Review “Black Mirror: Bandersnatch” (2018) – The Illusion of Free Will

Datang dengan membawa sesuatu yang baru dalam penyajian hiburan streaming berbayar, Black Mirror mengajak kita menentukan sendiri arah plot serta nasib tokoh utamanya lewat episode spesial “Bandersnatch.” Sepanjang film, kita diajak untuk mengarungi konsep ‘free-will’ secara lebih luas, dalam, dan eksperimental lewat sudut pandang Stefan, seorang remaja di tahun 80an yang terobsesi mengembangkan video game interaktif yang berfokus pada storyline.

Bukan Black Mirror bila tidak memberikan pengalaman traumatis dan mengejutkan bagi penontonnya. “Bandersnatch” pun demikian, karena ia berhasil membuat kita melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan hanya demi mendapatkan akhir cerita yang maksimal, misalnya: membiarkan seorang anak menghajar kepala ayahnya dengan asbak hingga meninggal lalu memotong-motong mayatnya lalu kemudian berbicara di media sosial dengan bangga bahwa kita berhasil membuat Stefan sukses mendapatkan rating 5/5 untuk game yang ia rancang.

“Bandersnatch” juga berbicara tentang ilusi ‘free-will’ dengan mengatakan bahwa kebebasan bukan berarti kita juga memiliki kuasa penuh atas apa yang ingin kita lakukan. Namun, karena terlalu banyaknya pilihan yang diberikan, semuanya jadi senjata makan tuan. Banyak yang terobsesi dengan mengeksplorasi segala pilihan yang pada akhirnya mereka pun mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah bisa dijawab.

Jadi, kalian pilih Sugar Puffs atau Frosties?

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *