6 Film dengan Teka-Teki yang Tak Pernah Terjawab

Kita pernah dibuat terkagum-kagum oleh bagaimana Christopher Nolan mampu menyelipkan petunjuk-petunjuk kecil di balik misteri ending film Inception. Ya, sebagaimana layaknya sulap dan teori konspirasi bekerja, manusia adalah makhluk yang senang dibuat penasaran setengah mati oleh hal-hal yang ada di luar batas kemampuan bernalar mereka. Bahkan lingkungan pergaulan kita pun dengan sembarangan menciptakan sendiri sebuah istilah untuk film-film yang penuh teka-teki seperti Inception, yaitu “film mikir”.

Tidak seperti Inception, ada beberapa film dengan teka-teki yang ditinggalkan oleh sutradara dan penulisnya tanpa ada satu jawaban pasti dan hanya bisa diinterpretasikan oleh penonton dan kritikus film dengan berbagai macam cara. Meminjam istilah pergaulan kita, film-film yang bakal gue diskusikan di daftar ini bisa dibilang adalah “film-film mikir tingkat dewa”. Bagi kalian yang senang melatih kemampuan berpikir kalian dengan misteri-misteri yang rumit dan membingungkan, ini akan menjadi daftar film yang bisa membuat kalian merasa tertantang.

1. Eyes Wide Shut (1999) directed by Stanley Kubrick

Tentang Apa?: Setelah sang istri yang bernama Alice (diperankan oleh Nicole Kidman) mengakui bahwa ia pernah berfantasi seksual dengan seorang pria yang pernah ia temui, seorang dokter bernama Bill (diperankan oleh Tom Cruise) secara tidak sengaja mendapati dirinya terjebak di dalam lingkaran pengkultusan seksualitas dan perzinahan.

Apa Yang Membingungkan?: Beberapa penggemar teori konspirasi mempunyai dugaan kuat bahwa sang sutradara ingin mengungkap tirai dari organisasi rahasia umum yang beranggotakan para elit dan pemegang kekuasaan penting (Illuminati, Freemason dll). Segala detail yang ada di dalam film ini sangat merujuk ke arah sana, mulai dari dekorasi mansion Ziegler yang dipenuhi simbol-simbol politeisme Mesir kuno hingga penamaan karakter yang seakan menjadikan film ini sebagai alegori dari sebuah konspirasi besar di akhir zaman. Belum lagi ditambah fakta bahwa sang sutradara, Stanley Kubrik, meninggal tepat lima hari setelah ia menyerahkan potongan terakhir dari film ini kepada distributor film. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa alur cerita film yang membingungkan ini seperti memberi kesan bahwa apa yang dialami Bill hanyalah sebuah manifestasi psikologi terhadap obsesinya akan eksplorasi dan kepuasan seksual. Sampai sekarang, belum ada teori yang memuaskan tentang misteri dari film yang sangat gamblang menggambarkan sebuah kegiatan masquerade orgy ini, namun film ini tetap menjadi sangat menarik untuk disimak karena, yah, Tom Cruise dan Nicole Kidman.

2. Primer (2004) directed by Shane Carruth

Tentang Apa?: Sekelompok pemuda yang bereksperimen untuk membuat sebuah mesin waktu sederhana.

Apa Yang Membingungkan?: Jika ada teman kalian yang baru menonton film ini sekali dan bilang bahwa dia mengerti tentang keseluruhan ceritanya, maka entah dia adalah seorang pembohong atau delusional. Akan sangat jelas bagi kalian setelah menonton lebih dari dua kali bahwa Primer bukanlah sebuah film yang bersifat naratif dan mampu dijelaskan secara mudah. Beberapa kritikus film bahkan mengibaratkan Primer seperti sebuah dokumentasi para ilmuwan gila tanpa ada eksposisi yang jelas dan kita sebagai penonton seakan-akan hanya menguping percakapan dan mengintip kejadian yang tidak kita mengerti maknanya, namun sangat menarik untuk disaksikan. Ada beberapa teori yang dibuat oleh penonton yang bisa diandalkan untuk membantu kalian memahami cerita. Film ini tidak akan memberikan kalian kepuasan sains fiksi yang dipaparkan dengan sederhana seperti teori wormhole di Interstellar, namun jelas akan membuat kalian menebak-nebak dan menonton film ini lebih dari sekali.

3. Cache (2005) directed by Michael Haneke

Tentang Apa?: Sebuah keluarga diteror oleh kiriman kaset misterius yang berisi rekaman-rekaman pengamatan yang diambil dari luar rumah mereka. Lama kelamaan, sang peneror semakin merambah ke permasalahan pribadi serta rahasia-rahasia kelam di masa lalu sang suami yang selama ini ia sembunyikan dari istrinya.

Apa Yang Membingungkan?: Film ini awalnya terlihat biasa saja dan mudah dicerna sampai pada akhirnya kita dikejutkan pada kenyataan bahwa film ini TIDAK mengungkapkan siapakah sang peneror tersebut di akhir film. Kita akan mulai menonton ulang dan membaca semua pertanda-pertanda kecil yang diberikan sang sutradara sampai akhirnya kita selesai menonton dan masih tidak mengerti. Roger Ebert, kritikus film ternama, bahkan membahas film ini lewat jurnal pribadinya. Beberapa penonton juga menyebutkan bahwa ada beberapa petunjuk kecil di tengah alur cerita dan SATU petunjuk besar di adegan terakhir film ini yang ditinggalkan oleh sang sutradara untuk kita menebak sendiri. Gue sudah mengetahui apa petunjuknya, dan gue pribadi merasa itu masih belum cukup kuat. Entah. Silahkan kalian tonton sendiri.

4. Donnie Darko (2001) directed by Richard Kelly

Tentang apa?: Seorang pemuda dengan permasalahan psikologis bernama Donnie Darko (diperankan oleh Jake Gyllenhaal) mengalami keanehan-keanehan beruntun dalam hidupnya, termasuk mesin jet pesawat yang jatuh tepat di atas atap rumahnya dan kemunculan sesosok kelinci raksasa bertopeng tengkorak yang selalu menghantuinya.

Apa Yang Membingungkan?: Mungkin tidak terhitung jumlahnya betapa banyak teori yang dibuat oleh para penonton terkait apa sebenarnya yang dialami oleh Donnie dan mengapa dia melakukan hal-hal gila di dalam film yang mengeksploitasi eksistensialisme ini. Tidak seperti Primer, film ini koheren secara naratif dan teknis, sehingga tidak membuat para penonton kesulitan untuk mengikuti film ini dari awal sampai akhir. Belum lagi keberadaan kakak beradik Jake & Maggie Gyllenhaal yang bisa membuat lelaki dan perempuan betah untuk tidak beranjak dari layar. Namun ending film yang sangat gelap dan misterius akan menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi dari awal. Website resmi film ini pun memberikan penjelasan yang cukup sederhana–walaupun nggak sederhana-sederhana amat–namun jika kalian melihat kolom komentar dan membaca teori-teori yang dikemukakan oleh penonton lain, kalian akan sadar bahwa kompleksitas detail Donnie Darko akan menjadikan film ini jauh lebih baik ditinggalkan begitu saja dengan membiarkan penonton menjelaskan sendiri maknanya.

5. Mulholland Drive (1999) directed by David Lynch

Tentang Apa?: Betty (diperankan oleh Naomi Watts), seorang gadis yang mengejar mimpinya untuk menjadi aktris Hollywood, harus menolong seorang gadis amnesia yang selamat dari kecelakaan tragis (diperankan oleh Laura Harring) untuk menemukan siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya.

Apa Yang Membingungkan?: David Lynch, The Maestro of Bizarre, membuka film ini dengan sekuens yang…yah, artistically bizarre! Sekumpulan pasangan berdansa jitterbug dengan latar belakang magenta dan kemunculan Betty serta dua orang tua bermimik absurd yang merangkulnya sambil tersenyum ke arah cahaya terik yang menyinari mereka. Lalu kemudian alur film berjalan dengan sederhana sampai pada Act 3 yang mengacaukan dugaan kita tentang apa yang sebenarnya film ini berusaha ceritakan. Beberapa film kritikus menyatakan bahwa Mulholland Drive adalah sebuah teka-teki yang menyampaikan pesan penting tentang kondisi industri film Hollywood dan para pekerja serta aktrisnya yang sedang dirundung kekacauan pada masa itu. Lagipula, bukan teka-teki namanya kalau tidak ada petunjuknya. Sebelum dan sesudah film ini rilis, David Lynch menyatakan bahwa dia tidak akan mengungkap apa makna sebenarnya dari Mulholland Drive bagi sang sutradara sendiri. Namun layaknya Donnie Darko, beberapa penonton–yang sungguh berdedikasi tinggi–mempublikasikan petunjuk-petunjuk di website resmi film ini yang bisa kita gunakan untuk memecahkan misteri di balik keanehan Mulholland Drive.

6. Memento (2000) directed by Christopher Nolan

Tentang Apa?: Leonard Shelby (diperankan oleh Guy Pearce), seorang pria yang menderita short-term memory loss, harus mencari siapa pembunuh istrinya dengan melakukan investigasi independen dan mentato setiap petunjuk yang ia temukan di tubuhnya agar ia tak pernah melupakannya.

Apa Yang Membingungkan?: Sebelum Inception dan The Dark Knight, Christopher Nolan telah lebih dahulu membuat Memento, sebuah thriller masterpiece dengan struktur cerita yang expensively unconventional dan ending yang membuat kepala kita seakan meledak-ledak dan butuh jawaban pasti tentang siapa yang membunuh istri Leonard. Kita dibuat merasa konyol oleh Christopher Nolan yang telah memasukkan kita ke dalam kepala Leonard dengan mempertanyakan di akhir film apakah Leonard benar-benar dapat dipercaya karena Teddy (diperankan oleh Joe Pantoliano) yang kita curigai dari awal pada akhirnya menjadi satu-satunya tokoh yang paling mampu kita percayai. Apakah Leonard yang ternyata membunuh istrinya sendiri? Apakah ada permainan manipulasi di antara Leonard, Teddy, serta seorang bartender bernama Natalie (diperankan oleh Carrie-Anne Moss) yang memiliki femme fatale gestures? Tidak ada jawaban yang tepat tentang hal ini dan tidak seperti Inception, Nolan tidak memberikan pernyataan apapun terkait hal ini.

Sebagai penutup, perlu gue peringatkan satu hal. Tidak direkomendasikan bagi kalian untuk membuka tautan yang gue masukkan di artikel ini terkait petunjuk dan penjelasan untuk setiap film, kecuali kalian sudah menonton film-film tersebut lebih dari dua kali dan masih benar-benar tidak mengerti. Tantangan itu mahal, namun lebih mahal lagi harga yang harus kita bayar jika kita menjadi orang yang gampang menyerah terhadap tantangan. Jadi selamat menonton dan selamat bersenang-senang!

9 Film Keluarga Yang Paling ‘Disturbing’ dan Menjijikkan

Disturbing films? Ah, sudah biasa. Bagaimana dengan disturbing films yang bertemakan keluarga? Pastinya kalian akan sangat tertarik untuk menontonnya, dan tentunya akan lebih sarat dengan pesan moral yang membahas tentang betapa berharganya keluarga. Namun jangan pula berharap bahwa film-film ini aman untuk ditonton bersama istri/suami ataupun anak-anak dan orang tua kalian, karena seperti yang sudah gue terangkan di judul, ini adalah daftar film-film disturbing. Selain konten ketelanjangan dan kesadisan yang sangat tidak layak konsumsi untuk anak-anak, premis tiap film serta beberapa scene paling gila di dalam daftar film yang akan gue sebutkan ini berisiko membuat orang-orang yang tidak kuat mental untuk mengalami trauma berkepanjangan.

Jadi, segera tutup laman ini jika anda termasuk orang-orang bermental lemah tersebut. Tontonlah film-film keluarga yang bisa membawa aura positif buat anda, seperti Home Alone, Petualangan Sherina, atau Keluarga Cemara. Namun jika anda memang orang yang senang mencari pengalaman berbeda dalam mengeksplorasi film  dan sedikit ‘gila’, maka bersiap-siaplah. Bukannya gue merendahkan, gue cuma mengingatkan saja, sebelum semuanya terlambat…

So…here it goes.

1. The Exorcist (1973) directed by William Friedkin

Film ini sudah didaulat oleh sebagian kritikus film sebagai film horror terbaik sepanjang masa. Berkisah tentang seorang ibu (Ellen Burstyn) yang meminta pertolongan kepada dua orang pendeta (Max von Sydow dan Lee J. Cobb) untuk mengeluarkan sosok jahat bernama ‘Pazuzu’ yang merasuki anak perempuannya (Linda Blair). Sepintas terlihat sederhana dan umum karena tema seperti ini memang sudah sering dibahas oleh film-film horor modern. Tapi percayalah, anda tidak akan mampu tidur semalaman setelah melihat sosok si anak gadis kecil lucu yang berubah setelah dirasuki Pazuzu.

The Most Disturbing Scene:

“In the name of Father, Son, and Holy Spirit, let Jesus f*ck you motherf*cker!!” Ujar sang anak sambil menusuk-nusukkan salib kayu ke kemaluannya sendiri.

2. Antichrist (2009) directed by Lars von Trier

Sutradara asal Denmark ini memang sudah dikenal piawai dalam mengeksploitasi depression dalam setiap film yang ia arahkan. Film ini pun mengusung tema depression dengan dinamika alur yang lambat dengan visual treatment yang indah namun sangat mengerikan seperti berniat untuk menyiksa kita pelan-pelan. Seorang istri (Charlotte Gainsborough) yang depresi karena kematian anaknya mencoba untuk menenangkan dirinya dengan pergi bersama suaminya yang juga seorang psikiater (Willem Dafoe) ke sebuah kabin di tengah hutan pinus dan menjalani terapi pribadi di sana. Di luar dugaan, duka nestapa yang diderita sang istri semakin menjadi-jadi sehingga sang istri pun melakukan hal-hal gila yang tidak hanya menyakiti suaminya, namun juga dirinya sendiri.

The Most Disturbing Scene:

Banyak yang bilang genital mutilation di akhir film adalah scene paling mengerikan yang pernah mereka tonton. Bagi saya yang seorang pria–dan tentunya para pria yang lain–yang paling membuat saya mengerutkan dahi adalah scene ‘genital annihilation’ dari sang istri kepada sang suami.

3. Bedevilled (2010) directed by Jang Cheol-soo

Harusnya film ini gue tempatkan di list film-film dengan ending paling menyebalkan, tetapi mengingat karena film ini dari awal sampai akhir sudah sangat menyebalkan, jadi gue masukkan saja dalam list ini. Seorang wanita bernama Kim Bok-nam (Seo Yeong-hi) menjadi objek kekerasan seksual, fisik, dan mental bagi para penduduk–ya, termasuk keluarga dan suaminya sendiri–di pulau terpencil yang bernama Moodoo. Tidak ada seorang pun yang memihak padanya, bahkan suami dan ibunya pun memperlakukannya lebih buruk daripada binatang. Kim beberapa kali mencoba untuk kabur dari pulau tersebut, namun selalu gagal karena–sekali lagi–tidak ada yang memihak kepadanya. Saudaranya yang bernama Hae-won (Ji Seong-won) yang datang berkunjung pun tidak kuasa untuk menolongnya karena dia tidak ingin ikut campur urusan seluruh penduduk yang sepertinya sudah bersepakat untuk tidak akan membiarkan Bok-nam melarikan diri dari pulau.

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya hampir semua scene penyiksaan Bok-nam di film ini sangat menyakitkan untuk ditonton, tapi sekadar highlights buat kalian, coba tonton scene yang satu ini.

4. Dogtooth (2009) directed by Yorgos Lanthimos

Home-schooling gone extreme. Bayangkan kalian sebagai seorang anak dikurung oleh orang tua kalian di dalam rumah dan tidak diperbolehkan untuk keluar sejak kalian dilahirkan sampai gigi depan kalian tanggal.  Kalian dididik sejak kecil oleh orang tua kalian sendiri dengan kebohongan-kebohongan dan bahkan diajari cara menggonggong seperti anjing seakan-akan hal tersebut merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Kalian diajarkan bahwa kata “Laut” berarti sebuah kursi beralaskan kulit yang diletakkan di dalam ruang keluarga. Televisi hanya digunakan untuk menonton video yang direkam sendiri oleh keluarga di dalam rumah. Belum cukup? Masih ada kegilaan-kegilaan lain yang ditunjukkan dalam film yang berbicara tentang konservatisme di dalam keluarga ini.

The Most Disturbing Scene:

Mari berdansa!!

5. Strange Circus (2003) directed by Sion Sono

Seorang ayah sengaja menyembunyikan anaknya (Masumi Miyazaki) di dalam kotak cello setiap kali sang ayah menyetubuhi sang ibu agar sang anak dapat melihat dengan jelas kenikmatan mereka berdua dari lubang kotak. Setelah selesai dengan sang ibu, sang ayah kemudian mengeluarkan anaknya dari dalam kotak Cello dan lanjut menyetubuhi anaknya yang masih berusia 7 tahun itu. Sudah cukup jelas seberapa disturbing film ini? Belum, yang membuat film ini akan sangat membekas dalam hidup kalian adalah betapa elegan dan artistiknya Sion Sono dalam mengemas kekejaman demi kekejaman yang disajikan. Bayangkan saja ketika Debussy, Liszt, dan Bach yang mengiringi adegan penyetubuhan ayah pada anak kecilnya di film ini membuat kalian mempertanyakan moralitas kalian sendiri karena kenyamanan dan keindahan yang tidak seharusnya yang kalian rasakan saat menontonnya.

The Most Disturbing Scene:

6. Eraserhead (1972) directed by David Lynch

Gue tidak bisa menemukan cara yang benar-benar pantas untuk bisa mendeskripsikan Feature-film debut dari sang art-house film auteur David Lynch ini bagaimana dan seperti apa. Begini deh, coba kalian bayangkan sendiri bagaimana bila seorang gadis yang kalian pernah pacari dulu ternyata hamil, kemudian kalian nikahi, lalu setelah melahirkan ternyata anaknya menyerupai kadal–atau alien, atau makhluk dampak radiasi Chernobyl, atau apalah–yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara-suara mengerikan dan memuntahkan cairan-cairan kental seperti limbah industri dari mulutnya. Belum, itu belum semuanya, bahkan mungkin hanya 5% dari keanehan-keanehan yang entah bagaimana dapat tercipta dari kepala seorang manusia seperti David Lynch. Lewat list ini, gue officially mendaulat film ini sebagai “THE MOST BIZARRE FILM EVER” karena secara harfiah gue belum pernah menonton film yang lebih aneh dari ini.

The Most Disturbing Scene:

Ketika Henry (John Nance), sang suami, mengalami sebuah mimpi yang mengubah hidupnya,

7. Moebius (2013) directed by Kim Ki-duk

Another South Korean film! Kalau kalian pernah menonton 3-Iron (2004) atau Spring, Summer, Fall, Winter and Spring (2003), film ini diarahkan oleh sutradara yang membuat kedua film tersebut. Kali ini, Kim Ki-duk membahas tentang disfungsi keluarga yang berakar dari kecemburuan dan seksualitas dengan pendekatan yang ekstrim. Seorang ibu (Eun-woo Lee) yang mengetahui perselingkuhan suaminya (Jae-hyeon Jo) pada suatu malam berencana untuk balas dendam dengan diam-diam memotong kemaluan suaminya saat sedang tertidur. Sang suami yang terbangun tiba-tiba menjadi marah dan mendorong serta memukul sang istri yang kemudian langsung beranjak pergi. Tidak menyerah sampai di situ, sang istri malah pergi ke kamar anaknya yang sedang tertidur dan memotong kemaluan anaknya (Young-ju Seo). Sang ayah yang merasa bersalah terhadap anaknya kemudian mulai mencari cara agar sang anak bisa tetap mendapatkan kepuasan seksual tanpa harus mengandalkan kemaluannya. Film ini sakit, namun lucu dan mengerikan secara bersamaan oleh adegan potong memotong penis yang lumayan banyak dan juga adegan pelampiasan seksual algolagnia dengan menusukkan pisau pada pundak dan kemudian menggoyangkannya sambil mendesah nikmat. Kelebihan dari film ini adalah kita tetap mampu merasakan kehangatan dan intensitas serta kerenggangan hubungan antar karakter walaupun tanpa ada dialog dan komunikasi verbal maupun musical scoring sepanjang film berlangsung.

The Most Disturbing Scene:

Ada satu adegan di mana kekasih (yang lucunya diperankan oleh orang yang sama dengan yang memerankan sang ibu, Eun-woo Lee) dari sang anak berkomplot mencarikan sang anak penis baru untuk disambungkan lewat operasi. Sang kekasih merayu seseorang yang dulu pernah memperkosanya, lalu saat pemerkosa itu lengah, sang kekasih memotong kemaluannya, lalu sang anak mengambil kemaluan itu dan berlari ke tengah jalan. Sang pemerkosa yang panik mencoba bangkit lagi dan mengejar sang anak, dan dari sini lah kegilaan dimulai.

8. Visitor Q (2001) directed by Takashi Miike

Dari semua film yang ada di list ini, film besutan sutradara Crows Zero (2007) ini adalah yang paling lucu dan menggelikan, meskipun tetap menjijikkan dan sinting. Bercerita tentang disfungsi sebuah keluarga di mana sang anak perempuan (Fujiko) melacur pada ayahnya sendiri (Ken’Ichi Endo) yang pecundang dan sang anak laki-laki (Jun Muto) berumur belasan tahun yang tega memukuli ibunya sendiri (Shungiku Uchida) yang lemah dengan penggebuk kasur, seorang pria misterius (Kazushi Watanabe) memasuki keluarga tersebut dan menciptakan keseimbangan yang harmonis dengan kelakuannya yang sembarangan. Meskipun terlihat sangat tolol dan di luar batas, namun film ini berbicara sangat banyak tentang kehangatan sebuah keluarga yang harus dijaga dengan baik. Premis film ini memaparkan dengan baik apa yang Harper Lee tulis di To Kill a Mockingbird, “You can choose your friend, but you can’t choose your family, and they’re still kin to you no matter whether you acknowledge ’em or not, and it makes you look right silly when you don’t.”

The Most Disturbing Scene:

Sebenarnya ada scene yang lebih disturbing di mana sang ayah memperkosa mayat rekan kerjanya yang ia bunuh dan tiba-tiba seluruh isi perut mayat (iya, tai) keluar dan mengotori tangan sang ayah. Tapi coba kalian lihat dulu adegan breast-milking ini dan silahkan kalian nilai sendiri.

9. A Serbian Film (2010) directed by Srdjan Spasojevic

Terkenal oleh kontroversi kesadisan yang jauh melebihi batas wajar dan telah dilarang untuk tayang oleh banyak negara, film ini telah diakui sebagai film yang paling sinting dan ekstrim yang pernah dibuat. Seorang bintang film porno bernama Milos (Srdjan Todorovic) yang telah pensiun tiba-tiba mendapatkan tawaran kembali untuk bermain di pangsa pasar elit di Serbia dengan bayaran tinggi yang bisa menjamin kemakmuran hidup istri (Jelena Gavrilovic) dan anaknya (Slobodan Bestic). Milos tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan sampai pada akhirnya ia mengetahui bahwa ia harus terlibat dalam pembuatan film porno tersadis yang melibatkan kematian. Gue sudah pernah menonton The Human Centipede I dan II dan itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan film yang menyajikan seorang gadis yang kepalanya dipenggal oleh si pemerkosa saat sedang disetubuhi ini. Terlebih, film ini menyajikan ending yang tragis dan nihilis. Tidak ada alasan untuk kalian menonton film ini kecuali kalian memang ingin menantang diri kalian sendiri, dan jangan salahkan gue kalau kalian nggak kuat menonton sampai selesai. Kalian sudah diperingatkan.

The Most Disturbing Scene:

“NEWBORN RAPE! NEWBORN RAPE!” Scene yang membuat gue langsung mandi wajib setelah selesai menonton.

9 Tokoh Anti-Hero Modern Terfavorit dalam Film

Akui saja, kita tahu bahwa kita mulai dewasa ketika kita menganggap ‘anti-heroes’ itu seksi dan layak dicintai. Mereka adalah representasi dari betapa lemah dan tidak berdayanya kita dalam mencoba untuk merangkak naik menuju puncak tertinggi dari pandangan idealis kita terhadap kesempurnaan. Di mata kita yang sudah terbiasa mencicipi pahitnya realita, ‘anti-heroes’ layaknya malaikat yang jatuh ke Bumi dan menjelma menjadi berbagai macam wujud: pecundang yang baik hati, penjahat yang menyedihkan, ataupun seorang idealis humanis yang tolol. Dalam kebudayaan film modern, ada beberapa tokoh ‘anti-hero’ yang patut kita simak dan perhatikan bagaimana mereka mampu merefleksikan diri kita dalam kehidupan nyata.

1. Riggan Thomson – Birdman (2014)


Why?: Impian paling sederhana dari seorang pecundang adalah untuk tidak dianggap sebagai pecundang. Sesederhana itu, dan Michael Keaton berhasil memerankan seorang Riggan Thomson yang ingin lepas dari bayang-bayang masa lalunya sebagai maskot superhero komersil anak-anak dan ingin membuktikan bahwa sebagai individu ia memiliki talenta seni yang pantas untuk diakui, dan seperti layaknya seorang ‘anti-hero’, he overestimated himself too much.

2. Andrew Neiman – Whiplash (2014)


Why?: Siapa yang tidak jatuh cinta dengan anak muda menyedihkan dengan idealisme dan ambisi buta untuk menjadi musisi legendaris? Siapa yang tidak merasa simpati ketika dia harus berhadapan dengan guru brutal yang kejam dan bengis demi mencapai mimpinya? Terlebih lagi, siapa yang tidak terpesona melihat pemuda ini merangkak keluar dari mobil dan berlari memaksakan diri bermain drum di panggung audisi dengan darah yang masih berceceran di sekujur tubuhnya?

3. Frank & Roxy – God Bless America (2012)

Why?: Mereka berdua sama-sama membenci apa yang kita benci. Pembodohan publik, disfungsi sosial, dan kefanatikan. Mereka merupakan perwakilan dari imajinasi terliar kita dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut: “Bunuh-bunuhin aja sampai semua sumber masalahnya mati, kan kelar tuh”. Kita tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan salah. Tapi kita mampu memaklumi mereka dan pada akhirnya ikut bersimpati terhadap miringnya jalan pikiran mereka dan konsekuensi yang harus mereka hadapi di akhir cerita.

4. Yu Honda – Love Exposure (2007)

Why?: Pada saat diwawancarai di acara BAFTA: A Life in Pictures, David Fincher, salah satu sutradara ternama Hollywood, mengatakan bahwa “Basically, people are perverts.” Inilah kenapa gue memasukkan Yu sebagai salah satu anti-hero terfavorit, karena dia mampu menunjukkan betapa mesumnya kita, terutama para pria, dan bagaimana kebodohannya membuat dia melakukan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan, seperti mengabdi di perguruan mesum dan menjadi seorang maestro dalam memotret celana dalam wanita. Lagi-lagi kita akan merasa ikutan malu dibuatnya.

5. Mark Zuckerberg – The Social Network (2010)

Why?: Terlepas dari akurat atau tidaknya penggambaran sang inventor Facebook dalam film garapan David Fincher ini, Jesse Eisenberg mampu menjadi karakter nerd yang mampu membuat pecundang asmara dan sosial seperti kita merasa simpatik dan terhubung satu sama lain. Gue pribadi sih, jadi merasa bersyukur mengetahui bahwa gue nggak sendirian, dan orang-orang sehebat Mark ternyata mampu membuat sebuah alternatif yang (nyaris) sempurna terhadap pergaulan dan jejaring sosial yang tradisional. Coba deh, sebelum ada Facebook, para nerd cuma berani show-off dan curhat tentang dirinya di dalam diary, bukan di status updates.

6. Sonny Wortzik – Dog Day Afternoon (1975)

Why?: Dia adalah tipe penjahat yang sebenarnya bukan orang jahat dan nggak bisa jadi jahat. Pada awal perampokan bank, semua berjalan dengan menegangkan sampai suatu ketika Sonny bilang “I’m a Catholic. I don’t want to hurt anybody.” Kemudian semua akan berubah menjadi sangat menyenangkan saat kita tahu bahwa penjahat konyol yang diperankan oleh Al Pacino ini merampok bank untuk membiayai operasi transgender pacarnya.

7. Neville Longbottom & Severus Snape – Harry Potter Series (2001 – 2012)


Why?: Alright, alright. Calm down, Muggles, I’m on your side! Gue mengalami perkembangan pola pikir dan beranjak dewasa bersama Harry Potter series. Selain trio wizards yang menjadi tokoh utama, kedua orang ini adalah penyihir-penyihir yang ada di belakang Harry dan ikhlas serta setia melindunginya. Neville Longbottom, dengan karakternya yang pada awalnya introvert dan penakut, ternyata berani menolak untuk tunduk pada kekuasaan tertinggi kegelapan Lord Voldemort dan dia pula yang menggotong mayat Harry sambil berpidato di depan kubu Voldemort dan Hogwarts bahwa “Harry Potter akan selalu hidup di dalam hati kita!” Dan si malang Severus Snape? Dia adalah simbol dari lelaki lemah yang memilih untuk tetap setia pada cinta terakhirnya yang tak akan pernah berbalas. Severus Snape adalah kita. Hidup Severus Snape!

8. Tyler Durden – Fight Club (1999)

Why?: Di dalam bukunya yang berjudul “Stranger than Fiction”, Chuck Palahniuk, yang juga menulis novel Fight Club yang akhirnya diadaptasi menjadi sebuah film oleh David Fincher ini memberikan penjelasan bahwa semua cerita yang ia tulis berkisah tentang orang-orang yang mencari cara-cara unik untuk berinteraksi dengan kehidupan sosialnya. Inilah yang sebenarnya berusaha diceritakan oleh Fight Club. Kebanyakan orang lebih terfokus pada permasalahan psikologi yang dialami Tyler dan narator, tapi mereka lupa bahwa film ini banyak membuat perumpamaan terhadap manusia-manusia yang membenci dirinya sendiri dan lebih memilih untuk tenggelam dan hilang dalam identitas palsu yang mereka buat demi sebuah penerimaan.

9. Travis Bickle – Taxi Driver (1976)

Why?: Ngga perlu nanya kenapa sih kalau kalian udah nonton salah satu masterpiece dari Martin Scorsese ini. Travis Bickle adalah icon modern dari Sisyphus. Dia adalah produk dari sebuah pemikiran eksistensialisme manusia-manusia kesepian dan bodoh yang ingin mengejar sebuah konsep kesempurnaan dari idealisme mereka. Travis tahu apa yang dia inginkan, dan dia tahu itu semua tidak akan jatuh tiba-tiba di atas tempat tidurnya, jadi ia terus berusaha, meskipun lama kelamaan dia hanya terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Lagipula, bukankah kita juga seperti itu?

Long live Anti-Heroes!

Honorable Mention:

Frank Darbo – Super (2009), Dave Lizewski – KickAss (2010), Mike & Mallory – Natural Born Killers (1994), Vincent & Jules – Pulp Fiction (1994).

7 Film dengan Ending yang Paling Menyebalkan

Beberapa dari kita secara umum menyukai akhir cerita bahagia layaknya dongeng-dongeng Disney ataupun film-film action Blockbuster Hollywood yang menonjolkan tokoh utama dengan kekuatan istimewa yang mampu menyelamatkan dunia. Beberapa juga tergila-gila pada ending menyedihkan yang mampu membuat mereka berlinangan air mata dan mengibakan kondisi tokoh utama yang lemah dan tak berdaya menghadapi permasalahan mereka di akhir cerita (baca juga “7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Kalian Dengar”). Namun, ada pula dari kita yang secara unik memiliki ketertarikan terhadap ending film yang bukan hanya mampu membuat kita merasa depresi, namun juga terkejut dan bahkan murka semurka-murkanya terhadap akhir cerita yang berlawanan jauh dengan apa yang kita harapkan sebelumnya. Untuk kalian yang kecanduan terhadap siksaan mental tersebut, berikut akan gue berikan rekomendasi 7 film dengan ending menyebalkan yang bisa bikin kalian melemparkan barang apapun yang ada di dekat kalian secara liar di akhir film.

1. Sightseers (2013) – Directed by Ben Wheatley.

Film ini diawali dengan sangat romantis. Dua orang yang sudah saling bertunangan, Tina (Alice Lowe) dan Chris (Steve Oram) memutuskan untuk mengadakan ‘road trip’ dengan sebuah mini van meskipun ibu dari pihak wanita (Eileen Davis) tidak merestui hubungan mereka. Film berjalan dengan sangat manis sampai akhirnya mini van yang mereka kendarai melindas seorang pria gemuk sampai mati di parkiran mini market. Kita akan dibawa menuju sebuah praduga kuat terhadap kondisi kejiwaan Chris yang ternyata memang seorang idealis psikopat cerdik yang tidak bisa mengontrol dirinya untuk membunuh orang-orang yang mengganggunya selama perjalanan bersama Tina, yang perlahan-lahan terpengaruh oleh cara berfikir Chris yang telah membuatnya merasa nyaman dan klik dengan caranya yang memperlakukan Tina dengan sangat baik. Film dengan tone yang cukup gelap ini mampu membuat kita kebingungan dengan absensi moralitas dan pembenaran psikopasi dengan alasan idealisme dan cinta yang cukup mendominasi dari Chris dan Tina. Endingnya juga cukup manis. Mereka berlarian di tengah padang rumput setelah membakar mini van mereka yang telah menjadi barang bukti pembunuhan dan berjalan menuju sebuah tebing curam untuk bunuh diri bersama sambil bergandengan tangan dengan diiringi lagu “The Power of Love” dari Frankie Goes to Hollywood sampai pada akhirnya…WHAT!!??

After-Ending Reaction:

2. Oldboy (2003) – Directed by Park Chan-Wook

Gue ngga menyarankan kalian untuk menonton versi Hollywood remake-nya karena hasilnya sangat mengecewakan. Film yang disutradari oleh maestro revenge-thriller yang sudah diakui kritikus dan pembuat film di seluruh dunia ini bercerita tentang seorang pria bernama Oh Dae-su (Choi Min-sik) yang melakukan pembalasan dendam setelah 12 tahun disekap di dalam sebuah penjara dan disiksa secara mental oleh seseorang yang tidak ia ketahui siapa. Dengan segala petunjuk dan ilmu yang ia pelajari serta keahlian bela diri yang ia asah selama penyekapan, ia melalui perjalanan misterius, menegangkan, dan gila (terutama scene yang melibatkan sushi dan gurita) ditemani seorang wanita lucu yang submisif bernama Mi-do (Kang Hye-jeong). Film yang juga mahsyur karena salah satu adegan perkelahian yang terjadi di lorong sempit ini mempunyai twist ending luar biasa cerdas sekaligus mengejutkan. Bagi mereka orang-orang yang terpilih mungkin akan berpikir bahwa Oldboy bukan hanya film thriller dengan ending yang tidak terduga, tapi juga sekaligus film tragedi tentang ayah dan anak yang sangat menyedihkan.

After-Ending Reaction:

3. Funny Games (1997) – Directed by Michael Haneke

Hollywood pernah meremake film ini pada tahun 2007 dengan bintang utama Naomi Watts, Michael Pitt, dan Tim Roth. Terserah kalian mau nonton yang mana, karena kedua versi sama-sama disutradarai oleh Michael Haneke yang memang ahli dalam meramu sifat ketidakpuasan dan keterasingan dalam pribadi tiap karakter yang ia ciptakan. Film yang cenderung sadis dan brutal secara psikologis ini bercerita tentang dua orang pemuda berpakaian seragam golf yang menawan satu keluarga di dalam rumah mereka sendiri. Sederhana, memang, namun kekonyolan tingkah laku kedua pemuda yang sangat tenang seperti sedang bermain-main dengan kekejaman mereka tersebut sanggup untuk menimbulkan amarah yang luar biasa bagi para penonton bahkan kepada mereka yang sudah terbiasa dengan film-film slasher sekali pun. Sebenarnya hal paling menyebalkan di film ini bukan pada endingnya, tapi lebih tepatnya pada adegan ‘Remote Control’ sebelum ending–yang sebelumnya kita harapkan berakhir bahagia–terjadi. Bukan hanya karena menarik ulur emosi kita, namun juga karena terkesan sangat tidak logis, memaksakan, dan juga tidak memberikan moral content apapun pada keseluruhan cerita ini. Tapi menurut gue disitulah letak keunikan dan keistimewaan film yang hanya terfokus di satu latar ini. Funny Games hanya ingin bermain-main dengan reaksi lucu kalian saat menontonnya sampai akhir.

After-Ending Reaction:

4. Eden Lake (2008) – Directed by James Watkins

Tema yang diangkat oleh film slasher dari Britania Raya ini kali ini adalah kenakalan remaja. Bullying? Hmm…bisa jadi, kalau kalian menganggap sekumpulan anak (super) nakal yang meneror pasangan orang dewasa yang sedang berlibur di pinggir danau itu juga jenis ‘bullying’. Tidak seperti film slasher pada umumnya yang menjadikan remaja-remaja nakal sebagai korban dari psikopat misterius yang mengincar mereka untuk dibunuh satu persatu, Eden Lake malah menjadikan mereka sebagai pelaku utama pembunuhan dan penyiksaan pasangan dewasa yang sedang melakukan piknik romantis. Bayangin aja, pria semacho dan seganteng Steve (Michael Fassbender) bakal diacak-acak sampai menangis seperti bayi oleh para remaja super nakal berwajah super menyebalkan ini. Sang perempuan, Jenny (Kelly Reilly), seperti biasanya film slasher, adalah yang paling mampu bertahan sampai 10 menit sebelum ending film yang bakal meledak-ledakkan emosi kalian. Yah, setidaknya, kalian akan berjanji untuk menjadi orang tua yang baik dan tegas pada anak-anak kalian kelak di masa depan setelah selesai menonton film ini dan selesai bergulat dengan percikan api amarah yang masih akan menyala-nyala seterusnya.

After-Ending Reaction:

5. Prisoners (2013) – Directed by Denis Villeneuve

Dibintangi oleh dua punggawa Blockbuster Hollywood, Jake Gyllenhaal dan Hugh Jackman, film ini adalah sebuah crime-thriller emosional yang mungkin terlewatkan oleh kalian di tahun 2013 kemarin karena rilis pada musim panas di mana Iron Man 3, Star Trek: Into Darkness, dan Fast 6 lebih merajai singgasana bioskop dunia. Cerita berfokus pada Keller, yang kehilangan anak dan teman anaknya secara misterius pada saat sedang merayakan hari Natal bersama keluarga. Beberapa hari kemudian, Detektif Loki (Jake Gyllenhaal–iya, bukan Tom Hiddleston) menangkap Alex Jones (Paul Dano) yang terduga sebagai penculik anak-anak tersebut. Dikarenakan tidak cukupnya bukti, kepolisian melepas Alex dan memulangkannya ke rumah. Kecewa dengan lemahnya kepolisian serta dikendalikan oleh amarah buta, Keller menculik Alex dan menyekap serta memukuli sambil terus menginterogasinya secara paksa di dalam toilet rumahnya sendiri. Detektif Loki, yang mencurigai kelakuan Keller serta hilangnya Alex, mulai melakukan investigasi lanjutan hingga pada akhirnya menemukan fakta demi fakta yang mengungkap siapa pelaku sebenarnya di balik penculikan tersebut dan di mana anak-anak itu disembunyikan. Lagi-lagi, endingnya secara cerdik mempermainkan psikologi kita layaknya seorang gebetan yang suka menarik ulur emosi kita kemudian mencampakkan kita begitu saja. Anak-anaknya berhasil ditemukan, memang, walaupun dalam kondisi yang buruk. Tapi bukan itu masalahnya, karena ada hal lain yang akan bikin kalian geregetan dan mengutuk sutradara film ini “Kurang Ajar” sebagaimana kita mengutuk gebetan yang telah meninggalkan kita.

After-Ending Reaction:

6. Triangle (2009) – Directed by Christopher Smith

Satu lagi film menyebalkan yang berasal dari Britania Raya. Bagi kalian pecinta teori konspirasi, film ini akan memuaskan hasrat fantasi kalian tentang apa saja yang akan terjadi ketika perahu kalian melintasi kawasan Segitiga Bermuda dan terjebak di dalam sebuah badai. Saat Jess (Melissa George) dan teman-temannya mengalami hal tersebut, mereka menemukan sebuah kapal penumpang besar yang kosong dan mereka naik ke atasnya mencoba untuk mencari pertolongan. Namun tiba-tiba seseorang dengan topeng dan jaket hitam memburu mereka satu persatu sambil menembaki mereka dengan shotgun. Tidak ada yang tersisa kecuali Jess, yang semakin berusaha untuk keluar dari kapal, malah menemukan keganjilan demi keganjilan yang berujung pada sebuah fakta mengerikan yang harus Jess alami seumur hidupnya. Terlalu banyak spoiler yang ngga bisa gue ceritakan di sini yang kalian akan paham kenapa jika kalian sudah selesai menonton film yang secara absurd mengerikan ini.

After-Ending Reaction:

7. The Mist (2007) – Directed by Frank Darabont

HERE COMES THE KING! *pun intended* Oke, sejauh ini dari enam film yang gue share di atas, film ini yang paling memenuhi syarat untuk dinobatkan sebagai film dengan ending paling menyebalkan yang pernah ada. Diangkat dari novel Stephen King berjudul sama, film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang tiba-tiba diselimuti kabut yang sangat tebal di mana terdapat monster besar dengan tentakel yang misterius yang akan membunuh siapapun yang ada di luar ruangan. Beberapa penduduk kota yang tersisa mencoba untuk bertahan dan berlindung di dalam sebuah supermarket. Perbedaan kepercayaan, sifat, serta kepentingan menimbulkan konflik yang tidak bisa dihindari sehingga beberapa harus mencoba keluar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagi-lagi, seperti apa yang pernah gue lakukan pada Requiem for a Dream di artikel sebelumnya, gue harus memperingatkan kalian bahwa ending film ini bukan buat orang-orang berhati lemah. Gue ngga akan bertanggung jawab atas reaksi ekstrim kalian setelah menyaksikan akhir film yang menurut gue bahkan kelewat batas untuk bisa dibilang sebagai menyebalkan.

After-Ending Reaction:

Honorable Mention:

Arlington Road (1999), Audition (1999), The Descent (2005), 500 Days of Summer (2009)

6 Film untuk Ditonton Bersama Keluarga di Bulan Ramadhan

Marhaban yaa Ramadhan!

Di bulan yang penuh berkah ini, memang sangat benar jika ustadz/ustadzah bilang semua umat Muslim harus berlomba-lomba dalam kebaikan demi terbukanya pintu taubat dan pahala yang berlipat ganda. Namun tidak ada salahnya bila sesudah selesai melaksanakan ibadah, kita berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga tercinta sambil menonton film-film yang dapat meningkatkan pemahaman kita terhadap kasih sayang antar sesama manusia dan juga pada Tuhan YME. Nah, berikut ini gue punya beberapa rekomendasi film yang bisa kita tonton bersama keluarga baik sambil menunggu berbuka puasa atau sesudah sholat tarawih.

1. A Separation (2011) – Directed by Asghar Farhadi

Film asal Iran yang pernah memenangkan berbagai macam penghargaan termasuk Best Foreign Film of The Year (Oscar 2012) dan Best Foreign Language Film (Golden Globe 2012) ini bercerita tentang perceraian dan berbagai dampak buruk yang bisa ditimbulkan. Hal yang unik dari film ini adalah kita tidak akan digiring pada siapa atau apa yang salah dan benar. Asghar Farhadi dengan sangat brilian menciptakan karakter-karakter yang mampu menarik simpati penonton sehingga kita hanya akan fokus men-judge permasalahan yang mereka hadapi, dampak yang ditimbulkan, dan bagaimana cara menyelesaikannya. Film ini sangat baik untuk ditonton bukan hanya bagi anak, tapi juga bagi para orang tua agar tercipta keharmonisan di dalam keluarga yang dilandasi oleh kepercayaan, kasih sayang. dan pengertian.

2. Turtles Can Fly (2004) – Directed by Bahman Ghobadi

Secara personal, film ini adalah salah satu film anti-war yang paling saya sukai setelah Grave of The Fireflies (Baca Juga: 7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Kalian Dengar). Di sebuah tenda pengungsian Kurdi di perbatasan Irak-Turki, seorang bocah bernama Satellite yang terobsesi dengan teknologi dan bisa berbahasa Inggris memimpin sekawanan teman-temannya untuk mengumpulkan ranjau-ranjau yang bertebaran dan mengumpulkannya untuk kemudian dijual ke pasar agar dia bisa memasang antenna dan mempelajari serangan-serangan US berikutnya lewat gelombang radio Fox News yang ia peroleh. Dengan sederhana, film ini mampu menjelaskan tentang dampak dari konflik US – Iraq tanpa harus menjual sentiment negatif lewat isu-isu konspirasi ataupun propaganda anti-semit yang memojokkan satu pihak. Layaknya sebuah film yang dinilai baik bagi kritikus maupun sineas, film ini lebih menonjolkan drama kemanusiaan dan derita yang realis dengan tidak mengabaikan humor sebagai penyejuk layaknya oasis di padang pasir.

3. PK (2014) – Directed by Rajkumar Hirani

Oke, untuk film yang satu ini, mungkin orang tua kalian akan sedikit bawel karena ada satu adegan kissing di awal film dan beberapa referensi seksual yang agak tabu namun lepas dari ketelanjangan dan eksposisi hubungan intim—emm, Aamir Khan sedikit telanjang di awal film dan banyak adegan ‘mobil goyang’ meskipun tidak menunjukkan dengan jelas ‘kenapa bergoyang’. Belum lagi Anushka Sharma ini wajahnya bisa bikin puasa setiap laki-laki berkurang pahalanya (cantik banget broh). Tapi terlepas dari itu semua, PK merupakan sebuah film yang wajib tonton untuk setiap dari kalian yang mengaku masih menjadi seorang penganut agama. Meskipun pada akhirnya film ini sedikit judgmental dengan menunjukkan apa yang salah dan benar—walaupun sebagai manusia gue yakin kita bisa setuju dengan apa yang film ini katakan ‘salah’ dan ‘benar’—Rajkumar Hirani dan Aamir Khan mampu menyederhanakan sebuah persoalan pelik tentang perbedaan dan konflik antar-agama dengan gaya bercerita dan humor rasional jenius khas 3 Idiots. Film ini tentu saja tidak bebas dari kritik para pemuka agama yang menilai bahwa PK mengesampingkan tradisi-tradisi keagamaan sebagai sesuatu yang irasional dan terlihat ‘non-sense’, namun tidak dapat diragukan bahwa PK membawa perspektif baru tentang perdamaian yang mampu berjalan harmonis di dalam segala macam perbedaan.

4. Wadjda (2012) – Directed by Haifaa Al-Mansour

Agak mengejutkan untuk mengetahui bahwa film yang sangat inspiratif ini berasal dari Arab Saudi, sebuah negeri yang hanya memiliki satu bioskop di daerah Khobar dan memiliki industri film yang kecil dan relatif kurang produktif. Lebih mengejutkan (dan membanggakan) lagi bahwa sutradara dan penulis film ini adalah seorang perempuan, ya, di sebuah negeri di mana adalah tabu bagi seorang perempuan bahkan untuk bekerja. Diceritakan seorang anak perempuan bernama Wadjda yang sangat periang di lingkungannya yang konservatif berlatih keras untuk memenangkan sebuah lomba Murottal Qur’an demi hadiah uang tunai yang akan ia gunakan untuk membeli sepeda berwarna hijau dan mengalahkan temannya, Abdullah, dalam permainan balap sepeda. Film ini menyajikan sebuah pandangan baru terhadap kompleksitas budaya konservatif yang masih memandang tabu agresivitas dan progresivitas wanita lewat sebuah cerita yang sangat sederhana dan dengan karakter yang mampu menyentuh perasaan kita di titik nadir agar kita mampu memikirkan kembali konsep keagamaan yang sebenarnya tidak bisa lepas dari peran wanita sebagai manusia yang ingin berkembang.

5. Children of Heaven (1997) – Directed by Majid Majidi

Anak-anak yang lahir di jaman 90-an awal pasti pernah nonton film ini berkali-kali di stasiun TV swasta dulu. Biasanya film ini ditayangkan pas awal-awal libur Hari Raya Idul Fitri sekitaran tahun 2009 – 2011. Lagi-lagi cerita yang sangat sederhana, tentang seorang anak bernama Ali yang tidak sengaja menghilangkan sepatu milik adiknya, Zahra. Didorong rasa tanggung jawab dan ketakutan akan dimarahi orang tua mereka, Ali dan Zahra bersepakat untuk tidak memberitahu orang tua mereka tentang hal ini dan membuat perundingan tentang bagaimana Zahra akan memakai sepatu ke sekolah serta bagaimana Ali akan menemukan, atau pada akhirnya mengganti sepatu Zahra dengan yang baru. Tidak ada yang terlalu rumit dalam film ini hingga semua orang dari semua kalangan dapat menikmati dan menyerap pesan positif dari film keluarga tentang kakak beradik yang menghangatkan jiwa ini. Oh ya, yang jadi Zahra ucu anet loh :3

6. Life is Beautiful (1997) – Directed by Roberto Benigni

“Tom, kok dari tadi rata-rata filmnya dari Middle-East semua sih?” Iya deh, iya. Film yang terakhir ini datang dari negerinya Don Vito Corleone, yaitu Italia. Gue memasukkan satu film special dari luar tanah Timur Tengah karena film ini menyampaikan satu pesan yang sangat penting demi melawan pemikiran-pemikiran konservatif radikal yang mengabsolutkan kelicikan dan kejahatan semua orang Yahudi (bahkan ada beberapa ajaran yang membenarkan holocaust). Dikisahkan pada saat pendudukan Italia oleh Jerman pada zaman Perang Dunia ke-II, seorang pria Yahudi bernama Guido dengan selera humor dan kemahiran berceritanya harus membawa anaknya pada sebuah dunia imajinatif di mana Holocaust hanyalah sebuah permainan belaka demi menyelamatkan anaknya dari kamp konsentrasi Jerman. Roberto Benigni mampu menyajikan sebuah tragedi dramatis lewat penuturan yang humoris dan riang sehingga membuat kita kebingungan di akhir film apakah kita sebenarnya sedih atau malah merasa terhibur. Overall, seperti yang tadi gue bilang, film ini akan mematahkan konsep ‘kelicikan Yahudi’ sehingga kita para penganut agama lain akan mampu hidup berdampingan tanpa pretensi dan prasangka buruk serta menyadari bahwa iman yang baik adalah iman yang mampu berdiri tanpa harus dipengaruhi oleh unsur ‘common enemy’ terhadap agama lain.

Honorable Mention : The Color of Paradise (1999), About Elly (2009), The White Balloon (1995).

7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar

Kalian menangis ketika menonton kisah cinta tujuh menit pada awal film Up? Atau mungkin kalian juga ikut merasa simpati saat Wall-E masuk ke dalam pesawat luar angkasa dan mengelilingi seluruh galaksi hanya untuk bertemu dengan Eve? Harus gue akuin, itu emang momen-momen yang bisa bikin manusia paling perkasa di dunia langsung klemar-klemer nyariin tisu buat ngelap pipinya. Tapi kalau kalian memang senang menyiksa diri kalian dengan kesedihan-kesedihan semacam itu, berikut akan gue list beberapa film penguras air mata yang mungkin jarang kalian dengar, namun harus kalian tonton.

1. Detachment (2012)

Di film ini, Adrien Brody menjadi Henry, seorang guru pengganti yang ditempatkan di sebuah sekolah di mana murid-muridnya sudah tidak menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang penting buat mereka dan bahkan berani untuk meneriaki dan melempari guru mereka. Kita akan dibawa menuju sebuah kota di mana setiap jiwa penduduknya hancur berantakan dan sistem sosial sudah tidak mampu lagi berfungsi dengan baik. Lambat laun, dengan ketabahan dan cara mengajarnya yang tidak biasa, Henry mampu menjadi teladan bagi mereka dalam berempati. Namun sayangnya, tidak ada yang mampu untuk menyelamatkan manusia-manusia tersebut dari depresi dan kebencian mereka terhadap diri mereka sendiri. Banyak kritikus yang menulis ulasan buruk tentang film ini karena pesan yang disampaikan di akhir film cenderung nihilis dan depresif sehingga tidak memberikan solusi yang baik untuk permasalahan psikososial yang dibicarakan. Namun menurut gue malah ending yang seperti itu cukup mampu untuk memberi gambaran nyata dan menggugah masyarakat untuk sadar terhadap bahaya apati dan racun sosial lainnya sehingga kita bisa memperlakukan satu sama lain agar lebih baik lagi. Humans do have conscience, after all.

After Taste:

2. Short Term 12 (2013)

Secara sederhana, film ini menceritakan sebuah hubungan batin antara seorang pengasuh yang memiliki kondisi emosional rapuh dengan anak-anak di panti asuhannya. Atmosfernya mungkin kurang lebih sama seperti Detachment (2012), namun film ini lebih banyak berbicara soal keterasingan, pengabaian, dan kekerasan terhadap anak di bawah umur. Para calon orang tua layaknya wajib untuk menonton film ini agar mereka bisa melihat secara lebih dekat apa akibatnya bila mereka terlalu sering mengabaikan, melarang-larang, dan melakukan kekerasan baik fisik maupun emosional terhadap anak mereka. Oh, kalian bakal pecah saat Marcus menyanyikan lagu ciptaannya sendiri dan saat Jayden membacakan sebuah cerita yang ia tulis sendiri. Dunia kita sudah berantakan, kawan.

After Taste:

3. Silenced/Crucible (2007)

Di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Korea di mana murid-muridnya diperkosa dan disodomi oleh seluruh pihak sekolah, seorang guru bernama In Hoo (diperankan oleh Gong Yoo) harus memperjuangkan hak dari anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan melawan pihak sekolah yang menutup-nutupi kasus tersebut meskipun itu artinya dia harus melawan raksasa yang dilindungi oleh kejaksaan dan kepolisian yang korup. Lihat betapa tersiksanya anak-anak di sekolah tersebut, maka kalian akan tahu kenapa gue masukin film ini ke dalam list.

After Taste:

4. Grave of The Fireflies/Hotaru No Haka (1988)

Diceritakan sepasang kakak beradik bernama Seita dan Setsuko harus bertahan hidup setelah ditinggal mati ibunya dan ditinggal perang oleh ayahnya di masa Perang Dunia II. Seita yang tidak sudi diasuh oleh bibinya yang terlalu keras memilih untuk mengasuh sendiri adiknya dan tinggal di sebuah cerukan di bantaran sungai. Film ini banyak berbicara tentang perang dan dampak buruknya terhadap masyarakat sipil dengan animasi yang begitu memanjakan mata dan menyayat jiwa secara bersamaan. Gue sangat menyayangkan bahwa hanya sedikit orang yang tahu tentang film ini karena film ini harus ditonton oleh semua orang untuk mengingatkan mereka betapa berharganya hal-hal sederhana yang mereka miliki.

After Taste:

5. One Hour Photo (2002)

Yes, it is Robin Williams, your childhood favorite. Di film ini, dia menunjukkan sisi lain dari kemampuan aktingnya yang cenderung terkesan selalu ceria dan menceriakan. Di film ini dia berperan sebagai tukang cuci foto bernama Sy Parrish yang kesepian dan terobsesi pada sebuah keluarga pelanggan cuci foto di tempatnya bekerja. Robin tidak berperan sebagai komedian di sini, namun karakternya merepresentasikan orang-orang kesepian yang sering kita hiraukan, atau bahkan kita bully di dunia nyata. Bagi kalian yang merasa kesepian cuma karena jomblo, film ini bisa membuka mata hati kalian lebar-lebar tentang bagaimana rasa kesepian yang sebenarnya.

After Taste:

6. Dancer in The Dark (2002)

Beberapa orang yang sudah terbiasa menonton film Hollywood mungkin akan merasa jenuh menonton film ini karena medium film nya masih menggunakan pita seluloid dengan warna terbatas dan framingnya kurang memanjakan mata. Bjork, musisi eksperimental dari Iceland, di film musikal ini berperan sebagai Selma, single-mother periang yang senang berdansa, menyanyi, dan mendengarkan musik. Terdengar menyenangkan ya? Tentu tidak setelah lo tahu bahwa Selma mengalami penyakit kebutaan bertahap yang diwariskan oleh gen dan ia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik demi menabung untuk operasi kornea mata anaknya. Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh Selma akan membuat lo muak terhadap hidup yang terlalu kejam bahkan pada orang-orang baik seperti Selma.

After Taste:

7. Requiem for A Dream (2000)

Bentar, tarik nafas dulu.

Oke, untuk film yang satu ini, gue ngga bener-bener mengharuskan kalian untuk nonton. Seriously, nuansa film ini bukan buat semua orang. Film ini menceritakan tentang empat orang pecandu narkoba yang semakin lama semakin tenggelam dalam kecanduan yang pada akhirnya menggerogoti hidup mereka sampai hancur berantakan. Requiem for A Dream mungkin tidak membuat kalian menangis, tapi setidaknya akan membuat kalian berjanji untuk tidak akan pernah memakai narkoba dan tidak akan pernah menonton film ini lagi.

Serius, menurut gue dan sebagian film blogger lainnya, film ini terlalu menyakitkan untuk ditonton. Tapi kalau kalian masih penasaran ya, terserah. I warned you.

After Taste:

Honorable Mention : Sophie’s Choice (1982), Leaving Las Vegas (1995), Blue Valentine (2010), Revolutionary Road (2008).

6 Film Romance yang Dapat Mengubah Pandanganmu terhadap Cinta

Ngaku deh, beberapa dari kita udah bosen dengan film-film romance yang cuma mengunggulkan kegantengan dan/atau kecantikan para aktornya tanpa alur cerita yang substansial dan quotable conversation yang kedaluwarsa. Mungkin memang mayoritas penonton–apalagi di Indonesia–nggak peduli terhadap bagus atau tidaknya cerita yang ditawarkan karena memang dalam kehidupan mereka segala hal yang berkaitan dengan romansa memang gitu-gitu aja. Nah, buat kamu yang udah terlanjur muak dan pengen mendapatkan experience yang berbeda dalam menonton film romance, gue bakal kasih list 6 film yang bukan hanya bisa ngasih kamu perspektif yang berbeda tentang cinta.

1. Closer (2004)

Oke, film ini dibintangi oleh Jude Law, Clive Owen, Julia Roberts, dan Natalie Portman. Cukup gila bukan? Belum. Film ini bercerita tentang manusia-manusia yang saling berusaha untuk menjaga ketulusan di dalam lubang kebohongan dan godaan yang terlanjur memerangkap mereka. Banyak yang mendeskripsikan film ini sebagai circle of love, tapi buat gue ini adalah circle of seduction, karena yang gue lihat ngga ada yang bener-bener mencintai satu sama lain di sini. Perasaan-perasaan yang membuat mereka emosional hanyalah hasil dari pengkhianatan dan pretensi yang mereka ciptakan sendiri. Ngga ada yang bener-bener jatuh cinta dan ngga ada yang bisa disalahin.

Perspective Offered:

Pikir-pikir lagi deh sebelum bikin komitmen sama seseorang. Lo beneran cinta sama dia atau lo cuma penasaran dan tergoda doang? Nanti kalo kegoda sama yang lain atau dianya digoda sama yang lain gimana? Yang salah siapa?

2. Before Sunrise, Before Sunset, dan Before Midnight (1995-2014)

Beberapa temen yang udah gue rekomendasiin film ini banyak yang nggak suka karena dari awal sampai akhir isinya cuma dua orang yang ngobrol dan jatuh cinta lewat obrolan mereka masing-masing. Tapi film ini menceritakan secara realistis bagaimana kita harus menyikapi cinta ketika ruang, waktu, dan kehidupan saling berkonspirasi untuk mengacak-acak hubungan kita. Yah, kalo kalian suka ngobrolin hal-hal kecil namun pengen sesuatu yang beda dari yang lain, coba deh perhatiin seberapa quotable percakapan-percakapan kecil mereka.

Perspective Offered:

3. Casablanca (1942)

“Eh buset, filmnya ngga ada yang lebih tua lagi, Tom?” Coba deh tonton dulu. Film ini emang tua banget. Akting para casts di film ini memang masih mentah banget dan kualitas gambar juga memang masih hitam putih. Tapi IMO sampai sekarang belum ada film romantic epic yang ceritanya bisa sebaik dan sedewasa film ini. Dari film ini lah orang-orang bisa belajar tentang the mind and attitude of the true ladies and gentlemen.

Perspective Offered:

Gentlemen, please look at Rick and Victor. They don’t fight over a girl. Love is not about possession. Love is giving what is best for each other for the sake of love itself.

4. Love Exposure/Ai no Mukidashi (2007)

Yang sering kita tonton di bioskop maupun di rumah adalah film-film romance tentang perfect people in an imperfect world (how is world perfect, anyway?), tetapi film ini menawarkan sebuah cerita romansa unik tentang imperfect people in an ultimately imperfect universe. Konten film ini agak sedikit ngaco karena film ini tergolong film arthouse yang lebih ditujukan kepada konsumen festival dan ngga semua common public bisa nerima. Udah gitu durasinya lama banget (+-4 jam), tapi bagi yang seneng nonton film action jepang dan yang bisa nyambung sama kekonyolan dan ke-WTF-an film ini bakal betah mantengin ini film dan bakal ngasi applause di akhir film yang dramatis.

Perspective Offered:

5. The One I Love (2014)

Yes, people. It’s so weird, but it’s mindblowingly relatable. Dua pasangan suami istri harus berhadapan dengan kejadian-kejadian aneh di luar logika saat mereka mencoba menenangkan diri di sebuah villa demi memperbaiki hubungan mereka yang sudah retak. Film ini memiliki ide yang sangat sederhana namun tidak mampu terpikirkan oleh banyak orang. Kalau kalian suka film-film romance dengan plot twist yang tidak biasa, film ini recommended banget buat kalian.

Perspective Offered:

Would you surrender with something that is not real, but makes you  feel instantly happy? Or would you fix what is real and try to be happy with something real and fight for your happiness together?

6. Blue Valentine (2010)

Love hurts, and love can run out. Film ini berkisah tentang pernikahan yang kandas di tengah jalan karena sang istri merasa jengah dan risih berkepanjangan atas kondisi emosional sang suami yang selalu berubah-ubah. Bukan hanya itu, alur film yang non-linear juga akan membawa kita kedalam sebuah perjalanan manis getir Dean dan Cindy sejak mereka pertama kali bertemu sampai akhirnya mereka bercerai. And…boy, no matter how good your first sight story is, marriage can absolutely screws you over. Oh iya, endingnya simpel tapi nyakitin loh.

Perspective Offered:

You think love is sweet? Think again.

Honorable Mention:

[500] Days of Summer (2009) ; Punch-Drunk Love (2002); Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004); Roman Holiday (1953); Revolutionary Road (2008).