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

 

N.B.: Semua data kuantitatif bersumber dari IMDb.com, BoxOfficeMojo.com, dan The-Numbers.com.

Black Mirror (TV Series) – A Traumatizing Picture of Technological Catastrophe

Ini ulasan pertama saya tentang serial televisi. Jujur, sedari dulu saya agak malas mengulas serial televisi karena ada terlalu banyak hal yang harus saya ulas dan yah, saya memang pemalas. Namun demi mensyiarkan titah-titah Black Mirror pada umat manusia untuk mencegah kehancuran zaman, saya akan mencoba untuk pertama kalinya.

Banyak serial televisi yang saya tonton, dan semuanya bagus-bagus. Kalau anda bertanya rekomendasi, saya bisa sebutkan banyak judul berdasarkan serial seperti apa yang anda cari. Namun untuk semua orang yang bertanya, saya pasti akan merekomendasikan untuk menyempatkan diri menonton Black Mirror.

1419367849BlackMirror1x02_0607

Black Mirror adalah serial antologi yang menghadirkan kisah-kisah tragis yang dibalut dengan satir jenius dan luar biasa berani tentang hubungan interdependensi antara manusia dengan teknologi. Karena ini serial antologi, maka setiap episode di tiap musim punya cerita yang berbeda-beda dan tidak saling sambung menyambung. Anda bisa bebas mau menonton episode yang mana dulu di season yang mana dulu. Bebas. Maka dari itu Black Mirror cocok bagi anda yang ogah menonton serial televisi karena malas untuk berkomitmen pada satu cerita yang panjang mengular naga.

Bicara soal teknis dan naratif, serial televisi yang ditulis dan diproduksi oleh Charlie Brooker ini punya kualitas yang prima dan didukung pula dengan performa dari para aktor dan aktris yang familiar di layar kaca (Rory McKinnear, Domhnall Gleeson, Toby Kebbell). Namun ada tiga faktor yang membuat saya ketakutan dan berpikir bahwa Black Mirror telah mendobrak batas terjauh dari sebuah serial televisi:

1. Berbicara dengan Kekuatan Satir yang Keras, Lantang, dan Mengerikan.

Setiap episode dari Black Mirror sejatinya adalah sebuah kritik sosial politik yang disajikan lewat medium horor psikologis. Alih-alih menceramahi dan mendikte penontonnya lewat polarisasi baik-buruk seperti yang sering dilakukan serial televisi murahan Indonesia, Charlie Brooker menjadikan teknologi dan sisi gelap kemanusiaan sebagai monster yang meneror setiap tokoh utamanya sampai jiwa mereka hancur berserakan di lumpur yang kotor dan hina. Biarpun semua kisah di tiap episode adalah allegorical fiction, Charlie tidak pernah ragu untuk meramu pandangan sinisnya tentang kemanusiaan ke dalam skenario what-if yang menegasikan khayalan babu kita tentang pengaruh teknologi futuristik pada kehidupan manusia.

“Gimana ya, kalo kita bisa ngerekam semua memori kehidupan kita menjadi data yang dapat ditonton dan di-transfer?”
“Gimana ya kalo kita bisa bicara sama orang kesayangan kita yang sudah meninggal?”

Percayalah, kawan. Kalian tidak benar-benar menginginkan semua itu.

2. Memberi Pengalaman Menonton yang Traumatis.

Tidak ada kebahagiaan secercah pun, sebutir pun di dalam kisah-kisah Black Mirror. Buat kalian yang suka sama list “7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar” ataupun kalian yang menganggap Red Wedding di Game of Thrones itu cukup traumatis buat kalian, mulailah menonton Black Mirror. Serius. Banyak kritikus film yang menyandingkan tragic and mind-wrenching storytelling di Black Mirror dengan The Twilight Zone karena plot-twist jenius yang ada di akhir setiap episodenya. Namun saya berpendapat lain. Plot twist yang ada di setiap episode Black Mirror tidak hanya akan mengejutkanmu, tapi akan meninggalkan bekas luka yang menganga di jiwamu.

3. Mampu Membaca Masa Depan.

Sungguh, ini nyata. Saya juga kaget. Episode Pilot (The National Anthem) tayang perdana di Channel 4 UK pada Desember 2011 dan Episode Black Mirror terakhir (White Christmas) tayang Desember 2014, namun banyak sekali isu-isu sosial maupun politik yang kemudian terjadi dan sangat mirip dengan apa yang telah dikisahkan oleh beberapa episode di Black Mirror. Saya ingin mengungkapkan banyak sekali kecocokan tersebut, namun saya tidak ingin menceritakan secara detail plot dari tiap episode karena the less you know, the better you will experience themJadi saya hanya akan menuturkan bahwa:

1. David Cameron’s “Piggate Scandal” yang terjadi pada September 2015 mempunyai kemiripan dengan Ep. 1 Season 1: The National Anthem.

2. Pencalonan dan Kampanye Calon Presiden Amerika Serikat 2016 Donald Trump mempunyai kemiripan dengan Ep. 3 Season 2: The Waldo Moment.

3. Popularitas Pokemon Go di pertengahan 2016 mempunyai kemiripan konseptual dengan Ep. 2 Season 2: White Bear.

Seperti judulnya, Black Mirror memberikan cermin hitam buat kita berkaca tentang seberapa gilakah kita sebagai manusia untuk membiarkan teknologi mempersenjatai kegilaan kita. Seperti layaknya 1984 yang ditulis oleh George Orwell, masa depan, yang kini jadi masa lalu, telah mengkonfirmasi beberapa tesis distopia yang telah disuguhkan Black Mirror di beberapa episodenya. Selebihnya terserah kita, apakah ingin bahu membahu introspeksi diri demi memperbaiki masa depan, ataukah membiarkan diri kita berada dalam kenyamanan futuristik yang semu dan membiarkan semua episode—termasuk Season 3 yang akan datang di Netflix pada 2017—mengacak-acak kehidupan kita sampai mampus tak tersisa.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

7 Film Terbaik untuk Pria-Pria Pecundang Asmara

Sering merasa putus asa terhadap diri kita karena terlalu lama sendiri dan tidak pernah bisa menjalin hubungan asmara yang baik dengan siapapun? Tenang, itu semua manusiawi. Penulis juga pernah mengalaminya. Jangan merasa terlalu cepat rendah diri, karena hal itu tidak selalu berarti bahwa kita adalah pribadi yang tidak pantas untuk dicintai. Bisa saja itu karena kita terlalu idealis memberikan kriteria pasangan hidup atau kita berada di dalam lingkungan sosial dengan iklim gersang yang tidak mampu menyuburkan bibit-bibit pasangan hidup yang ideal bagi kita. Bagian yang terpenting adalah: kita tidak sendirian, dan seburuk-buruknya kita menilai kehidupan cinta kita, masih ada kisah yang menarik untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan kita ke depannya. Tidak percaya? Berikut ini adalah daftar film-film terbaik bagi kita, pria-pria pecundang asmara, untuk disaksikan agar kita mampu merenungkan dengan damai tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan tanpa harus membanding-bandingkan keadaan kita dengan pria-pria beruntung di sekitar kita.

  1. Annie Hall (1977) directed by Woody Allen

Film yang menurut Roger Ebert menandai berakhirnya era “Hollywood Golden Age” ini bercerita tentang Alvy Singer (diperankan oleh Woody Allen) seorang stand-up comic melankolis yang memiliki tingkatan idealisme yang terlampau tinggi. Sayangnya, hal itu bukannya membuat hidupnya menjadi lebih bertaraf, namun malah jadi merepotkan dirinya sendiri, terutama dalam menjalani hubungannya dengan seorang gadis bernama Annie Hall (diperankan oleh Diane Keaton). Semua—bahkan hal-hal kecil pun—akan dikomentari oleh Alvy dan tak jarang membuat mentalnya depresi. Begitulah Alvy, seorang hardcore nerd nihilis yang bahkan kritis terhadap ‘kode’ dari wanita yang menyukainya. Tonton saja percakapan saat Annie dan Alvy bertemu pertama kali di lapangan tenis, dan kalian akan tahu sendiri.

  1. Ruby Sparks (2012) directed by Jonathan Dayton and Valerie Faris

Pernah membayangkan bagaimana jika seandainya gadis imajiner yang sering kalian impikan tiba-tiba hidup dan secara instan menjadi kekasih hati kalian? Hanya lelaki beruntung seperti Calvin (diperankan oleh Paul Dano) yang pernah secara ajaib mengalaminya. Seorang penulis novel itu suatu pagi dikejutkan oleh kemunculan Ruby (diperankan oleh Zoe Kazan), seorang gadis imajiner dengan kecantikan surgawi yang dijadikan inspirasi oleh Calvin untuk sebuah karakter di novel yang sedang ia tulis. Ruby hidup ke dunia nyata sebagai kekasih Calvin, dan ini bukanlah penipuan atau semacamnya karena ternyata Calvin bisa mengendalikan Ruby hanya dengan menuliskan karakternya di mesin tik sesuai yang ia inginkan. Calvin memiliki kontrol sempurna atas Ruby, sebuah keleluasaan yang diimpikan pria manapun di Bumi. Kehidupan asmara Calvin, sang introvert pecundang asmara, yang bagaikan mimpi indah pada akhirnya berubah menjadi mimpi buruk karena ironisnya Calvin menyadari bahwa ia tidak memiliki kontrol sempurna atas hubungan dan rasa cintanya dengan Ruby. Cerita dan naskah film ini ditulis oleh Zoe Kazan sendiri, dan mungkin itu sebabnya di samping berbicara tentang keseimbangan kuasa di dalam sebuah hubungan, film ini juga memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang tinggi.

  1. Her (2013) directed by Spike Jonze

Sutradara dari film Being John Malkovich ini membuat sebuah film yang membahas tentang interdependensi dari cinta, intelijensi buatan, dan filsafat keberadaan. Diceritakan Theodore (diperankan oleh Joaquin Phoenix) adalah seorang pemurung dan penyendiri yang bekerja sebagai penulis surat-surat cinta bagi mereka yang tidak mampu atau tidak mau menulis surat mereka sendiri. Setelah perceraiannya dengan Catherine (diperankan oleh Rooney Mara), Theodore membeli sebuah sistem operasi dengan intelijensi buatan yang diberi nama Samantha (disuarai oleh Scarlett Johannson). Pembicaraan mereka yang intim mengenai hal-hal kecil serta keberadaan Samantha yang selalu setia menemani kesendirian Theodore membuat mereka perlahan-lahan jatuh cinta pada satu sama lain. Ada sebuah ulasan mendalam dan filosofis yang ditulis oleh Mas Dony Iswara di blognya tentang Her yang penting untuk kalian—para pecundang asmara—baca dan bisa dilihat di tautan berikut ini.

  1. 500 Days of Summer (2010) directed by Marc Webb

Gue asumsikan semua orang sudah pernah menonton film ini, maka gue tidak perlu menceritakan ulang betapa Summer (diperankan oleh Zooey Deschanel) dengan kecantikan fisik dan perangainya yang tidak masuk akal tersebut berhasil mengobrak-abrik kehidupan Tom (diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt) dalam waktu 500 hari. Inilah yang terjadi, wahai pria-pria pecundang asmara, jika kita berharap terlalu banyak dalam suatu hubungan yang tidak jelas dan bukan malah menikmatinya seakan-akan hal tersebut bisa berakhir kapan saja. Tidak semua wanita mengharapkan komitmen, dan jika memang komitmen yang kita cari sejak awal, maka jangan coba-coba bermain api dengan ketidakjelasan, secantik apapun rupanya. Bersenang-senanglah. Hidup cuma sekali, kawan.

  1. In Search of A Midnight Kiss (2007) directed by Alex Holdridge

Tidak ada pecundang asmara yang lebih pecundang dari seorang Wilson (diperankan oleh Scott McNairy), yang pada malam Tahun Baru tertangkap basah sedang masturbasi dengan foto seorang bintang porno yang wajahnya di-photoshop dengan wajah Min (diperankan oleh Katy Luong), kekasih dari sahabatnya sendiri, Jacob (diperankan oleh Brian McGuire). Kasihan dengan Wilson, Jacob menyarankan sahabatnya tersebut untuk mencari teman kencan menghabiskan malam Tahun Baru lewat Craigslist. Secara mengejutkan, Wilson yang menulis di kolom deskripsinya ‘misanthrope looking for misanthropee’ menerima panggilan ‘audisi’ dari seorang gadis bernama Vivian (diperankan oleh Sara Simmonds) untuk menjadi teman kencannya di malam Tahun Baru ini. Film dengan pengambilan gambar serta penggunaan warna monochrome yang terkesan indie-looking ini agaknya seperti ‘Before Midnight’ yang ceritanya berpusat pada percakapan menarik antar karakter utama pria dan wanita (dalam film ini Wilson dan Vivian) serta apa yang mereka alami dari sore hari hingga tengah malam pada perayaan Tahun Baru. Perbedaannya hanya terdapat pada karakter Vivian dan Wilson yang jauh lebih quirky dan lebih manusiawi.

  1. Punch-Drunk Love (2002) directed by Paul Thomas Anderson

Sebelum menonton film ini, penulis sedikit meremehkan kemampuan akting Adam Sandler yang tidak pernah memiliki peran yang cukup menantang di tiap filmnya. Namun seperti layaknya Robin Williams dan Jim Carrey (yang akan penulis bahas di nomor berikutnya), komedian ini mencoba untuk sedikit ‘melawan arus’ dengan menjadi Barry Egan, seorang eksekutif di sebuah perusahaan furnitur toilet yang melankolis, introvert, kesepian, namun memiliki kemauan untuk melawan yang cenderung destruktif. Barry bahkan membenci dirinya sendiri yang memiliki kepribadian pecundang dan pasif sehingga ia sering melampiaskannya dengan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Di tengah kesepiannya yang menyakitkan, ia bertemu dengan Lena Leonard (diperankan oleh Emily Watson) yang—setelah kencan pertamanya di sebuah restoran—memutuskan untuk melakukan business trip ke Hawaii. Didorong keinginan untuk kabur dari para tukang pukul yang mengejarnya karena penipuan kartu kredit yang ia lakukan pada sebuah agensi ‘phone sex’, Barry memutuskan untuk menyusul Lena ke Hawaii dengan membeli puding cokelat Healthy Choice sebanyak-banyaknya demi sebuah tiket pesawat gratis ke Honolulu. Membayangkan betapa menyedihkannya Barry Egan di film ini kurang lebih sama seperti berkaca pada cermin retak, ya, wahai pria-pria kesepian?

  1. Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) directed by Michel Gondry

Menjadi lupa dipandang sebagai hal yang sangat menyenangkan bagi manusia-manusia yang dirundung patah hati, namun bagaimana bila itu semua masih tidak cukup? Inilah yang Michel Gondry dan Charlie Kaufman coba ceritakan di Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Joel Barish (diperankan oleh Jim Carrey) mendapati mantan kekasihnya, Clementine (diperankan oleh Kate Winslet), telah menghapus segala ingatan tentang dirinya lewat sebuah prosedur eksperimental yang dilakukan oleh Dr. Mierzwiak (diperankan oleh Tom Wilkinson). Lagi-lagi, penyebab putusnya hubungan mereka ditengarai oleh sifat Joel yang introvert dan posesif terhadap Clementine. Tidak mau kalah, Joel pun merelakan dirinya sebagai bahan eksperimen berikutnya demi menghapus segala ingatannya tentang Clementine. Di tengah proses penghapusan, Joel, di dalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba memutuskan untuk berontak dan mengamankan Clementine dari segala sudut memori yang telah terhapus dan melakukan perjalanan waktu demi membawa kekasihnya kembali merasakan cinta yang dulu pernah mereka rasakan sebelumnya. Film ini menjadi istimewa karena eksplorasi narasi dan visual yang begitu imajinatif, scoring yang indah dari Jon Brion, serta peran Jim Carrey sebagai sesosok pria patah hati yang pemurung, nihilis, dan melankolis. Film ini membawa konsep ‘pecundang asmara’ ke ranah yang lebih umum, yaitu pada ketidakberdayaan seseorang untuk ‘move-on’ dari cinta yang telah karam.

her-movie-still-3

Setelah menonton film-film yang ada di dalam daftar ini, kita tidak hanya akan merenungkan kembali apa yang harus kita benahi dalam diri kita, namun juga mendapati bahwa sebenarnya pria pecundang asmara adalah sosok paling romantis yang sayangnya tidak mampu dipahami oleh gadis-gadis awam. Coba kita pikirkan kembali, bukankah itu sebenarnya hal yang baik? Proses seleksi alam akan terjadi dengan sendirinya sehingga apa yang kita dapati merupakan hal yang memang benar-benar terbaik dan cocok untuk kita. Jadi, mengapa harus khawatir, wahai pria-pria pecundang asmara? Cintailah diri kita sendiri dan berbahagialah dengan kesendirian ini, niscaya ketika saatnya gadis itu datang, akan banyak kebahagiaan yang dapat kita bagi bersamanya.

Honorable Mention: Breakfast at Tiffany’s (1961), Napoleon Dynamite (2004), Taxi Driver (1976), Nightcrawler (2014).