Tag Archives: slide

Death Note (2017) – Terrific Material, Terrible Story

Ada beberapa hal yang menarik dan menjadi entertainment value dari cerita original Death Note:

  1. Duel kecerdasan antara dua karakter utama, Light dan “L”, untuk saling mendahului langkah satu sama lain. Menegangkan dan penuh dengan hal-hal yang tidak terduga.
  2. Kekuatan karakter Light dan L yang menginspirasi dan mengokohkan moral dilemma di dalam alur cerita.
  3. Toxic relationship antara Light dan Misa yang rumit dan penuh dengan tipu daya.

Jika kalian mengharapkan ketiga poin itu ada di dalam film Death Note hasil adaptasi Netflix dan Adam Wingard ini, lebih baik urungkan niat untuk menonton karena kalian bakal kecewa bahkan saat 15 5 menit pertama film berlangsung.

Kehidupan Light Turner (diperankan oleh Nat Wolff), seorang bocah SMA yang terkenal suka jual contekan, tiba-tiba berubah drastis saat ia menemukan sebuah buku tulis dengan sampul bertuliskan ‘Death Note’ jatuh dari langit. Lewat buku itu, ia mendapatkan kemampuan istimewa untuk membunuh siapapun yang ia kehendaki hanya dengan menuliskan nama lengkapnya di Death Note. Bersama Ryuk (suara diperankan oleh Willem Dafoe) dan Mia Sutton (diperankan oleh Margaret Qualley), Light menjadi sesosok Kira: dewa keadilan yang mampu membunuh siapapun yang menurut mereka “tidak pantas hidup di dunia”. Pembantaian massal Kira pun mendapatkan perhatian seorang detektif pribadi jenius beraliaskan L (diperankan oleh LaKeith Stanfield). Perlahan tapi pasti, L menemukan identitas Kira dan mulai melakukan segala cara agar Light Turner mampu ditahan atas perilaku pembunuhan masssalnya.

Banyak yang mempermasalahkan film ini karena banyak hal. Isu white-washingpelecehan karakter Light Yagami, serta pemilihan LaKeith Stanfield sebagai L yang bagi sebagian orang ‘nggak cocok’ atau ‘terlalu maksa’. Well, gue nggak bisa nyalahin mereka. White-washing is indeed a serious issue that needs to be addressed in every Hollywood attempt to remake a movie. Penggemar manga dan anime Death Note yang asli pun berhak untuk patah hati melihat idola mereka Light Yagami yang pemberani dan fokus diacak-acak oleh Adam Wingard menjadi Light Turner yang cengeng dan picisan. Semua yang mengutarakan kekecewaan mereka tentang betapa ‘Amerika’-nya Death Note versi Netflix ini tidak bisa disalahkan kok.

Hanya saja, saya tidak sependapat bahwa alasan-alasan tersebutlah yang membuat Death Note menjadi film yang jelek.

Death Note jelek karena naskah dan skenarionya jelek.

Premis Death Note memiliki potensi yang sangat kuat untuk menjadikannya film cat-and-mouse thriller yang gelap dan penuh dengan skenario-skenario tak terduga. Entah kenapa, Adam Wingard, sang sutradara yang juga pernah menggarap You’re Next dan The Guest ini seperti kehabisan akal atau pesimis dengan tokoh-tokohnya sendiri.

Mari kita mulai dengan sang karakter utama: Light Turner. Semua permainan cerdas Light menggunakan Death Note jatuh menjadi datar dan hambar. Sebagian penonton banyak yang menyalahkan keputusan Adam Wingard untuk membuat Light Turner menjadi dua kali lipat lebih bodoh dari Light Yagami. Yah, kalau dengan alasan bahwa kecerdasan yang dimiliki Light Yagami itu tidak manusiawi dan merupakan sebuah refleksi dari budaya remaja Jepang dan ambisi mereka untuk selalu over-achieving something, hal tersebut bisa dibenarkan. Melakukan cultural adjustment kepada Light Turner dengan mengambil sampel bocah Kaukasian self-righteous cengeng sebagai perwakilan dari remaja Amerika Serikat pun sebenarnya merupakan sebuah keputusan yang bisa dibenarkan.

Belum lagi karakter L yang diperankan oleh aktor kulit hitam LaKeith Stanfield. Saya tidak bermasalah sama sekali dengan hal ini. Malah bagi saya, LaKeith menampilkan akting yang sangat maksimal sebagai seorang detektif jenius yang berperangai aneh. Cultural adjustment yang dilakukan Adam Wingard pun tepat sasaran, mengingat di film adaptasi ini, L yang seorang pria berkulit hitam telah yatim piatu sejak kecil dan dilatih sejak dini oleh sebuah organisasi rahasia untuk dijadikan detektif hebat. Terdengar sangat menarik, bukan?

Yang salah bukan pada persiapan materinya, namun perencanaannya. Ibarat musik, Death Note adalah seorang John Petrucci yang memainkan “Let it Go” dari Frozen dengan strumming. Seperti ini kira-kira.

Semua skenario di film ini, yang harusnya bisa sangat menarik dan menegangkan, malah menjadi predictable dan membosankan. Oke, visualnya asik, karakternya keren, tapi bukannya mengembangkan alur cerita menjadi lebih rumit dan mendorong tokoh-tokoh di film ini sampai ke titik nadir mereka, Adam Wingard memilih untuk mengurung dan memenjarakan Light, L, dan Mia ke dalam template teenage Hollywood thriller dan membiarkan potensi mereka membusuk sampai akhir film. Cheesy romantic youth stories between Light & Mia? “My dad is a cop” scenario? Homecoming and prom? Ferris Wheel accident scenario? Oh, belum lagi Ryuk yang tampil dengan sangat menyeramkan di film ini nggak dikasi peran yang lebih penting dari sekedar ekornya Light dan comic relief.

Bukan cuma plot, tapi naskah film ini pun kacau berantakan. Death Note memang selalu memfokuskan temanya pada sudut pandang hitam putih keadilan. Namun karena isu serumit ini tidak diimbangi dengan cerita yang cerdas dan kompleks, segala percakapan tentang hal tersebut menjadi terdengar sangat pretensius–dan bahkan terkesan dibuat-buat.

Sungguh sebuah kesia-siaan yang menyedihkan.

Saya turut simpati dengan segala kecaman yang diterima oleh Adam Wingard terkait betapa kecewanya penonton terhadap Death Note. However, with all due respect, it was indeed a total disappointment. Mungkin kekecewaan ini hanyalah awal dari suatu master plan yang sudah dirancang Adam Wingard ke depannya: Death Note trilogy. Mungkin memang ada beberapa sekuel yang telah direncanakan dengan lebih matang dan bisa menjadi berkali-kali lipat lebih baik daripada film sampah ini. Namun tak bisa dipungkiri, ia telah membuat Death Note lebih believable sebagai teenage coming-of-age thriller semacam Final Destination, The Covenant, atau Twilight di mana sejatinya cerita Death Note adalah sebuah political thriller yang brilian dan bisa disandingkan dengan V for Vendetta, Watchmen, atau The Hunger Games.

You don’t deserve all the hate, Adam, but people deserve to be disappointed.

Distopiana’s Rating: 1 out of 5.

Black Mirror (TV Series) – A Traumatizing Picture of Technological Catastrophe

Ini ulasan pertama saya tentang serial televisi. Jujur, sedari dulu saya agak malas mengulas serial televisi karena ada terlalu banyak hal yang harus saya ulas dan yah, saya memang pemalas. Namun demi mensyiarkan titah-titah Black Mirror pada umat manusia untuk mencegah kehancuran zaman, saya akan mencoba untuk pertama kalinya.

Banyak serial televisi yang saya tonton, dan semuanya bagus-bagus. Kalau anda bertanya rekomendasi, saya bisa sebutkan banyak judul berdasarkan serial seperti apa yang anda cari. Namun untuk semua orang yang bertanya, saya pasti akan merekomendasikan untuk menyempatkan diri menonton Black Mirror.

1419367849BlackMirror1x02_0607

Black Mirror adalah serial antologi yang menghadirkan kisah-kisah tragis yang dibalut dengan satir jenius dan luar biasa berani tentang hubungan interdependensi antara manusia dengan teknologi. Karena ini serial antologi, maka setiap episode di tiap musim punya cerita yang berbeda-beda dan tidak saling sambung menyambung. Anda bisa bebas mau menonton episode yang mana dulu di season yang mana dulu. Bebas. Maka dari itu Black Mirror cocok bagi anda yang ogah menonton serial televisi karena malas untuk berkomitmen pada satu cerita yang panjang mengular naga.

Bicara soal teknis dan naratif, serial televisi yang ditulis dan diproduksi oleh Charlie Brooker ini punya kualitas yang prima dan didukung pula dengan performa dari para aktor dan aktris yang familiar di layar kaca (Rory McKinnear, Domhnall Gleeson, Toby Kebbell). Namun ada tiga faktor yang membuat saya ketakutan dan berpikir bahwa Black Mirror telah mendobrak batas terjauh dari sebuah serial televisi:

1. Berbicara dengan Kekuatan Satir yang Keras, Lantang, dan Mengerikan.

Setiap episode dari Black Mirror sejatinya adalah sebuah kritik sosial politik yang disajikan lewat medium horor psikologis. Alih-alih menceramahi dan mendikte penontonnya lewat polarisasi baik-buruk seperti yang sering dilakukan serial televisi murahan Indonesia, Charlie Brooker menjadikan teknologi dan sisi gelap kemanusiaan sebagai monster yang meneror setiap tokoh utamanya sampai jiwa mereka hancur berserakan di lumpur yang kotor dan hina. Biarpun semua kisah di tiap episode adalah allegorical fiction, Charlie tidak pernah ragu untuk meramu pandangan sinisnya tentang kemanusiaan ke dalam skenario what-if yang menegasikan khayalan babu kita tentang pengaruh teknologi futuristik pada kehidupan manusia.

“Gimana ya, kalo kita bisa ngerekam semua memori kehidupan kita menjadi data yang dapat ditonton dan di-transfer?”
“Gimana ya kalo kita bisa bicara sama orang kesayangan kita yang sudah meninggal?”

Percayalah, kawan. Kalian tidak benar-benar menginginkan semua itu.

2. Memberi Pengalaman Menonton yang Traumatis.

Tidak ada kebahagiaan secercah pun, sebutir pun di dalam kisah-kisah Black Mirror. Buat kalian yang suka sama list “7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar” ataupun kalian yang menganggap Red Wedding di Game of Thrones itu cukup traumatis buat kalian, mulailah menonton Black Mirror. Serius. Banyak kritikus film yang menyandingkan tragic and mind-wrenching storytelling di Black Mirror dengan The Twilight Zone karena plot-twist jenius yang ada di akhir setiap episodenya. Namun saya berpendapat lain. Plot twist yang ada di setiap episode Black Mirror tidak hanya akan mengejutkanmu, tapi akan meninggalkan bekas luka yang menganga di jiwamu.

3. Mampu Membaca Masa Depan.

Sungguh, ini nyata. Saya juga kaget. Episode Pilot (The National Anthem) tayang perdana di Channel 4 UK pada Desember 2011 dan Episode Black Mirror terakhir (White Christmas) tayang Desember 2014, namun banyak sekali isu-isu sosial maupun politik yang kemudian terjadi dan sangat mirip dengan apa yang telah dikisahkan oleh beberapa episode di Black Mirror. Saya ingin mengungkapkan banyak sekali kecocokan tersebut, namun saya tidak ingin menceritakan secara detail plot dari tiap episode karena the less you know, the better you will experience themJadi saya hanya akan menuturkan bahwa:

1. David Cameron’s “Piggate Scandal” yang terjadi pada September 2015 mempunyai kemiripan dengan Ep. 1 Season 1: The National Anthem.

2. Pencalonan dan Kampanye Calon Presiden Amerika Serikat 2016 Donald Trump mempunyai kemiripan dengan Ep. 3 Season 2: The Waldo Moment.

3. Popularitas Pokemon Go di pertengahan 2016 mempunyai kemiripan konseptual dengan Ep. 2 Season 2: White Bear.

Seperti judulnya, Black Mirror memberikan cermin hitam buat kita berkaca tentang seberapa gilakah kita sebagai manusia untuk membiarkan teknologi mempersenjatai kegilaan kita. Seperti layaknya 1984 yang ditulis oleh George Orwell, masa depan, yang kini jadi masa lalu, telah mengkonfirmasi beberapa tesis distopia yang telah disuguhkan Black Mirror di beberapa episodenya. Selebihnya terserah kita, apakah ingin bahu membahu introspeksi diri demi memperbaiki masa depan, ataukah membiarkan diri kita berada dalam kenyamanan futuristik yang semu dan membiarkan semua episode—termasuk Season 3 yang akan datang di Netflix pada 2017—mengacak-acak kehidupan kita sampai mampus tak tersisa.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Eye in The Sky (2016) – Rethinking War

Apa yang muncul di dalam pikiran kalian saat pertama kali mendengar ‘film perang‘? Jika kalian penonton film kasual, tentu jawaban kalian adalah ‘ledakan’ dan ‘baku tembak‘. Namun jika kalian penggemar berat film perang sejak zaman All Quiet on The Western Front, pasti kalian menjawab ‘anti-war’ atau ‘propaganda’. Dalam buku Alternative Scriptwriting: Beyond the Hollywood Formula yang secara mendetail dan sistematik membahas tentang formula bercerita film-film Hollywood, Ken Dancyger dan Jeff Rush, dua orang peneliti dan teoris film, menuliskan rangkuman dari keseluruhan analisis mereka tentang film perang secara umum,

“The war film genre is a national melodrama; these films are about transgression and power. How does the individual survive intact, physically and mentally? How are we, the audience, to feel about a particular war, or about war in general?”

Ada dua macam moral purpose yang biasa diselipkan ke dalam konteks pembantaian di dalam film-film perang pada umumnya. Kedua moral purpose itu dapat kita bedakan dari bagaimana cara film-film tersebut menggambarkan medan peperangan.

1. Propaganda & Patriotism: Film-film perang yang mengandung moral purpose ini biasanya selalu berfokus pada bipolarisme ‘kawan dan lawan’ serta nilai-nilai patriotisme yang dibela oleh sang karakter utama mati-matian. Medan peperangan biasanya diperlihatkan sangat seru dan memacu adrenalin di film ini, sehingga para penonton pun akan melihat tokoh utama di pihak ‘kawan’ sebagai seorang patriot sejati dan orang-orang di pihak ‘lawan’ sebagai musuh yang nyata bagi umat manusia. Ex: Rambo, American Sniper, Why We Fight series.

2. Anti-War: Meskipun terdengar seperti oxymoron, namun film perang anti-war adalah jenis film yang cukup populer meskipun tidak diproduksi dengan frekuensi yang masif karena memang tujuan utamanya bukan untuk meraup keuntungan besar. Film-film ini mengkritik kekejaman dan ketidakbergunaan perang dengan cara menggambarkan para karakter (tidak ada bipolarisme ‘kawan’ dan ‘lawan’ di sini) sebagai manusia-manusia kurang beruntung yang terjebak di dalam medan perang yang brutal, sadis, mencekam, dan tidak beradab. Ex: Full Metal Jacket, Apocalypse Now, Saving Private Ryan.

Secara mengejutkan, Eye in The Sky sukses untuk keluar dari kedua ‘zona nyaman’ tersebut dengan membuka sebuah perdebatan sengit tentang hasil serta konsekuensi moral dan politik dari sebuah aksi peperangan terhadap terorisme. Alih-alih menggambarkan pembantaian sebagai sesuatu yang ‘patriotis’ ataupun ‘tidak manusiawi’, film yang disutradarai oleh Gavin Hood ini memperlihatkan sebuah pembantaian sebagai sesuatu yang ‘necessary‘ dan ‘inevitable‘.

Saat sedang melakukan misi pengintaian lewat drone di sebuah rumah yang ternyata merupakan markas teroris di Kenya, Col. Katherine Powell (diperankan oleh Helen Mirren) dan Lt. Gen. Frank Benson (diperankan oleh mendiang Alan Rickman) harus berhadapan dengan sebuah situasi genting di mana mereka harus merudal para teroris yang sedang mempersiapkan operasi bom bunuh diri di dalam rumah tersebut. Kondisi menjadi semakin menegangkan saat tiba-tiba seorang gadis kecil datang dan kemudian berjualan roti tepat di luar pagar rumah tersebut. Bermacam argumen muncul dari berbagai pihak yang terlibat dalam operasi tersebut yang akan memancing dan memprovokasi pemikiran penonton tentang apakah hasil dari aksi penumpasan terorisme ini akan sebanding dengan luka dan nyawa yang harus dibayar gadis kecil itu dan orang tua mereka kelak.

Film ini mengandalkan suspensi yang ditimbulkan oleh konflik argumen dari tiga perspektif yang berbeda: militer, politik, dan sipil. Secara mengerikan, kamu tidak akan menemukan argumen yang terdengar salah. Ada kalanya kamu setuju atas dasar manusiawi bahwa teroris-teroris itu seharusnya ditangkap serta diadili dan anak kecil yang ada di luar pagar tersebut tidak seharusnya mati. Namun ada kalanya kamu juga setuju bahwa demi menyelamatkan nyawa ratusan orang, gadis kecil tersebut mau tidak mau harus menjadi martir. Terdengar apatis dan bahkan cenderung hipokrit, memang, tapi seperti itulah pertimbangan keputusan yang terjadi di saat-saat peperangan. Lewat kutipan dari seorang tragedian asal Yunani Kuno, Aeschylus, film ini telah memberikan ‘forewarning’ di awal film agar kita bersiap-siap untuk menghadapi hal tersebut.

“In war, truth is the first casualty.”

Seorang diktator Uni Soviet bernama Joseph Stalin pernah berkata, “The death of one man is a tragedy, the death of one million is a statistic.”  Eye in The Sky bukanlah sebuah film perang konvensional yang naif berteriak-teriak ‘we should fight to defend peace’ atau ‘we should avoid war at any cost‘. Film ini membuka mata para penontonnya untuk melihat ruang sempit di antara kedua pesan moral yang saling beririsan tersebut, bahwa perang–layaknya kemajuan teknologi dan bencana alam–adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari, dan keputusan yang paling bijak untuk diambil dalam sebuah situasi peperangan adalah untuk menghindari terjadinya statistik, bukan tragedi.

Oh, dan penulis patut memuji penampilan Hellen Mirren, Barkhad Abdi, Aaron Paul, serta si kecil Aisha Takow yang sangat memukau di film ini. Terkhusus untuk Alan Rickman, penulis berharap bahwa penampilan terakhirnya di film ini dapat membawa reputasinya jauh lebih luas dari semesta Harry Potter dan membuatnya dikenal oleh para milenial sebagai salah satu aktor Inggris paling berpengaruh di abad 21, bukan hanya sebagai Professor Snape.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

7 Film Bahagia untuk Membahagiakan Hari-Harimu

Hidup ini memang terkadang kurang ajar, dan sebagai orang yang masih hidup, kita tidak akan pernah lepas dari kekurangajaran tersebut. Entah gagal melaksanakan tugas dengan baik karena suatu kecerobohan yang kita lakukan, mendapatkan penolakan telak atau penghinaan kasar, atau tertimpa suatu musibah yang menyebabkan kehilangan, hidup selalu punya cara yang unik untuk membuat kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri.

Namun, sebagaimana Eleanor Roosevelt bersabda:

“No one can make you feel inferior without your consent.”

Maka duduklah sejenak, ambil beberapa bungkus keripik kentang, cheeseburger, cokelat, minuman bersoda atau makanan apapun yang menyenangkan, lalu tonton ketujuh film yang akan kami rekomendasikan ini untuk membangkitkan semangat hidupmu kembali.

1. Chungking Express (1994) directed by Wong Kar Wai.

Untuk sebuah film romansa, Chungking Express lebih mengedepankan unsur eksperimentasi visual, karakterisasi, dan dialog antar tokoh ketimbang memaparkan struktur naratif secara konvensional. Alur cerita tidak akan begitu berarti di sini, karena tujuan film yang pernah membuat seorang Quentin Tarantino menangis karena bahagia ini hanya sesederhana mengajak penontonnya untuk bersenang-senang dalam arung jeram cinta. Kita tidak harus peduli apakah cinta mereka berbalas atau tidak, karena bagi mereka, mencintai hanyalah sebatas mencintai. Patah hati? Itu urusan belakangan. Yang penting, ayo jatuh cinta!

2. About Time (2013) directed by Richard Curtis

Perjalanan lintas waktu mungkin sudah menjadi sebuah topik yang basi untuk industri film di manapun, namun About Time berhasil mengolahnya menjadi sebuah cerita yang manis dan introspektif secara bersamaan. Lupakan tujuan-tujuan mulia seperti menyelamatkan dunia dari cengkeraman ilmuwan gila atau konspirasi masif alien untuk menghancurkan umat manusia. Mari gunakan time-travel sebagai alat untuk menyelamatkan diri kita di masa depan dari ketiadaan keturunan (baca: cari istri). Sesering apapun Domhnall Gleeson dan Rachel McAdams muncul di dalam film-film yang kita tonton, namun pesona serta chemistry yang mereka bangun di film yang disutradarai oleh orang yang pernah menyutradarai Love Actually ini akan membuatmu percaya lagi akan kesempurnaan cinta dan kasih sayang di dalam sebuah keluarga. Live each of your day to the fullest, guys!

3. Good Morning Vietnam (1987) directed by Barry Levinson.

Film yang disebut Roger Ebert sebagai penampilan terbaik dari Robin Williams ini membawa atmosfer yang penuh canda tawa pada konteks perang US – Vietnam, tentunya tanpa berceramah dan bersikap menghakimi karena sang karakter utama hanyalah seorang komedian yang ditugaskan untuk menjadi penyiar radio di sebuah daerah pangkalan militer. Terlebih, tidak hanya bekerja dengan baik sebagai film komedi, Good Morning Vietnam juga berperan sebagai film anti-war yang sarat dengan humor internal bernada sarkastik. Film ini sangat cocok untuk ditonton bagi mereka yang punya banyak pengalaman pahit soal birokrasi dan bagi aktivis sayap kiri.

4. The Lego Movie (2005) directed by Chris Miller and Phil Lord.

EVERYTHING IS AWESOME! Sekilas, The Lego Movie memang terlihat seperti film untuk bocah, tapi film animasi yang memenangkan Best Animated Feature Film di BAFTA 2015 ini cocok bagi mereka yang pernah merasakan kerennya jadi anak bocah. Buang skeptisme dan idealisme jauh-jauh karena Emmett akan membawa kalian bertualang melintasi dunia Lego dan menjalani petualangan-petualangan seru bersama Batman, Wonder Woman, dan Gandalf. Terdengar absurd, bukan? Namun percayalah, akan sangat menyenangkan bagi comic geeks untuk menyaksikan hiburan penuh fantasi ini!

5. 3 Idiots (2009) directed by Rajkumar Hirani.

Lagi bete karena revisian skripsi nggak kelar-kelar? Pusing di tengah kuliah karena baru sadar ternyata jurusan yang kamu jalani atas pilihan orang tua ini nggak sesuai minat kamu? Elus dada kamu pelan-pelan, ucapkan mantera “Aal izz well” sebanyak tiga kali, lalu tonton film ini. Kejeniusan Rajkumar Hirani dalam membungkus isu pendidikan yang krusial lewat guyonan-guyonan cerdas yang menyindir dengan lantang akan membuatmu tertawa terbahak-bahak dan menerima seikhlasnya bahwa satu-satunya jalan untuk menghadapi sistem pendidikan yang cacat ini hanyalah dengan menjalaninya dengan sabar sambil menggumamkan “Aal izz well” sebanyak mungkin.

6. The Intouchables (2011) directed by  Olivier Nakache and Eric Toledano.

Kebanyakan film yang mengusung topik disabilitas selalu menyajikan ceritanya dengan depresif dan muram.  Oleh karena itu, The Intouchables menawarkan sesuatu yang 180 derajat lebih menyenangkan daripada sekedar menjadikan para penyandang disabilitas sebagai korban yang tidak berdaya dan mengeksploitasi kesedihan yang mereka alami. Bayangkan, bagaimana jadinya jika Phillippe, bilyuner kaku yang lumpuh berteman dengan Driss, seorang mantan copet yang menjadi pengasuh pribadinya? Bukan, bukan kekacauan dan drama sentimental yang akan kita dapatkan, melainkan kegilaan-kegilaan yang asik dan menyenangkan dari Driss yang selalu melakukan segala halnya di luar batasan tanpa tanggung-tanggung.

7. Singin in The Rain (1952) directed by Gene Kelly and Stanley Donen.

Tak bisa diragukan lagi, film ini adalah film musikal terbaik dan paling menyenangkan yang pernah ada sepanjang masa. Dengan konteks film yang menceritakan konflik internal industri film Hollywood pada masa transisi film bisu ke film bersuara, kita akan dibawa ke alam musikal yang penuh dengan tap dance dan setting Broadway yang diwarnai gimmick-gimmick mengagumkan. Jika kamu tidak mampu menangkap keceriaan di saat Don, Kathy, dan Cosmo bernyanyi dan menggoyangkan tubuh mereka seirama dengan musik, kamu harus segera berkonsultasi ke psikolog mengenai masalahmu.

Mungkin ini terdengar garing dan membosankan, tapi dunia ini tidak sekurang ajar itu jika kita mampu melihat semuanya dari sudut pandang lain. Film-film ini secara tidak langsung mengajarkan pada kita bahwa bagaimana dunia memperlakukan kita sebenarnya tergantung pada bagaimana kita memperlakukan dunia. It works both ways! Intinya, apapun yang terjadi, dibikin asik aja, benar tidak?

7 Film Terbaik untuk Pria-Pria Pecundang Asmara

Sering merasa putus asa terhadap diri kita karena terlalu lama sendiri dan tidak pernah bisa menjalin hubungan asmara yang baik dengan siapapun? Tenang, itu semua manusiawi. Penulis juga pernah mengalaminya. Jangan merasa terlalu cepat rendah diri, karena hal itu tidak selalu berarti bahwa kita adalah pribadi yang tidak pantas untuk dicintai. Bisa saja itu karena kita terlalu idealis memberikan kriteria pasangan hidup atau kita berada di dalam lingkungan sosial dengan iklim gersang yang tidak mampu menyuburkan bibit-bibit pasangan hidup yang ideal bagi kita. Bagian yang terpenting adalah: kita tidak sendirian, dan seburuk-buruknya kita menilai kehidupan cinta kita, masih ada kisah yang menarik untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan kita ke depannya. Tidak percaya? Berikut ini adalah daftar film-film terbaik bagi kita, pria-pria pecundang asmara, untuk disaksikan agar kita mampu merenungkan dengan damai tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan tanpa harus membanding-bandingkan keadaan kita dengan pria-pria beruntung di sekitar kita.

  1. Annie Hall (1977) directed by Woody Allen

Film yang menurut Roger Ebert menandai berakhirnya era “Hollywood Golden Age” ini bercerita tentang Alvy Singer (diperankan oleh Woody Allen) seorang stand-up comic melankolis yang memiliki tingkatan idealisme yang terlampau tinggi. Sayangnya, hal itu bukannya membuat hidupnya menjadi lebih bertaraf, namun malah jadi merepotkan dirinya sendiri, terutama dalam menjalani hubungannya dengan seorang gadis bernama Annie Hall (diperankan oleh Diane Keaton). Semua—bahkan hal-hal kecil pun—akan dikomentari oleh Alvy dan tak jarang membuat mentalnya depresi. Begitulah Alvy, seorang hardcore nerd nihilis yang bahkan kritis terhadap ‘kode’ dari wanita yang menyukainya. Tonton saja percakapan saat Annie dan Alvy bertemu pertama kali di lapangan tenis, dan kalian akan tahu sendiri.

  1. Ruby Sparks (2012) directed by Jonathan Dayton and Valerie Faris

Pernah membayangkan bagaimana jika seandainya gadis imajiner yang sering kalian impikan tiba-tiba hidup dan secara instan menjadi kekasih hati kalian? Hanya lelaki beruntung seperti Calvin (diperankan oleh Paul Dano) yang pernah secara ajaib mengalaminya. Seorang penulis novel itu suatu pagi dikejutkan oleh kemunculan Ruby (diperankan oleh Zoe Kazan), seorang gadis imajiner dengan kecantikan surgawi yang dijadikan inspirasi oleh Calvin untuk sebuah karakter di novel yang sedang ia tulis. Ruby hidup ke dunia nyata sebagai kekasih Calvin, dan ini bukanlah penipuan atau semacamnya karena ternyata Calvin bisa mengendalikan Ruby hanya dengan menuliskan karakternya di mesin tik sesuai yang ia inginkan. Calvin memiliki kontrol sempurna atas Ruby, sebuah keleluasaan yang diimpikan pria manapun di Bumi. Kehidupan asmara Calvin, sang introvert pecundang asmara, yang bagaikan mimpi indah pada akhirnya berubah menjadi mimpi buruk karena ironisnya Calvin menyadari bahwa ia tidak memiliki kontrol sempurna atas hubungan dan rasa cintanya dengan Ruby. Cerita dan naskah film ini ditulis oleh Zoe Kazan sendiri, dan mungkin itu sebabnya di samping berbicara tentang keseimbangan kuasa di dalam sebuah hubungan, film ini juga memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang tinggi.

  1. Her (2013) directed by Spike Jonze

Sutradara dari film Being John Malkovich ini membuat sebuah film yang membahas tentang interdependensi dari cinta, intelijensi buatan, dan filsafat keberadaan. Diceritakan Theodore (diperankan oleh Joaquin Phoenix) adalah seorang pemurung dan penyendiri yang bekerja sebagai penulis surat-surat cinta bagi mereka yang tidak mampu atau tidak mau menulis surat mereka sendiri. Setelah perceraiannya dengan Catherine (diperankan oleh Rooney Mara), Theodore membeli sebuah sistem operasi dengan intelijensi buatan yang diberi nama Samantha (disuarai oleh Scarlett Johannson). Pembicaraan mereka yang intim mengenai hal-hal kecil serta keberadaan Samantha yang selalu setia menemani kesendirian Theodore membuat mereka perlahan-lahan jatuh cinta pada satu sama lain. Ada sebuah ulasan mendalam dan filosofis yang ditulis oleh Mas Dony Iswara di blognya tentang Her yang penting untuk kalian—para pecundang asmara—baca dan bisa dilihat di tautan berikut ini.

  1. 500 Days of Summer (2010) directed by Marc Webb

Gue asumsikan semua orang sudah pernah menonton film ini, maka gue tidak perlu menceritakan ulang betapa Summer (diperankan oleh Zooey Deschanel) dengan kecantikan fisik dan perangainya yang tidak masuk akal tersebut berhasil mengobrak-abrik kehidupan Tom (diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt) dalam waktu 500 hari. Inilah yang terjadi, wahai pria-pria pecundang asmara, jika kita berharap terlalu banyak dalam suatu hubungan yang tidak jelas dan bukan malah menikmatinya seakan-akan hal tersebut bisa berakhir kapan saja. Tidak semua wanita mengharapkan komitmen, dan jika memang komitmen yang kita cari sejak awal, maka jangan coba-coba bermain api dengan ketidakjelasan, secantik apapun rupanya. Bersenang-senanglah. Hidup cuma sekali, kawan.

  1. In Search of A Midnight Kiss (2007) directed by Alex Holdridge

Tidak ada pecundang asmara yang lebih pecundang dari seorang Wilson (diperankan oleh Scott McNairy), yang pada malam Tahun Baru tertangkap basah sedang masturbasi dengan foto seorang bintang porno yang wajahnya di-photoshop dengan wajah Min (diperankan oleh Katy Luong), kekasih dari sahabatnya sendiri, Jacob (diperankan oleh Brian McGuire). Kasihan dengan Wilson, Jacob menyarankan sahabatnya tersebut untuk mencari teman kencan menghabiskan malam Tahun Baru lewat Craigslist. Secara mengejutkan, Wilson yang menulis di kolom deskripsinya ‘misanthrope looking for misanthropee’ menerima panggilan ‘audisi’ dari seorang gadis bernama Vivian (diperankan oleh Sara Simmonds) untuk menjadi teman kencannya di malam Tahun Baru ini. Film dengan pengambilan gambar serta penggunaan warna monochrome yang terkesan indie-looking ini agaknya seperti ‘Before Midnight’ yang ceritanya berpusat pada percakapan menarik antar karakter utama pria dan wanita (dalam film ini Wilson dan Vivian) serta apa yang mereka alami dari sore hari hingga tengah malam pada perayaan Tahun Baru. Perbedaannya hanya terdapat pada karakter Vivian dan Wilson yang jauh lebih quirky dan lebih manusiawi.

  1. Punch-Drunk Love (2002) directed by Paul Thomas Anderson

Sebelum menonton film ini, penulis sedikit meremehkan kemampuan akting Adam Sandler yang tidak pernah memiliki peran yang cukup menantang di tiap filmnya. Namun seperti layaknya Robin Williams dan Jim Carrey (yang akan penulis bahas di nomor berikutnya), komedian ini mencoba untuk sedikit ‘melawan arus’ dengan menjadi Barry Egan, seorang eksekutif di sebuah perusahaan furnitur toilet yang melankolis, introvert, kesepian, namun memiliki kemauan untuk melawan yang cenderung destruktif. Barry bahkan membenci dirinya sendiri yang memiliki kepribadian pecundang dan pasif sehingga ia sering melampiaskannya dengan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Di tengah kesepiannya yang menyakitkan, ia bertemu dengan Lena Leonard (diperankan oleh Emily Watson) yang—setelah kencan pertamanya di sebuah restoran—memutuskan untuk melakukan business trip ke Hawaii. Didorong keinginan untuk kabur dari para tukang pukul yang mengejarnya karena penipuan kartu kredit yang ia lakukan pada sebuah agensi ‘phone sex’, Barry memutuskan untuk menyusul Lena ke Hawaii dengan membeli puding cokelat Healthy Choice sebanyak-banyaknya demi sebuah tiket pesawat gratis ke Honolulu. Membayangkan betapa menyedihkannya Barry Egan di film ini kurang lebih sama seperti berkaca pada cermin retak, ya, wahai pria-pria kesepian?

  1. Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) directed by Michel Gondry

Menjadi lupa dipandang sebagai hal yang sangat menyenangkan bagi manusia-manusia yang dirundung patah hati, namun bagaimana bila itu semua masih tidak cukup? Inilah yang Michel Gondry dan Charlie Kaufman coba ceritakan di Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Joel Barish (diperankan oleh Jim Carrey) mendapati mantan kekasihnya, Clementine (diperankan oleh Kate Winslet), telah menghapus segala ingatan tentang dirinya lewat sebuah prosedur eksperimental yang dilakukan oleh Dr. Mierzwiak (diperankan oleh Tom Wilkinson). Lagi-lagi, penyebab putusnya hubungan mereka ditengarai oleh sifat Joel yang introvert dan posesif terhadap Clementine. Tidak mau kalah, Joel pun merelakan dirinya sebagai bahan eksperimen berikutnya demi menghapus segala ingatannya tentang Clementine. Di tengah proses penghapusan, Joel, di dalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba memutuskan untuk berontak dan mengamankan Clementine dari segala sudut memori yang telah terhapus dan melakukan perjalanan waktu demi membawa kekasihnya kembali merasakan cinta yang dulu pernah mereka rasakan sebelumnya. Film ini menjadi istimewa karena eksplorasi narasi dan visual yang begitu imajinatif, scoring yang indah dari Jon Brion, serta peran Jim Carrey sebagai sesosok pria patah hati yang pemurung, nihilis, dan melankolis. Film ini membawa konsep ‘pecundang asmara’ ke ranah yang lebih umum, yaitu pada ketidakberdayaan seseorang untuk ‘move-on’ dari cinta yang telah karam.

her-movie-still-3

Setelah menonton film-film yang ada di dalam daftar ini, kita tidak hanya akan merenungkan kembali apa yang harus kita benahi dalam diri kita, namun juga mendapati bahwa sebenarnya pria pecundang asmara adalah sosok paling romantis yang sayangnya tidak mampu dipahami oleh gadis-gadis awam. Coba kita pikirkan kembali, bukankah itu sebenarnya hal yang baik? Proses seleksi alam akan terjadi dengan sendirinya sehingga apa yang kita dapati merupakan hal yang memang benar-benar terbaik dan cocok untuk kita. Jadi, mengapa harus khawatir, wahai pria-pria pecundang asmara? Cintailah diri kita sendiri dan berbahagialah dengan kesendirian ini, niscaya ketika saatnya gadis itu datang, akan banyak kebahagiaan yang dapat kita bagi bersamanya.

Honorable Mention: Breakfast at Tiffany’s (1961), Napoleon Dynamite (2004), Taxi Driver (1976), Nightcrawler (2014).

6 Film untuk Ditonton Bersama Keluarga di Bulan Ramadhan

Marhaban yaa Ramadhan!

Di bulan yang penuh berkah ini, memang sangat benar jika ustadz/ustadzah bilang semua umat Muslim harus berlomba-lomba dalam kebaikan demi terbukanya pintu taubat dan pahala yang berlipat ganda. Namun tidak ada salahnya bila sesudah selesai melaksanakan ibadah, kita berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga tercinta sambil menonton film-film yang dapat meningkatkan pemahaman kita terhadap kasih sayang antar sesama manusia dan juga pada Tuhan YME. Nah, berikut ini gue punya beberapa rekomendasi film yang bisa kita tonton bersama keluarga baik sambil menunggu berbuka puasa atau sesudah sholat tarawih.

1. A Separation (2011) – Directed by Asghar Farhadi

Film asal Iran yang pernah memenangkan berbagai macam penghargaan termasuk Best Foreign Film of The Year (Oscar 2012) dan Best Foreign Language Film (Golden Globe 2012) ini bercerita tentang perceraian dan berbagai dampak buruk yang bisa ditimbulkan. Hal yang unik dari film ini adalah kita tidak akan digiring pada siapa atau apa yang salah dan benar. Asghar Farhadi dengan sangat brilian menciptakan karakter-karakter yang mampu menarik simpati penonton sehingga kita hanya akan fokus men-judge permasalahan yang mereka hadapi, dampak yang ditimbulkan, dan bagaimana cara menyelesaikannya. Film ini sangat baik untuk ditonton bukan hanya bagi anak, tapi juga bagi para orang tua agar tercipta keharmonisan di dalam keluarga yang dilandasi oleh kepercayaan, kasih sayang. dan pengertian.

2. Turtles Can Fly (2004) – Directed by Bahman Ghobadi

Secara personal, film ini adalah salah satu film anti-war yang paling saya sukai setelah Grave of The Fireflies (Baca Juga: 7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Kalian Dengar). Di sebuah tenda pengungsian Kurdi di perbatasan Irak-Turki, seorang bocah bernama Satellite yang terobsesi dengan teknologi dan bisa berbahasa Inggris memimpin sekawanan teman-temannya untuk mengumpulkan ranjau-ranjau yang bertebaran dan mengumpulkannya untuk kemudian dijual ke pasar agar dia bisa memasang antenna dan mempelajari serangan-serangan US berikutnya lewat gelombang radio Fox News yang ia peroleh. Dengan sederhana, film ini mampu menjelaskan tentang dampak dari konflik US – Iraq tanpa harus menjual sentiment negatif lewat isu-isu konspirasi ataupun propaganda anti-semit yang memojokkan satu pihak. Layaknya sebuah film yang dinilai baik bagi kritikus maupun sineas, film ini lebih menonjolkan drama kemanusiaan dan derita yang realis dengan tidak mengabaikan humor sebagai penyejuk layaknya oasis di padang pasir.

3. PK (2014) – Directed by Rajkumar Hirani

Oke, untuk film yang satu ini, mungkin orang tua kalian akan sedikit bawel karena ada satu adegan kissing di awal film dan beberapa referensi seksual yang agak tabu namun lepas dari ketelanjangan dan eksposisi hubungan intim—emm, Aamir Khan sedikit telanjang di awal film dan banyak adegan ‘mobil goyang’ meskipun tidak menunjukkan dengan jelas ‘kenapa bergoyang’. Belum lagi Anushka Sharma ini wajahnya bisa bikin puasa setiap laki-laki berkurang pahalanya (cantik banget broh). Tapi terlepas dari itu semua, PK merupakan sebuah film yang wajib tonton untuk setiap dari kalian yang mengaku masih menjadi seorang penganut agama. Meskipun pada akhirnya film ini sedikit judgmental dengan menunjukkan apa yang salah dan benar—walaupun sebagai manusia gue yakin kita bisa setuju dengan apa yang film ini katakan ‘salah’ dan ‘benar’—Rajkumar Hirani dan Aamir Khan mampu menyederhanakan sebuah persoalan pelik tentang perbedaan dan konflik antar-agama dengan gaya bercerita dan humor rasional jenius khas 3 Idiots. Film ini tentu saja tidak bebas dari kritik para pemuka agama yang menilai bahwa PK mengesampingkan tradisi-tradisi keagamaan sebagai sesuatu yang irasional dan terlihat ‘non-sense’, namun tidak dapat diragukan bahwa PK membawa perspektif baru tentang perdamaian yang mampu berjalan harmonis di dalam segala macam perbedaan.

4. Wadjda (2012) – Directed by Haifaa Al-Mansour

Agak mengejutkan untuk mengetahui bahwa film yang sangat inspiratif ini berasal dari Arab Saudi, sebuah negeri yang hanya memiliki satu bioskop di daerah Khobar dan memiliki industri film yang kecil dan relatif kurang produktif. Lebih mengejutkan (dan membanggakan) lagi bahwa sutradara dan penulis film ini adalah seorang perempuan, ya, di sebuah negeri di mana adalah tabu bagi seorang perempuan bahkan untuk bekerja. Diceritakan seorang anak perempuan bernama Wadjda yang sangat periang di lingkungannya yang konservatif berlatih keras untuk memenangkan sebuah lomba Murottal Qur’an demi hadiah uang tunai yang akan ia gunakan untuk membeli sepeda berwarna hijau dan mengalahkan temannya, Abdullah, dalam permainan balap sepeda. Film ini menyajikan sebuah pandangan baru terhadap kompleksitas budaya konservatif yang masih memandang tabu agresivitas dan progresivitas wanita lewat sebuah cerita yang sangat sederhana dan dengan karakter yang mampu menyentuh perasaan kita di titik nadir agar kita mampu memikirkan kembali konsep keagamaan yang sebenarnya tidak bisa lepas dari peran wanita sebagai manusia yang ingin berkembang.

5. Children of Heaven (1997) – Directed by Majid Majidi

Anak-anak yang lahir di jaman 90-an awal pasti pernah nonton film ini berkali-kali di stasiun TV swasta dulu. Biasanya film ini ditayangkan pas awal-awal libur Hari Raya Idul Fitri sekitaran tahun 2009 – 2011. Lagi-lagi cerita yang sangat sederhana, tentang seorang anak bernama Ali yang tidak sengaja menghilangkan sepatu milik adiknya, Zahra. Didorong rasa tanggung jawab dan ketakutan akan dimarahi orang tua mereka, Ali dan Zahra bersepakat untuk tidak memberitahu orang tua mereka tentang hal ini dan membuat perundingan tentang bagaimana Zahra akan memakai sepatu ke sekolah serta bagaimana Ali akan menemukan, atau pada akhirnya mengganti sepatu Zahra dengan yang baru. Tidak ada yang terlalu rumit dalam film ini hingga semua orang dari semua kalangan dapat menikmati dan menyerap pesan positif dari film keluarga tentang kakak beradik yang menghangatkan jiwa ini. Oh ya, yang jadi Zahra ucu anet loh :3

6. Life is Beautiful (1997) – Directed by Roberto Benigni

“Tom, kok dari tadi rata-rata filmnya dari Middle-East semua sih?” Iya deh, iya. Film yang terakhir ini datang dari negerinya Don Vito Corleone, yaitu Italia. Gue memasukkan satu film special dari luar tanah Timur Tengah karena film ini menyampaikan satu pesan yang sangat penting demi melawan pemikiran-pemikiran konservatif radikal yang mengabsolutkan kelicikan dan kejahatan semua orang Yahudi (bahkan ada beberapa ajaran yang membenarkan holocaust). Dikisahkan pada saat pendudukan Italia oleh Jerman pada zaman Perang Dunia ke-II, seorang pria Yahudi bernama Guido dengan selera humor dan kemahiran berceritanya harus membawa anaknya pada sebuah dunia imajinatif di mana Holocaust hanyalah sebuah permainan belaka demi menyelamatkan anaknya dari kamp konsentrasi Jerman. Roberto Benigni mampu menyajikan sebuah tragedi dramatis lewat penuturan yang humoris dan riang sehingga membuat kita kebingungan di akhir film apakah kita sebenarnya sedih atau malah merasa terhibur. Overall, seperti yang tadi gue bilang, film ini akan mematahkan konsep ‘kelicikan Yahudi’ sehingga kita para penganut agama lain akan mampu hidup berdampingan tanpa pretensi dan prasangka buruk serta menyadari bahwa iman yang baik adalah iman yang mampu berdiri tanpa harus dipengaruhi oleh unsur ‘common enemy’ terhadap agama lain.

Honorable Mention : The Color of Paradise (1999), About Elly (2009), The White Balloon (1995).

7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar

Kalian menangis ketika menonton kisah cinta tujuh menit pada awal film Up? Atau mungkin kalian juga ikut merasa simpati saat Wall-E masuk ke dalam pesawat luar angkasa dan mengelilingi seluruh galaksi hanya untuk bertemu dengan Eve? Harus gue akuin, itu emang momen-momen yang bisa bikin manusia paling perkasa di dunia langsung klemar-klemer nyariin tisu buat ngelap pipinya. Tapi kalau kalian memang senang menyiksa diri kalian dengan kesedihan-kesedihan semacam itu, berikut akan gue list beberapa film penguras air mata yang mungkin jarang kalian dengar, namun harus kalian tonton.

1. Detachment (2012)

Di film ini, Adrien Brody menjadi Henry, seorang guru pengganti yang ditempatkan di sebuah sekolah di mana murid-muridnya sudah tidak menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang penting buat mereka dan bahkan berani untuk meneriaki dan melempari guru mereka. Kita akan dibawa menuju sebuah kota di mana setiap jiwa penduduknya hancur berantakan dan sistem sosial sudah tidak mampu lagi berfungsi dengan baik. Lambat laun, dengan ketabahan dan cara mengajarnya yang tidak biasa, Henry mampu menjadi teladan bagi mereka dalam berempati. Namun sayangnya, tidak ada yang mampu untuk menyelamatkan manusia-manusia tersebut dari depresi dan kebencian mereka terhadap diri mereka sendiri. Banyak kritikus yang menulis ulasan buruk tentang film ini karena pesan yang disampaikan di akhir film cenderung nihilis dan depresif sehingga tidak memberikan solusi yang baik untuk permasalahan psikososial yang dibicarakan. Namun menurut gue malah ending yang seperti itu cukup mampu untuk memberi gambaran nyata dan menggugah masyarakat untuk sadar terhadap bahaya apati dan racun sosial lainnya sehingga kita bisa memperlakukan satu sama lain agar lebih baik lagi. Humans do have conscience, after all.

After Taste:

2. Short Term 12 (2013)

Secara sederhana, film ini menceritakan sebuah hubungan batin antara seorang pengasuh yang memiliki kondisi emosional rapuh dengan anak-anak di panti asuhannya. Atmosfernya mungkin kurang lebih sama seperti Detachment (2012), namun film ini lebih banyak berbicara soal keterasingan, pengabaian, dan kekerasan terhadap anak di bawah umur. Para calon orang tua layaknya wajib untuk menonton film ini agar mereka bisa melihat secara lebih dekat apa akibatnya bila mereka terlalu sering mengabaikan, melarang-larang, dan melakukan kekerasan baik fisik maupun emosional terhadap anak mereka. Oh, kalian bakal pecah saat Marcus menyanyikan lagu ciptaannya sendiri dan saat Jayden membacakan sebuah cerita yang ia tulis sendiri. Dunia kita sudah berantakan, kawan.

After Taste:

3. Silenced/Crucible (2007)

Di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Korea di mana murid-muridnya diperkosa dan disodomi oleh seluruh pihak sekolah, seorang guru bernama In Hoo (diperankan oleh Gong Yoo) harus memperjuangkan hak dari anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan melawan pihak sekolah yang menutup-nutupi kasus tersebut meskipun itu artinya dia harus melawan raksasa yang dilindungi oleh kejaksaan dan kepolisian yang korup. Lihat betapa tersiksanya anak-anak di sekolah tersebut, maka kalian akan tahu kenapa gue masukin film ini ke dalam list.

After Taste:

4. Grave of The Fireflies/Hotaru No Haka (1988)

Diceritakan sepasang kakak beradik bernama Seita dan Setsuko harus bertahan hidup setelah ditinggal mati ibunya dan ditinggal perang oleh ayahnya di masa Perang Dunia II. Seita yang tidak sudi diasuh oleh bibinya yang terlalu keras memilih untuk mengasuh sendiri adiknya dan tinggal di sebuah cerukan di bantaran sungai. Film ini banyak berbicara tentang perang dan dampak buruknya terhadap masyarakat sipil dengan animasi yang begitu memanjakan mata dan menyayat jiwa secara bersamaan. Gue sangat menyayangkan bahwa hanya sedikit orang yang tahu tentang film ini karena film ini harus ditonton oleh semua orang untuk mengingatkan mereka betapa berharganya hal-hal sederhana yang mereka miliki.

After Taste:

5. One Hour Photo (2002)

Yes, it is Robin Williams, your childhood favorite. Di film ini, dia menunjukkan sisi lain dari kemampuan aktingnya yang cenderung terkesan selalu ceria dan menceriakan. Di film ini dia berperan sebagai tukang cuci foto bernama Sy Parrish yang kesepian dan terobsesi pada sebuah keluarga pelanggan cuci foto di tempatnya bekerja. Robin tidak berperan sebagai komedian di sini, namun karakternya merepresentasikan orang-orang kesepian yang sering kita hiraukan, atau bahkan kita bully di dunia nyata. Bagi kalian yang merasa kesepian cuma karena jomblo, film ini bisa membuka mata hati kalian lebar-lebar tentang bagaimana rasa kesepian yang sebenarnya.

After Taste:

6. Dancer in The Dark (2002)

Beberapa orang yang sudah terbiasa menonton film Hollywood mungkin akan merasa jenuh menonton film ini karena medium film nya masih menggunakan pita seluloid dengan warna terbatas dan framingnya kurang memanjakan mata. Bjork, musisi eksperimental dari Iceland, di film musikal ini berperan sebagai Selma, single-mother periang yang senang berdansa, menyanyi, dan mendengarkan musik. Terdengar menyenangkan ya? Tentu tidak setelah lo tahu bahwa Selma mengalami penyakit kebutaan bertahap yang diwariskan oleh gen dan ia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik demi menabung untuk operasi kornea mata anaknya. Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh Selma akan membuat lo muak terhadap hidup yang terlalu kejam bahkan pada orang-orang baik seperti Selma.

After Taste:

7. Requiem for A Dream (2000)

Bentar, tarik nafas dulu.

Oke, untuk film yang satu ini, gue ngga bener-bener mengharuskan kalian untuk nonton. Seriously, nuansa film ini bukan buat semua orang. Film ini menceritakan tentang empat orang pecandu narkoba yang semakin lama semakin tenggelam dalam kecanduan yang pada akhirnya menggerogoti hidup mereka sampai hancur berantakan. Requiem for A Dream mungkin tidak membuat kalian menangis, tapi setidaknya akan membuat kalian berjanji untuk tidak akan pernah memakai narkoba dan tidak akan pernah menonton film ini lagi.

Serius, menurut gue dan sebagian film blogger lainnya, film ini terlalu menyakitkan untuk ditonton. Tapi kalau kalian masih penasaran ya, terserah. I warned you.

After Taste:

Honorable Mention : Sophie’s Choice (1982), Leaving Las Vegas (1995), Blue Valentine (2010), Revolutionary Road (2008).

6 Film Romance yang Dapat Mengubah Pandanganmu terhadap Cinta

Ngaku deh, beberapa dari kita udah bosen dengan film-film romance yang cuma mengunggulkan kegantengan dan/atau kecantikan para aktornya tanpa alur cerita yang substansial dan quotable conversation yang kedaluwarsa. Mungkin memang mayoritas penonton–apalagi di Indonesia–nggak peduli terhadap bagus atau tidaknya cerita yang ditawarkan karena memang dalam kehidupan mereka segala hal yang berkaitan dengan romansa memang gitu-gitu aja. Nah, buat kamu yang udah terlanjur muak dan pengen mendapatkan experience yang berbeda dalam menonton film romance, gue bakal kasih list 6 film yang bukan hanya bisa ngasih kamu perspektif yang berbeda tentang cinta.

1. Closer (2004)

Oke, film ini dibintangi oleh Jude Law, Clive Owen, Julia Roberts, dan Natalie Portman. Cukup gila bukan? Belum. Film ini bercerita tentang manusia-manusia yang saling berusaha untuk menjaga ketulusan di dalam lubang kebohongan dan godaan yang terlanjur memerangkap mereka. Banyak yang mendeskripsikan film ini sebagai circle of love, tapi buat gue ini adalah circle of seduction, karena yang gue lihat ngga ada yang bener-bener mencintai satu sama lain di sini. Perasaan-perasaan yang membuat mereka emosional hanyalah hasil dari pengkhianatan dan pretensi yang mereka ciptakan sendiri. Ngga ada yang bener-bener jatuh cinta dan ngga ada yang bisa disalahin.

Perspective Offered:

Pikir-pikir lagi deh sebelum bikin komitmen sama seseorang. Lo beneran cinta sama dia atau lo cuma penasaran dan tergoda doang? Nanti kalo kegoda sama yang lain atau dianya digoda sama yang lain gimana? Yang salah siapa?

2. Before Sunrise, Before Sunset, dan Before Midnight (1995-2014)

Beberapa temen yang udah gue rekomendasiin film ini banyak yang nggak suka karena dari awal sampai akhir isinya cuma dua orang yang ngobrol dan jatuh cinta lewat obrolan mereka masing-masing. Tapi film ini menceritakan secara realistis bagaimana kita harus menyikapi cinta ketika ruang, waktu, dan kehidupan saling berkonspirasi untuk mengacak-acak hubungan kita. Yah, kalo kalian suka ngobrolin hal-hal kecil namun pengen sesuatu yang beda dari yang lain, coba deh perhatiin seberapa quotable percakapan-percakapan kecil mereka.

Perspective Offered:

3. Casablanca (1942)

“Eh buset, filmnya ngga ada yang lebih tua lagi, Tom?” Coba deh tonton dulu. Film ini emang tua banget. Akting para casts di film ini memang masih mentah banget dan kualitas gambar juga memang masih hitam putih. Tapi IMO sampai sekarang belum ada film romantic epic yang ceritanya bisa sebaik dan sedewasa film ini. Dari film ini lah orang-orang bisa belajar tentang the mind and attitude of the true ladies and gentlemen.

Perspective Offered:

Gentlemen, please look at Rick and Victor. They don’t fight over a girl. Love is not about possession. Love is giving what is best for each other for the sake of love itself.

4. Love Exposure/Ai no Mukidashi (2007)

Yang sering kita tonton di bioskop maupun di rumah adalah film-film romance tentang perfect people in an imperfect world (how is world perfect, anyway?), tetapi film ini menawarkan sebuah cerita romansa unik tentang imperfect people in an ultimately imperfect universe. Konten film ini agak sedikit ngaco karena film ini tergolong film arthouse yang lebih ditujukan kepada konsumen festival dan ngga semua common public bisa nerima. Udah gitu durasinya lama banget (+-4 jam), tapi bagi yang seneng nonton film action jepang dan yang bisa nyambung sama kekonyolan dan ke-WTF-an film ini bakal betah mantengin ini film dan bakal ngasi applause di akhir film yang dramatis.

Perspective Offered:

5. The One I Love (2014)

Yes, people. It’s so weird, but it’s mindblowingly relatable. Dua pasangan suami istri harus berhadapan dengan kejadian-kejadian aneh di luar logika saat mereka mencoba menenangkan diri di sebuah villa demi memperbaiki hubungan mereka yang sudah retak. Film ini memiliki ide yang sangat sederhana namun tidak mampu terpikirkan oleh banyak orang. Kalau kalian suka film-film romance dengan plot twist yang tidak biasa, film ini recommended banget buat kalian.

Perspective Offered:

Would you surrender with something that is not real, but makes you  feel instantly happy? Or would you fix what is real and try to be happy with something real and fight for your happiness together?

6. Blue Valentine (2010)

Love hurts, and love can run out. Film ini berkisah tentang pernikahan yang kandas di tengah jalan karena sang istri merasa jengah dan risih berkepanjangan atas kondisi emosional sang suami yang selalu berubah-ubah. Bukan hanya itu, alur film yang non-linear juga akan membawa kita kedalam sebuah perjalanan manis getir Dean dan Cindy sejak mereka pertama kali bertemu sampai akhirnya mereka bercerai. And…boy, no matter how good your first sight story is, marriage can absolutely screws you over. Oh iya, endingnya simpel tapi nyakitin loh.

Perspective Offered:

You think love is sweet? Think again.

Honorable Mention:

[500] Days of Summer (2009) ; Punch-Drunk Love (2002); Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004); Roman Holiday (1953); Revolutionary Road (2008).