The Big Five Mainstream Horrors of Early 2016: Short Review

Bagi kita, mungkin mudah sekali merasa takut sekaligus terlibat secara emosional saat menonton film horor yang baik. Kenyataannya, bagi para produsen film, horor adalah sebuah genre yang menuntut keahlian serta kepekaan ekstra dalam pembuatannya. Mengapa? Karena mayoritas film horor dibuat dengan bujet yang sangat terbatas, namun hampir selalu berhasil untuk menghasilkan keuntungan Box Office berkali-kali lipat, kadang tidak peduli seberapa buruk kualitas film tersebut. Ambil saja contoh kasus Annabelle. Film yang hanya mendapatkan rating 29% di Rotten Tomatoes (karena, yah, memang jelek) ini mendapatkan keuntungan worldwide yang bombastis ($256,873,813) dibandingkan bujetnya yang hanya berkisar $6.5 juta. Keuntungan ini tentunya juga dibantu dari kesuksesan The Conjuring sebelumnya yang mendapatkan keuntungan worldwide $318 Juta dari bujet $20 juta. Inilah yang membuat saya merasa bahwa para produsen film horor patut diberikan apresiasi lebih. Mereka mampu memanfaatkan keterbatasan untuk menciptakan ilusi realita yang maksimal.

Lewat artikel ini, saya ingin mengulas, mengapresiasi, serta mendiskusikan lima film horor mainstream dari awal tahun 2016 sampai artikel ini selesai ditulis.

1. The Conjuring 2, directed by James Wan.

Production Budget: $40,000,000
Worldwide Box Offfice: $320,070,008 (est. 19/09/2016)

Seperti film-film yang sebelumnya disutradarai James Wan, The Conjuring 2 adalah sebuah film yang sangat menyenangkan, terutama bila kamu menontonnya bersama keluargamu atau dengan temanmu yang orangnya kagetan. Premis ‘haunted family in a haunted house’ yang sudah sangat familiar di ranah film-film bergenre horor ini dikemas dengan treatment cerita yang lebih berorientasi pada anak-anak dan keluarga sehingga atmosfer film tidak melulu gelap, namun juga hangat dan penuh kasih sayang. Adegan saat Ed Lorraine (diperankan oleh Patrick Wilson) menyanyikan tembang “Can’t Help Falling in Love” dari Elvis Presley sambil bermain gitar di depan keluarga Hodgson adalah salah satu contoh kehangatan yang jarang kita temukan dari film-film horor modern kebanyakan. Tidak hanya itu, semua jump-scare yang terdapat dalam film pun ini dilakukan dengan crafting yang solid dan segar sehingga tepat sasaran dalam membuat para penonton berteriak kencang tanpa harus mempertanyakan relevansinya dengan logika cerita (that Nun-in-the-Mirror scene was perfect!).

Di antara semakin banyaknya film horor yang mempertontonkan kesadisan dan seksualitas, The Conjuring 2 adalah film horor yang paling aman untuk ditonton bersama anak anda dalam segala usia.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

2. The Wailing, directed by Na Hong-jin.

Production Budget: N/A
Worldwide Box Office: $51,252,403 (est. 19/09/2016)

Bisa dibilang, The Wailing adalah sebuah kombinasi apik antara Memories of Murder dan The Witch dengan kearifan mistik lokal dari Korea Selatan. Disutradarai oleh Na Hong-jin (The Chaser, The Yellow Sea) film ini bercerita tentang sebuah desa kecil yang diserang wabah penyakit mematikan setelah kedatangan seorang lelaki misterius ke desa tersebut. Seorang detektif ceroboh bernama Jong-goo (diperankan oleh Kwak Do-won) yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut malah berbalik menjadi korban tatkala anak perempuannya yang masih kecil ikut terjangkit wabah tersebut.

Biarpun dipenuhi dengan adegan-adegan yang keji, gila, dan agak disturbing, kengerian utama dalam film ini dihasilkan dari gaya penceritaan yang atmosferik dengan menempatkan elemen-elemes simbolis seperti burung-burung gagak yang mati, altar pemujaan setan dengan foto-foto misterius tertempel di dinding, serta iklim latar film yang sebagian besar diisi oleh hujan deras dengan awan yang gelap. Suspensi berlangsung dengan efektif dari awal film sampai akhir. Dalam dua jam lebih durasi film, setidaknya ada tiga plot twist di setiap titik pergantian babak. Kita akan dibuat curiga oleh semua tokoh dan kesal terhadap karakter Jong-goo yang tidak pernah bertindak rasional dalam menghadapi masalah (padahal dia seorang detektif) sampai pada akhirnya kita mengetahui bahwa semua hal tersebut merujuk kepada persoalan yang lebih besar dari sekadar praktik guna-guna.

The Wailing adalah sebuah film mystery-supernatural-horror yang pekat dan padat oleh atmosfer yang mengerikan. Cocok bagi kamu yang sudah bosan terhadap film-film horor dengan skenario yang sketched dan mengandalkan jump scare sebagai senjata utamanya.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

3. The Shallows, directed by Jaume Collet-Serra.

Production Budget: $17,000,000
Worldwide Box Office: $116,055,707 (est. 19/09/2016)

Nancy Adams (diperankan oleh Blake Lively), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran, pergi berlibur ke pantai terpencil untuk berselancar dan melipur lara setelah kematian sang Ibu tercinta. Saat sedang asyik bermain ombak di atas papan, tiba-tiba seekor hiu putih raksasa menyerang Nancy, menggigit kakinya, dan membuatnya terjebak di tengah batu karang besar di lautan bersama seekor burung camar yang ia beri nama Steven Seagull (nggak, burung camarnya nggak bisa Wing-Chun, mohon maaf).

Saat kita berpikir bahwa era film-film monster telah usai, Jaume Collet-Serra menghadirkan kembali kengerian teror serangan hiu buas dengan pendekatan yang sangat milenial di film The Shallows. Kenapa saya bilang milenial? Karena variasi komposisi shot, camera movement, dan editing yang terdapat di film ini mengingatkan saya pada video-video bertema paradise adventure yang sering diunggah para travel vlogger seperti Nainoa Langer, Giarro Giarratana, atau konten-konten viral marketing GoPro di YouTube. Bahkan bisa dibilang, hal tersebut lah yang menjadikan film ini unik dan berbeda dibanding film shark attack lain. Semua elemen lain yang terdapat di film ini sebenarnya sangatlah familiar bagi penonton, yaitu lanskap pantai yang memanjakan mata, eksploitasi pesona tubuh wanita, dan penggabungan premis ‘isolation terror‘ (Buried, 127 Hours, Gravity) dengan ‘monster terror’ (Lake Placid, Deep Blue Sea, Anaconda, Jaws). Selebihnya, tidak ada perbedaan yang signifikan, tapi dengan penyutradaraan yang solid dari Jaume Collet-Serra, The Shallows mampu menjadi sebuah wahana jungkir balik yang segar dan menyenangkan bagi para penikmat film horror-thriller.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

4. Don’t Breathe, directed by Fede Alvarez.

Production Budget: $9,900,000
Worldwide Box Office: $107,028,781 (est. 19/09/2016)

Bila seorang kakek tua mencoba menghabisi nyawa tiga orang anak muda yang berusaha untuk membunuh si kakek dan merampok rumahnya, siapa yang akan kamu salahkan? Hal inilah yang menjadi premis utama Don’t Breathe, film horror-thriller arahan sutradara Fede Alvarez. Dari adegan pembukaan pun, film ini sudah menegaskan untuk tidak bertele-tele dan langsung berangkat pada inti cerita: pembantaian tanpa ampun.

Tidak ada momen percintaan dramatis, tidak ada percakapan sok cerdas, hanya pembantaian dan kejar-kejaran.

Pengenalan terhadap keempat tokoh utama pun benar-benar dilakukan seminimal mungkin dan plot langsung masuk ke dalam permasalahan bahkan sebelum lima belas menit pertama berakhir. Dengan plot yang menyerupai Wait Until Dark, Don’t Breathe dikemas sesempit dan sepadat mungkin dengan sentuhan Panic Room dan Inside sehingga menjadi sebuah film yang, seperti judulnya, akan membuatmu sulit untuk bernafas.

Kekuatan utama film ini terdapat pada efektifitasnya dalam memanfaatkan premis yang standar dan lokasi yang minimalis menjadi kengerian klaustrofobik yang tanpa henti sepanjang pertunjukan berlangsung. Don’t Breathe dengan cermat memanfaatkan kompleksitas moral dan idiot plot untuk memaksimalkan potensi horor dari home-invasion thriller yang sudah banyak sekali dibuat. Teknik sinematografi yang digunakan Don’t Breathe juga cukup unik untuk sebuah film horror-thriller. Daripada memanfaatkan efek shaky camera atau fast-cutting untuk memicu ketegangan, Pedro Luque, sang sinematografer, cukup menggunakan teknik konvensional dengan pergerakan kamera yang mulus, komposisi yang rapi, dan penyuntingan yang jeli terhadap momentum. Plot-twist yang muncul di awal babak ketiga film pun cukup menambah sensasi kekacauan tokoh Pak Tua dan kelinglungan moral penonton, meskipun memang menimbulkan banyak kontroversi dari berbagai pihak. Namun jika kamu sedang mencari film horror-thriller yang tidak banyak basa-basi, Don’t Breathe adalah pilihan yang sangat tepat buatmu.

Distopiana’s Choice: 4 out of 5.

5. Train to Busan, directed by Yeon Sang-ho.

Production Budget: $8,500,000
Worldwide Box Office: $99,067,452 (est. 13/9/2016)

Film zombie sudah ada sejak tahun 1932, dibuat secara independen dan dengan bujet yang sangat terbatas oleh Victor dan Edward Halperin. Kendati demikian, George Romero-lah yang pertama kali mempopulerkan zombie sebagai medium kritik sosial politik lewat Night of The Living Dead. Generasi Y dan Z mungkin akan lebih familiar dengan The Walking Dead (serial TV) dan World War Z, namun harus diakui, Train to Busan akan menjadi salah satu film zombie sarat kritik sosial yang sangat berkesan dalam pengalaman mereka menonton film horor.

Seorang fund manager bernama Seok-woo (diperankan oleh Gong Yoo) terjebak di dalam sebuah KTX bersama anaknya (Kim Soo-an) saat epidemik misterius yang membuat manusia berubah menjadi zombie menyebar di seluruh Korea Selatan, termasuk di dalam KTX yang mereka tumpangi. Bersama seorang calon ayah dan istrinya yang sedang hamil serta sepasang muda-mudi SMA yang saling mencintai, mereka harus bertahan hidup hingga kereta sampai di Busan, satu-satunya kota yang berhasil bertahan dari serangan wabah.

Setelah The Wailing, Don’t Breathe, dan The Shallows yang menggabungkan dua premis dan referensi film berbeda, Train to Busan juga bagaikan sebuah kombinasi apik antara Snowpiercer dan World War Z, lagi-lagi dengan kearifan lokal Korea Selatan yang terkadang penuh dengan dramatisasi yang klise. Ada banyak drama sosial yang diangkat di sini, dan meskipun porsi melodrama di babak ketiga film akan membuatmu sedikit mengernyitkan dahi, skenario yang dirancang sangat apik dan kokoh sejak permulaan sampai akhir film ini akan tetap berhasil membuatmu menyanyikan lagu “Aloha Oe” sambil menangis tersedu-sedu saat keluar dari bioskop. Disutradarai oleh Yeong San-ho, seorang mantan komikus yang juga pernah membuat film animasi Seoul Station, Train to Busan menghadirkan sebuah horror-thriller dengan pengadeganan yang elok dan tokoh-tokoh yang mampu membuat emosi kita bercampur aduk sepanjang film berlangsung. Meskipun ada Gong Yoo dan Jung Yu-mi yang pernah bermain di Silenced, namun tokoh yang berhasil menyajikan cita rasa yang beragam di film ini adalah Sang Hwa, sang calon ayah bertubuh besar (diperankan oleh Ma Dong-seok) dan Yong Suk, sang COO pengecut (diperankan oleh Kim Ui-seong).

Sebenarnya, inti dari kemantapan Train to Busan adalah kritiknya yang efektif dan lugas tentang strata dan fungsi sosial. Hal ini sebenarnya sudah dimunculkan saat Sang Hwa berkata pada istrinya bahwa Seok-woo itu lintah darat, namun kritik sosial selanjutnya dimasak dengan lezat dan cantik di babak kedua, saat skenario penumpang gerbong belakang versus depan dimulai. Dalam sekejap, horor klaustrofobik pun berubah menjadi drama politik sentimental tentang masyarakat yang mudah disetir opininya saat rasa takut mengancam mereka. Dalam situasi yang telah dibangun tersebut, Yeong San-ho pun menggunakan logika penyelesaian yang mengingatkan saya pada Ran, film dari Akira Kurosawa.

“In a mad world, only the mad are sane.” – Kyoami, Ran (1985).

Beberapa persoalan yang bersifat ilmiah dan rasional di film ini memang memiliki banyak permasalahan, namun dengan subteks ‘pengorbanan’ yang menjadi landasan utama skenario film ini (dan tanggal rilisnya yang kebetulan berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha), Train to Busan adalah film horror-thriller yang sangat menghibur dan cocok untuk ditonton bagi semua orang untuk mendalami esensi dari pengorbanan sebagai bentuk dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap kemanusiaan.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

 

N.B.: Semua data kuantitatif bersumber dari IMDb.com, BoxOfficeMojo.com, dan The-Numbers.com.

THE SUNSHINE BLOGGER AWARDS 2016

Suatu kehormatan bagi Distopiana untuk bisa turut serta meramaikan The Sunshine Blogger Awards 2016–yang kalau tidak salah pertama kali dicetuskan oleh Paskalis Damar lewat blognya, Sinekdoks. Terima kasih atas nominasi yang telah diberikan oleh Amelia Puteri, orang di belakang blog keren berjudul Marry The Fiction. Terakhir, kami juga harus berterima kasih kepada Jack Dorsey, karena tanpa Twitter, kami tidak akan pernah bisa mengenal orang-orang sekeren mereka.

Distopiana saya cetuskan pertama kali dua tahun yang lalu, saat saya sedang magang di salah satu korporasi yang bergerak di bidang sociopreneur sebagai social media specialist. Mulai awal tahun 2016 ini, saya menggaet Bunga Maharani, teman penulis yang saya temui sewaktu terlibat dalam proyek Gemuruh oleh Jakarta Movement of Inspiration (JKTMoveIn). Tidak kami duga-duga, Distopiana mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari kawan-kawan blogger dan penggemar film di media sosial. Kami sangat senang dengan kenyataan bahwa ada orang di luar sana yang menyukai celotehan kami tentang film-film yang berkesan di hati kami.

Oh, ya, saat ini, Bunga sedang sibuk menjalani orientasi mahasiswa baru di Universitas Udayana. Mari kita doakan semoga orientasi serta keseluruhan perkuliahannya berjalan lancar.

Now let me put the main rules of this award here:

  1. Post the award on your blog.
  2. Thank the person who nominated you. (thank you Amel!)
  3. Answer the 11 questions they set you.
  4. Pick another 11 bloggers. (and let them know they are nominated)
  5. Set them 11 questions.

So, here’s Tommy’s answer to the questions set by Amelia Puteri from Marry The Fiction.

  1. What is the last movie you have watched?
    Train to Busan.
  2. Based on the answer #1, tell me the reason why you choose to watch that movie?
    My colleagues in Iris Worldwide (Mbak Nurina, Mbak Romaria, Mbak Wulan, Bani, Enrico) loves horror movies. We have planned this movie trip as the film was highly recommended by Mbak Wulan, who really loves zombie movies. She ever took her 5 year old daughter to routinely watch The Walking Dead with her. Extreme mother, she is.
  3. Talking about awards, choose one: to watch The Academy/Oscars or Grammy?
    Oscars of course. I barely watched Grammy.
  4. Give me your “Top 5” actors and/or actresses!
    Ingrid Bergman, Julianne Moore, Philip Seymour Hoffman, Robin Williams, Jared Leto (f*ck Suicide Squad).
  5. Make a playlist of songs you listen when you are heartbroken!
    a. Bon Iver – I Can’t Make You Love Me.
    b. Labrinth – Jealous.
    c. Bright Eyes – Lover I Don’t Have to Love.
    d. Nine Inch Nails – Hurt.
    e. Damien Rice – My Favorite Faded Fantasy.
    f. Radiohead – True Love Waits.
    g. Jeff Buckley – Hallelujah.
    h. D’Masiv – Cinta ini Membunuhku.
    i. Bright Eyes – Lua.
    j. Beck – Guess I’m Doing Fine.
    h. Frightened Rabbits – Keep Yourself Warm.
  6. What is the last book you’ve read? Any kind of book works.
    “O” by Eka Kurniawan.
  7. Based on the answer #6, choose one sentence from the book that really grabs your attention/interesting!
    “Huh, manusia. Dari sampah kembali ke sampah.”
  8. If you could travel around the world, name a place you want to visit!
    Anywhere on the Northern Hemisphere. Norway is preferrable.
  9. Which one would you choose: the ability to go back to 5 years ago, or go forward to your future 5 years later?
    The ability to go back to 5 years ago and fix everything I’ve done wrong.
  10. Post your inspirational quote(s) you got from any movie!
    “I came.” – Happiness (1998).
  11. Last, watching a movie via streaming or download/torrent? (Ignore the speed of your internet connection)
    Torrent mostly, but I stream via Netflix once. Never tried illegal streaming site, because their compressed video resolution mostly sucks.

Untuk selanjutnya, saya akan menominasikan blog-blog berikut:

  1. Rekomendeath
  2. Tonight’s Read
  3. Cinemaudy
  4. PicturePlay
  5. Review Luthfi
  6. Catatan Icha Hairunnisa
  7. Si Ochoy
  8. Ruang Benak Ruby
  9. Dibaca Aja
  10. Yudo Nugroho

Saya harus mengosongkan satu slot karena teman-teman blogger saya tidak begitu banyak dan ada beberapa pula yang sudah dinominasikan oleh blogger lain.

*POST EDITED: MENAMBAHKAN DIBACA AJA DAN YUDO NUGROHO KE DALAM LIST BLOG NOMINATIONS.

11 pertanyaannya adalah:

  1. Apa film terakhir yang membuat Anda merasa feel-good?
  2. Jika ada production company yang cukup gila untuk memberikan modal 200 Juta US Dollar untuk Anda memproduksi sebuah film, film seperti apa yang akan Anda buat?
  3. Jika Anda harus memerankan seorang public figure dalam sebuah film biopik, siapa public figure yang menurut Anda cocok untuk Anda perankan?
  4. Berdasarkan pertanyaan #3, siapa aktor/aktris yang anda inginkan untuk memerankan kekasih sang publik figur?
  5. Buatlah sebuah playlist lagu yang dapat membangkitkan rasa percaya diri Anda!
  6. Sebutkan novel/komik yang sangat Anda inginkan untuk diadaptasi menjadi sebuah film!
  7. Berdasarkan pertanyaan #6, siapa yang Anda inginkan untuk menyutradarai film tersebut?
  8. Sebutkan 3 film terburuk yang pernah Anda tonton!
  9. Sebutkan 3 sekuel/prekuel film yang sangat anda inginkan untuk terwujud!
  10. Jika suatu saat Anda harus berubah menjadi seekor binatang dan Anda diharuskan untuk memilih, Anda ingin menjadi binatang apa?
  11. Terakhir, jika anda diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan mengubah sejarah peradaban, peristiwa apa yang akan anda ubah?

You can nominate other bloggers by passing it to them – I’m really thanking you for that, or just answer these questions on my comment section. But it’s better to pass it on, believe me.

Selamat bersenang-senang!

Mimpi Anak Pulau (2016) – Mendayung Mimpi

Ada tiga penyakit terbesar yang biasanya menjangkiti film-film Indonesia, terutama yang bertema triumph of the spirit. Ketiga penyakit tersebut adalah: narasi yang pretensius, naskah yang preachy, dan eksploitasi tokoh dengan hagiografi demi menyesuaikan arus pasar (quoting PicturePlay). Sinema Indonesia belakangan ini seperti kehilangan arah dalam menentukan ciri khas mereka dari segi visual, naratif, dan kontekstual cerita sehingga terkesan pretensius karena seperti ada ambisi untuk menyamai Hollywood. Lihat saja Rudy Habibie yang terkesan mengimitasi The Imitation Game dan menjadikan tokoh Rudy sebagai sosok utama yang sempurna, pusat dari tata peredaran tokoh-tokoh ‘pelengkap’ lainnya. Ada juga Modus Anomali, film Indonesia yang tidak ingin menjadi Indonesia, meskipun Joko Anwar pada akhirnya membayarnya dengan telak di film A Copy of My Mind. Perfilman Indonesia terlalu sibuk mencoba menjadi Hollywood sampai mereka lupa bagaimana rasanya saat Laskar Pelangi sukses menghajar belantika bioskop tanah air dengan kehangatan yang jujur dan otentik, tanpa pretensi dan kesan menceramahi.

Diadaptasi dari novel karya Abidah El-Khalieqy, Mimpi Anak Pulau bercerita tentang seorang bocah laki-laki bernama Gani (diperankan oleh Daffa Permana), anak pertama dari Rabiah (diperankan oleh Ananda Lontoh) dan Lasa (diperankan oleh Ray Sahetapy) yang tinggal di pesisir pantai Nongsa, Pulau Batam. Gani menjalani masa kecilnya dengan penuh semangat dan harapan meski kenyataan yang dia hadapi sering berujung pahit, apalagi setelah ayahnya meninggal. Kerasnya hidup tidak berarti apa-apa bagi Gani. Terkadang ia menangis di pelukan ibunya, tapi ia tidak pernah lupa untuk tetap bangkit dan mencari cara untuk mengejar mimpinya: menuntut ilmu dan membeli sepatu baru.

Secara teknis, Mimpi Anak Pulau memang sangat jauh bila harus dibandingkan dengan Laskar Pelangi. Struktur naratifnya pun bisa dibilang berantakan akibat terlalu sering mengambil sekuens inset yang (mungkin) sengaja ditujukan untuk memperkuat konteks, sehingga jalan cerita menjadi cenderung inkoheren dan penonton awam akan sulit mencerna apa yang sebenarnya ingin diceritakan film ini pada babak pertama dan kedua. Harus diakui dan juga dipuji, Kiki Nuriswan dan Ichsan Zulkarnain sudah berusaha keras membangun dramatisasi kisah nyata yang penuh kehangatan dengan believable sekaligus relatable, namun beberapa kalimat dialog terkesan sangat textbook, seakan dicomot langsung dari novel tanpa penyesuaian dengan akting dan reading dari para pemerannya, dan itu akan sedikit mengganggu bagi penonton yang peka dan senang memperhatikan hal-hal kecil. Film ini juga hampir terjangkit virus hagiografi karena Gani, sang karakter utama, lagi-lagi ditempatkan sebagai pusat tata edar tokoh-tokoh pembantu lainnya. Sekuens epilognya pun, aduh, dirancang dengan sangat lemah sehingga terlihat seperti iklan-iklan properti Agung Sedayu Group atau semacamnya. Entah, mungkin karena kekurangan bujet atau terlalu terburu-buru dalam mengeksekusi ide mentah.

Untungnya, banyak aspek dari Mimpi Anak Pulau yang menjadikan film ini cukup istimewa dan menyenangkan untuk ditonton. Pertama: lewat otentisitas yang berhasil diciptakan oleh gaya bertutur yang hangat dan berani untuk menjadi Indonesia, tidak peduli apapun latar belakang para penonton, mereka akan merasa sangat relate dengan keluguan Gani. Inilah yang mencegah terjangkitnya Mimpi Anak Pulau dari virus hagiografi. Karakter Gani berhasil menjadi utuh lewat perangainya yang tengil namun juga norak bila dihadapkan dengan hal-hal yang di luar batas pengetahuannya. Kedua: Ada beberapa adegan yang biasanya sangat rentan diisi dengan kalimat-kalimat preachy, yaitu sewaktu Gani sedang belajar di sekolah dan saat di pengajian. Untungnya, penulis naskah dan sutradara berhasil menjadikan kedua adegan tersebut hanya berfokus pada pemaparan detail karakter dan turning point dari plot, bukan pada penanaman pesan moral (yang sayangnya masih banyak dijadikan patokan bagus atau tidaknya sebuah film). Ketiga: Kerja sinematografi dan penyuntingan serta color grading yang harmonis dalam kesederhanaan akan mampu menyempurnakan keindahan latar Pulau Batam tahun 70-an di mata para penontonnya. Saya harus memuji salah satu adegan yang menunjukkan Gani dengan abangnya, Kodir, mendayung sampan menyeberangi pulau sambil diombang-ambing oleh badai di tengah malam. Terlihat sangat otentik dan nyata, seperti mereka memang melakukan pengambilan gambarnya di tengah laut. Keempat: Kombinasi akting Ray Sahetapy dan Ananda Lontoh di babak pertama mengejutkan saya. Sungguh. Di babak kedua dan ketiga pun istri dari Attar Syah ini masih tampil dengan prima, membuat mata para penonton tak bisa lepas darinya saat ia berada di dalam frame. Saya pikir Ananda Lontoh harus terlibat lebih banyak lagi di film-film besar Indonesia selanjutnya agar ia menemukan sutradara yang mampu membawanya ke batas tertinggi kemampuan aktingnya.

Setelah Laskar Pelangi, Mimpi Anak Pulau merupakan film yang hangat, otentik, dan penting untuk ditonton bagi seluruh orang Indonesia, terutama bagi para praktisi pendidikan dan pembangunan daerah tertinggal di Indonesia. Kenapa? Agar kita semua sadar bahwa mensinergikan pembangunan dan pendidikan demi menuntaskan hak bersekolah para anak di daerah tertinggal jauh lebih penting daripada membangun mal-mal megah di perkotaan dan menyalahkan rusaknya moral mereka akibat terlalu terpengaruh budaya konsumtif dan kebarat-baratan.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.

Suicide Squad (2016) – #SquadFails

Sebelum saya memberikan ulasan, saya harus menyatakan sebelumnya bahwa saya mempunyai kepedulian yang besar terhadap masa depan film-film DC Comics. Sekitar Agustus tahun lalu, saya pernah menulis tentang bagaimana DC Comics akan mampu mengimbangi Marvel Studio dalam segi konsep penuturan cerita. Maka dari itu, seburuk apapun saya akan mengulas film yang sudah saya nanti-nanti sejak tahun lalu ini, itu semua karena saya peduli. Hal yang sama juga berlaku pada kritikus Rotten Tomatoes yang ingin diboikot oleh para penggemar fanatik DC Comics karena dituduh selalu menjelek-jelekkan film DCEU. Saya yakin mereka semua juga sebenarnya peduli, dan bahwasanya harus dimengerti bahwa kritik film bukan hanya bertujuan untuk melindungi dompet penonton dari film buruk, namun juga bertujuan untuk menyelamatkan para produsen film dari malapetaka yang mungkin tidak mereka sadari ada di dalam film yang mereka buat. Jangan berpikiran seperti Cara DeLevingne yang bilang bahwa kritikus film membenci film superhero, padahal mereka pernah memberi nilai yang luar biasa bagus pada film The Dark Knight, yang notabene merupakan film superhero dari DC Comics.

Suicide Squad dibuka dengan pengenalan bertahap setiap penjahat super dengan mengeksposisi backstory mereka satu persatu mulai dari Deadshot (diperankan oleh Will Smith), Harley Quinn (diperankan oleh Margot Robbie), Captain Boomerang (diperankan oleh Jai Courtney), Killer Croc (diperankan oleh Adewale Akinnuoye-Agbaje), Enchantress/June Moone (diperankan oleh Cara DeLevingne), dan El Diablo (diperankan oleh Jay Hernandez). Tidak hanya para penjahat, namun para pelaksana proyek yaitu Rick Flag (diperankan oleh Joel Kinnaman) dan Amanda Waller (diperankan oleh Viola Davis) juga mendapat giliran perkenalan. Terlalu banyak tokoh? Setuju, apalagi dengan diperparah oleh pola penyuntingan yang berantakan dan tidak terkonsep dengan baik sehingga menjadikan keunikan karakter para tokoh tersebut saling tumpang tindih dan sulit untuk dinikmati.

Jika sebuah film action-adventure menawarkan sekumpulan penjahat kelas kakap dengan kekuatan super, seorang kolonel tangguh dan perkasa, dan seorang pemimpin bertangan dingin untuk mempertahankan sebuah kota dari serangan teror misterius, akan lebih bijak jika sutradara dan penulis skenario memanfaatkan keahlian unik masing-masing dari mereka semua untuk merancang sebuah skenario pertempuran yang tidak hanya epik, namun juga otentik dan ikonik. Entah apakah ini salah David Ayer sebagai sutradara dan penulis, ataukah salah Warner Bros. Executive yang terkenal senang mengintervensi visi sutradara dengan argumen yang labil, namun setiap adegan pertempuran di film ini menjadi sangat monoton karena hanya terdiri dari tembak-menembak, pukul-memukul, tebas-menebas, dan bakar-membakar. Brutal memang, jika berbicara tentang jumlah kerusakan yang dihasilkan, namun dilakukan dengan gaya yang terlalu konvensional, minim kecerdasan, dan tanpa emosi, seperti layaknya kita temukan di Man of Steel dan Batman v Superman: Dawn of Justice. Beberapa penjahat seperti Captain Boomerang, Katana, dan Slipknot menjadi hampir tidak berguna karena kekuatan spesial yang mereka miliki tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya di film ini. Well, we just can’t have them all, right?

Yang menjadi penyelamat film ini adalah penampilan Margot Robbie, Will Smith, dan Jay Hernandez. Dengan penggambaran tokoh yang tepat sasaran, mereka berhasil membuat film ini menjadi lebih berwarna dengan kehangatan dan humor jenaka yang tidak pernah kita temukan di DCEU sebelumnya. El Diablo sukses menjadi kuda hitam dengan karakter dan backstory yang mampu menarik simpati kita tanpa perlu bersusah payah ingin terlihat keren, gila, dan edgy seperti para tokoh yang lain. Ada satu adegan di mana para penjahat beserta komandan regu duduk dan minum bersama di dalam sebuah bar yang tak berpenghuni kemudian berdiskusi tentang kejahatan mereka di masa lalu. Biarpun pembicaraan lagi-lagi hanya didominasi oleh Deadshot dan El Diablo, namun ironisnya adegan eksplorasi karakter ini justru menjadi satu-satunya adegan yang menarik di dalam Suicide Squad, dan bukan salah satu di antara adegan baku tembak dan hantam. Finale-nya pun, aduh, nggak banget, apalagi ditambah dengan akting Cara DeLevingne yang sangat buruk dan treatment third act yang sangat kacangan.

Satu hal yang paling dinanti-nanti Suicide Squad adalah keberadaan The Joker yang diperankan oleh sang maestro Jared Leto. Ada satu permasalahan yang sangat vital yang saya temukan pada The Joker di Suicide Squad, yaitu pada penggambaran hubungannya dengan Harley Quinn. Tidak salah jika kita mengharapkan hubungan yang abusif dan manipulatif di mana Joker selalu memperdaya Harley dengan cinta yang palsu, karena memang origin story mereka dari komik ke komik seperti itu. Bicara soal moral, hubungan abusif dan manipulatif tidak seharusnya diromantisasi, karena hal tersebut merupakan isu yang serius dan sering terjadi di kehidupan nyata. Itu kalau bicara soal moral. Lain lagi dari sudut pandang komersil. Pernah mendengar betapa suksesnya buku-buku dan film The Twilight Saga serta Fifty Shades of Grey? Ditambah dengan banyaknya remaja tanggung yang memuja betapa ‘kerennya’ hubungan mereka berdua, sudah pasti Suicide Squad akan menjangkau pasar lebih luas jika romantisasi itu diterapkan. Warner Bros dan DC Comics nampaknya setuju akan hal ini, jadi ya, mereka meromantisasi hubungan mereka berdua, tentunya dengan pendekatan yang—urgh—cheesy dan soundtrack seduktif submisif dari Kehlani sebagai lagu ‘peresmian’ hubungan mereka berdua. Hasilnya adalah crazy-love-cheesy-manipulative version of The Joker. Yak, betul, jika kamu mengharapkan versi The Joker yang filosofis, kuat, dan penting seperti versi Heath Ledger di The Dark Knight, kamu akan amat sangat kecewa.

Lagipula The Joker tidak akan berfungsi dengan sempurna jika tidak berhadapan dengan Batman.

Banyak yang bilang, penonton Suicide Squad yang kecewa alasannya adalah karena berharap terlalu banyak. Jujur, saya kecewa, tapi saya pikir saya tidak berharap terlalu banyak. Saya hanya mengharapkan sebuah film dengan konsep yang solid dan konsisten, dan Suicide Squad terlalu keras mencoba untuk menjadi brutal dan “pop” secara bersamaan sehingga malah berakhir berantakan dan dangkal. Bagi penonton film santai, mereka tentu akan menikmati kegilaan Harley, humor kebapakan Deadshot, dan asiknya soundtrack lagu-lagu pop yang memenuhi film. Namun percayalah,  film ini tidak akan menjadi lebih dari tiga hal tersebut.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

Black Mirror (TV Series) – A Traumatizing Picture of Technological Catastrophe

Ini ulasan pertama saya tentang serial televisi. Jujur, sedari dulu saya agak malas mengulas serial televisi karena ada terlalu banyak hal yang harus saya ulas dan yah, saya memang pemalas. Namun demi mensyiarkan titah-titah Black Mirror pada umat manusia untuk mencegah kehancuran zaman, saya akan mencoba untuk pertama kalinya.

Banyak serial televisi yang saya tonton, dan semuanya bagus-bagus. Kalau anda bertanya rekomendasi, saya bisa sebutkan banyak judul berdasarkan serial seperti apa yang anda cari. Namun untuk semua orang yang bertanya, saya pasti akan merekomendasikan untuk menyempatkan diri menonton Black Mirror.

1419367849BlackMirror1x02_0607

Black Mirror adalah serial antologi yang menghadirkan kisah-kisah tragis yang dibalut dengan satir jenius dan luar biasa berani tentang hubungan interdependensi antara manusia dengan teknologi. Karena ini serial antologi, maka setiap episode di tiap musim punya cerita yang berbeda-beda dan tidak saling sambung menyambung. Anda bisa bebas mau menonton episode yang mana dulu di season yang mana dulu. Bebas. Maka dari itu Black Mirror cocok bagi anda yang ogah menonton serial televisi karena malas untuk berkomitmen pada satu cerita yang panjang mengular naga.

Bicara soal teknis dan naratif, serial televisi yang ditulis dan diproduksi oleh Charlie Brooker ini punya kualitas yang prima dan didukung pula dengan performa dari para aktor dan aktris yang familiar di layar kaca (Rory McKinnear, Domhnall Gleeson, Toby Kebbell). Namun ada tiga faktor yang membuat saya ketakutan dan berpikir bahwa Black Mirror telah mendobrak batas terjauh dari sebuah serial televisi:

1. Berbicara dengan Kekuatan Satir yang Keras, Lantang, dan Mengerikan.

Setiap episode dari Black Mirror sejatinya adalah sebuah kritik sosial politik yang disajikan lewat medium horor psikologis. Alih-alih menceramahi dan mendikte penontonnya lewat polarisasi baik-buruk seperti yang sering dilakukan serial televisi murahan Indonesia, Charlie Brooker menjadikan teknologi dan sisi gelap kemanusiaan sebagai monster yang meneror setiap tokoh utamanya sampai jiwa mereka hancur berserakan di lumpur yang kotor dan hina. Biarpun semua kisah di tiap episode adalah allegorical fiction, Charlie tidak pernah ragu untuk meramu pandangan sinisnya tentang kemanusiaan ke dalam skenario what-if yang menegasikan khayalan babu kita tentang pengaruh teknologi futuristik pada kehidupan manusia.

“Gimana ya, kalo kita bisa ngerekam semua memori kehidupan kita menjadi data yang dapat ditonton dan di-transfer?”
“Gimana ya kalo kita bisa bicara sama orang kesayangan kita yang sudah meninggal?”

Percayalah, kawan. Kalian tidak benar-benar menginginkan semua itu.

2. Memberi Pengalaman Menonton yang Traumatis.

Tidak ada kebahagiaan secercah pun, sebutir pun di dalam kisah-kisah Black Mirror. Buat kalian yang suka sama list “7 Film Penguras Air Mata yang Jarang Terdengar” ataupun kalian yang menganggap Red Wedding di Game of Thrones itu cukup traumatis buat kalian, mulailah menonton Black Mirror. Serius. Banyak kritikus film yang menyandingkan tragic and mind-wrenching storytelling di Black Mirror dengan The Twilight Zone karena plot-twist jenius yang ada di akhir setiap episodenya. Namun saya berpendapat lain. Plot twist yang ada di setiap episode Black Mirror tidak hanya akan mengejutkanmu, tapi akan meninggalkan bekas luka yang menganga di jiwamu.

3. Mampu Membaca Masa Depan.

Sungguh, ini nyata. Saya juga kaget. Episode Pilot (The National Anthem) tayang perdana di Channel 4 UK pada Desember 2011 dan Episode Black Mirror terakhir (White Christmas) tayang Desember 2014, namun banyak sekali isu-isu sosial maupun politik yang kemudian terjadi dan sangat mirip dengan apa yang telah dikisahkan oleh beberapa episode di Black Mirror. Saya ingin mengungkapkan banyak sekali kecocokan tersebut, namun saya tidak ingin menceritakan secara detail plot dari tiap episode karena the less you know, the better you will experience themJadi saya hanya akan menuturkan bahwa:

1. David Cameron’s “Piggate Scandal” yang terjadi pada September 2015 mempunyai kemiripan dengan Ep. 1 Season 1: The National Anthem.

2. Pencalonan dan Kampanye Calon Presiden Amerika Serikat 2016 Donald Trump mempunyai kemiripan dengan Ep. 3 Season 2: The Waldo Moment.

3. Popularitas Pokemon Go di pertengahan 2016 mempunyai kemiripan konseptual dengan Ep. 2 Season 2: White Bear.

Seperti judulnya, Black Mirror memberikan cermin hitam buat kita berkaca tentang seberapa gilakah kita sebagai manusia untuk membiarkan teknologi mempersenjatai kegilaan kita. Seperti layaknya 1984 yang ditulis oleh George Orwell, masa depan, yang kini jadi masa lalu, telah mengkonfirmasi beberapa tesis distopia yang telah disuguhkan Black Mirror di beberapa episodenya. Selebihnya terserah kita, apakah ingin bahu membahu introspeksi diri demi memperbaiki masa depan, ataukah membiarkan diri kita berada dalam kenyamanan futuristik yang semu dan membiarkan semua episode—termasuk Season 3 yang akan datang di Netflix pada 2017—mengacak-acak kehidupan kita sampai mampus tak tersisa.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

Koala Kumal (2016) – Patah Hati dan Konsistensi Realita

Setiap drama sejatinya adalah studi kasus tentang emosi manusia, dan setiap komedi sejatinya menyampaikan studi kasus tersebut dengan kritis dan menggelitik. Laurence Olivier, aktor Inggris pada abad ke-20, pernah berkata bahwa,

“The office of drama is to exercise, possibly to exhaust, human emotions. The purpose of comedy is to tickle those emotions into an expression of light relief; of tragedy, to wound them and bring the relief of tears. Disgust and terror are the other points of the compass.”

Bicara tentang Koala Kumal berarti bicara tentang Raditya Dika. Saya pernah berdiskusi dengan kerabat sesama film blogger, Picture Play, dan kami bersepakat bahwa Raditya Dika mempunyai potensi untuk menjadi Woody Allen-nya Indonesia. Mereka berdua mempunyai keresahan terhadap hal yang sama: cinta dan budaya berkencan di daerah asal mereka masing-masing. Mereka sama-sama dengan mudah menerjemahkan keresahan mereka lewat bahasa komedi mereka masing-masing (Woody nihilis, Dika sarkastis). Sayang, ada satu hal yang menjadi kekurangan besar Dika: ia terlalu nyaman bermain di ranah aman, di kerak sebuah persoalan tanpa berani menggali ke dalam inti sehingga pesan yang ingin ia sampaikan terkesan lemah dan tidak kritis.

Seperti yang telah tercantum di tagline, film komedi romantis ini berkisah tentang perjalanan seorang Dika untuk mendewasakan dirinya lewat patah hati. Putus cinta di ujung tanggal pernikahan, Dika mencoba untuk ‘move-on’ dengan berbagai cara yang konyol dan garing dibantu oleh Trisna (diperankan oleh Sheryl Sheinafia) yang tomboy. Judul Koala Kumal sendiri diambil berdasarkan kisah nyata seekor Koala dari New South Wales yang pulang kembali ke rumahnya di hutan setelah ditebangi. Ia kebingungan saat sampai karena rumah yang dulu ia naungi tidak lagi sama baginya. Ia merasa asing, seperti saat kamu mencium bau kamar yang biasa kamu tiduri menjadi seperti bau orang lain.

Film ketiga yang ia sutradarai setelah Marmut Merah Jambu dan Single ini mengalami peningkatan sinematik yang cukup signifikan. Dika seperti mulai mengerti bagaimana caranya menggunakan camera movement, komposisi, serta momentum editing untuk membuat sebuah komedi visual yang klasik dan tetap segar ditonton. Soal plotting dan cara Dika menyajikan setiap adegan dengan warna tematik dan kontekstual yang kental patut diacungi jempol. Sekuens yang paling saya sukai adalah saat adegan Dika datang ke rumah Trisna untuk minta penjelasan sampai kemudian selesai di adegan Dika lumpuh di atas panggung. Skema dramatik cerdas yang dibumbui referensi humor klasik ala-ala Marx bersaudara dan Warkop DKI inilah yang membuat saya menyandingkan dia dengan seorang Woody Allen.

Saat menonton film ini di bioskop, saya menyaksikan langsung hampir semua orang yang menonton tertawa terbahak-bahak di setiap momentum jokes. Mungkin, cuma saya yang tidak tertawa, meskipun saya mengagumi kecerdasan Dika dalam menulis materi komedi yang berbicara secara sarkastis dan realistis (meskipun kurang kritis) tentang budaya berpacaran pemuda Jakarta yang memang tidak jelas. Tapi saya tidak tertawa. Maka dari itu, saya mencari tahu alasan kenapa jokes Dika yang menurut saya cerdas itu tidak berhasil menggelitik saya, dan saya menemukan jawabannya. Saya tidak bersimpati pada tokoh-tokoh di film ini karena saya tidak bisa mempercayai karakter mereka, termasuk Dika sendiri. Karakter-karakter mereka bersifat dua dimensi dan cenderung tidak konsisten dengan realita yang dibentuk oleh cerita. Jika Dika berencana membuat alam cerita yang dipenuhi dengan karakter komikal seperti Trisna dan James, maka tokoh Andrea dan Kinara yang karakternya sangat aktual dengan gadis-gadis di kehidupan nyata tentunya adalah sebuah kesalahan fatal yang menggoyahkan keajaiban make-believe cerita Koala Kumal. Dialog antar tokoh pun terlalu cheesy, teeny-kind-of-preachy soal cinta tanpa ada ulasan yang lebih dalam dan kritis tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Alhasil, kemampuan film Koala Kumal dalam memberikan kritik romantika remaja dengan pesan pendewasaan emosional sama lemahnya seperti nasihat perbaikan sebuah hubungan dari teman SMA kamu yang jumlah mantan pacarnya sudah sampai dua digit.

Seniman dengan bakat sehebat apapun, apabila berkarya dengan tidak jujur dan setengah hati, maka hasilnya tidak akan maksimal. Saya melihat Dika sebagai orang cerdas dengan bakat luar biasa yang—sayangnya—terjebak dalam pengkultusan publik yang melihat dirinya lewat persepsi yang salah. Sedari awal, orang mengenal Dika sebagai blogger yang eksis lewat humor-humornya tentang kejombloan dan cinta monyet…atau brontosaurus. Setelah saya menonton Koala Kumal, saya semakin yakin bahwa Dika sebenarnya adalah seorang yang kritis, sedikit misantropis, dan mempunyai idealisme kuat yang sayangnya terkekang oleh konsistensi dari realita kehidupannya. Ada beberapa detail mise-en-scene yang sempat mencuri perhatian saya, salah satunya adalah kutipan Anais Nin, seorang tokoh esais abad 20 yang terkenal frontal, yang menghiasi dinding kamarnya. Cara dia mengalegorikan kehidupan koala New South Wales dengan pasangan yang balikan setelah patah hati juga membuktikan bahwa Dika sebenarnya punya kedalaman batin yang jauh melebihi dialog-dialog medioker yang ia tulis di film ini.

Namun jika ia tidak berani untuk mengambil langkah keluar dari zona aman, gagasan-gagasan besarnya tentang cinta dan patah hati akan membusuk di dalam kenyamanan selebritas dan popularitasnya.

Distopiana’s Rating: 2 out of 5.

In the Mood for Love (2001) – Selingkuh itu Dosa

Seandainya dinding bisa bicara dan mengungkapkan rahasia-rahasia manusia yang ia simpan di dalamnya, maka ia akan berkata bahwa hanya ada dua hal yang paling indah saat sepasang manusia menyimpan hasrat:

  1. Saat saling berusaha mengenal.
  2. Saat saling berselingkuh.

Seperti mereka yang mabuk kepayang oleh anggur asmara, Mrs. Chan (diperankan oleh Maggie Cheung) dan Mr. Chow (diperankan oleh Tony Leung Chiu-wai) terayun gontai seperti bunga teratai di atas sungai beriak. Bukan hanya karena lecutan cinta yang kepalang liar, namun karena masing-masing dari mereka sudah ada yang memiliki. Seperti layaknya orang yang jatuh cinta, mereka sering diam-diam berkunjung ke tempat yang dikunjungi satu sama lain dan selalu berpura-pura kebetulan berpapasan. Mereka senang menatap mata satu sama lain dalam-dalam, kemudian berbasa-basi mengalihkan perhatian seakan-akan tidak ada yang mereka temukan di balik mata masing-masing.

Begitulah cinta, semakin terlarang, semakin berjuta rasanya. Semakin ia dipendam dalam diam, semakin panas gelora apinya. Wong Kar-wai, sutradara dan auteur Mandarin, mengerti bagaimana caranya melukiskan nestapa memendam cinta terlarang ke dalam gambar yang bergerak dan bersuara. Bukan hanya eksposisi dialog dan plotting, namun semua aspek-aspek simbolis yang ada di dalam film ini seakan menjadi nyawa yang membuat hidup film dan membuat mati jiwa-jiwa penontonnya. Romantisasi nelangsa batin lewat kombinasi slow-motion sequence+Yumeji’s Theme, komposisi frame within frame, dan repetisi latar tempat di dalam film ini membuat penonton semakin tenggelam ke dalam dunia mereka yang sempit dan menyengsarakan.

Ada satu hal yang patut menjadi bahan perhatian lebih dalam film ini, yaitu bagaimana mereka mencari cara untuk terus bersama menjalin cinta tanpa harus benar-benar berselingkuh. Mereka tidak pernah sekalipun berhubungan badan atau bahkan berciuman di film ini. Mereka hanya bermain peran, saling mengisi lubang yang ditinggalkan pasangan hidup mereka masing-masing yang berselingkuh. Ms. Chan bertanya di mana Mr. Chow membeli dasi yang menurutnya suaminya sukai. Mr. Chow bertanya di mana Mrs. Chan membeli tas gandeng yang menurutnya istrinya sukai. Penulis bertanya-tanya merk pomade apa yang dipakai Mr. Chow…ah sudah lah. Mereka melakukan semua itu semata-mata karena sadar bahwa mereka tidak bisa mengelak dari cinta, namun mereka masih bisa mengelak dari dosa perselingkuhan, seperti yang dilakukan pasangan mereka masing-masing. Bagaimana pun juga, dalamnya hati siapa yang tahu?

“He remembers those vanished years. As though looking through a dusty window pane, the past is something he could see, but not touch. And everything he sees is blurred and indistinct.”

Mungkin cinta mereka murni, namun sudah pasti tidak suci. Berkat arahan sutradara Wong Kar-wai, penyuguhan sinematis yang minimalis dan memukau dari Christopher Doyle, serta ikatan kimiawi yang manis dari penampilan Maggie Cheung dan Tony Leung Chiu-wai, In the Mood for Love sukses membangun ilusi kesejatian cinta yang salah dengan cantik dan memilukan secara bersamaan. Para penggemar film romansa ringan cheesy mungkin akan sedikit bosan dan mengantuk menonton film ini, tapi penulis sangat merekomendasikan mahakarya ini agar kalian belajar merasakan cinta dalam diam.

Dan jika suatu saat kalian memiliki hasrat untuk berselingkuh, cukup bisikkan hasrat kalian ke dalam lubang di dinding, kubur dengan tanah sampai padat, dan kembalilah bersetia pada pasangan resmi kalian masing-masing.

Distopiana’s Rating: 5 out of 5.

7 Film Terbaik untuk Wanita-Wanita Hopeless Romantics

Setelah memberikan rekomendasi film-film terbaik untuk para pria pencundang asmara, kini saatnya penulis merekomendasikan film-film terbaik untuk para wanita-wanita hopeless romantics.

Tidak semua yang kita harapkan dapat berjalan mulus. Terkadang, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan-pilihan sulit yang harus kita lewati, dan berusaha untuk menerima segalanya dengan tangan terbuka. Tanpa pilihan-pilihan sulit tersebut, kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya belajar dari kesalahan, mengikhlaskan segala hal yang tidak mudah diikhlaskan, serta menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan yang sudah kita buat dengan seksama. Berikut adalah daftar film-film terbaik pilihan Distopiana yang dapat disaksikan untuk para wanita-wanita hopeless romantics, yang sedang berusaha menerima realita pahit dengan tangan terbuka, dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja selama masih menyisakan harapan.

  1. Something Borrowed (2011) directed by Luke Greenfield

tumblr_n1a9ugpl5E1qgxmqno1_500

Diangkat dari novel Emily Giffin dengan judul yang sama, Something Borrowed merupakan film drama romantis yang sudah pasti akan meninggalkan kesan speechless untuk anda. Diperankan oleh dua aktris ternama seperti Ginnifer Goodwin dan Kate Hudson, diceritakan lika-liku kisah percintaan Rachel White (Goodwin), seorang attorney muda yang bekerja untuk sebuah firma hukum ternama di kota New York. Setelah one-night stand penuh makna yang ia lalui dengan Dex (Egglesfield), seorang pengusaha mapan yang kebetulan merupakan high school crush Rachel sendiri, hidup Rachel berubah 360 derajat saat ia berusaha menyembunyikan perselingkuhannya dengan Dex, yang merupakan tunangan sahabatnya sendiri, serta mengalami mental breakdown berkepanjangan, saat ia tersadar bahwa Dex tidak pernah benar-benar mencintainya.

2. Love, Rosie (2014) directed by Christopher Ditter

tumblr_o6iioslPEt1v0ttqao1_500

Film drama komedi yang satu ini dijamin akan membuat kalian para wanita-wanita hopeless romantics tertawa terbahak-bahak sambil meneteskan air mata. Bagaimana tidak, film yang diangkatan dari novel Where Rainbows End karya Cecelia Ahern ini membahas tentang isu-isu yang masih jarang diperlihatkan kepada masyarakat luas. Mulai dari persahabatan, kehamilan remaja, hingga pencapaian mimpi dan aspirasi. Dikisahkan dua sahabat kecil bernama Rosie Dunne (Lily Collins) dan Alex Stewart (Sam Claflin), yang secara tidak sengaja mulai saling menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah menemukan keberanian untuk mengakui perasaan mereka. Pada film ini, para penonton juga akan disuguhkan berbagai keindahan yang kota London dan New York tawarkan. Secara tegas, film Love, Rosie mengajarkan kita bahwa timing dan komunikasi merupakan salah satu hal yang paling esensial dalam suatu hubungan.

3. About Time (2013) directed by Richard Curtis

8-The-Time-Travelers-Wife-quotes

About Time merupakan sebuah film karya sutradara sekaligus penulis naskah terkenal bernama Richard Curtis, yang diantara karyanya merupakan Love Actually, Mr. Bean’s Holiday dan Notting Hill. Film ini mengisahkan tenting, Tim Lake (Domhnall Gleeson), seorang laki-laki yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Cornwall di Inggris, yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan waktu. Dengan kemampuan spesial yang ia miliki ini, Tim pun bertekad untuk mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Konflik ceritapun mulai memanas ketika ia memutuskan untuk pindah ke London dan bertemu dengan seorang perempuan asal Amerika bernama Mary (Rachel McAdams) di sebuah restoran.

4. Finding Mr. Destiny (2010) directed by Jang Yoo-jeong

tumblr_n3iinjIZcJ1rw93m3o1_r1_500

Film box office asal Korea Selatan ini menceritakan tentang Seo Ji-woo (Lim Soo-jung), seorang perempuan yang berpergian ke India seorang diri dan bertemu cinta pertamanya, Kim Jong-ok (Woo Ki-jun), seorang dokter handal di negara asalnya. Setelah berpisah dengan Jong-ok, Ji-woo yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa hubungan mereka telah berakhir memutuskan untuk mendatangi sebuah perusahaan biro jodoh terkenal untuk membantunya mencari Jong-ok. Tidak disangka-sangka, Ji-woo justru bertemu dengan Han Gi-joon (Gong Woo), pemilik perusahaan biro jodoh tersebut yang akan membantunya untuk mendapatkan Jong-ok kembali. Bersama-sama, mereka pergi berkeliling Korea Selatan dan dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka mulai merasa nyaman terhadap satu sama lain.

5. One Day (2011) directed by Lone Scherfig

tumblr_mdc62u884v1rodugmo1_500

Film yang diangkat dari novel David Nicholls ini dijamin akan membuat para penonton banjir air mata. Diperankan oleh Anne Hathaway dan Jim Sturgess, film ini mengisahkan tentang persahabatan dua mahasiswa yang baru saja lulus dari University of Edinburgh, Dexter Mayhew (Sturgess) dan Emma Morley (Hathaway). Secara kronologis, film ini menceritakan kisah Dexter dan Emma (terkadang disajikan secara terpisah) yang awalnya bertemu pada tanggal 14 Juli, dan dilanjutkan pada setiap tanggal 15 Juli selama delapan belas tahun berturut-turut. Dengan berbagai konflik yang dilewati pasangan protagonisnya, One Day menyuguhkan berbagai pesan moral tentang cinta, persahabatan, serta serentetan pilihan yang harus mereka buat secara berani.

6. Safe Haven (2013) directed by Lasse Hallström

movie-quotes-quote-safe-haven-Favim.com-836586

Diangkat dari novel bestseller Nicholas Sparks, film ini sungguh berbeda dari adaptasi-adaptasi film Nicholas Sparks lainnya. Safe Haven sendiri menceritakan tentang Erin Tierney (Julianne Hough), seorang istri dari polisi detektif yang berusaha melarikan diri dari Boston, dikarenakan suaminya yang secara diam-diam berperilaku abusive. Setelah memulai hidup barunya di Southport dengan nama Katie Feldman, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Alex Weathey (Josh Duhamel), seorang ayah tunggal yang masih belum bisa melepaskan kepergian istrinya yang meninggal karena kanker. Safe Haven merupakan film thriller romantis yang akan membawa anda menuju sebuah emotional rollercoaster penuh haru dan misteri yang mencengangkan.

7. A Little Thing Called Love (2010) directed by Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn & Wasin Pokpong

tumblr_luuwzqcw5V1r2iejoo1_500

Sleeper hit asal Thailand ini merupakan film yang paling digemari para hopeless romantics. Dengan akting dan penjiwaan para aktornya yang menjanjikan, bagaimana mungkin kita mampu melewatkan film yang satu ini? Dengan alur cerita the-ugly-duck-meets-the-prince-charming yang klise, A Little Thing Called Love dapat dipastikan mengubah perspektif kita tentang the prince charming itu sendiri. Dikisahkan tentang seorang remaja SMA bernama Nam (Pimchanok Baifern) dengan wajah yang tidak cantik dan kepribadian introvert, yang berusaha mati-matian untuk mengubah dirinya demi Shone (Mario Maurer), kayak kelas Nam yang pintar, tampan, dan disukai banyak orang. Dalam perjalanannya untuk mempercantik diri, Nam pun belajar bahwa tidak semua hal yang ia inginkan dapat berjalan sesuai ekspektasinya.

tumblr_mkdru2k7281racrzqo1_

Setelah menonton film-film yang telah di rekomendasikan, kita dapat belajar bahwa tidak segalanya cinta itu indah dan penuh jawaban. Flowers can’t grow without a little rain, and that’s perfectly okay. Terkadang, saat kita sudah mengikhlaskan apa yang kita inginkan, aspirasi tersebut justru akan tercapai. Intinya, keihklasan merupakan suatu keharusan, dan kita sebagai para hopeless romantics harus bisa menyikapinya dengan seksama. Hidup tidak selamanya mulus dan penuh kebahagiaan, tapi justru turbulensi-turbulensi itulah yang mampu membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Honorable Mention: Never Let Me Go (2010), Il Mare (2000), Stuck in Love (2012), He’s Just Not That Into You (2009).

Great World of Sound (2007) – Sharking Dreams

Ada sebuah jargon yang sudah melekat erat dalam hidup para pekerja, terutama fresh graduate tanpa pengalaman kerja yang sering menghabiskan waktu dan uang (orang tua)-nya demi mondar-mandir ke seminar motivasi entrepreneurship.

Setiap orang pasti mempunyai mimpi, dan jika kita memiliki komitmen untuk berjuang dan bekerja keras, pasti kita akan mampu meraih mimpi kita.”

Jargon-jargon serupa sering keluar dari mulut mereka yang optimis, tanpa sadar bahwa sebenarnya banyak dari mereka yang sedang dicurangi oleh kaum-kaum oportunis lewat berbagai cara atas nama ‘passion‘ dan ‘komitmen’. Baik lewat pengurangan hak-hak kerja, multi-level-marketing, atau segala macam modus lainnya. Dalam film yang diproduksi oleh Magnolia Pictures pada tahun 2007 ini, perusahaan low-budget music label bernama Great World of Sound merupakan salah satu pihak oportunis tersebut.

Beberapa penulis lagu dan produser profesional mempunyai terminologi khusus untuk mendeskripsikan modus kejahatan yang dilakukan Great World of Sound (dan tentunya music label serupa di dunia nyata), yaitu song sharking: membuat para korban percaya bahwa mereka mempunyai potensi musik yang istimewa, lalu mengiming-imingi mereka kesuksesan meraih mimpi, dan kemudian meminta sejumlah uang yang tidak sedikit sebagai bentuk dari komitmen mereka terhadap mimpi yang ingin mereka raih. Sebenarnya praktik semacam ini tidak bisa dikatakan salah. Sebagian besar uang yang dibayarkan oleh para korban memang akan digunakan untuk studio recording dan publishing dari para korban itu sendiri. Great World of Sound tidak membohongi para korban tentang cara kerja mereka.

Namun lebih parah dari itu, mereka membohongi para korban dengan berkata manis melebih-lebihkan ‘bakat’ mereka untuk membiayai produksi musik mereka sendiri yang sebenarnya tidak berharga.

Kendati demikian, alih-alih menjadikan film ini sebagai caper comedy film, Craig Zobel memilih untuk melakukan pendekatan bromance comedy drama dengan menuturkan cerita ini lewat sudut pandang dua orang sales producer dengan karakter dan motivasi yang berbeda. Martin (diperankan oleh Pat Healy), seorang lelaki introvert dengan kepribadian melankolis, harus bekerja berpasangan dengan seorang pria periang dan bersemangat yang bernama Clarence (diperankan oleh Kene Holliday) untuk mendapatkan ‘klien’ sebanyak mungkin dengan berkunjung dari satu kota ke kota lain dan mengadakan audisi kecil-kecilan di kamar hotel mereka masing-masing. Walaupun karakter mereka sangat berbeda kutubnya, namun itu tidak pernah menghalangi mereka untuk saling mendukung satu sama lain dalam menjalin ikatan persahabatan dan memburu ‘talenta-talenta’ yang siap untuk ‘berkomitmen’ membangun ‘mimpi’ mereka.

Setidaknya sampai mereka berdua merasa bersalah atas apa yang mereka lakukan.

Treatment film yang sangat low-budget oriented dengan penampilan apik dari musisi-musisi dengan bakat mentah ini membuat Great World of Sound memiliki rasa yang sama dengan Once. Kita akan dibawa seakan memasuki sebuah realita, menuju ruang audisi yang menampilkan manusia-manusia dengan bakat, emosi, dan mimpi yang jauh lebih murni daripada yang ditampilkan oleh pertunjukan mencari bakat di televisi seperti X-Factor atau The Voice. Tidak hanya itu, beberapa dari mereka (termasuk gadis kecil penyanyi ‘New National Anthem‘ yang menjadi plot device penting dalam film ini) memiliki ciri khas yang sangat kental dan unik sehingga meninggalkan kesan yang mendalam setelah kita selesai menonton film. Inilah yang membuat perjalanan emosional di film ini menjadi efektif: kita akan dibuat simpati oleh Martin dan Clarence di awal film, lalu bersimpati dengan para peserta ‘audisi’ di pertengahan film, dan kemudian menjadi linglung saat ternyata mereka—Martin, Clarence, dan para peserta audisi—adalah mangsa dari kaum-kaum oportunis yang memasang ‘mimpi’ sebagai umpan.

Di dalam dunia yang semakin hari semakin penuh dan sesak ini, peradaban yang didominasi oleh kapitalisme seakan semakin menjelma menjadi serupa kanibalisme. Jadi pemburu atau jadi binatang yang terperangkap, itu pilihannya. Secara garis besar, ini merupakan topik yang diusung oleh Great World of Sound. Craig Zobel memahami hal itu dengan baik, namun ia menyampaikan lewat film yang sangat segar ini bahwa ada kalanya pemburu pun suatu saat akan terjebak dan mati di dalam perangkap binatang yang mereka ciptakan sendiri.

Distopiana’s Rating: 4 out of 5.

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) – Penebus Rindu

Hal yang paling dibenci setiap manusia adalah menunggu tanpa kepastian yang jelas. Kita semua mengerti dan pernah merasakan hal itu, maka saat Miles Film mengumumkan bahwa sekuel dari Ada Apa dengan Cinta resmi ditayangkan setelah empat belas tahun lamanya, hampir semua penikmat film Indonesia yang pernah hidup menyaksikan film romansa paling ikonik di Indonesia tersebut langsung antusias menyambutnya. Mereka tidak hanya ingin tahu bagaimana kabar Rangga dan Cinta serta Geng Mading SMA yang digawangi Cinta, Milly, Karmen, Maura, Alya, dan Mamet. Sebagai penikmat film Indonesia yang sudah terlalu lama terlena dengan film-film ‘asing’ yang selalu menjajah bioskop mereka, sebagian besar dari mereka juga berharap akan adanya plot twist yang unik dan menggemparkan di antara hubungan kedua pecinta sastra tersebut.

Sebagian dari mereka mungkin terlalu berharap banyak. AADC 2 yang kini disutradarai langsung oleh Riri Riza memang menghidupkan kembali nostalgia romansa terbaik yang pernah Indonesia miliki dengan lembut dan manis tanpa ada satu hal pun yang harus dilebih-lebihkan. Semua tokoh lama AADC tampil prima dengan charm dan karakteristik mereka masing-masing, kecuali tokoh-tokoh baru yang sayangnya hanya dijadikan tempelan agar cerita yang tidak bergerak kemana-mana ini terkesan progresif dan dinamis.

“Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku untuk memilikimu sekali lagi.”

Sama halnya seperti Cinta di film ini, cerita di AADC 2 tidak move-on ke arah yang seharusnya. Bisa dikatakan bahwa AADC 2 hanyalah sebuah medium storytelling yang menceritakan tentang apa yang terjadi dalam kurun waktu 14 tahun setelah akhir film AADC dan sebelum awal film AADC 2. Fungsi dari film ini hanyalah sebagai penebus rindu bagi para penggemarnya, atau seperti yang PicturePlay katakan, “brand continuation effort“. Sebagaimana penebus rindu berfungsi, film ini terlalu banyak berbicara tentang masa lalu. Adapun pembahasan masa depan yang hanya terdapat di paruh akhir act 3 film dapat diibaratkan layaknya MSG yang menjadi solusi tepat dan ‘murah’ kalau sang koki tidak yakin masakannya cukup enak untuk disukai banyak orang.

Namun, jangan salah paham. Mengatakan film ini buruk dan tidak layak untuk ditonton adalah sebuah hiperbola yang kejam dan tidak beralasan. Justru, plot film yang ‘terlihat-seperti-maju-namun-nyatanya-mundur‘ ini akan mampu mengiris-iris hati mereka yang masih belum bisa move-on dari hubungan mereka sebelumnya, baik yang pernah terjadi maupun yang hanya angan-angan saja. Aspek sinematografi, naskah, soundtrack, dan akting para tokoh pun sebenarnya sudah jauh dari kata buruk. Awalnya pada act 1, sangat jelas terlihat dari ritme editing dan dialog antar tokoh bahwa AADC 2 linglung dan pincang seperti orang yang baru saja berolahraga kembali setelah lebih dari empat belas tahun bermalas-malasan. Namun menjelang pertemuan Cinta dan Rangga kembali, film ini mulai mendapatkan nyawa yang seharusnya sudah hidup sejak awal cerita. Belum lagi ditambah rangkaian puisi indah yang ditulis oleh Aan Mansyur yang mampu menjadikan film ini memiliki subteks yang berlapis-lapis. Banyak yang berpendapat bahwa beberapa adegan saat pertemuan kembali Rangga dan Cinta terkesan klise dan kesinetron-sinetronan, namun penulis sendiri malah berpendapat bahwa cara Riri Riza menyajikan adegan ‘kesinetron-sinetronan’ tersebut dengan gaya satir dan komikal menunjukkan bahwa ia punya tujuan mulia untuk menghidupkan sedikit humor sarkastik di tengah pekatnya kegalauan yang meracau di film ini.

Besarnya antusiasme masyarakat pada AADC 2 yang membuat film ini mampu meraih 700 ribu penonton di hari ketiga penayangannya telah memberikan harapan bagi kebangkitan industri perfilman Indonesia akan kepercayaan penonton terhadap film-film yang mereka produksi. Tentu, penulis juga berharap hal ini akan berdampak positif pada perkembangan kualitas film romansa Indonesia, karena seharusnya dari kasus AADC 2 ini, para produser film Indonesia pun bisa belajar bahwa penonton film Indonesia tidak harus selalu disodori superfisialitas agar bisa menyukai film romansa. Sebagai sekuel penebus rindu, AADC 2 telah mempersembahkan sebuah nostalgia cinta yang manis, tulus, dan penuh warna tanpa pretensi dan pernyataan cinta yang berlebih-lebihan.

Namun layaknya sebuah penebusan rindu, film ini tidak akan membawamu kemana-mana kecuali ke masa lalu.

Distopiana’s Rating: 3 out of 5.