Review “Keluarga Cemara” (2019) – The Journey of Finding Happiness

“Harta yang paling berharga adalah keluarga.” Lirik lagu ini mungkin adalah salah satu hal yang langsung terpikirkan ketika kita mendengar tentang Keluarga Cemara. Nyatanya, kisah tentang Emak, Abah, Euis, dan Ara ini memang tidak pernah jauh dari hal tersebut.

Film yang diadaptasi dari serial televisi di tahun 2000an awal dengan judul yang sama ini mengeksplorasi tema keluarga lewat kacamata yang sederhana namun erat bagi kita: kemiskinan. Bagaimana kebahagiaan dapat ditemukan saat harta benda kita direnggut secara tiba-tiba? Apa yang harus kita lakukan saat semua upaya yang kita lakukan selalu berujung pada petaka? “Keluarga”, begitu jawaban dari film yang disutradarai oleh Yandy Laurens ini.

Keluarga Cemara memberikan refleksi yang lugas, nyata, namun empatik terhadap keluarga-keluarga di Indonesia: Abah yang konservatif dan tegas namun penyayang dan bertanggung jawab, Emak yang tegar dan selalu menjadi penengah, serta para anak yang selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk minat dan cita-citanya walaupun jarang mendapat perhatian, dukungan, dan kasih sayang dari orang tuanya. Semua peran itu mampu dimainkan oleh Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Adhisty Zara, dan Widuri Putri dengan sangat baik sehingga membentuk sebuah penampilan ansambel dengan “instant chemistry” yang dengan mudahnya mampu memikat hati kita. Ini adalah film Indonesia pertama yang saya saksikan di bioskop di tahun 2019, namun saya yakin Keluarga Cemara akan menjadi salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Author: Tommy Surya Pradana

Kuliah jurusan Hubungan Internasional, kerja di ahensi jadi tukang konten media sosial, ngeblog soal film. Hidup saya emang se-absurd itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *