Tag Archives: star wars

10 Tokoh Wanita Terkuat dan Inspiratif di Film dan TV Series

Sebagai seorang pria yang dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang wanita, saya mengagumi mereka sebagai sosok yang tangguh dan perkasa, terlepas dari segala stereotipe yang ada di dalam kepala saya dulu, saat saya masih mengenal RA Kartini hanya sebagai wanita yang harinya dirayakan. Saya yakin sekali sebenarnya para kaum patriarki di luar sana juga menganggap wanita sebagai sosok yang berbahaya dan mengancam citra maskulinitas lelaki yang sudah dibentuk oleh tradisi, makanya dahulu (dan sampai sekarang) banyak sekali tatanan yang mereka bentuk untuk membatasi ruang gerak wanita di dunia.

Kini dunia semakin modern, dan gerakan emansipasi wanita di seluruh dunia semakin kuat dan berpengaruh, menghasilkan berbagai tatanan yang juga memberikan kesetaraan derajat dan hak bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan kerja dan perlakuan yang setara dengan laki-laki. Dengan kondisi seperti ini, tentu penggambaran wanita sebagai sosok damsel in distress sudah tidak relevan dan bertentangan dengan akal sehat. Why would picture them weak if they are actually strong?

Ada banyak sekali tokoh wanita tangguh di film dan serial televisi, namun saya akan menulis tentang sepuluh tokoh yang menurut saya paling tepat menjadi representasi wanita terkuat di dunia modern dan, hopefully, juga dapat menjadi pedoman bagi kaum lelaki untuk bagaimana seharusnya kita memandang wanita.

Bagaimana kita seharusnya memandang mereka?

Just treat them equally, and don’t mess with them…

  1. Elizabeth Sloane – Miss Sloane (2017)


Tanpa berlebihan, Elizabeth Sloane is an epitome of resilience and dedication. Pekerjaannya sebagai lobbyist tidak pernah mengguncang moral compass yang ia pegang teguh, terutama persoalan gun control di Amerika Serikat. Dia hanya bekerja kepada klien yang sejalan dengan pemikiran yang ia anut, which also means that she only works in her own favor. She knows her things, and if she doesn’t, she will master it before her opponents can blink their eyes. She will not rest until she wins, no matter how small her team is or how fast her opponent moves, she will only move three times faster and grow stronger. Satu hal yang paling menarik dari Sloane adalah: pendiriannya mempunyai basis yang dikokohkan oleh argumen moral tanpa disertai sedikitpun unsur personal dan emosional di dalamnya. Tentu hal ini juga memiliki kekurangannya tersendiri. Kemampuannya dalam berempati sangat buruk sehingga cenderung menjadi manipulatif. Namun yah, mau bagaimana lagi? Dalam seni lobbying, empati memang lebih baik digunakan sebagai pedang, bukan tameng.

2. Louise Banks – Arrival (2016)

Banks adalah figur seorang ibu yang selalu kita idamkan. Penyabar, intuitif, ulet, dan pemberani. Sebagai seorang pakar linguistik, ia tahu persis bahwa senjata utama yang harus dikeluarkan pertama kali saat konflik terjadi adalah “komunikasi”. Kaum lelaki mungkin akan menganggap Banks pribadi yang gegabah karena bertindak keluar dari protokol dan menyalahi aturan, namun Banks akan tetap kokoh pada pendiriannya bahwa “gegabah” yang sebenarnya adalah melakukan tindakan agresif dalam konflik sebelum terjalinnya komunikasi yang baik dari kedua belah pihak.

You: “Mah, aku kesel. Masa sahabat aku Si Anto tadi jalan gandengan tangan sama Gladis, pacar aku!
Banks: “Yo wes lah ajak Anto sama Gladis ke sini ngopi dulu, biar kalian bisa ngobrol.”
You: “But Mom, science says…”
Banks: “If you want science, go ask your Father.”

3. Katniss Everdeen – The Hunger Games Trilogy (2012 – 2015)

Kalau Louise Banks adalah figur ibu idaman, maka Katniss Everdeen adalah figur kakak idaman. She always treats you well, she prioritize you first, and she will do anything to protect you. Oke lah, kamu nggak mau kakakmu gegabah “volunteering as a tribute” demi ngelindungin kamu, tapi kamu harusnya juga tahu kalo kakakmu nggak selemah itu untuk mati sia-sia jadi hiburan para aristokrat di Capitol. Faktanya, dia juga membenci Capitol, dan orang sekuat dan seulet kakakmu itu bisa menjadi simbol perlawanan yang kuat untuk menginspirasi para pemberontak lain menusuk jantung Capitol dari dalam.

Please…be a decent one and don’t talk about what happened with Primrose. It’s not her fault.

4. Leia Skywalker – Star Wars Universe (since 1977)


Berbeda dengan Louise Banks dan Katniss Everdeen, Leia Skywalker mungkin adalah seorang figur pacar idaman kita semua (kecuali bagi kalian para lelaki patriarkis lemah yang gengsi kalo pacarmu lebih bisa ngelindungin kamu). Cantik? Nggak ada yang meragukan. Cerdas? Sudah jelas. However, most importantly, she’s one kind of a strong, fearless lover that will dare to fight side by side with you, no matter how terrifying your opponents are. With love, forever and always.

Rest in Peace, Carrie Fisher. The Force is with you.

WARNING: Sebelum memacari wanita seperti Leia, pastikan dulu bahwa dia bukan saudara kandung kamu ya.

5. Hermione Granger – Harry Potter Series (2001 – 2011)

Semua penggemar Harry Potter pastinya pengen banget macarin Hermione Granger, tapi bagi saya, Hermione itu tipe wanita yang pas banget untuk jadi pacarnya sahabat kita, terutama jika sahabat kita itu lelaki yang cenderung gegabah dalam mengambil keputusan dan agak careless sama dirinya sendiri. Hermione ini meskipun independen, kuat, dan cerdas setengah mati, tapi dia orang yang perhatian dan protektif banget. Lihat sendiri bagaimana hubungan dia dengan Ron dari awal Sorcerer’s Stone sampai Deathly Hallows part 2. Biarpun sering banget berbeda pendapat dan cekcok, tapi Hermione masih tetep care banget sama Ron. Kamu juga nggak perlu khawatir kalau temen kamu bukan tipe orang yang bisa ngelindungin pacarnya, karena Hermione bisa banget ngelindungin bukan hanya dirinya sendiri, tapi sahabat kamu juga. Yah, sekali lagi, kalau sahabat kamu itu patriarkis akut dan nggak kuat sama cewek yang sekeras kepala dan sebawel Hermione, bakal susah cocoknya.

6. Cersei Lannister – Game of Thrones (since 2011)

Untuk yang satu ini, you don’t want to do anything with her. You don’t even want to be her child, because, well, she is obviously a pretty bad Mom. Mungkin kalian heran dari sekian banyaknya karakter di Game of Thrones, kenapa gue malah milih Cersei dan bukan Daenerys, Brienne the Tarth, atau malah Lyanna Mormont idola baru kita itu. Well, look at what she’s been through and where she is now. Banyak orang yang ingin membunuhnya dan merebut kuasa dari tangannya, namun sepanjang Season 1 – 6, dia adalah satu-satunya sosok yang tak pernah kehilangan genggaman kekuasaannya.

Daenerys? She has dragons. Dia bisa dapetin tentara Unsullied dan ngerebut Yunkai dan Meereen juga karena bantuan Rhaegal, Viserion, dan Drogon. Oke lah, sebut nama Jorah Mormont, Daario Naharis, dan Missandei. She is a good person and she can take people’s heart, but to be honest and frank, she is really suck at politic.

Lyanna? Okay, she is fierce for his own age, but look at how small her army is, plus she hadn’t even started anything yet.

Cersei has lost so many things since the beginning at series. Her husband Robert Baratheon, her children, Joffrey and Tommen, and even her own dignity by Walk of Shame. At this point, she almost have nothing.

Look where she is now.

7. Jessica Jones – Jessica Jones (since 2015)

Gelap, pahit, dan rapuh, Jessica Jones adalah representasi dari survivor sekaligus petarung sisi gelap realita kehidupan. Setelah melepaskan diri dari manipulasi dan mental abuse yang dilakukan mantan kekasihnya, Kilgrave (sebuah personifikasi nyata dari domestic abuse dan sexism), ia berusaha bangkit melawan post-traumatic stress disorder dan membangun kembali hidup baru sebagai seorang private investigator. Jessica mungkin terlihat sebagai orang yang sudah kehilangan empati karena sifatnya yang cenderung cuek dan pahit and she’s been too hard on herself, but she knows how the world works, and nothing entertains her more than stopping Kilgrave and make the darkest side of the world gets brighter.

8. Diana – Wonder Woman (2017)

Jika anda bertanya kepada banyak orang siapa karakter favorit mereka di Batman V Superman: Dawn of Justice, pasti mayoritas akan menjawab “Wonder Woman”. Yup, saat pertama kali tampil di film tersebut, dia sudah mencuri perhatian banyak orang dengan pesonanya sebagai wanita yang tangguh dan kuat. Ketika film solonya tayang, ia langsung menjadi simbol wanita independen dan tangguh, dan banyak sekali mereka yang terinspirasi oleh segala sifat yang dimilikinya: tangguh, lugu, memiliki sense of justice yang tinggi, serta penuh rasa empati dan kasih sayang. Bagaimana Bruce Wayne dan Kal-El menyikapi Wonder Woman saat bertarung bersama-sama menghadapi Doomsday adalah cerminan bagaimana seharusnya kita, sebagai lelaki, menyikapi wanita di tempat kerja. Equally, cooperatively, and not sexually.

9. Claire Underwood – House of Cards (since 2013)

Dude. She is the President of The United States.

Kuat dan memiliki pendirian yang teguh, Claire Underwood adalah tipe wanita yang tenang dan dingin dalam memangsa para lawannya secara buas. A true Machiavellist with no empathy. Dia adalah orang yang mengerti bagaimana cara menggunakan kekuasaannya secara tepat agar dia bisa naik lebih tinggi dan membantai semua yang mencoba menggoyahkannya, termasuk suaminya sendiri, Frank Underwood. Dengan manuver-manuver politik liar dan cerdik, ia berhasil menaiki tangga hierarki tertinggi di Amerika Serikat dengan berturut-turut menjadi Second Lady of the United States, First Lady of the United States, the United States Ambassador to the United Nations, Vice President of the United States, dan pada akhirnya President of the United States.

Dear sexist men, if you think women’s tendency for being emotional makes them unfit for the job you think men like you should be capable of, I advise you to watch House of Card, take full attention to Claire Underwood, and reconsider your toxic view immediately.

10. Ellen Ripley – Alien Series (1979 – 1997)

Before Gal Gadot’s Wonder Woman, Sigourney Weaver’s Ellen Ripley in Alien film series might be the strongest face of women we’ve ever had. Empat seri film dan semua Xenomorph habis dibantai tanpa sisa. Ridley Scott, sang sutradara film Alien, pernah mengatakan bahwa sebelumnya ia berniat menjadikan tokoh utamanya sebagai seorang lelaki, namun ia berpikir “What would you think if Ripley was a woman? People will not expecting her to be the main character. People would think she’s gonna be the one who died first.”

Hasilnya? Sigourney Weaver mendapat nominasi Oscar untuk film tersebut, dan banyak media yang menjadikan dia sebagai salah satu karakter terbaik yang pernah ada dalam sejarah fiksi dunia.

It’s nice to know that Ridley Scott used those rotten stereotype as an element of surprise, which is also done by Adam Wingard in You’re Next (2013). But it’s even nicer to realise that nowadays we have so much female leads, enough to wipe that stereotype away from the face of our modern culture.

HONORABLE MENTIONS.

Clarice Starling – Silence of The Lambs (1991)
Elle Woods – Legally Blonde (2001)
Buffy – Buffy The Vampire Slayer (1997)
Imperator Furiosa – Mad Max Fury Road (2015)
The Bride – Kill Bill series (2003 – 2004)

Star Wars Ep. VII: The Force Awakens (2015) – Unleashing The True Forces

Sebagian penggemar Star Wars sudah pernah merasakan kekecewaan yang mendalam ketika George Lucas dengan sangat gegabah memproduksi Star Wars Episode I-III tanpa memikirkan ulang kematangan konsep dan karakter. Ditambah dengan pemilihan aktor yang sembrono untuk karakter utama, Lucas sukses membuat mereka berpikiran bahwa keputusannya merilis ulang Star Wars yang sukses besar di tahun 1977 dengan embel-embel “Episode IV: A New Hope” hanya sekadar strategi bisnis murahan untuk memberikan harapan palsu bagi para penggemarnya. Banyak opini yang bermunculan bahwa sejak Episode I: The Phantom Menace, Star Wars hanyalah sebuah jebakan uang yang dibuat oleh kapitalis serakah dan impoten, sehingga banyak yang sangsi bahwa kebangkitan besar akan terjadi ketika Lucasfilm memutuskan untuk menghidupkan Star Wars kembali lewat Episode VII: The Force Awakens dan menunjuk J. J. Abrams, maestro sci-fi dengan signature yang kental, sebagai sutradaranya.

Well, their lack of faith are disturbing, because The Force Awakens brings a new hope for the fans.

Tanpa sedikit pun berlebihan, film ini adalah segalanya yang pernah diharapkan bagi para penggemar Star Wars. Film ini membunuh berbagai opini negatif lewat kerapihan konsep, komposisi drama yang tepat, serta dalam dan padatnya lapisan tiap karakter baik dari protagonis maupun antagonis, yang mana tidak kita temukan pada prequel trilogy (I-II-III). Sangat mengesankan bahwa tidak seperti Jurassic World, film ini tidak hanya unggul karena menyajikan nostalgia yang diolah dengan treatment inovatif, namun juga karena menawarkan karakter-karakter baru seperti Rey, Finn, Poe, dan BB-8 yang sangat ikonik dan bahkan mampu bersinar lebih terang dari Luke Skywalker, Han Solo, Chewbacca, Leia Organa, R2-D2, dan C3PO yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah (in a good way). Mengagumkan bagaimana J. J. Abrams dan Lawrence Kasdan menyusun sebuah premis dengan porsi yang ideal bagi karakter baru untuk timbul tanpa perlu mengecewakan penggemar dengan kurangnya durasi penampilan karakter legendaris.

Poin yang sangat menarik untuk dibahas adalah Kylo Ren. Darth Vader–dengan segala detail lahiriah dan batiniah yang karismatik–adalah ikon penjahat yang karakternya sulit untuk ditandingkan. Tidak akan ada yang bisa mengantisipasi betapa Kylo dan rahasia gelapnya mampu menarik hati para penonton, baik penggemar berat Star Wars yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan Vader maupun khalayak umum. Kylo mencuri simpati kita dengan cara yang berbeda dari Vader, walaupun luka dan bisa yang mereka bawa lari sama pedih dan perinya. Selain dari jenis lightsaber, perbedaan mereka juga terdapat pada manajemen amarah dan pengambilan keputusan terhadap hal-hal yang bersifat kekeluargaan. Biarpun ia cengeng minta ampun, tapi Kylo Ren adalah suatu kegelapan yang segar dan memiliki potensi untuk bersanding dengan iblis-iblis kultur pop terbaik seperti Joker, King Joffrey, dan Ultron.

Baik penggemar Star Wars maupun kritikus film memiliki kesamaan yang unik: mereka membenci segala cacat dalam prequel trilogy namun mencintai segala cacat dalam original trilogy. Sangat terlihat dalam film ini betapa Abrams memahami hal tersebut, karena premis yang sedikit menyerupai repetisi naratif dari film-film original trilogy Star Wars ini dikemas dengan intensitas emosional tinggi yang tidak kita temukan di prequel trilogy dan menggunakan dramatical cliche serta fandom jokes di dalam original trilogy menjadi sebuah bumbu nostalgia yang tidak hanya gurih, namun bergizi. Konkritnya apa? Adegan pertarungan lightsaber yang emosional, contohnya, atau Finn yang tidak lihai dalam menembak karena ia seorang mantan Stormtrooper, atau saat Rey menyebut Millenium Falcon ‘butut’.

Kekurangan film ini bisa dibilang sangat minim. Permasalahannya hanya ada pada treatment visual khas J. J. Abrams yang seakan mengaburkan garis tebal yang memisahkan Star Wars dan Star Trek. Itu pun hanya ada pada adegan pertempuran di luar angkasa. Hal ini masih bisa dikategorikan sebagai suatu kesalahan yang patut dimaklumi, karena sangat terlihat bahwa dari segi make-up effects, costume design, dan character relations, Abrams berusaha keras untuk membuat rasa film ini tetap khas film Star Wars dan bukan khas film J. J. Abrams.

Secara metaforikal, pada scene di mana:
1. Rey secara kebetulan mampu bekerja sama dengan Han Solo saat pertama kali bertemu,
2. Finn menyebut dirinya sendiri–yang tidak tahu apa-apa–sebagai ‘orang penting’ di hadapan Han Solo, dan
3. Adegan terakhir di mana kita menyadari bahwa tidak hanya Jedi dan ex-Jedi yang bisa bertarung menggunakan lightsaber,
Abrams memperlihatkan bahwa meskipun film ini adalah jawaban dari semua doa para penggemar Star Wars, ia tidak mengeksklusifkan film ini hanya untuk die-hard fans, tapi juga untuk anak-anak baru yang ingin mengenal Star Wars lebih dekat tanpa peduli apakah pendekatan mereka polos seperti Rey atau pretensius seperti Finn. Hindarilah untuk menghina mereka dengan sebutan ‘karbitan’ dan mari kita nikmati kesuksesan produksi film ini sebagai awal yang baik karena dengan ini, Abrams telah menciptakan suatu standar baru yang ideal untuk film-film Star Wars di kemudian hari. Berdoalah semoga Episode VIII dan IX akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang menggantung di akhir film ini dengan relevan dan masuk akal.

Dan bersyukurlah Chewbacca tidak diubah menjadi makhluk CGI.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.