Tag Archives: thriller

5 Film Mencekam yang Terinspirasi dari Cerita Dongeng

If you expect the world to be fair with you because you are fair, you’re fooling yourself. That’s like expecting a lion not to eat you because you didn’t eat him.”

Hidup memang tidak selamanya selalu adil. Orang baik tidak selalu terlihat sebagai malaikat, dan orang jahat tidak selalu terlihat sebagai devil dengan tanduk diatas kepala dan tongkat yang tajam. Tetapi, bagaimana jika protagonis-protagonis kita kali ini berjuang mati-matian untuk mendapatkan apa yang memang sepantasnya mereka semua dapatkan?

Berikut adalah lima film mencekam versi penulis yang terinspirasi dari berbagai cerita dongeng penuh moral yang biasa kita baca sewaktu kecil.

  1. Black Swan (2010), Directed by Darren Aronofsky

image

Film psychological thriller/horror yang merupakan versi dark dan twisted dari dongeng Swan Lake milik Tchaikovsky ini bercerita tentang seorang ballerina muda bernama Nina (Natalie Portman) yang berjuang untuk mendapatkan peran White Swan yang anggun dan rapuh pada sebuah produksi ballet ternama di Kota New York, tetapi juga diharuskan untuk memerankan tokoh Black Swan yang sensual dan penuh intrik, yang sebenarnya juga diinginkan oleh seorang ballerina lainnya, Lily (Mila Kunis).

Secara otomatis, Nina yang sejak awal diceritakan memiliki kepribadian introvert dan sangat sensitif, mengalami kesulitan yang amat dalam mengatur emosi dan immense pressure yang dihadapinya, terutama saat ia menemukan dirinya berkompetisi dengan orang lain, dan bukan hanya dengan sang ballerina, Lily—melainkan dengan dirinya sendiri.

2. Hanna (2011), Directed by Joe Wright

image

Young, sweet, deathly. Ketiga kata yang sempurna untuk menggambarkan film action/adventure/thriller ini. Dengan skenario yang terinspirasi dari beberapa cerita dongeng berbeda milik Grimm, film ini menceritakan seorang remaja perempuan bernama Hanna (Saoirse Ronan), yang hidup di tengah pedalaman hutan Finlandia bersama ayahnya, Erik Heller atau “Papa” (Eric Bana), yang secara diam-diam merupakan seorang mantan agen CIA.

Sejak kecil, Hanna sudah dipersiapkan oleh Erik untuk menjadi assassin, yang pada akhirnya ditugaskan untuk berperang dengan seorang agen senior CIA bernama Marissa Wiegler (Cate Blanchett), yang sejak dulu berusaha untuk menemukan dan membunuh Hanna dan ayahnya. Things will be questioned, murders will be done, and mysteries will be solved.

3. Hansel & Gretel (2007), Directed by Lim Pil-Sung

image

Diselaraskan dengan judulnya, film horror asal Korea Selatan ini terinspirasi dari cerita dongeng anak-anak Hansel & Gretel asal Jerman. Menceritakan tentang Eun-soo (Chun Jung-Myung), seorang salesman yang tengah menyetir di Highway 69 sambil berargumen lewat telfon dengan pacarnya, Hae-Young, lalu secara tidak sengaja kehilangan kendali mobilnya dan menabrak batu. Setelah tidak sadarkan diri, Eun-soo menemukan dirinya terbangun ditengah hutan yang gelap dan hampir tidak berpenghuni, hingga pada akhirnya ia diselamatkan oleh seorang anak kecil misterius bernama Young-hee (Shim Eun-kyung).

Setelah menerima tawaran Young-hee untuk berteduh dan membersihkan diri di rumahnya, Eun-soo pun tersadar bahwa Young-hee bukanlah sekedar anak kecil lugu yang tinggal di hutan, terutama setelah Young-hee memperkenalkan Eun-soo kepada kedua saudaranya yang lain, Man-bok (Eun Won-jae) dan Jung-soon (Jin Ji-hee). Bersama orang tuanya, ketiga bersaudara ini tinggal di sebuah rumah besar nan misterius yang dinamakan House of Happy Children.

4. Freeway (1996), directed by Matthew Bright

image

Dibuat sebagai versi modern dari cerita dongeng klasik, Little Red Riding Hood, film crime/action bertabur bintang ini menceritakan tentang seorang remaja sarkastik berusia 15 tahun, Vanessa Lutz (Reese Witherspoon), yang setelah  bebas dari jeratan kekerasan seksual ayahnya, pergi untuk tinggal di rumah neneknya—seseorang yang belum pernah ia temui seumur hidupnya. Permasalahan mulai bermunculan saat mobil Vanessa rusak di tengah jalan, memaksanya untuk menerima bantuan dari seorang pengemudi lain yang terkesan ramah dan mudah dipercaya bernama Bob Wolverton (Kiefer Sutherland), yang tanpa ia ketahui merupakan seorang pembunuh berantai yang sedang ramai dicari polisi.

5. Suspiria (1977), Directed by Dario Argento

image

Berparalel dengan cerita dongeng Snow White, film fantasy/mystery asal Italia ini dianggap sebagai film dengan audio dan setting terbaik di akhir tahun 70-an. Bahkan, remake film Suspiria akan diris tahun depan, dengan Dakota Johnson dari Fifty Shades of Grey sebagai pemeran utamanya.

Bercerita tentang seorang ballerina asal Amerika bernama Suzy (Jessica Hadper) yang melanjutkan studinya pada salah satu sekolah ballet terbaik di Jerman, Suzy pun mendapati teman-temannya menghilang secara misterius dan dibunuh dengan berbagai cara yang grotesque dan tidak manusiawi. Ia tersadar bahwa tempat yang awalnya di anggap sebagai surga menarinya, ternyata memiliki sejarah yang mendebarkan dibalik semua fasilitas dan kemewahan yang ditawarkannya.

Film Suspiria merupakan installment pertama dari trilogi Three Mothers, yang kemudian diikuti dengan Inferno dan The Mother of Tears. Dalam ketiga film ini, pentonton akan dihadapkan dengan berbagai elemen supernatural (terutama evil witchcrafts), yang pada akhirnya akan membentuk sebuah kesimpulan psikologis yang mencengangkan.

image

Setelah menonton kelima film diatas, dapat disimpulkan bahwa fairy tales tidak melulu berisi putri-putri anggun dan cantik dengan berbagai gaun mewah yang purpose utama dalam hidupnya hanya bertemu pangeran-pangeran tampan and live happily ever after! Terkadang, there is (almost) no fine line between our protagonists and antagonists in real life, and that’s completely realistic and acceptable.

10 Cloverfield Lane (2016) – The Lesser, The Better

Kamu pernah pacaran dengan orang yang selalu mengekangmu dan membuatmu tidak nyaman? Pernah berpikir bahwa kamu malah bisa lebih meningkatkan kualitas dirimu apabila kamu jomblo? Tenang, jangan baper dulu. 10 Cloverfield Lane mempunyai masalah yang kurang lebih sama denganmu.

Jika kamu seseorang yang enak dilihat, berpenampilan sahaja, berkelakuan baik, serta cerdas dalam akal dan akhlak, begitu pun analogi dari film yang disutradarai oleh Dan Trachtenberg ini. Sejak sekuens pembuka sampai di paruh pertama act 3, film ini berhasil menciptakan ketegangan-ketegangan sederhana lewat sentralisasi karakter Howard yang utuh namun misterius secara bersamaan. Malah bisa dibilang, inti dari kekuatan cerita ini ada pada karakter yang diperankan oleh John Goodman tersebut. Plot device lain, seperti bunker sempit yang mengurung ketiga karakter tersebut (Michelle, Howard, Emmett), berbagai properti aneh yang bernaung di dalamnya, lubang udara yang sempit, serta dunia luar yang misterius berhasil dimainkan dengan logika-logika cerdas untuk membangun claustrophobic horror yang efektif membuat para penonton sulit bernafas serta menduga-duga siapa sebenarnya Howard dan apa rencana besar yang ia miliki. Penulis tidak akan menceritakan rangkuman sinopsisnya karena semakin sedikit yang kamu tahu tentang 10 Cloverfield Lane, akan semakin seru pula film ini untuk kamu tonton pertama kali, dan bahkan akan tambah menegangkan apabila kamu belum menonton Cloverfield sama sekali.

“Crazy is building your ark after the flood has already come.” – Howard.

Sebenarnya, di situlah permasalahan terbesar 10 Cloverfield Lane. Meskipun kita sebelumnya tidak diberi tahu apakah film ini merupakan sekuel, prekuel, atau sekedar spin-off dari Cloverfield, setidaknya lewat keterlibatan Matt Reeves, Drew Goddard, dan J. J. Abrams kembali di film ini kita sudah tahu bahwa film ini memiliki keterkaitan dengan film found-footage sci-fi horror tersebut. Bahkan dari judul film dan promosi pun sebenarnya sudah sangat eksplisit, yang di dukung pula oleh trailer yang mengaksentuasikan ‘Cloverfield’ saat menampilkan judulnya. Sangat disayangkan film ini tidak bisa dinikmati secara keseluruhan oleh semua orang karena branding ‘Cloverfield’ tersebut membuat twist keren di akhir film menjadi sesuatu yang sudah sepatutnya diharapkan ada oleh mereka yang sudah menonton Cloverfield terlebih dahulu.

Jika kita boleh berandai-andai, ada dua skenario yang bisa membuat film ini menjadi sebuah thriller yang lebih solid dan exceptional.

  1. Apabila film ini tayang terlebih dahulu sebelum Cloverfield, film ini akan menjadi sebuah snowball marketing untuk film Cloverfield yang akan ditayangkan beberapa tahun setelahnya. Secara visual, 10 Cloverfield Lane pun memang terlihat seperti indie low-budget sci-fi film yang akan memancing studio besar untuk membiayai versi blockbuster-nya, yang mana adalah Cloverfield itu sendiri. Terlebih, pertanyaan-pertanyaan besar yang ditimbulkan oleh film minimalis ini bahkan jauh lebih banyak dan membuat penasaran ketimbang Cloverfield yang skalanya sudah terlalu masif melibatkan seluruh kota dan pangkalan militer.
  2. Apabila film ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan cerita dengan Cloverfield, maka ending film akan dapat digarap dengan lebih matang sehingga twist yang tercipta akan jauh lebih tak terduga (jangan lupa, kita hanya berandai-andai).

Jika kamu orang yang peka, kamu akan merasakan bahwa di paruh kedua act 3, film ini terlihat seperti tidak nyaman bereksplorasi sehingga kapasitas kecerdasan skenario di ending pun menurun drastis. Dari hal berikut, dapat disimpulkan bahwa tanpa branding ‘Cloverfield’ ataupun alur cerita yang harus selalu mengacu pada film tersebut, film ini akan mampu dianalogikan sebagai high-quality (minimalist) jomblo yang mungkin mampu bersinar lebih terang menjadi salah satu film sci-fi horror terbaik di tahun 2016 ini. Itu jika kamu orang yang peka.

Entahlah, mungkin penulis hanya sedang butuh kepekaan seseorang saja akhir-akhir ini.

Distopiana’s Rating: 2.5 out of 5.

The Martian (2015) – Mars is Fun!

Saat pertama kali melihat trailernya, ada beberapa hal dalam film The Martian yang membuat penulis berpikir bahwa film ini mirip dengan Interstellar yang dirilis pada tahun 2014 kemarin. Pertama: film ini bercerita tentang astronot di luar angkasa, sama seperti Interstellar. Kedua: ada Matt Damon dan Jessica Chastain, seperti di Interstellar. Ketiga: Di Interstellar, Matt Damon menjadi seorang astronot yang terdampar di Planet Edmund, dan di The Martian, Matt Damon menjadi seorang astronot yang terdampar di Planet Mars sendirian. Awalnya gue ragu menonton film ini karena selain sudah terlalu bosan dengan film-film bertema space exploration, layaknya M. Night Shyamalan, Ridley Scott seperti sedang mengalami paceklik.

Premisnya sedehana. Mark Watney (diperankan oleh Matt Damon) terdampar di Planet Mars karena sebuah kecelakaan badai pasir yang menyebabkan semua krunya terpaksa harus menganggapnya telah mati dan meninggalkannya. Watney, yang kemudian tertinggal sendirian di sebuah planet tanpa kehidupan, harus memikirkan segala cara untuk bertahan hidup dan menjalin jaringan komunikasi dengan NASA di Bumi agar ia bisa dijemput dan pulang kembali.

Dugaan gue tentang kemiripan film ini dengan Interstellar ternyata salah besar. Film ini tidak mengandalkan twist serta drama yang sentimental untuk bercerita tentang sebuah kesendirian yang dialami seorang manusia di sebuah planet yang (sebelumnya) diduga tanpa air. Film ini terlalu gampang ditebak. Bahkan, tidak ada yang begitu istimewa dari efek visualnya, karena memang secara realistis, di Mars hanya ada tanah kering dan badai pasir—setidaknya sebelum penemuan air oleh NASA baru-baru ini, atau apalah itu yang belum menjadi air. Satu hal yang membuat film ini menarik adalah bagaimana sebuah film dengan premis yang begitu suram dapat disajikan dengan sangat humoris dan menyenangkan. Alih-alih memberi eksposisi dramatis pada kondisi Watney yang semakin hari semakin memburuk, Ridley Scott lebih memilih untuk memfokuskan pada bagaimana Watney selalu mencoba menghibur diri dengan bercocok tanam di ‘rumah kaca’ buatannya dan mendengarkan lagu-lagu disko jelek milik Komandan Lewis (diperankan oleh Jessica Chastain) demi mengusir kesepian yang ia alami. Scott mencoba untuk sesedikit mungkin melakukan eksploitasi emosional dan memberikan aura positif pada film yang berdurasi 2 jam 12 menit ini dan memfokuskan tensi pada sains dan teknologi, bukan penderitaan dan malapetaka. Sepengetahuan penulis, film space travel memang belum pernah ada yang seoptimis ini, dan itu merupakan hal yang sangat baik untuk penontonnya. Terlebih untuk NASA, Amerika Serikat, dan Cina, yang di dalam film ini memberikan bantuan pada NASA untuk menyelamatkan Watney.

Mungkin film ini tidak lebih mengagumkan daripada Interstellar, namun misi Christopher Nolan untuk menyemangati manusia-manusia di Bumi dalam melakukan perjalanan luar angkasa mampu disampaikan dengan lebih baik oleh Ridley Scott di The Martian. Beberapa orang berpendapat bahwa Gravity dan Interstellar telah membuat anak-anak takut untuk menjadi astronot karena mereka tidak ingin mati melayang-layang di angkasa luar ataupun pulang dengan melihat anaknya di masa depan menjadi jauh lebih tua darinya. Dengan harapan dan optimisme dari The Martian, cita-cita seorang anak untuk berpetualang ke antariksa akan timbul kembali dan semakin banyak dari mereka yang akan termotivasi untuk menghasilkan penemuan-penemuan yang bisa membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

6 Film dengan Teka-Teki yang Tak Pernah Terjawab

Kita pernah dibuat terkagum-kagum oleh bagaimana Christopher Nolan mampu menyelipkan petunjuk-petunjuk kecil di balik misteri ending film Inception. Ya, sebagaimana layaknya sulap dan teori konspirasi bekerja, manusia adalah makhluk yang senang dibuat penasaran setengah mati oleh hal-hal yang ada di luar batas kemampuan bernalar mereka. Bahkan lingkungan pergaulan kita pun dengan sembarangan menciptakan sendiri sebuah istilah untuk film-film yang penuh teka-teki seperti Inception, yaitu “film mikir”.

Tidak seperti Inception, ada beberapa film dengan teka-teki yang ditinggalkan oleh sutradara dan penulisnya tanpa ada satu jawaban pasti dan hanya bisa diinterpretasikan oleh penonton dan kritikus film dengan berbagai macam cara. Meminjam istilah pergaulan kita, film-film yang bakal gue diskusikan di daftar ini bisa dibilang adalah “film-film mikir tingkat dewa”. Bagi kalian yang senang melatih kemampuan berpikir kalian dengan misteri-misteri yang rumit dan membingungkan, ini akan menjadi daftar film yang bisa membuat kalian merasa tertantang.

1. Eyes Wide Shut (1999) directed by Stanley Kubrick

Tentang Apa?: Setelah sang istri yang bernama Alice (diperankan oleh Nicole Kidman) mengakui bahwa ia pernah berfantasi seksual dengan seorang pria yang pernah ia temui, seorang dokter bernama Bill (diperankan oleh Tom Cruise) secara tidak sengaja mendapati dirinya terjebak di dalam lingkaran pengkultusan seksualitas dan perzinahan.

Apa Yang Membingungkan?: Beberapa penggemar teori konspirasi mempunyai dugaan kuat bahwa sang sutradara ingin mengungkap tirai dari organisasi rahasia umum yang beranggotakan para elit dan pemegang kekuasaan penting (Illuminati, Freemason dll). Segala detail yang ada di dalam film ini sangat merujuk ke arah sana, mulai dari dekorasi mansion Ziegler yang dipenuhi simbol-simbol politeisme Mesir kuno hingga penamaan karakter yang seakan menjadikan film ini sebagai alegori dari sebuah konspirasi besar di akhir zaman. Belum lagi ditambah fakta bahwa sang sutradara, Stanley Kubrik, meninggal tepat lima hari setelah ia menyerahkan potongan terakhir dari film ini kepada distributor film. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa alur cerita film yang membingungkan ini seperti memberi kesan bahwa apa yang dialami Bill hanyalah sebuah manifestasi psikologi terhadap obsesinya akan eksplorasi dan kepuasan seksual. Sampai sekarang, belum ada teori yang memuaskan tentang misteri dari film yang sangat gamblang menggambarkan sebuah kegiatan masquerade orgy ini, namun film ini tetap menjadi sangat menarik untuk disimak karena, yah, Tom Cruise dan Nicole Kidman.

2. Primer (2004) directed by Shane Carruth

Tentang Apa?: Sekelompok pemuda yang bereksperimen untuk membuat sebuah mesin waktu sederhana.

Apa Yang Membingungkan?: Jika ada teman kalian yang baru menonton film ini sekali dan bilang bahwa dia mengerti tentang keseluruhan ceritanya, maka entah dia adalah seorang pembohong atau delusional. Akan sangat jelas bagi kalian setelah menonton lebih dari dua kali bahwa Primer bukanlah sebuah film yang bersifat naratif dan mampu dijelaskan secara mudah. Beberapa kritikus film bahkan mengibaratkan Primer seperti sebuah dokumentasi para ilmuwan gila tanpa ada eksposisi yang jelas dan kita sebagai penonton seakan-akan hanya menguping percakapan dan mengintip kejadian yang tidak kita mengerti maknanya, namun sangat menarik untuk disaksikan. Ada beberapa teori yang dibuat oleh penonton yang bisa diandalkan untuk membantu kalian memahami cerita. Film ini tidak akan memberikan kalian kepuasan sains fiksi yang dipaparkan dengan sederhana seperti teori wormhole di Interstellar, namun jelas akan membuat kalian menebak-nebak dan menonton film ini lebih dari sekali.

3. Cache (2005) directed by Michael Haneke

Tentang Apa?: Sebuah keluarga diteror oleh kiriman kaset misterius yang berisi rekaman-rekaman pengamatan yang diambil dari luar rumah mereka. Lama kelamaan, sang peneror semakin merambah ke permasalahan pribadi serta rahasia-rahasia kelam di masa lalu sang suami yang selama ini ia sembunyikan dari istrinya.

Apa Yang Membingungkan?: Film ini awalnya terlihat biasa saja dan mudah dicerna sampai pada akhirnya kita dikejutkan pada kenyataan bahwa film ini TIDAK mengungkapkan siapakah sang peneror tersebut di akhir film. Kita akan mulai menonton ulang dan membaca semua pertanda-pertanda kecil yang diberikan sang sutradara sampai akhirnya kita selesai menonton dan masih tidak mengerti. Roger Ebert, kritikus film ternama, bahkan membahas film ini lewat jurnal pribadinya. Beberapa penonton juga menyebutkan bahwa ada beberapa petunjuk kecil di tengah alur cerita dan SATU petunjuk besar di adegan terakhir film ini yang ditinggalkan oleh sang sutradara untuk kita menebak sendiri. Gue sudah mengetahui apa petunjuknya, dan gue pribadi merasa itu masih belum cukup kuat. Entah. Silahkan kalian tonton sendiri.

4. Donnie Darko (2001) directed by Richard Kelly

Tentang apa?: Seorang pemuda dengan permasalahan psikologis bernama Donnie Darko (diperankan oleh Jake Gyllenhaal) mengalami keanehan-keanehan beruntun dalam hidupnya, termasuk mesin jet pesawat yang jatuh tepat di atas atap rumahnya dan kemunculan sesosok kelinci raksasa bertopeng tengkorak yang selalu menghantuinya.

Apa Yang Membingungkan?: Mungkin tidak terhitung jumlahnya betapa banyak teori yang dibuat oleh para penonton terkait apa sebenarnya yang dialami oleh Donnie dan mengapa dia melakukan hal-hal gila di dalam film yang mengeksploitasi eksistensialisme ini. Tidak seperti Primer, film ini koheren secara naratif dan teknis, sehingga tidak membuat para penonton kesulitan untuk mengikuti film ini dari awal sampai akhir. Belum lagi keberadaan kakak beradik Jake & Maggie Gyllenhaal yang bisa membuat lelaki dan perempuan betah untuk tidak beranjak dari layar. Namun ending film yang sangat gelap dan misterius akan menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi dari awal. Website resmi film ini pun memberikan penjelasan yang cukup sederhana–walaupun nggak sederhana-sederhana amat–namun jika kalian melihat kolom komentar dan membaca teori-teori yang dikemukakan oleh penonton lain, kalian akan sadar bahwa kompleksitas detail Donnie Darko akan menjadikan film ini jauh lebih baik ditinggalkan begitu saja dengan membiarkan penonton menjelaskan sendiri maknanya.

5. Mulholland Drive (1999) directed by David Lynch

Tentang Apa?: Betty (diperankan oleh Naomi Watts), seorang gadis yang mengejar mimpinya untuk menjadi aktris Hollywood, harus menolong seorang gadis amnesia yang selamat dari kecelakaan tragis (diperankan oleh Laura Harring) untuk menemukan siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya.

Apa Yang Membingungkan?: David Lynch, The Maestro of Bizarre, membuka film ini dengan sekuens yang…yah, artistically bizarre! Sekumpulan pasangan berdansa jitterbug dengan latar belakang magenta dan kemunculan Betty serta dua orang tua bermimik absurd yang merangkulnya sambil tersenyum ke arah cahaya terik yang menyinari mereka. Lalu kemudian alur film berjalan dengan sederhana sampai pada Act 3 yang mengacaukan dugaan kita tentang apa yang sebenarnya film ini berusaha ceritakan. Beberapa film kritikus menyatakan bahwa Mulholland Drive adalah sebuah teka-teki yang menyampaikan pesan penting tentang kondisi industri film Hollywood dan para pekerja serta aktrisnya yang sedang dirundung kekacauan pada masa itu. Lagipula, bukan teka-teki namanya kalau tidak ada petunjuknya. Sebelum dan sesudah film ini rilis, David Lynch menyatakan bahwa dia tidak akan mengungkap apa makna sebenarnya dari Mulholland Drive bagi sang sutradara sendiri. Namun layaknya Donnie Darko, beberapa penonton–yang sungguh berdedikasi tinggi–mempublikasikan petunjuk-petunjuk di website resmi film ini yang bisa kita gunakan untuk memecahkan misteri di balik keanehan Mulholland Drive.

6. Memento (2000) directed by Christopher Nolan

Tentang Apa?: Leonard Shelby (diperankan oleh Guy Pearce), seorang pria yang menderita short-term memory loss, harus mencari siapa pembunuh istrinya dengan melakukan investigasi independen dan mentato setiap petunjuk yang ia temukan di tubuhnya agar ia tak pernah melupakannya.

Apa Yang Membingungkan?: Sebelum Inception dan The Dark Knight, Christopher Nolan telah lebih dahulu membuat Memento, sebuah thriller masterpiece dengan struktur cerita yang expensively unconventional dan ending yang membuat kepala kita seakan meledak-ledak dan butuh jawaban pasti tentang siapa yang membunuh istri Leonard. Kita dibuat merasa konyol oleh Christopher Nolan yang telah memasukkan kita ke dalam kepala Leonard dengan mempertanyakan di akhir film apakah Leonard benar-benar dapat dipercaya karena Teddy (diperankan oleh Joe Pantoliano) yang kita curigai dari awal pada akhirnya menjadi satu-satunya tokoh yang paling mampu kita percayai. Apakah Leonard yang ternyata membunuh istrinya sendiri? Apakah ada permainan manipulasi di antara Leonard, Teddy, serta seorang bartender bernama Natalie (diperankan oleh Carrie-Anne Moss) yang memiliki femme fatale gestures? Tidak ada jawaban yang tepat tentang hal ini dan tidak seperti Inception, Nolan tidak memberikan pernyataan apapun terkait hal ini.

Sebagai penutup, perlu gue peringatkan satu hal. Tidak direkomendasikan bagi kalian untuk membuka tautan yang gue masukkan di artikel ini terkait petunjuk dan penjelasan untuk setiap film, kecuali kalian sudah menonton film-film tersebut lebih dari dua kali dan masih benar-benar tidak mengerti. Tantangan itu mahal, namun lebih mahal lagi harga yang harus kita bayar jika kita menjadi orang yang gampang menyerah terhadap tantangan. Jadi selamat menonton dan selamat bersenang-senang!

Mission: Impossible Rogue Nation (2015) – Redefining the Impossible

Seperti yang telah film ini sukses lakukan, maka gue akan peduli setan terhadap segala macam pengenalan tokoh secara konvensional pada awal film dan langsung saja loncat pada inti bagaimana duet Tom Cruise dan Christopher McQuarrie ini telah sukses membangun intensitas tegangan tinggi lewat metode-metode yang bahkan menurut standar Hollywood pun terbilang nekat.

Oke, sudah lihat trailernya? Perlu kalian ketahui bahwa satu adegan yang kalian lihat saat Ethant Hunt bergelantungan di pintu pesawat yang sedang terbang itu bukan hasil dari kecanggihan CGI. Setelah melakukan stunt gila dengan memanjat dinding luar Burj Khalifa di M:I – Ghost Protocol, Tom Cruise melakukan aksi yang jauh lebih nekat dan berbahaya dengan menggelantungkan kedua telapak tangannya di luar pintu masuk pesawat Airbus yang sedang take-off dan terbang di ketingggian 5000 kaki tanpa stunt-double. Sejenak kalian akan menjadi buruk sangka pada produser film Hollywood yang seakan terlalu ambisius mengejar kesempurnaan dan tidak peduli terhadap nyawa seorang aktor. Tidak salah memang, kalian orang yang baik, namun bagaimana perasaan kalian saat mengetahui bahwa Tom Cruise sendiri yang menjadi produser utama film ini? Masih belum kaget? Bagaimana dengan fakta bahwa usia Tom Cruise saat memproduksi film ini sudah mencapai 53 tahun?

Gue yang percaya terhadap kemurnian produksi adegan pesawat ini juga tidak sedikit pun kecewa dengan keseluruhan film yang memakan budget US$150 juta ini. Malah, gue sangat kagum dengan skrip dan plot yang sangat cerdas dan komikal (“I can neither confirm nor deny…”) serta crafting dengan camera movement dan montage yang inventif. Keberadaan Simon Pegg sebagai Benji lagi-lagi mampu memecah tawa di tengah tegangan tinggi penuh aksi yang dilancarkan Tom Cruise dan tandem partner-nya Rebecca Ferguson (sebagai Ilsa Faust). Aktris asal Swedia tersebut berhasil mencuri banyak perhatian di film ini karena aktingnya sebagai triple agent yang sangat meyakinkan dan–sama seperti Tom–melakukan semua aksinya tanpa stunt double.

Perlu gue tekankan bahwa stunts dari film yang bercerita tentang penghidupan kembali Impossible Mission Forces (IMF) dengan menjalankan misi pemusnahan The Syndicate (organisasi teroris terselubung) ini tidak hanya mengandalkan adegan pesawat terbang yang ada sebagai pembukaan film saja. Ada beberapa adegan gila lain yang patut kalian saksikan langsung, seperti bagaimana Ethan harus menyelam selama tiga menit lebih tanpa memakai tabung oksigen dengan tekanan bawah air yang rendah. Adegan ini–lagi-lagi–diproduksi langsung di bawah air tanpa stunt double. Jika kalian menganggap tiga menit itu sebentar, coba saja tahan nafas kalian selama dua menit. Tidak kuat? Sekarang bandingkan dengan fakta bahwa pada saat produksi, Tom Cruise harus menahan nafas selama enam setengah menit. Belum lagi adegan di saat Ethan meloloskan diri saat diborgol telanjang dada di tiang besar. Tom sepertinya mempunyai ambisi menghidupkan nama besar film ini dengan membuat metode produksi yang benar-benar semustahil judul filmnya demi hasil yang mustahil pula hebatnya.

Oke, mungkin gue memang terlalu banyak berkomentar pada proses produksi yang mustahil tersebut dibanding pada konten cerita, tapi seperti yang sudah gue terangkan sebelumnya bahwa plot dan skrip ini sangat cerdas dan inventif. Tidak ada konten yang terlalu menyimpang perihal kompleksitas drama hubungan internasional yang ada di dalam film ini, malah M:I – Rogue Nation berhasil memaparkan kompleksitas tersebut dalam bahasa yang lebih mudah dipahami publik awam tanpa menjadikannya bias. Ada sedikit kekurangan memang, bagi mereka yang bermasalah dengan male-gaze, di adegan pada saat Ilsa berganti pakaian setelah selesai memberikan cardio-pulmonary shock pada Ethan. Terakhir, perlu gue tekankan lagi bahwa sang sutradara Christopher McQuarrie serta ketiga pemeran tokoh-tokoh sentral di film ini (Tom Cruise, Rebecca Ferguson, dan Simon Pegg) patut diberikan pujian atas berhasilnya mereka menjadikan M:I – Rogue Nation sebagai film aksi paling nekat di tahun 2015.

Setidaknya sampai saat ini.

Distopiana Rating: 4 out of 5.

9 Film Keluarga Yang Paling ‘Disturbing’ dan Menjijikkan

Disturbing films? Ah, sudah biasa. Bagaimana dengan disturbing films yang bertemakan keluarga? Pastinya kalian akan sangat tertarik untuk menontonnya, dan tentunya akan lebih sarat dengan pesan moral yang membahas tentang betapa berharganya keluarga. Namun jangan pula berharap bahwa film-film ini aman untuk ditonton bersama istri/suami ataupun anak-anak dan orang tua kalian, karena seperti yang sudah gue terangkan di judul, ini adalah daftar film-film disturbing. Selain konten ketelanjangan dan kesadisan yang sangat tidak layak konsumsi untuk anak-anak, premis tiap film serta beberapa scene paling gila di dalam daftar film yang akan gue sebutkan ini berisiko membuat orang-orang yang tidak kuat mental untuk mengalami trauma berkepanjangan.

Jadi, segera tutup laman ini jika anda termasuk orang-orang bermental lemah tersebut. Tontonlah film-film keluarga yang bisa membawa aura positif buat anda, seperti Home Alone, Petualangan Sherina, atau Keluarga Cemara. Namun jika anda memang orang yang senang mencari pengalaman berbeda dalam mengeksplorasi film  dan sedikit ‘gila’, maka bersiap-siaplah. Bukannya gue merendahkan, gue cuma mengingatkan saja, sebelum semuanya terlambat…

So…here it goes.

1. The Exorcist (1973) directed by William Friedkin

Film ini sudah didaulat oleh sebagian kritikus film sebagai film horror terbaik sepanjang masa. Berkisah tentang seorang ibu (Ellen Burstyn) yang meminta pertolongan kepada dua orang pendeta (Max von Sydow dan Lee J. Cobb) untuk mengeluarkan sosok jahat bernama ‘Pazuzu’ yang merasuki anak perempuannya (Linda Blair). Sepintas terlihat sederhana dan umum karena tema seperti ini memang sudah sering dibahas oleh film-film horor modern. Tapi percayalah, anda tidak akan mampu tidur semalaman setelah melihat sosok si anak gadis kecil lucu yang berubah setelah dirasuki Pazuzu.

The Most Disturbing Scene:

“In the name of Father, Son, and Holy Spirit, let Jesus f*ck you motherf*cker!!” Ujar sang anak sambil menusuk-nusukkan salib kayu ke kemaluannya sendiri.

2. Antichrist (2009) directed by Lars von Trier

Sutradara asal Denmark ini memang sudah dikenal piawai dalam mengeksploitasi depression dalam setiap film yang ia arahkan. Film ini pun mengusung tema depression dengan dinamika alur yang lambat dengan visual treatment yang indah namun sangat mengerikan seperti berniat untuk menyiksa kita pelan-pelan. Seorang istri (Charlotte Gainsborough) yang depresi karena kematian anaknya mencoba untuk menenangkan dirinya dengan pergi bersama suaminya yang juga seorang psikiater (Willem Dafoe) ke sebuah kabin di tengah hutan pinus dan menjalani terapi pribadi di sana. Di luar dugaan, duka nestapa yang diderita sang istri semakin menjadi-jadi sehingga sang istri pun melakukan hal-hal gila yang tidak hanya menyakiti suaminya, namun juga dirinya sendiri.

The Most Disturbing Scene:

Banyak yang bilang genital mutilation di akhir film adalah scene paling mengerikan yang pernah mereka tonton. Bagi saya yang seorang pria–dan tentunya para pria yang lain–yang paling membuat saya mengerutkan dahi adalah scene ‘genital annihilation’ dari sang istri kepada sang suami.

3. Bedevilled (2010) directed by Jang Cheol-soo

Harusnya film ini gue tempatkan di list film-film dengan ending paling menyebalkan, tetapi mengingat karena film ini dari awal sampai akhir sudah sangat menyebalkan, jadi gue masukkan saja dalam list ini. Seorang wanita bernama Kim Bok-nam (Seo Yeong-hi) menjadi objek kekerasan seksual, fisik, dan mental bagi para penduduk–ya, termasuk keluarga dan suaminya sendiri–di pulau terpencil yang bernama Moodoo. Tidak ada seorang pun yang memihak padanya, bahkan suami dan ibunya pun memperlakukannya lebih buruk daripada binatang. Kim beberapa kali mencoba untuk kabur dari pulau tersebut, namun selalu gagal karena–sekali lagi–tidak ada yang memihak kepadanya. Saudaranya yang bernama Hae-won (Ji Seong-won) yang datang berkunjung pun tidak kuasa untuk menolongnya karena dia tidak ingin ikut campur urusan seluruh penduduk yang sepertinya sudah bersepakat untuk tidak akan membiarkan Bok-nam melarikan diri dari pulau.

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya hampir semua scene penyiksaan Bok-nam di film ini sangat menyakitkan untuk ditonton, tapi sekadar highlights buat kalian, coba tonton scene yang satu ini.

4. Dogtooth (2009) directed by Yorgos Lanthimos

Home-schooling gone extreme. Bayangkan kalian sebagai seorang anak dikurung oleh orang tua kalian di dalam rumah dan tidak diperbolehkan untuk keluar sejak kalian dilahirkan sampai gigi depan kalian tanggal.  Kalian dididik sejak kecil oleh orang tua kalian sendiri dengan kebohongan-kebohongan dan bahkan diajari cara menggonggong seperti anjing seakan-akan hal tersebut merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Kalian diajarkan bahwa kata “Laut” berarti sebuah kursi beralaskan kulit yang diletakkan di dalam ruang keluarga. Televisi hanya digunakan untuk menonton video yang direkam sendiri oleh keluarga di dalam rumah. Belum cukup? Masih ada kegilaan-kegilaan lain yang ditunjukkan dalam film yang berbicara tentang konservatisme di dalam keluarga ini.

The Most Disturbing Scene:

Mari berdansa!! 

5. Strange Circus (2003) directed by Sion Sono

Seorang ayah sengaja menyembunyikan anaknya (Masumi Miyazaki) di dalam kotak cello setiap kali sang ayah menyetubuhi sang ibu agar sang anak dapat melihat dengan jelas kenikmatan mereka berdua dari lubang kotak. Setelah selesai dengan sang ibu, sang ayah kemudian mengeluarkan anaknya dari dalam kotak Cello dan lanjut menyetubuhi anaknya yang masih berusia 7 tahun itu. Sudah cukup jelas seberapa disturbing film ini? Belum, yang membuat film ini akan sangat membekas dalam hidup kalian adalah betapa elegan dan artistiknya Sion Sono dalam mengemas kekejaman demi kekejaman yang disajikan. Bayangkan saja ketika Debussy, Liszt, dan Bach yang mengiringi adegan penyetubuhan ayah pada anak kecilnya di film ini membuat kalian mempertanyakan moralitas kalian sendiri karena kenyamanan dan keindahan yang tidak seharusnya yang kalian rasakan saat menontonnya.

The Most Disturbing Scene:

6. Eraserhead (1972) directed by David Lynch

Gue tidak bisa menemukan cara yang benar-benar pantas untuk bisa mendeskripsikan Feature-film debut dari sang art-house film auteur David Lynch ini bagaimana dan seperti apa. Begini deh, coba kalian bayangkan sendiri bagaimana bila seorang gadis yang kalian pernah pacari dulu ternyata hamil, kemudian kalian nikahi, lalu setelah melahirkan ternyata anaknya menyerupai kadal–atau alien, atau makhluk dampak radiasi Chernobyl, atau apalah–yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara-suara mengerikan dan memuntahkan cairan-cairan kental seperti limbah industri dari mulutnya. Belum, itu belum semuanya, bahkan mungkin hanya 5% dari keanehan-keanehan yang entah bagaimana dapat tercipta dari kepala seorang manusia seperti David Lynch. Lewat list ini, gue officially mendaulat film ini sebagai “THE MOST BIZARRE FILM EVER” karena secara harfiah gue belum pernah menonton film yang lebih aneh dari ini.

The Most Disturbing Scene:

Ketika Henry (John Nance), sang suami, mengalami sebuah mimpi yang mengubah hidupnya,

7. Moebius (2013) directed by Kim Ki-duk

Another South Korean film! Kalau kalian pernah menonton 3-Iron (2004) atau Spring, Summer, Fall, Winter and Spring (2003), film ini diarahkan oleh sutradara yang membuat kedua film tersebut. Kali ini, Kim Ki-duk membahas tentang disfungsi keluarga yang berakar dari kecemburuan dan seksualitas dengan pendekatan yang ekstrim. Seorang ibu (Eun-woo Lee) yang mengetahui perselingkuhan suaminya (Jae-hyeon Jo) pada suatu malam berencana untuk balas dendam dengan diam-diam memotong kemaluan suaminya saat sedang tertidur. Sang suami yang terbangun tiba-tiba menjadi marah dan mendorong serta memukul sang istri yang kemudian langsung beranjak pergi. Tidak menyerah sampai di situ, sang istri malah pergi ke kamar anaknya yang sedang tertidur dan memotong kemaluan anaknya (Young-ju Seo). Sang ayah yang merasa bersalah terhadap anaknya kemudian mulai mencari cara agar sang anak bisa tetap mendapatkan kepuasan seksual tanpa harus mengandalkan kemaluannya. Film ini sakit, namun lucu dan mengerikan secara bersamaan oleh adegan potong memotong penis yang lumayan banyak dan juga adegan pelampiasan seksual algolagnia dengan menusukkan pisau pada pundak dan kemudian menggoyangkannya sambil mendesah nikmat. Kelebihan dari film ini adalah kita tetap mampu merasakan kehangatan dan intensitas serta kerenggangan hubungan antar karakter walaupun tanpa ada dialog dan komunikasi verbal maupun musical scoring sepanjang film berlangsung.

The Most Disturbing Scene:

Ada satu adegan di mana kekasih (yang lucunya diperankan oleh orang yang sama dengan yang memerankan sang ibu, Eun-woo Lee) dari sang anak berkomplot mencarikan sang anak penis baru untuk disambungkan lewat operasi. Sang kekasih merayu seseorang yang dulu pernah memperkosanya, lalu saat pemerkosa itu lengah, sang kekasih memotong kemaluannya, lalu sang anak mengambil kemaluan itu dan berlari ke tengah jalan. Sang pemerkosa yang panik mencoba bangkit lagi dan mengejar sang anak, dan dari sini lah kegilaan dimulai.

8. Visitor Q (2001) directed by Takashi Miike

Dari semua film yang ada di list ini, film besutan sutradara Crows Zero (2007) ini adalah yang paling lucu dan menggelikan, meskipun tetap menjijikkan dan sinting. Bercerita tentang disfungsi sebuah keluarga di mana sang anak perempuan (Fujiko) melacur pada ayahnya sendiri (Ken’Ichi Endo) yang pecundang dan sang anak laki-laki (Jun Muto) berumur belasan tahun yang tega memukuli ibunya sendiri (Shungiku Uchida) yang lemah dengan penggebuk kasur, seorang pria misterius (Kazushi Watanabe) memasuki keluarga tersebut dan menciptakan keseimbangan yang harmonis dengan kelakuannya yang sembarangan. Meskipun terlihat sangat tolol dan di luar batas, namun film ini berbicara sangat banyak tentang kehangatan sebuah keluarga yang harus dijaga dengan baik. Premis film ini memaparkan dengan baik apa yang Harper Lee tulis di To Kill a Mockingbird, “You can choose your friend, but you can’t choose your family, and they’re still kin to you no matter whether you acknowledge ’em or not, and it makes you look right silly when you don’t.”

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya ada scene yang lebih disturbing di mana sang ayah memperkosa mayat rekan kerjanya yang ia bunuh dan tiba-tiba seluruh isi perut mayat (iya, tai) keluar dan mengotori tangan sang ayah. Tapi coba kalian lihat dulu adegan breast-milking ini dan silahkan kalian nilai sendiri.

9. A Serbian Film (2010) directed by Srdjan Spasojevic

Terkenal oleh kontroversi kesadisan yang jauh melebihi batas wajar dan telah dilarang untuk tayang oleh banyak negara, film ini telah diakui sebagai film yang paling sinting dan ekstrim yang pernah dibuat. Seorang bintang film porno bernama Milos (Srdjan Todorovic) yang telah pensiun tiba-tiba mendapatkan tawaran kembali untuk bermain di pangsa pasar elit di Serbia dengan bayaran tinggi yang bisa menjamin kemakmuran hidup istri (Jelena Gavrilovic) dan anaknya (Slobodan Bestic). Milos tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan sampai pada akhirnya ia mengetahui bahwa ia harus terlibat dalam pembuatan film porno tersadis yang melibatkan kematian. Gue sudah pernah menonton The Human Centipede I dan II dan itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan film yang menyajikan seorang gadis yang kepalanya dipenggal oleh si pemerkosa saat sedang disetubuhi ini. Terlebih, film ini menyajikan ending yang tragis dan nihilis. Tidak ada alasan untuk kalian menonton film ini kecuali kalian memang ingin menantang diri kalian sendiri, dan jangan salahkan gue kalau kalian nggak kuat menonton sampai selesai. Kalian sudah diperingatkan.

The Most Disturbing Scene:

“NEWBORN RAPE! NEWBORN RAPE!” Scene yang membuat gue langsung mandi wajib setelah selesai menonton.

 

The Imitation Game (2014) – The Enigma of Equality

Salah seorang sineas ternama asal Polandia bernama Andrzej Wajda pernah mengatakan bahwa,

“When a film is created, it is created in a language, which is not only about words, but also the way that very language encodes our perception of the world, our understanding of it.”

Gue selalu terkagum-kagum setiap kali menemukan sebuah film yang dapat membahasakan banyak unsur kehidupan dan kemanusiaan dalam durasi yang relatif terbatas. Ada kalanya gue mencoba menulis ulasan tentang film tersebut, namun gue sering merasa kurang kredibilitas dan kurang ilmu yang pada akhirnya ngga jadi-jadi terus, termasuk The Imitation Game (2014) yang dulu urung gue ulas karena konten di film ini terlalu sensitif dan di luar batas kemampuan gue. Kali ini, gue mau mencoba menulis ulasan film yang sebenernya udah gue tonton dari empat bulan yang lalu ini dengan mencoba sedikit sok tahu. Sudah lulus kuliah kok, sekarang. Masak belum mau ada perkembangan?

Di tahun 1939, pasukan Nazi Jerman memulai serangannya ke Polandia, dan bersamaan dengan mobilisasi British Armed Force serta evakuasi rakyat sipil Inggris untuk mengantisipasi serangan udara dari Jerman, seorang ahli matematika terbaik di Inggris bernama Alan Turing (the famous Benedict Cumberbatch) direkrut oleh Commander Denniston untuk memecahkan Enigma, sebuah perangkat sandi paling mutakhir yang pernah dirancang sepanjang sejarah.

Meskipun bercerita tentang sebuah misi pemecahan kode sandi rahasia, treatment film ini sangat jauh dari atmosfer action-thriller ataupun war. Layaknya sebuah biographical drama, sutradara Morten Tyldum serta penulis skrip Graham Moore memfokuskan film ini pada konflik dramatis yang menimpa Alan Turing baik yang melibatkan rekan-rekan kerjanya maupun dirinya sendiri. Yang menarik adalah, seperti sub-judul yang gue berikan pada artikel ini, terdapat banyak sekali sandi-sandi yang mereka gunakan untuk membahasakan persamaan hak dan derajat bagi umat manusia. Tidak ada satu scene pun–atau bahkan satu dialog pun–yang terbuang sia-sia. Akan sangat panjang jika gue membahas scene demi scene, tapi gue akan coba merincikan beberapa poin penting yang gue dapatkan dalam film ini.

1. The Nature of Bullying, War, and Violence

“Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction and the act becomes hollow.” – Alan Turing

Alan mengatakan hal ini dua kali di dalam film ini. Yang pertama adalah flashback sequence Alan Turing saat di masa sekolah dasarnya, di mana ia sering ditumpahkan makanan dan dikurung di bawah papan kayu lantai kelas oleh anak-anak lain karena dianggap ‘aneh’. Yang kedua adalah ketika Alan dipukul oleh Hugh Alexander (Matthew Goode) karena menghalanginya untuk memberitahu Commander Denniston atas rencana agresi Jerman ke arah iring-iringan kapal penumpang di Samudera Atlantik.

 “Do you know why people like violence? It is because it feels good.” – Alan Turing

Tentu, kekerasan memang terasa menyenangkan bagi sang pelaku. Kekerasan adalah salah satu cara yang paling disukai sebagian manusia untuk merasa menjadi kuat dan perkasa di dunia yang berat bebannya membuat mereka menjadi lemah dan tak berdaya. Bagi yang sudah familiar dengan konsep cycle of abuse dari Lenora Walker (1979) tentu mengerti bahwa kekerasan bisa dikategorikan sebagai gaya hidup tidak sehat yang masih sering dianggap lumrah oleh masyarakat di lingkungan sekitar kita. Mengapa? Karena mereka tahu betapa menyenangkannya kekerasan, dan mereka memaklumi perbuatan itu biarpun mereka tahu bahwa korban merasakan sakit fisik dan mental. Mereka juga sudah memaklumi itu sebagai sebuah siklus kehidupan dan tidak mau ikut campur urusan pelaku dan korban. Mungkin film ini memang tidak menjadikan bullying atau violence sebagai pusat perputaran tata cerita, tapi untuk menyejajarkan kekerasan dalam konteks ‘bullying’ dengan ‘peperangan’ lewat repetisi dialog pada dua scene yang berbeda yang telah disebutkan sebelumnya adalah strategi yang cukup efektif untuk menyindir kelalaian dan ketidakpedulian kita terhadap kekerasan kendati cukupnya pemahaman kita tentang sebab bahaya dari kekerasan itu sendiri.

2. Feminism

“You said to finish under six minutes.” – Joan Clarke

Yap, semua dimulai saat Joan Clarke (Keira Knightley) masuk ke ruang ujian dengan disambut oleh pandangan skeptis para pengawas yang tidak percaya bahwa seorang perempuan berhasil memecahkan teka-teki silang. Melihat pada sejarah feminisime sendiri, meskipun kaum wanita sudah memperoleh hak untuk bekerja pada sektor non-militer dan industri, tahun 1939 memang masih menjadi zaman yang tabu bagi mereka untuk melakukan pekerjaan otak, apalagi di sektor intelijen. Blame the sexism. Nyatanya Joan membuktikan bahwa ia bisa jauh lebih unggul dibanding peserta ujian lain yang semuanya pria. Terlebih lagi, kedisiplinan serta kontribusi fisik maupun emosional yang Joan berikan terhadap Turing Machine maupun terhadap Alan sendiri memperlihatkan posisinya sebagai mitra kerja yang sejajar di dalam sebuah tim yang–lagi-lagi–semuanya pria. Graham Moore sebagai penulis skrip mampu merefleksikan karakter yang three-dimensional pada pribadi Joan Clarke lewat dialog yang mampu diperankan dengan sempurna oleh Keira Knightley dari awal kemunculan sampai akhir film. Penggambaran yang sangat baik ini seharusnya menjadikan Joan Clarke sebagai salah satu ikon baru bagi para modern feminist.

3. LGBT

“Do you know what they do to
homosexuals? You’ll never be able
to work again. Never be able to
teach. Your precious machine —
doubt you’ll ever see him again.” – John Cairncross

Sejujurnya, satu topik inilah yang beberapa kali membuat gue urung mengulas film ini. Bukan karena pandangan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih menganggap isu ini tabu, namun karena kompleksitas masalah yang disajikan. Sekilas, The Imitation Game dengan baik menggambarkan kondisi di dalam catatan sejarah di mana homoseksualitas masih dianggap sebuah penyimpangan berbahaya, dan menurut gue karakter Alan Turing serta plot yang disajikan di film ini–bagaimana Alan menamai mesinnya Christopher, pernyataan Alan pada Joan tentang orientasi seksualnya, ancaman dari John sang mata-mata terhadap Alan yang memergokinya, dan hukuman yang diderita Alan karena pengakuannya sebagai seorang homoseksual pada polisi–cukup baik menggambarkan tentang kekejaman pandangan masyarakat dan juga pemerintah Inggris yang salah kaprah terhadap sebab dan akibat dari homoseksualitas. Namun di lain pihak, film ini mendapatkan protes dari beberapa komunitas gay karena tidak adanya ‘gay sex scene’ sehingga menurut mereka Morten Tyldum dan Graham Moore tidak mempunyai nyali yang cukup untuk mengkampanyekan kebebasan hak kaum gay di seluruh dunia dan malah menganggap bahwa mereka berdua takut akan perolehan Box Office yang tidak mencapai target jika adegan yang masih ditabukan oleh banyak orang itu ditayangkan. Belum lagi adanya beberapa pihak yang mempermasalahkan orientasi seksual Graham Moore yang heteroseksual sebagai penyebab dari tidak adanya ‘gay sex scene’ di dalam film ini. Like, come on, gue orang yang netral terhadap isu homoseksualitas, namun bicara soal treatment film, adanya ‘gay sex scene’ hanya akan membuang-buang durasi karena seperti yang Morten Tyldum katakan di The Guardian,

The only reason to have a sex scene in the film would be to satisfy critics who feels that every gay character needs to have a gay sex scene.”

Pada hakikatnya, semua filmmaker memahami bahwa dalam setiap frame, setiap adegan, dan setiap dialog harus memiliki unsur yang sepadat mungkin untuk bisa menceritakan suatu hal yang banyak dan penting dengan durasi yang sesingkat dan seefektif mungkin, dan pernyataan Morten Tyldum di atas menurut gue cukup kuat untuk mempertahankan keputusannya dalam membentuk The Imitation Game menjadi sebuah film berdurasi sedang yang sangat padat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan persamaan hak.

The Imitation Game, sekali lagi, tidak mengandalkan twist dan suspense untuk menceritakan sebuah pemecahan kode rahasia paling mutakhir dalam sejarah PD II. Maka jangan berharap Benedict akan menjadi seorang Sherlock (TV Series) yang keren dan teknik editing yang secara visual meledak-ledak di film ini. The Imitation Game berbicara tentang manusia dengan cara yang sangat manusiawi, dan itulah sebabnya gue sangat merekomendasikan film ini untuk kalian tonton.

Apa, memang masih ada yang belum nonton?

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.

N.B.: Pidato kemenangan Oscar yang luar biasa menggerakkan dari Graham Moore sebagai Best Adapted Screenplay 2015.

“When I was 16, I tried to kill myself, because I felt weird, and I felt different, and I felt that I did not belong. And now I’m standing here, and I would like this moment to be for that kid out there who feels she’s weird or she’s different or she doesn’t fit in anywhere. Yes, you do. … Stay different, and then when it’s your turn, and you’re standing on this stage, please pass the message to the next person that comes along.”

7 Film dengan Ending yang Paling Menyebalkan

Beberapa dari kita secara umum menyukai akhir cerita bahagia layaknya dongeng-dongeng Disney ataupun film-film action Blockbuster Hollywood yang menonjolkan tokoh utama dengan kekuatan istimewa yang mampu menyelamatkan dunia. Beberapa juga tergila-gila pada ending menyedihkan yang mampu membuat mereka berlinangan air mata dan mengibakan kondisi tokoh utama yang lemah dan tak berdaya menghadapi permasalahan mereka di akhir cerita (baca juga “7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Kalian Dengar”). Namun, ada pula dari kita yang secara unik memiliki ketertarikan terhadap ending film yang bukan hanya mampu membuat kita merasa depresi, namun juga terkejut dan bahkan murka semurka-murkanya terhadap akhir cerita yang berlawanan jauh dengan apa yang kita harapkan sebelumnya. Untuk kalian yang kecanduan terhadap siksaan mental tersebut, berikut akan gue berikan rekomendasi 7 film dengan ending menyebalkan yang bisa bikin kalian melemparkan barang apapun yang ada di dekat kalian secara liar di akhir film.

1. Sightseers (2013) – Directed by Ben Wheatley.

Film ini diawali dengan sangat romantis. Dua orang yang sudah saling bertunangan, Tina (Alice Lowe) dan Chris (Steve Oram) memutuskan untuk mengadakan ‘road trip’ dengan sebuah mini van meskipun ibu dari pihak wanita (Eileen Davis) tidak merestui hubungan mereka. Film berjalan dengan sangat manis sampai akhirnya mini van yang mereka kendarai melindas seorang pria gemuk sampai mati di parkiran mini market. Kita akan dibawa menuju sebuah praduga kuat terhadap kondisi kejiwaan Chris yang ternyata memang seorang idealis psikopat cerdik yang tidak bisa mengontrol dirinya untuk membunuh orang-orang yang mengganggunya selama perjalanan bersama Tina, yang perlahan-lahan terpengaruh oleh cara berfikir Chris yang telah membuatnya merasa nyaman dan klik dengan caranya yang memperlakukan Tina dengan sangat baik. Film dengan tone yang cukup gelap ini mampu membuat kita kebingungan dengan absensi moralitas dan pembenaran psikopasi dengan alasan idealisme dan cinta yang cukup mendominasi dari Chris dan Tina. Endingnya juga cukup manis. Mereka berlarian di tengah padang rumput setelah membakar mini van mereka yang telah menjadi barang bukti pembunuhan dan berjalan menuju sebuah tebing curam untuk bunuh diri bersama sambil bergandengan tangan dengan diiringi lagu “The Power of Love” dari Frankie Goes to Hollywood sampai pada akhirnya…WHAT!!??

After-Ending Reaction:

2. Oldboy (2003) – Directed by Park Chan-Wook

Gue ngga menyarankan kalian untuk menonton versi Hollywood remake-nya karena hasilnya sangat mengecewakan. Film yang disutradari oleh maestro revenge-thriller yang sudah diakui kritikus dan pembuat film di seluruh dunia ini bercerita tentang seorang pria bernama Oh Dae-su (Choi Min-sik) yang melakukan pembalasan dendam setelah 12 tahun disekap di dalam sebuah penjara dan disiksa secara mental oleh seseorang yang tidak ia ketahui siapa. Dengan segala petunjuk dan ilmu yang ia pelajari serta keahlian bela diri yang ia asah selama penyekapan, ia melalui perjalanan misterius, menegangkan, dan gila (terutama scene yang melibatkan sushi dan gurita) ditemani seorang wanita lucu yang submisif bernama Mi-do (Kang Hye-jeong). Film yang juga mahsyur karena salah satu adegan perkelahian yang terjadi di lorong sempit ini mempunyai twist ending luar biasa cerdas sekaligus mengejutkan. Bagi mereka orang-orang yang terpilih mungkin akan berpikir bahwa Oldboy bukan hanya film thriller dengan ending yang tidak terduga, tapi juga sekaligus film tragedi tentang ayah dan anak yang sangat menyedihkan.

After-Ending Reaction:

3. Funny Games (1997) – Directed by Michael Haneke

Hollywood pernah meremake film ini pada tahun 2007 dengan bintang utama Naomi Watts, Michael Pitt, dan Tim Roth. Terserah kalian mau nonton yang mana, karena kedua versi sama-sama disutradarai oleh Michael Haneke yang memang ahli dalam meramu sifat ketidakpuasan dan keterasingan dalam pribadi tiap karakter yang ia ciptakan. Film yang cenderung sadis dan brutal secara psikologis ini bercerita tentang dua orang pemuda berpakaian seragam golf yang menawan satu keluarga di dalam rumah mereka sendiri. Sederhana, memang, namun kekonyolan tingkah laku kedua pemuda yang sangat tenang seperti sedang bermain-main dengan kekejaman mereka tersebut sanggup untuk menimbulkan amarah yang luar biasa bagi para penonton bahkan kepada mereka yang sudah terbiasa dengan film-film slasher sekali pun. Sebenarnya hal paling menyebalkan di film ini bukan pada endingnya, tapi lebih tepatnya pada adegan ‘Remote Control’ sebelum ending–yang sebelumnya kita harapkan berakhir bahagia–terjadi. Bukan hanya karena menarik ulur emosi kita, namun juga karena terkesan sangat tidak logis, memaksakan, dan juga tidak memberikan moral content apapun pada keseluruhan cerita ini. Tapi menurut gue disitulah letak keunikan dan keistimewaan film yang hanya terfokus di satu latar ini. Funny Games hanya ingin bermain-main dengan reaksi lucu kalian saat menontonnya sampai akhir.

After-Ending Reaction:

4. Eden Lake (2008) – Directed by James Watkins

Tema yang diangkat oleh film slasher dari Britania Raya ini kali ini adalah kenakalan remaja. Bullying? Hmm…bisa jadi, kalau kalian menganggap sekumpulan anak (super) nakal yang meneror pasangan orang dewasa yang sedang berlibur di pinggir danau itu juga jenis ‘bullying’. Tidak seperti film slasher pada umumnya yang menjadikan remaja-remaja nakal sebagai korban dari psikopat misterius yang mengincar mereka untuk dibunuh satu persatu, Eden Lake malah menjadikan mereka sebagai pelaku utama pembunuhan dan penyiksaan pasangan dewasa yang sedang melakukan piknik romantis. Bayangin aja, pria semacho dan seganteng Steve (Michael Fassbender) bakal diacak-acak sampai menangis seperti bayi oleh para remaja super nakal berwajah super menyebalkan ini. Sang perempuan, Jenny (Kelly Reilly), seperti biasanya film slasher, adalah yang paling mampu bertahan sampai 10 menit sebelum ending film yang bakal meledak-ledakkan emosi kalian. Yah, setidaknya, kalian akan berjanji untuk menjadi orang tua yang baik dan tegas pada anak-anak kalian kelak di masa depan setelah selesai menonton film ini dan selesai bergulat dengan percikan api amarah yang masih akan menyala-nyala seterusnya.

After-Ending Reaction:

5. Prisoners (2013) – Directed by Denis Villeneuve

Dibintangi oleh dua punggawa Blockbuster Hollywood, Jake Gyllenhaal dan Hugh Jackman, film ini adalah sebuah crime-thriller emosional yang mungkin terlewatkan oleh kalian di tahun 2013 kemarin karena rilis pada musim panas di mana Iron Man 3, Star Trek: Into Darkness, dan Fast 6 lebih merajai singgasana bioskop dunia. Cerita berfokus pada Keller, yang kehilangan anak dan teman anaknya secara misterius pada saat sedang merayakan hari Natal bersama keluarga. Beberapa hari kemudian, Detektif Loki (Jake Gyllenhaal–iya, bukan Tom Hiddleston) menangkap Alex Jones (Paul Dano) yang terduga sebagai penculik anak-anak tersebut. Dikarenakan tidak cukupnya bukti, kepolisian melepas Alex dan memulangkannya ke rumah. Kecewa dengan lemahnya kepolisian serta dikendalikan oleh amarah buta, Keller menculik Alex dan menyekap serta memukuli sambil terus menginterogasinya secara paksa di dalam toilet rumahnya sendiri. Detektif Loki, yang mencurigai kelakuan Keller serta hilangnya Alex, mulai melakukan investigasi lanjutan hingga pada akhirnya menemukan fakta demi fakta yang mengungkap siapa pelaku sebenarnya di balik penculikan tersebut dan di mana anak-anak itu disembunyikan. Lagi-lagi, endingnya secara cerdik mempermainkan psikologi kita layaknya seorang gebetan yang suka menarik ulur emosi kita kemudian mencampakkan kita begitu saja. Anak-anaknya berhasil ditemukan, memang, walaupun dalam kondisi yang buruk. Tapi bukan itu masalahnya, karena ada hal lain yang akan bikin kalian geregetan dan mengutuk sutradara film ini “Kurang Ajar” sebagaimana kita mengutuk gebetan yang telah meninggalkan kita.

After-Ending Reaction:

6. Triangle (2009) – Directed by Christopher Smith

Satu lagi film menyebalkan yang berasal dari Britania Raya. Bagi kalian pecinta teori konspirasi, film ini akan memuaskan hasrat fantasi kalian tentang apa saja yang akan terjadi ketika perahu kalian melintasi kawasan Segitiga Bermuda dan terjebak di dalam sebuah badai. Saat Jess (Melissa George) dan teman-temannya mengalami hal tersebut, mereka menemukan sebuah kapal penumpang besar yang kosong dan mereka naik ke atasnya mencoba untuk mencari pertolongan. Namun tiba-tiba seseorang dengan topeng dan jaket hitam memburu mereka satu persatu sambil menembaki mereka dengan shotgun. Tidak ada yang tersisa kecuali Jess, yang semakin berusaha untuk keluar dari kapal, malah menemukan keganjilan demi keganjilan yang berujung pada sebuah fakta mengerikan yang harus Jess alami seumur hidupnya. Terlalu banyak spoiler yang ngga bisa gue ceritakan di sini yang kalian akan paham kenapa jika kalian sudah selesai menonton film yang secara absurd mengerikan ini.

After-Ending Reaction:

7. The Mist (2007) – Directed by Frank Darabont

HERE COMES THE KING! *pun intended* Oke, sejauh ini dari enam film yang gue share di atas, film ini yang paling memenuhi syarat untuk dinobatkan sebagai film dengan ending paling menyebalkan yang pernah ada. Diangkat dari novel Stephen King berjudul sama, film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang tiba-tiba diselimuti kabut yang sangat tebal di mana terdapat monster besar dengan tentakel yang misterius yang akan membunuh siapapun yang ada di luar ruangan. Beberapa penduduk kota yang tersisa mencoba untuk bertahan dan berlindung di dalam sebuah supermarket. Perbedaan kepercayaan, sifat, serta kepentingan menimbulkan konflik yang tidak bisa dihindari sehingga beberapa harus mencoba keluar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagi-lagi, seperti apa yang pernah gue lakukan pada Requiem for a Dream di artikel sebelumnya, gue harus memperingatkan kalian bahwa ending film ini bukan buat orang-orang berhati lemah. Gue ngga akan bertanggung jawab atas reaksi ekstrim kalian setelah menyaksikan akhir film yang menurut gue bahkan kelewat batas untuk bisa dibilang sebagai menyebalkan.

After-Ending Reaction:

Honorable Mention:

Arlington Road (1999), Audition (1999), The Descent (2005), 500 Days of Summer (2009)

7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar

Kalian menangis ketika menonton kisah cinta tujuh menit pada awal film Up? Atau mungkin kalian juga ikut merasa simpati saat Wall-E masuk ke dalam pesawat luar angkasa dan mengelilingi seluruh galaksi hanya untuk bertemu dengan Eve? Harus gue akuin, itu emang momen-momen yang bisa bikin manusia paling perkasa di dunia langsung klemar-klemer nyariin tisu buat ngelap pipinya. Tapi kalau kalian memang senang menyiksa diri kalian dengan kesedihan-kesedihan semacam itu, berikut akan gue list beberapa film penguras air mata yang mungkin jarang kalian dengar, namun harus kalian tonton.

1. Detachment (2012)

Di film ini, Adrien Brody menjadi Henry, seorang guru pengganti yang ditempatkan di sebuah sekolah di mana murid-muridnya sudah tidak menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang penting buat mereka dan bahkan berani untuk meneriaki dan melempari guru mereka. Kita akan dibawa menuju sebuah kota di mana setiap jiwa penduduknya hancur berantakan dan sistem sosial sudah tidak mampu lagi berfungsi dengan baik. Lambat laun, dengan ketabahan dan cara mengajarnya yang tidak biasa, Henry mampu menjadi teladan bagi mereka dalam berempati. Namun sayangnya, tidak ada yang mampu untuk menyelamatkan manusia-manusia tersebut dari depresi dan kebencian mereka terhadap diri mereka sendiri. Banyak kritikus yang menulis ulasan buruk tentang film ini karena pesan yang disampaikan di akhir film cenderung nihilis dan depresif sehingga tidak memberikan solusi yang baik untuk permasalahan psikososial yang dibicarakan. Namun menurut gue malah ending yang seperti itu cukup mampu untuk memberi gambaran nyata dan menggugah masyarakat untuk sadar terhadap bahaya apati dan racun sosial lainnya sehingga kita bisa memperlakukan satu sama lain agar lebih baik lagi. Humans do have conscience, after all.

After Taste:

2. Short Term 12 (2013)

Secara sederhana, film ini menceritakan sebuah hubungan batin antara seorang pengasuh yang memiliki kondisi emosional rapuh dengan anak-anak di panti asuhannya. Atmosfernya mungkin kurang lebih sama seperti Detachment (2012), namun film ini lebih banyak berbicara soal keterasingan, pengabaian, dan kekerasan terhadap anak di bawah umur. Para calon orang tua layaknya wajib untuk menonton film ini agar mereka bisa melihat secara lebih dekat apa akibatnya bila mereka terlalu sering mengabaikan, melarang-larang, dan melakukan kekerasan baik fisik maupun emosional terhadap anak mereka. Oh, kalian bakal pecah saat Marcus menyanyikan lagu ciptaannya sendiri dan saat Jayden membacakan sebuah cerita yang ia tulis sendiri. Dunia kita sudah berantakan, kawan.

After Taste:

3. Silenced/Crucible (2007)

Di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Korea di mana murid-muridnya diperkosa dan disodomi oleh seluruh pihak sekolah, seorang guru bernama In Hoo (diperankan oleh Gong Yoo) harus memperjuangkan hak dari anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan melawan pihak sekolah yang menutup-nutupi kasus tersebut meskipun itu artinya dia harus melawan raksasa yang dilindungi oleh kejaksaan dan kepolisian yang korup. Lihat betapa tersiksanya anak-anak di sekolah tersebut, maka kalian akan tahu kenapa gue masukin film ini ke dalam list.

After Taste:

4. Grave of The Fireflies/Hotaru No Haka (1988)

Diceritakan sepasang kakak beradik bernama Seita dan Setsuko harus bertahan hidup setelah ditinggal mati ibunya dan ditinggal perang oleh ayahnya di masa Perang Dunia II. Seita yang tidak sudi diasuh oleh bibinya yang terlalu keras memilih untuk mengasuh sendiri adiknya dan tinggal di sebuah cerukan di bantaran sungai. Film ini banyak berbicara tentang perang dan dampak buruknya terhadap masyarakat sipil dengan animasi yang begitu memanjakan mata dan menyayat jiwa secara bersamaan. Gue sangat menyayangkan bahwa hanya sedikit orang yang tahu tentang film ini karena film ini harus ditonton oleh semua orang untuk mengingatkan mereka betapa berharganya hal-hal sederhana yang mereka miliki.

After Taste:

5. One Hour Photo (2002)

Yes, it is Robin Williams, your childhood favorite. Di film ini, dia menunjukkan sisi lain dari kemampuan aktingnya yang cenderung terkesan selalu ceria dan menceriakan. Di film ini dia berperan sebagai tukang cuci foto bernama Sy Parrish yang kesepian dan terobsesi pada sebuah keluarga pelanggan cuci foto di tempatnya bekerja. Robin tidak berperan sebagai komedian di sini, namun karakternya merepresentasikan orang-orang kesepian yang sering kita hiraukan, atau bahkan kita bully di dunia nyata. Bagi kalian yang merasa kesepian cuma karena jomblo, film ini bisa membuka mata hati kalian lebar-lebar tentang bagaimana rasa kesepian yang sebenarnya.

After Taste:

6. Dancer in The Dark (2002)

Beberapa orang yang sudah terbiasa menonton film Hollywood mungkin akan merasa jenuh menonton film ini karena medium film nya masih menggunakan pita seluloid dengan warna terbatas dan framingnya kurang memanjakan mata. Bjork, musisi eksperimental dari Iceland, di film musikal ini berperan sebagai Selma, single-mother periang yang senang berdansa, menyanyi, dan mendengarkan musik. Terdengar menyenangkan ya? Tentu tidak setelah lo tahu bahwa Selma mengalami penyakit kebutaan bertahap yang diwariskan oleh gen dan ia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik demi menabung untuk operasi kornea mata anaknya. Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh Selma akan membuat lo muak terhadap hidup yang terlalu kejam bahkan pada orang-orang baik seperti Selma.

After Taste:

7. Requiem for A Dream (2000)

Bentar, tarik nafas dulu.

Oke, untuk film yang satu ini, gue ngga bener-bener mengharuskan kalian untuk nonton. Seriously, nuansa film ini bukan buat semua orang. Film ini menceritakan tentang empat orang pecandu narkoba yang semakin lama semakin tenggelam dalam kecanduan yang pada akhirnya menggerogoti hidup mereka sampai hancur berantakan. Requiem for A Dream mungkin tidak membuat kalian menangis, tapi setidaknya akan membuat kalian berjanji untuk tidak akan pernah memakai narkoba dan tidak akan pernah menonton film ini lagi.

Serius, menurut gue dan sebagian film blogger lainnya, film ini terlalu menyakitkan untuk ditonton. Tapi kalau kalian masih penasaran ya, terserah. I warned you.

After Taste:

Honorable Mention : Sophie’s Choice (1982), Leaving Las Vegas (1995), Blue Valentine (2010), Revolutionary Road (2008).

Whiplash (2014) – Neiman and Fletcher Love Story

Anda bosan dengan film-film musikal yang dipenuhi dengan lagu-lagu pop easy-listening? Jenuh dengan kisah cinta dan persaingan remaja bau kencur yang diiringi oleh musikal ala-ala Disney yang dinyanyikan dengan suara cempreng? Ingin melihat sebuah film musikal yang ganteng, seksi, dan maskulin tanpa dibumbui terlalu banyak romansa klise dan menye-menye? Dengan durasi 106 menit, sebuah film berjudul “Whiplash” akan mengabulkan keinginan anda!

Film ini adalah cerita tentang ambisi buta seorang pria bernama Andrew Neiman (diperankan oleh Miles Teller) untuk menjadi seorang drummer jazz legendaris. Demi mencapai mimpinya, ia harus menarik perhatian Fletcher (diperankan oleh J.K. Simmons), seorang guru penting di New York Music School dan juga konduktor di sebuah band orkestra jazz terbaik di Amerika. Segala cara dan pengorbanan dilakukannya, termasuk meninggalkan gadis idamannya yang telah berhasil ia kencani (diperankan oleh Melissa Benoist) dan membiarkan dirinya dilecehkan dengan kekerasan fisik yang dilakukan berulang kali oleh sang Fletcher, yang dikenal memiliki temperamen tinggi serta metode pelatihan yang sangat keras sehingga semua muridnya takut dengannya.

Rumusan permasalahan yang menjadi akar dari keunikan cerita ini adalah: “Seberapa jauh anda akan melangkah demi mengejar mimpi anda? Seberapa gila anda akan mendorong diri anda sendiri?” Memang terdengar biasa saja, namun cara Damien Chazelle—sang sutradara—menuturkan problema ini dalam sebuah hubungan antara seorang pelajar dengan gurunya dan ambisi mereka yang saling kejar mengejar satu dengan yang lain mampu membuktikan kepada pasar bahwa ‘ambisi’ merupakan suatu tema yang bisa mengalahkan ‘cinta’ yang lambat laun membasi karena diolah terus menerus tanpa membuahkan evolusi yang nyata. Terlebih, performa Teller dan Simmons serta editing dan sinematografi film ini—which is more to European style than Hollywood—akan membuat anda bergidik dan kesulitan untuk menenangkan diri sepanjang film berlangsung.

Ada suatu pernyataan penting yang diutarakan oleh Fletcher dalam film ini. “The most dangerous two words in the English language are good job.” Sebuah kalimat yang membuat kita berfikir apakah memang suatu bakat yang luar biasa dapat dipanen dari pembudidayaan potensi dengan metode radikal seperti yang Fletcher demonstrasikan? Dipandang dari berbagai sudut, hal ini merupakan sesuatu yang abu-abu dan menarik untuk diperdebatkan, meskipun mungkin memang secara empiris terbukti metode seperti ini menciptakan kualitas-kualitas prima. Bagi sebagian orang, hal ini juga membuat mereka mempertimbangkan apakah karakter Fletcher bisa dikategorikan sebagai seorang protagonis, mengingat di film ini karakter Neiman lah yang paling sok tahu, merasa paling benar, dan ambition-driven.

Di samping bermacam kegantengan visual, kematangan cerita, serta akting luar biasa yang akan memanjakan mata dan pikiran, musik-musik yang disuguhkan di film ini juga akan membuat telinga anda orgasme berkali-kali—especially the ending, oh what an ending. Whiplash mungkin akan menjadi sebuah tolak ukur baru terhadap film-film drama musikal lain ke depannya, dan jika prediksi gue yang sok tahu ini ternyata benar, then it’s gonna be jizzy jazzy!

DISTOPIANA’S RATING: 5 out of 5.