Review “Keluarga Cemara” (2019) – The Journey of Finding Happiness

“Harta yang paling berharga adalah keluarga.” Lirik lagu ini mungkin adalah salah satu hal yang langsung terpikirkan ketika kita mendengar tentang Keluarga Cemara. Nyatanya, kisah tentang Emak, Abah, Euis, dan Ara ini memang tidak pernah jauh dari hal tersebut.

Film yang diadaptasi dari serial televisi di tahun 2000an awal dengan judul yang sama ini mengeksplorasi tema keluarga lewat kacamata yang sederhana namun erat bagi kita: kemiskinan. Bagaimana kebahagiaan dapat ditemukan saat harta benda kita direnggut secara tiba-tiba? Apa yang harus kita lakukan saat semua upaya yang kita lakukan selalu berujung pada petaka? “Keluarga”, begitu jawaban dari film yang disutradarai oleh Yandy Laurens ini.

Keluarga Cemara memberikan refleksi yang lugas, nyata, namun empatik terhadap keluarga-keluarga di Indonesia: Abah yang konservatif dan tegas namun penyayang dan bertanggung jawab, Emak yang tegar dan selalu menjadi penengah, serta para anak yang selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk minat dan cita-citanya walaupun jarang mendapat perhatian, dukungan, dan kasih sayang dari orang tuanya. Semua peran itu mampu dimainkan oleh Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Adhisty Zara, dan Widuri Putri dengan sangat baik sehingga membentuk sebuah penampilan ansambel dengan “instant chemistry” yang dengan mudahnya mampu memikat hati kita. Ini adalah film Indonesia pertama yang saya saksikan di bioskop di tahun 2019, namun saya yakin Keluarga Cemara akan menjadi salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

8 Film Terbaik di Tahun 2018 – Distopiana & Friends

Nggak hanya berniat ngomongin keburukan film-film terbusuk 2018, kami bersama teman-teman juga mengompilasikan 8 film terbaik di tahun 2018 beserta alasan kenapa kami menaruh film tersebut di daftar ini.

1. Tommy, Distopiana – Burning

Burning is an enigma caught in a fiery flame of class-struggle explosions. Black Mirror: Bandersnatch might offer you an inventive mechanism to let you control where the story goes, but Burning will effortlessly put you in an infinite loop of questions with its ambiguous scenarios, brilliantly acted and gorgeously shot sequences. Steven Yeun is lit!

2. Amel, Distopiana – Searching

Narasi sederhana dengan eksekusi yang apik, ditambah twist cerita yang menarik. Alur semakin mengental sembari film berjalan. Apa yang ingin ditekankan yaitu totalitas luar biasa dengan konsep visual layar gadget dari awal hingga akhir film. Terlepas ‘ruang gerak’-nya yang terbatas, film ini secara apik menyampaikan emosi dan ketegangan dalam konflik cerita. Great directing, and I want to give my highest salute to the editor.

3. Bunga, Distopiana – Aruna dan Lidahnya

If you think Dian Sastro and Nicholas Saputra will never be able to get out of their labels as Cinta and Rangga, well, you might have to think twice about it. Bringing you on a food adventure filled with love, friendship and all of the things in between, Aruna dan Lidahnya is a unique and heartfelt movie that will make you feel warm on the inside.

4. Dony Iswara, Se7en Enthusiast – Hereditary

Hereditary ini kaya “memecah kesunyian” modern horror 3 tahun belakangan. datang dengan pendekatan yang segar namun tetap dapat berpegang teguh pada kengerian klasik yang bisa ditemui di karya2 horor mufi legendaris. modern horror done right sih ini.

5. Dysan, KataKinema – A Prayer Before Dawn

‘A Prayer Before Dawn’ is one of the most heart-wrenching cinematic experience in 2018. Pure allegory of redemption and survival which takes place in a surrounding that could be described as something worse than just a mere ‘harsh’ word. Picture perfect rendition of the gruesome prison life without any sugarcoating at all. A true story adaptation has never been this painful.

6. Yohan Arie, Photographer – The Bold, The Corrupt, and The Beautiful

Film Taiwan ini memilih kacamata yang berbeda dalam bercerita tentang “women’s empowerment”. Bergaya Gangster Melodrama, film ini terasa sangat feminin dengan hadirnya tiga tokoh perempuan yang kuat secara karakter dan aktingnya. Desain wardrobe dan interior yang elegan semakin memperkuat kesan feminin tersebut. Yang jika dilihat dari konstruk sosial yang ada justru sangat berlawanan dengan tema gangster dan korupsi yang diangkat. Serta jangan lupakan plot yang sedikit rumit dan berliku yang menjauhkan film ini dari kesan telenovela.

7. Firda, Film Twitter @firdafnisa – The Rider

The Rider adalah salah satu film yang memukau saya tahun ini. Seakan memperlihatkan bakat artistik terpendam sang sutradara, Chloe Zhao. Di sini ia memadukan narasi drama dan dokumenter dengan cara yang unik dan mulus, memberi penonton sedikit pandangan tentang proses hidup yang jarang terlihat di layar sinema. Saya suka sekali pendekatan ini, menawarkan perasaan kuat akan realisme tentang kehidupan, namun dibalut dengan sangat bersahaja. Dalam melukis potret puitis ini, Zhao seakan menjawab pertanyaan semua orang: “Ketika sesuatu yang kamu miliki direnggut, bagaimana kamu bisa semangat untuk terus menjalani hidup?” Dan saya tidak bisa memikirkan film apa lagi yang selaras dengan pertanyaan tersebut selain film ini. Masterpiece!

8. Paskalis, Film Twitter @sinekdoks – Annihilation

Annihilation is a serious, high-concept sci-fi about the fundamental changing–between the genetic coded self-destruction and annihilation. The result is a rather stunning and vague at the same time.

Review “Black Mirror: Bandersnatch” (2018) – The Illusion of Free Will

Datang dengan membawa sesuatu yang baru dalam penyajian hiburan streaming berbayar, Black Mirror mengajak kita menentukan sendiri arah plot serta nasib tokoh utamanya lewat episode spesial “Bandersnatch.” Sepanjang film, kita diajak untuk mengarungi konsep ‘free-will’ secara lebih luas, dalam, dan eksperimental lewat sudut pandang Stefan, seorang remaja di tahun 80an yang terobsesi mengembangkan video game interaktif yang berfokus pada storyline.

Bukan Black Mirror bila tidak memberikan pengalaman traumatis dan mengejutkan bagi penontonnya. “Bandersnatch” pun demikian, karena ia berhasil membuat kita melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan hanya demi mendapatkan akhir cerita yang maksimal, misalnya: membiarkan seorang anak menghajar kepala ayahnya dengan asbak hingga meninggal lalu memotong-motong mayatnya lalu kemudian berbicara di media sosial dengan bangga bahwa kita berhasil membuat Stefan sukses mendapatkan rating 5/5 untuk game yang ia rancang.

“Bandersnatch” juga berbicara tentang ilusi ‘free-will’ dengan mengatakan bahwa kebebasan bukan berarti kita juga memiliki kuasa penuh atas apa yang ingin kita lakukan. Namun, karena terlalu banyaknya pilihan yang diberikan, semuanya jadi senjata makan tuan. Banyak yang terobsesi dengan mengeksplorasi segala pilihan yang pada akhirnya mereka pun mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah bisa dijawab.

Jadi, kalian pilih Sugar Puffs atau Frosties?

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Kumpulan 8 Film Terburuk di Tahun 2018 – Distopiana & Friends

2018 memang penuh dengan film-film spektakuler yang mampu membuat kita terpana dengan kelebihan visual, kemantapan cerita yang kompleks, serta konteks sosial yang mereka bawakan. Namun, tak dapat dipungkiri, masih banyak juga film-film buruk yang mampu mengernyitkan dahi. Berkolaborasi dengan teman-teman dengan passion yang sama di bidang film, kami mengumpulkan delapan judul film terburuk di tahun 2018 beserta alasan kenapa kami menaruh film tersebut di daftar ini.

1. Tommy, Distopiana – The Kissing Booth

2. Amel, Distopiana – Mile 22
“Narasinya jelek. Plot yg dibikin maju-mundur jadinya acak-acakan, akibatnya pas nyampe ending malah gagal bikin mindblowing karena ngga paham. Penggunaan berlebihan teknik shaky camera bikin pusing.”


3. Bunga, Distopiana – Sierra Burgess is A Big Loser
“Instead of using the premise to promote self-love and the equal beauties of body shapes, this film chooses to ignore its more than plenty ongoing resources and straight up romanticizes catfishing, hacking, cyber-bullying, supporting and pretending to be deaf, and for the cherry on top, a non-consensual kiss.”

4. Dony Iswara, Se7en Enthusiast – A Quiet Place
“Maaf buat yang memuja muja mufi ini, tapi buat saya mufi ini biasa aja. secara teknis sangat bagus. sinematografi dan tata suara jempolan. tapi plotnya ya allah. dan teknis yang mumpuni tadi jadi kerasa sia sia and makes me hate this mufi so much.”

5. Dysan, KataKinema – Game Over, Man
“‘Game Over, Man!’ is a massive trainwreck. Failed miserably in attempting to extract fun stuffs out of sensitive remarks and lots of graceless slapsticks were utilized throughout the film. The messy and chaotic plot has perfectly elevated this feature’s status as one of the worst (if not the absolute worst) motion pictures of the year. It almost feels like an insult to the essence of moviemaking as an art form.”

6. Yohan Arie, Photographer – 7 Days in Entebbe
“Materi yang kuat tidak serta merta mampu dibuat menjadi film yang bagus. Contoh yang tepat bagaimana Political Correctness malah membuat film sulit bercerita dengan jujur.”

7. Firda, Film Twitter @firdafnisa – Venom
“Venom sebenarnya sudah memiliki seluruh elemen yang pas dari sebuah film superhero. Namun pada beberapa bagian Fleischer nampak terlihat kewalahan. Skrip dan narasi adalah kelemahan yang paling jelas terlihat dari semuanya. Latar belakang cerita yang tidak terbangun solid, alur yang sangat dipaksakan, dan juga dialog yang buruk. Pantas saja paruh pertama pace-nya terlihat sangat lambat dan cenderung membosankan, yang untungnya berhasil tertolong di paruh kedua dengan dibuktikannya adegan pertarungan yang cukup memukau dan lelucon kocak yang mengundang tawa.”

8. Paskalis, Film Twitter @sinekdoks – A Wrinkle in Time
“Too many wrinkles are spotted in this supposedly moving adaptation of a classic story. The lazy direction and the preachy approach only makes it worse.”