The Night Comes for Us (2018) – The Bloody Dance of Redemption

Belakangan ini, gue emang lebih banyak ngulas film-film yang gue tonton di akun Instagram Distopiana. Alasannya adalah karena gue terlalu sibuk dengan kerjaan dan side-job yang terlalu makan waktu, plus gue juga agak sedikit ngerasa losing my touch in article-based writing. Jadi blog ini sempet vakum selama beberapa bulan sampai akhirnya saat ini gue memutuskan untuk nulis di sini lagi. Kenapa? Karena ada satu film yang berhasil bikin gue untuk mau nulis dengan format artikel lagi, judulnya The Night Comes for Us. Gue merasa, semua hal yang harus gue ungkapin tentang film ini nggak akan cukup untuk dibagikan di Instagram. Lagipula semua filmmaker yang terlibat di segala departemen produksi film ini patut untuk gue berikan apresiasi lebih dari sekadar ulasan singkat di sosial media yang bahkan menurut gue sendiri pun cukup malas.

The Night Comes for Us bercerita tentang Ito (diperankan oleh Joe Taslim), salah satu dari The Six Seas, sebuah tim yang berperan sebagai “pelicin” dari organisasi kriminal Triad untuk menjalankan bisnis gelap penyelundupan barang mereka ke seluruh negara-negara Asia Timur dan Tenggara. Terlalu lama tenggelam di dalam dunia yang gelap dan tak berperikemanusiaan, hati Ito tergerak seutuhnya saat ia harus memutuskan untuk membunuh seorang gadis kecil dari sebuah desa yang harus ia habisi seutuhnya karena telah mencurangi bisnis Triad. Setelah membelot dari Triad dan membawa gadis kecil bernama Reina tersebut, Ito harus menghadapi serangan brutal dari para pihak yang mencoba membunuhnya tanpa belas kasihan, termasuk teman masa kecilnya yang ambisius bernama Arian (diperankan oleh Iko Uwais).

Sekilas, premisnya memang terdengar seperti template film aksi yang biasa-biasa saja. Belum lagi reputasi Timo Tjahjanto sebagai sutradara film-film berbau kekerasan dengan cerita yang dangkal dan naskah yang sering tidak masuk akal bikin gue punya ekspektasi awal yang cukup rendah terhadap film ini. Namun nyatanya, Timo sama sekali nggak main-main dalam mengolah skenario, cerita, maupun penuturan film yang akhirnya dibeli lisensi penuhnya oleh Netflix ini. Gue kaget ngelihat banyaknya porsi drama dalam film ini yang mengobrak-abrik emosi gue. Meskipun porsi dialog yang disajikan cukup minimalis, Timo menuturkan cerita The Night Comes for Us dengan lebih efektif lewat aspek-aspek storytelling intrinsik lain yang membuat tone film ini dapat dideskripsikan lewat tiga kata: badass melancholic bitch. Beberapa yang bisa gue sebutin tanpa ngebocorin film ini: adegan saat Bobby Bule (diperankan oleh Zack Lee) mencoba melindungi Shanti, istri Ito (diperankan oleh Salvita Decorte) dari gerombolan anak buah Yohan dengan mendorongnya keluar dan berpura-pura seakan-akan Shanti adalah pelacur yang baru saja ia sewa. Momen ini hanya berlangsung kurang dari lima menit, namun memiliki emotional impact yang besar bukan hanya karena shot, cut, dan slow-motion effect-nya dilakukan dengan tingkat presisi yang tinggi, namun juga karena akting yang memukau dari dua pemeran tokoh tersebut. Belum lagi, adegan terakhir Fatih saat menyetel lagu “Benci untuk Mencinta” di dalam mobilnya sebelum melakukan kamikaze. Ketepatan penggunaan lagu di momen tersebut pastinya bakal memberikan sensasi yang bikin jantung lo serasa ditusuk berkali-kali.

Adegan memorable lainnya? The fucking ending. Right before the fucking credit shows the name of the person who is responsible for this piece of hellish creation. One of the best ending since Call Me by Your Name. I shit you not.

Tentu sebuah naskah yang baik nggak akan berfungsi kalau semua tokoh yang dihadirkan nggak mampu menjaring simpati penontonnya. Maka dari itu, saya ingin memberikan penghormatan setinggi-tingginya pada Timo karena telah berhasil menciptakan banyak ikon heroik yang ANJING KEREN-KEREN BANGET BANGSAT! Ito dengan senyumnya yang menyerupai iblis saat mengintimidasi musuh-musuhnya. Bobby Bule yang dulu tingkahnya sembarangan tapi sekarang pincang, mengidap PTSD, dan akan melakukan segalanya demi membayar semua kesalahan yang dia perbuat. Fatih (diperankan oleh Abhimana Aryasatya) yang bijak, protektif, dan setia kawan. Alma (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) yang playful dan sering tertawa dengan senjata senar Yo-Yo yang sangat khas dan Elena (diperankan oleh Hannah Al Rashid) yang dingin namun mempunyai banyakan gerakan dansa maut yang indah. The Operator (diperankan oleh Julie Estelle) yang misterius dan mematikan. Arian si anak bawang ambisius yang jago berantem tapi gampang dimanfaatin. Semua karakter bersatu padu di dalam harmoni cerita dan koreografi pertarungan yang solid membentuk jalinan adegan demi adegan yang akan selalu membekas di dalam ingatan lo semua. Nggak percaya? Tonton aja sendiri gimana bocah-bocahnya Fatih dan Bobby Bule mati-matian bentrok sama kroco-kroconya Yohan buat ngelindungin Reina. Atau gimana saat Elena ngebalikin salib di dinding rumah sebelum ngehajar The Operator bareng Alma. Atau di pertarungan terakhir saat persaudaraan Ito dan Arian diuji lewat pukulan dan serangan bertubi-tubi yang diluncurkan. Oleh karena itu, big round of applause untuk para aktor luar biasa yang telah memerankan tokoh-tokoh penuh warna tersebut dengan penuh penghayatan.

Ada satu tokoh penting yang sedari tadi gue sebut, namun belum gue bahas secara mendalam. Kenapa? Karena karakter yang satu ini terlalu menarik untuk tidak diberikan satu paragraf penuh pemaparan detailnya. Iya betul, dia adalah Yohan. Seorang pengedar kokain berkedok tukang potong daging yang diperankan oleh Revaldo, sang Rangga dari miniseries AADC yang sering diparodikan oleh kreator meme lokal sebagai kembaran dari Adam Driver. Siapa sangka, setelah banyak hal buruk yang telah ia lalui (termasuk direhabilitasi karena kasus narkoba), ia kembali ke hadapan para penikmat sinema dengan menghadirkan sosok Yohan, sang bos kriminal amatir yang banyak gaya namun cengeng dan nggak bisa ngapa-ngapain tanpa anak buahnya. Memang terdengar receh, secara ia hanyalah sebuah sub-plot yang menggiring cerita masuk ke dalam konflik babak kedua. Namun, kehadirannya mampu menyalakan atmosfir yang mencekam sekaligus komikal dan iba secara bersamaan. Saya senang sekali bagaimana karakter anak-anak hipster Jakarta Selatan dapat sepenuhnya terwakilkan lewat cara Yohan bertutur kata. Bagaimana kata-kata yang dianggap tabu dalam dialog film Indonesia seperti “ngentot” dan “Cina bangsat” dapat terucap dengan lantang dan tepat sasaran lewat mulutnya. Bagaimana Yohan mengakhiri kalimatnya dengan “man” saat berbicara dengan bahasa Inggris via telpon (“Ito is here, man!”). Tidak hanya memberikan Revaldo awal baru yang sangat baik untuk kemajuan karirnya di masa depan, hal ini juga sepatutnya dapat meyakinkan penonton bahwa Timo telah mengawali pembenahan penulisan naskahnya lewat penulisan tokoh yang memperhatikan detail sekecil apapun peran mereka.

Biarpun begitu, gue nggak bilang bahwa The Night Comes for Us tanpa cela. Masih ada tokoh dengan motivasi yang kurang jelas dan bikin kita susah untuk root for them, yaitu The Operator dan Wisnu (diperankan oleh Dimas Anggara). Gue udah nonton tiga kali di Netflix dan masih nggak ngerti maksud The Operator ngomong “Jawaban lo bakal menentukan apa yang bakal gue lakuin ke lo malem ini” pas dia nanya ke Ito dia masih Six Seas atau bukan. Gue juga nggak ngerti kenapa pada akhirnya dia memutuskan untuk melindungi Reina. Gue juga nggak ngerti kenapa si Wisnu ini cuma kayak pesuruh yang planga-plongo doang tapi matinya susah bener pas ngelindungin Reina. Mungkin pada akhirnya itu semua akan terjawab di sekuel yang sudah dijanjikan sama Timo. Tapi tetap saja sebuah hal yang membuat frustasi apabila mengangkat sesuatu yang tidak ada kejelasannya sama sekali sampai film berakhir cuma demi memperluas angkasa cerita.

Kalau soal koreografi pertarungan, tidak usah banyak dibahas lagi. Timo belajar banyak dari Gareth Evans soal penyajian adegan-adegan bela diri, dan aman bagi gue untuk mengatakan bahwa tingkat kebrutalan yang ditampilkan film ini berada di atas The Raid 2. Nggak ada satu pun tulang dan daging yang selamat. Setiap kali gue nonton ulang adegan pertarungan di film ini, gue selalu khawatir sama kesehatan para aktor dan extra yang udah dipatah-patahin badannya di film ini. Gimana caranya Timo bikin semua adegan beranten serealistis ini tanpa harus beneran bunuh orang? Itu bocah yang disangkutin di kaitan tempat ngegantung daging sapi apa kabar sekarang?

Perbedaan mencolok dari adegan pertarungan The Raid 2 dan The Night Comes for Us adalah dari kapasitas humornya. Saat The Raid 2 menawarkan one long take untuk memancarkan keindahan tarian bela diri pembunuhan, The Night Comes for Us mewarnai tiap koreografi lewat humor slapstick yang diselipkan secara subtle. Contohnya, saat pukulan Ito meleset dan malah mengenai tiang beton, tendangan susulan Arian pun meleset dan walhasil tulang keringnya berbenturan mesra dengan hal serupa dan pertandingan terhenti beberapa saat karena kedua pihak saling kesakitan dengan gestur yang tepat berada di satu titik antara kejenakaan dan kebrutalan. Anda yang gampang terhibur juga pasti tertawa melihatnya.

Sangat menyenangkan untuk mengetahui bahwa meskipun kita mungkin selamanya tidak akan pernah mendapat titik terang tentang kemunculan The Raid 3, namun kita mendapatkan penggantinya yang mungkin akan lebih superior daripada franchise yang sudah mendapat predikat legendaris tersebut. Ini adalah sebuah awal yang baik untuk masa depan film action Tanah Air, dan gue seneng banget untuk mengetahui bahwa masa depan tersebut ada di tangan yang sangat baik.

Distopiana’s Rating: 4.5 out of 5.